
...Percayalah apapun yang sang pencipta berikan pada kita. Itulah hal paling baik dari versinya. ...
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
Entah kenapa, hari ini Humaira merasakan hari yang berat. Dia berusaha fokus bekerja tapi tubuhnya terasa lemah. Dirinya benar-benar hanya ingin berbaring di atas ranjang. Namun, sekuat mungkin Humai menahannya.
Dia tak boleh bermalas-malasan. Dia harus semangat bekerja. Siapa lagi yang akan menjadi tulang punggungnya jika bukan Humai sendiri. Siapa lagi yang akan menjadi sandarannya jika bukan pundaknya sendiri.
Tak ada kata manja dalam dirinya sejak dulu. Adanya kesenjangan antara dirinya dan Rein, perlahan membuat mental Humai terbentuk sendiri. Dia berusaha mandiri dan tak merepotkan semua orang. Dia berusaha kuat untuk menutupi kesedihannya.
Dia juga berusaha menjadi sosok yang sempurna karena menyadari banyak kekurangan dalam dirinya. Mungkin hal ini menyakiti hatinya, dia tak bisa menjadi dirinya sendiri. Humai selalu memikirkan orang lain daripada dirinya.
"Humai," panggil seseorang yang membuat Humaira lekas berdiri.
"Ya, Kak?" jawabnya mendekati sosok senior yang sudah lama bekerja di cafe.
"Ada orang. Kakak mau ke kamar mandi dulu. Bisa?"
Humaira tersenyum. Hanya di tempat inilah dia dihargai. Semua teman kerjanya tak pernah membedakan Humaira dengan yang lain. Walau kulitnya kusam dan coklat. Wajahnya tak semulus yang lain. Namun, kebaikan hati Humai yang membuat mereka nyaman berteman dengannya.
"Bisa," sahut Humai sambil mengangguk.
Dia segera mengambil buku menu dan buku catatan. Setelah itu Humaira berjalan menuju meja yang terlihat ada beberapa perempuan disana.
Semakin dekat, telinganya mendengar suara yang sangat tak asing. Suara yang sangat dia kenali karena seringnya terngiang di telinga.
"Wah…wah lihatlah! Siapa disini?" kata salah satu perempuan yang disana.
Humaira hanya menunduk. Dia menelan ludahnya paksa dengan jari mulai gemetar. Dia tak menyangka jika akan bertemu oleh teman-temannya satu kampus.
Bukan teman tapi orang yang merupakan perusak mentalnya.
"Hai, Humaira Khema Shireen. Apa kabar?" tanya seorang wanita yang sangat Humai kenali.
Perempuan itu duduk dengan kaki terangkat dan diletakkan di kakinya yang lain. Dia menatap dari atas sampai bawah penampilan Humai. Perempuan itu menatap rendah tapi matanya menatap penuh sinis.
"Aku baik, Rachel," jawab Humai dengan terbata. "Kalian mau pesan apa?"
Humaira menyodorkan buku menu. Rachel menerimanya dan segera membuka lembar tiap lembar.
"Kalian mau pesan apa, guys? Cepat katakan. Kasihan Humai nanti terlalu lama menunggu," sindir Rachel sambil melirik ke arah Humai yang hanya diam. "Duduklah disini, Mai. Daripada kamu berdiri."
"Tidak perlu. Terima kasih," sahut Humai dengan cepat.
"Oh okey," sahut Rachel dengan mengedikkan bahunya tak acuh. "Aku mau coklat dingin satu, pisang coklatnya satu dan jangan lupa kejunya banyakin."
Humaira mencatat semuanya dengan cepat. Dia benar-benar berusaha tetap fokus. Bagaimanapun keadaannya, mereka adalah pembeli. Bagaimanapun sikap mereka, Humai harus bisa menerimanya.
"Silahkan ditunggu!"
Humaira lekas kembali ke dalam. Meninggalkan Rachel and the gengs yang mulai saling membicarakan Humaira.
__ADS_1
"Lo sengaja kesini, cuma mau liat dia, Chel." tanya seorang temannya yang menatap Rachel dengan kesal.
"Nah bener. Gue juga mikirnya gitu. Biasanya dia mau nongkrong di tempat mahal. Lah, ini napa jadi kesini," seru temannya yang lain.
Rachel terkekeh. Namun, dia tak mengelak. Kepalanya mengangguk mengiyakan bahwa tebakan teman-temannya memang benar.
Dia hanya ingin menemui musuh bubuyutannya itu. Dia hanya ingin melihat bagaimana menderitanya gadis cupu itu sekarang.
"Gue mau usir dia dari sini juga. Biar dia makin menderita," ucap Rachel dengan wajahnya penuh misterius.
...🌴🌴🌴...
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya pesanan itu jadi. Humaira dengan hati-hati mulai memindahkan ke atas nampan.
"Sini biar Kakak yang bawa. Kamu kelihatan lemes banget, Mai," kata senior tadi yang pamit ke kamar mandi.
"Gak perlu, Kak. Humai bisa kok," ujarnya sambil tersenyum.
"Ya udah. Kakak beresin yang lain yah."
Humaira mengacungkan jempolnya. Kemudian dia segera menyelesaikan pekerjaannya dan mulai membawanya ke depan.
Memang ada keraguan dan ketakutan dalam diri Humai. Namun, gadis itu mencoba tetap tenang. Dengan penuh kehati-hatian, Humai mulai menata makanan itu diatas meja.
Sampai saat giliran dia mengangkat es coklat milik Rachel. Bau itu tercium di hidungnya dan membuatnya mual. Hingga tanpa sadar gelas yang ada di tangannya oleng dan mengenai Rachel.
"Oh ****!" umpat Rachel beranjak berdiri.
"Lo!" seru Rachel dengan marah. "Sengaja, 'kan pasti?"
Humaira menggeleng. Dia benar-benar tak sengaja menumpahkan makanan itu. Bau coklat yang biasanya nikmat entah kenapa saat ini membuatnya selalu merasa mual.
"Aku bener-bener gak sengaja, Chel. Aku minta maaf," kata Humai sambil menyodorkan tisu dan hendak membantu membersihkan tumpahan coklat di baju Rachel.
"Gak usah sok baik. Gue tau Lo pasti sengaja buat bales dendam, 'kan?" serunya mendorong tubuh Humaira ke belakang.
"Nggak, Chel. Aku beneran gak sengaja. Aku gak ada dendam sama kamu," kata Humaira dengan yakin.
"Halah, manis banget mulut Lo, Cupu!" seru teman Rachel yang lain.
"Lo pasti dendam banget gara-gara di DO, 'kan?
"Udahlah. Lo itu emang salah! Udah murahan, tidur lagi sama Om-om," sindir teman Rachel yang lain.
Tentu hinaan yang keluar dari mulut Rachel dan teman-temannya membuat beberapa pengunjung yang ada disana menatap ke arah Humaira yang menunduk. Gadis itu menjadi pusat perhatian.
"Maaf, Kak. Maafkan kinerja tim kami," kata senior Humai datang saat keributan itu terdengar.
"Lo bilang maaf?" seru Rachel dengan melototkan matanya. "Baju gue ini mahal dan dia dengan sengaja numpahin minuman ini ke gue."
"Nggak, Mbak. Beneran Humai gak sengaja," ujar Humai dengan berusaha meyakinkan seniornya.
"Halah alesan!"
__ADS_1
"Pecat aja dia!"
Perseteruan itu membuat pemilik Cafe mulai keluar. Seorang pria dengan pakaian super simpel hanya kaos dan celana jeans selutut mendekati meja Rachel.
"Ada apa ini?" tanyanya dengan suara tegas.
Spontan suara itu membuat semua yang ada disana menoleh. Kecuali Humaira yang masih menunduk karena takut.
Rachel dan teman-temannya terperangah melihat sosok tampan dan masih muda dengan suaranya yang tegas menghampiri mereka.
"Anda pemilik Cafe ini?" tanya Rachel dengan dagu yang semakin terangkat.
"Ya. Apa ada kesalahan dari tim kami?"
"Ya," seru Rachel dengan menatap Humai. "Pecat karyawan Anda ini karena dia sengaja menumpahkan coklat ke baju mahal saya."
Pemilik Cafe itu menatap baju Rachel lalu dia menatap Humaira yang masih diam.
"Dia sengaja melakukan itu!" tambahnya yang membuat air mata Humaira mulai menetes.
"Anda yakin?" tanya Pemilik Cafe itu yang membuat Rachel mengernyit heran. "Apa Anda yakin, karyawan saya sengaja?"
"Jadi maksud Anda saya berbohong?" seru Rachel dengan ketus.
"Di ruangan saya ada CCTV yang selalu saya pantau dan saya memiliki bukti jika karyawan saya tak bersalah!"
Rachel mengepalkan kedua tangannya. Dia menatap marah ke arah pria tampan di depannya ini.
"Kau!" Rachel mengambil tasnya.
Dia tak bisa berkata apa-apa lagi karena dia ketahuan. Dengan langkah pasti, Rachel melangkah dan berhenti di depan Humaira.
"Awas aja Lo yah! Gue bakalan bales Lo lebih dari ini!"
Setelah mengatakan itu, Rachel mendorong Humaira dengan kuat sampai gadis itu oleng dan akhirnya jatuh terduduk.
"Aww!" Humai meringis.
Dia mengernyitkan keningnya saat perutnya merasakan sakit. Sampai akhirnya saat senior di sampingnya mulai membantu Humai berdiri, pekikan dari beberapa orang membuat Humai menoleh.
"Darah?"
~Bersambung
Woy lah disini banyak nit nut nit nut kan?
Pemilik cafe ganteng, pecel lele yang dipermalukan terus darah.
Huaa gimana gimana?
Maaf baru update yah. Baru nyampek rumah.
Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.
__ADS_1