
...Tak ada yang bisa merubah masa lalu dan kenangannya. Namun, kita bisa berdamai dengannya dan membuat masa depan kita menjadi lebih baik. ...
...~Guntur Syakir Alhusyn...
...🌴🌴🌴...
Syakir mengusap perutnya yang begah. Dirinya benar-benar memakan makanan itu sendirian sampai akhirnya dirinya tak kuat dan melambaikan tangannya.
Pria itu merasa sangat kenyang. Di waktu yang hampir pagi harus memakan makanan yang sangat banyak hasil karyanya dengan karya para mama terbaiknya. Jujur masakan itu memang enak. Namun, jika dia diminta menghabiskan semuanya sendirian. Dirinya tak sanggup juga.
Syakir lekas merebahkan dirinya di atas ranjang setelah membersihkan badannya. Sedangkan Humai, wanita itu sedang berganti pakaian. Jay sendiri memilih tidur dengan nenek kakeknya karena dia mengatakan rindu pada Papa Hermansyah dan Mama Emili.
"Sakit? " Tanya Humai pelan sambil naik ke atas ranjang.
Dia merasa bersalah pada suaminya. Namun, jujur melihat Syakir memakan semua itu dengan lahap, ada perasaan bahagia dan senang di hatinya. seakan jiwanya berbunga-bunga tadi.
"Nggak, Sayang, " Jawab Syakir dengan memaksa senyumannya.
Dengan pelan calon ayah itu meminta istrinya tidur di sampingnya. Dia tahu Humai merasa bersalah kepadanya. Maka dari itu dia harus memberikan pengertian.
"Maafin aku ya, Kak, " Kata Humai dengan manja.
Dia memeluk perut Syakir dengan pelan dan meletakkan kepalanya diatas dada suaminya itu. Selama proses kehamilan Humai memang selalu mode manja pada Syakir.
Dia selalu menempel pada suaminya itu. Dia selalu tak mau berjauhan dengan suaminya.
"Buat apa minta maaf? "
"Karena udah minta Kakak makan semuanya, " Ujar Humai yang perasaannya labil.
Ah ibu hamil selalu seperti itu. Tak ada yang bisa memahami perasaannya dengan baik. Moodnya naik turun dan itu tentu membuat Syakir selalu berusaha mengerti istrinya.
"Sayang, " Kata Syakir menaikkan dagu Humai agar menatap ke arahnya. "Apa yang kamu minta itu gak seberapa dengan apa yang udah aku lakuin sama kamu. Jadi jangan pernah merasa bersalah sedikitpun! "
Syakir menyadari satu hal. Apa yang dilakukan istrinya tak sebanding dengan apa yang pernah dia lakukan di masa lalu.
Permintaan istrinya bukan hal menyakitkan. Sedangkan dirinya dulu bukan hanya menyakitkan tapi sangat amat menghancurkan perasaan Humai.
"Makasih, Kak. Makasih sudah banyak berubah, " Ujar Humai yang perlahan mengangkat kepalanya dan mencium bibir Syakir.
Ciuman itu tentu bukan sekedar kecupan jika untuk Syakir. Pria itu menahan tengkuk istrinya dan mulai menyesapnya dengan pelan. Bahkan Syakir sampai mengganti posisinya dengan Humai di bawah dan dirinya di atas Humai.
__ADS_1
Tentu tangan mereka sudah tak tinggal diam. Baik Syakir maupun Humai saling berebut untuk melepaskan pakaian pasangan masing-masing. Saling membantu membuka hingga kulit mereka kembali bertemu.
Kehangatan dan aroma tubuh keduanya mulai tercium di hidung mereka. Hal yang paling Humai sukai ketika suaminya mengendus lehernya dan menghirup aromanya disana.
Syakir dengan pelan saling menggoda. Menyentuh dia gunung kembar yang menurutnya semakin menantang. Padat dan lebih berisi menurutnya.
Lalu tangan Syakir juga bergerak turun. Dia menyentuh segitiga bermuda yang sangat menjadi candu untuknya. Ruang dimana dia yang setiap malam mengerjai istrinya sampai Humai tak pernah menolaknya.
"Sayang, " Panggil Syakir pelan saat miliknya sudah tak tahan lagi.
Dia menaikkan tangannya dan mengusap perut Humai dengan pelan.
"Ayah izin menjenguk adik yah? "
Humai tertawa lirih. Namun, kabut gairah tentu terlihat jelas di matanya. Kepala ibu calon dua anak itu mengangguk.
"Yang pasti jangan terlalu cepat, kak, " Kata Humai menasehati.
"Tentu, " Sahut Syakir dengan mengangguk. "Kalau kamu udah ngerasa gak nyaman bilang aku yah. Aku bakalan berhenti. "
"Tentu."
...🌴🌴🌴...
Sepertinya kehebohan semalam membuat semua orang merasa lelah. Membuat semua orang merasa malas untuk bangun sepagi ini. Namun, hal itu tak membuat seorang pria bermalas-malasan.
Dia memiliki jadwal meeting dengan rekan kerjanya melalui online yang membuatnya mau tak mau harus membuka matanya.
Syakir, pria itu menatap ke samping. Dia melihat istrinya tidur membelakanginya dengan begitu nyenyak. Dia menaikkan selimutnya karena memang kondisi keduanya memang tak memakai apapun.
Tadi pagi Syakir meminta jatahnya lagi sebagai upah telah memasak di waktu yang sepagi itu. Dia lekas turun dari ranjang dengan pelan karena takut membangunkan istrinya.
Setelah itu dirinya lekas pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri. Tak perlu waktu lama calon ayah dua anak itu telah keluar dengan pakaian yang lebih bersih dan kondisi yang segar.
Syakir menatap ke samping nakas dan gelas air putihnya habis. Merasa haus dia membawa gelas itu dan keluar kamar.
Syakir menatap sekelilingnya. Sepi dan sunyi yang menjadi tanda bahwa semua penghuni rumah tengah tertidur. Namun, langkah kakinya melambat saat dia melihat sosok perempuan tengah bergerak kesana kemari di dapur.
Syakir sangat tahu siapa pemilik punggung itu. Rachel, wanita yang pernah ada dalam hatinya kini terlihat sedang memasak.
Syakir yang haus tentu mengabaikan itu. Dia memilih berjalan ke tempat air dan membuat wanita itu menoleh.
__ADS_1
"Oh, Syakir. Maaf, " Kata Rachel dengan tak enak hati.
Suasana disana tentu terasa canggung sekali. Jujur hubungan mereka dulu juga kalian tahu sendiri. Tentu ada sesuatu yang membuat keduanya merasa tak nyaman ketika harus berdua di tempat seperti ini.
"Awas! " Syakir membantu memegang panci yang berisi air panas.
Rachel terkejut. Terlalu canggung membuatnya tak fokus. Syakir lekas meletakkan panci itu ditempat yang aman.
"Jangan melamun, Chel, " Kata Syakir menasehati.
"Terima kasih, " Sahut Rachel mengangguk.
Syakir hanya mengangguk. Dia lekas melanjutkan tujuannya mengisi gelas dengan air. Saat dia hendak pergi. Rachel memanggilnya dan membuat Syakir menoleh.
"Terima kasih, " Kata Rachel dengan pandangan yang seakan masih memiliki sesuatu yang ingin dikatakan.
"Sama-sama, " Sahut Syakir dengan mengangguk.
"Tunggu! "
Syakir menghentikan langkahnya lagi.
"Ya? "
"Aku ingin minta maaf padamu. Aku minta maaf atas segala hal di masa lalu. Aku benar-benar menyesal, Syakir, " Ucap Rachel dengan serius.
Dia menatap kedua mata Syakir. Perempuan itu memang serius meminta maaf karena Rachel sadar, dia memiliki banyak salah pada pria yang pernah mencintainya dengan tulus.
"Maafin aku," Lirih Rachel dengan menunduk.
Syakir terdiam. Perlahan dia mendekat dan mengusap pundak Rachel.
"Aku sudah memaafkanmu, Chel. Mari kita buka lembaran baru untuk kita berdua sebagai saudara. Tak ada lagi dendam. Tak ada kemarahan. Kita berdua sudah menjadi saudara ipar, " Ujar Syakir yang membuat Rachel menghapus air matanya.
Dia memberanikan diri mengangkat kepalanya. Menatap Syakir dengan lekat dan mengangguk.
"Terima kasih banyak. Terima kasih. "
Tanpa sepengetahuan keduanya. Dari jauh terlihat sepasang mata yang menatap ke arah keduanya dengan pandangan yang tak bisa diartikan.
~Bersambung
__ADS_1
siapa yang tengok-tengok yah. aduh jadi prahara gak tuh nanti.