Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Terbongkar Tentang Syakir


__ADS_3

...Aku baru menyadari jika sakit hati bisa merubah seseorang dari perilaku buruknya dan bukti itu ada pada kamu. Pria yang menjadi luka sekaligus obat untikku....


...~Humaira Khema Shireen. ...


...🌴🌴🌴...


"Pahami perasaanmu terlebih dahulu sebelum kamu melangkah lebih jauh!" kata Humai menasehati.


"Maksudmu, Mai?" tanya Sefira yang tak paham.


Jujur dirinya memang nol buta tentang percintaan. Sefira tak memiliki pengalaman apapun. Hidupnya selama ini tentang sekolah, sahabat dan keluarga. Dirinya tak pernah berpikir untuk jatuh cinta pada siapapun.


Bayangan dimana kejadian kakaknya memperkosa sahabatnya. Bayangan bagaimana dia ingat dengan kedua mata kepalanya sendiri sikap kakak kandungnya pada Humai. Bayangan dimana dia ingat begitu lemahnya sahabatnya hanya karena sebuah cinta. 


Dari semua yang ia lihat itulah membuat Sefira bisa melangkah sejauh ini tanpa cinta. Membuat Sefira tak mau memulai sebuah hubungan dengan pria lain. 


Ia takut gagal, ia takut sakit hati dan lebih parahnya lagi. Dia takut jika karma kakaknya jatuh kepadanya. 


Percayalah, hal seperti itu terus berputar di kepala Sefira. Dia sadar kakaknya telah menyakiti kaum perempuan lebih tepatnya Humaira sendiri begitu dalam. Syakir menyakiti Humai bukan mentalnya saja tapi fisiknya juga. 


Entah kenapa hal itu membuat Sefira takut jika dia diperlakukan seperti itu oleh pasangannya sendiri. Dia takut jika dia merasakan apa yang sahabatnya itu rasakan. 


Sefira tak sekuat itu. Ya dia menyadari tak setabah dan setegar Humai. Sahabatnya itu merupakan wanita sabar. Bahkan dengan baik dia mampu menerima Syakir kembali berada di sekitarnya sekarang. 


Mampu memberikan kesempatan pada pria yang menyakiti hatinya sangat dalam untuk dekat dengan buah hati yang dulu pernah Syakir caci maki. 


"Jangan ragu untuk membuka perasaanmu, Fir,!" kata Humai membuyarkan lamunan Sefira. "Kamu harus berani mencoba membuka lembaran baru. Mencoba memberikan ruang untuk orang lain mengisi hatimu." 


Humaira mengatakannya dengan serius. Bahkan dia menatap kedua mata sahabatnya itu dengan yakin. 


"Sampai kapan kamu akan terus sendiri seperti ini?" tanya Humai dengan pelan. "Kamu tak bisa menyamakan takdir kita berdua." 


Jantung Sefira mencelos. Dia menatap sahabatnya tak percaya. Sefira terkejut ketika sahabatnya itu tahu tentang apa yang dia rasakan.


"Terkejut, 'kan?" tanya Humai dengan tersenyum. "Tahu darimana?" 


Humaira tersenyum kecil. Dia meraih salah satu tangan Sefira dan menggenggamnya dengan pelan.


"Aku ini sahabatmu, Mai," ujar Humaira yang membuat Sefira tersenyum.


"Tak selamanya pria yang ada di dunia ini sama seperti Kak Syakir. Semua tak sama, Fir. Mereka memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing," ujar Humaira dengan yakin. "Kamu tak bisa terus-terusan menutup hatimu hanya karena melihat pengalamanku. Biarkan mereka masuk dan mencoba mengenalmu lebih dalam!" 

__ADS_1


Sefira menarik nafasnya begitu dalam lalu dihembuskan dengan kasar. Kepalanya menunduk seakan dia sedang memikirkan semuanya. 


"Aku hanya takut, Mai!"


"Maka kamu harus percaya pada cinta! Buang ketakutanmu itu dengan perasaan yang sedang kamu rasakan." 


"Cinta datang tanpa bisa dicegah. Cinta datang tanpa bisa kita tunda. Dan cinta datang tanpa bisa kita rencanakan, Fir," ujar Humaira dengan begitu bijaknya. "Sebesar apapun kamu mencoba mengelak perasaan itu. Sejauh apapun kamu ingin pergi dari cinta yang baru saja tumbuh. Jika itu sudah memupuk kekal di dalam hatimu. Maka kamu tak akan bisa kemana-mana."


"Pilihannya hanya satu, menerima dan jalani. Atau kamu melupakan dan melepaskan semua perasaan yang baru saja tumbuh di hatimu." 


Setelah mengatakan itu, Humaira lekas beranjak berdiri. Hal itu tentu membuat Sefira ikut mendongakkan kepalanya. 


"Semua keputusannya ada padamu dan aku, akan selalu mendukungmu, sahabatku." 


...🌴🌴🌴...


Keesokan harinya.


Suasana ruang kelas mulai ramai saat dosen baru saja keluar. Seorang perempuan tengah merapikan buku-bukunya. Dia memasukkan ke dalam tas sebelum dirinya pergi dari sini.


"Mai!" 


"Sibuk gak?" tanya Mira dengan suaranya yang manja.


Humaira menaikkan salah satu alisnya. Dia mengangkat kepalanya dan melihat dua wajah sahabatnya itu.


"Sejak kapan kalian tanya begitu padaku?" 


"Sekarang!" sahut Lidya dengan duduk menarik kursor yang ada di samping Humaira. 


"Beberapa hari ini kau sibuk. Bahkan kita tak pernah keluar bareng lagi!" kata Mira dengan mengerucutkan bibirnya. "Aku kangen sama kebersamaan kita bertiga."


Humaira tersenyum. Dia juga baru menyadari sesuatu. Semenjak kedatangan keluarga Syakir dan bagaimana pria itu yang mendekatinya. Dia jarang keluar dengan dua sahabatnya ini. Mereka jarang menghabiskan quality time bersama. 


"Baiklah. Kita mau pergi kemana, hm?" tanya Humaira dengan bersemangat.


Biarlah dia kali ini keluar. Dirinya akan pamit pada mamanya untuk memberikan waktu bersama dua sahabatnya ini. 


"Makan!" sahut Lidya dan Mira bersamaan.


Humaira hanya bisa terkekeh. Kelakuan ketiganya selalu sama. Dimanapun mereka berada dan kapanpun itu. Jika ketiganya janjian bertemu maka selalu berakhir di sebuah resto, cafe atau tempat makan yang lain.

__ADS_1


"Oke. Ayo!" 


"Eh tapi…" 


"Apa?" tanya Humaira menatap sahabatnya yang menahan dirinya yang ingin berdiri.


"Kamu bilang Sefira datang. Kenapa tak mengajaknya juga?" 


Ya Lidya dan Mira sangat mengenal adik mantan suaminya itu. Ketiganya juga berteman baik.


"Oke. Aku akan mengabarinya," kata Humaira lalu mengambil ponsel yang ia letakkan di dalam tas. "Kita makan dimana?" 


"Restoran favorit kita," kata Humai yang langsung diacungi jempol oleh Mira dan Lidya.


Setelah mengirimkan pesan pada sahabatnya itu. Ketiga wanita itu segera meninggalkan area kampus. Humaira kali ini menumpang mobil Lidya karena dia tak membawa mobil.


Tadi pagi wanita itu diantar oleh Sefira karena Humai merasa malas membawanya sendiri. 


"Bagaimana hubunganmu dengan Syakir?" tanya Lidya melirik sahabatnya yang duduk di samping kursi kemudi. 


Mira, wanita yang duduk di kursi tengah itu juga penasaran. Dia memajukan dirinya dan menunggu jawaban Humai. 


"Aku memberinya kesempatan untuk membuktikan bahwa dia benar-benar berubah!" 


"Kami hanya bisa mendukungmu, Mai. Tapi jika dia berani menyakitimu lagi. Aku akan menendang masa depannya!" 


Humaira terkekeh. Dia hanya bisa mengangguk karena kendaraan mereka mulai memasuki area restoran. Ketiganya segera mencari tempat duduk kesukaan mereka ketika berada disini. 


Mereka tak menyadari sekitar. Ketiganya saling mengobrol dengan diiringi canda tawa. Sampai tak lama, sebuah langkah kaki mendekat dan sebuah suara yang datang diantara ketiganya membuat jantung Humai berdegup kencang.


"Selamat datang!" 


Dia sangat mengenal suara itu. Bahkan suara yang sangat familiar di telinganya. Dengan pelan Humai menatap kedua kaki yang ada di dekatnya itu. Dengan pelan dia mengangkat wajahnya menelusuri sosok tubuh yang datang ke meja mereka sampai akhirnya Humaira bisa melihat siapa sosok tersebut.


Jantung Humaira rasanya ingin berhenti berdetak. Apalagi ketika matanya menatap tak percaya ke arah sosok yang memakai pakaian seragam pelayan dan melayaninya ini tak lain dan tak bukan adalah mantan suaminya sendiri.


"Kak Syakir?" 


~Bersambung


Kira-kira habis ini apa yang Humai bakalan lakuin? illfeel atau dia bakalan mulai percaya sama perasaan Syakir?

__ADS_1


__ADS_2