
...Ternyata ujian itu hadirnya bertubi-tubi. Tak ada yang menyangka kapan datangnya dan kapan perginya. Mungkin saat ini hujan deras sedang mengujiku dan membuatku memilih apakah menunggu dan bersabar atau berakhir dengan meninggalkan semuanya yang ada di dunia....
...~Humaira Khema Shireen...
...🌴🌴🌴 ...
Tak terasa seminggu sudah berlalu. Hari-hari Humaira hanya diisi dengan kegiatannya di rumah sakit dan bekerja di cafe. Gadis itu bahkan mengambil pekerjaan sebagai juru tulis untuk para mahasiswa yang malas dengan bantuan Sefira.
Tak ada rasa malu dalam diri Humai. Apapun pekerjaannya yang pasti demi dirinya dan adiknya. Pasti akan ia lakukan apapun yang terpenting halal.Â
Tak ada lagi yang akan menopang hidup keduanya. Tak ada lagi sosok orang tua yang menjadi sandaran. Baik Humai maupun Rein keduanya harus hidup dengan tangan mereka sendiri.
Mereka hanya memiliki satu dengan yang lain. Maka dari itu kesehatan adiknya adalah satu hal yang Humai perjuangkan. Meski harus memakai uang yang seharusnya ia pakai untuk kuliah, Humai tak memperdulikan apapun.Â
Yang terpenting kesehatan Rein harus menjadi yang utama.
"Kamu udah siap, 'kan, Mai?" tanya Sefira sambil duduk di samping sahabatnya.
Kali ini mereka sedang ada di rumah. Mengerjakan pekerjaan kuliah dan juga tugas yang dikerjakan oleh Humai dari teman-temannya yang lain yang sudah membayarnya.Â
"Sebentar lagi. Ini tinggal sedikit," celetuknya sambil menatap ke arah laptop yang menyala.
"Udah kamu tulis, 'kan?"
"Semuanya beres. Kamu tinggal anter ke temen-temenmu aja, Fir," ujar Humai lalu segera beranjak berdiri.Â
Dia segera berlari ke arah kamarnya. Hari ini mereka akan pergi ke kampus setelah beberapa hari libur. Banyak dosen yang mengajar kelasnya sibuk jadi mereka sering mendapatkan tugas.Â
"Mai cepet, Mai!" teriak Sefira sambil memasukkan laptop Humai ke dalam tas.Â
Tak lama datanglah Humaira dari dalam kamar. Terlihat nafas gadis itu memburu dan sekarang berusaha meredakannya.Â
"Ayo!"Â
Keduanya segera keluar dari rumah Humai. Mereka berjalan menuju kendaraan milik Sefira yang sejak tadi sudah datang. Ya, semalam memang gadis itu izin tidur di rumah sahabatnya. Dia mengatakan bahwa akan mengerjakan banyak tugas dan akhirnya mendapatkan izin.Â
"Aku naik motor aja ya, Mai," tolak Humai dengan ekspresi tak enak hati.
"Ihh. Kamu sahabatku!" kata Sefira menggeleng.
Dia menarik tangan Humai lalu mengajaknya masuk ke dalam mobil.
"Jangan dengarkan kata mereka. Kamu hidup di kedua kakimu sendiri."Â
...🌴🌴🌴 ...
Tak lama akhirnya mobil Sefira memasuki gerbang kampus. Keduanya segera turun sambil membenarkan tas mereka.
"Kamu mau anter tugas temanmu kemana, Mai?" tanya Humaira saat melihat sahabatnya membawa buku-buku yang sudah dia bantu tulis.Â
__ADS_1
"Nanti saja aku antar ke fakultas mereka," kata Sefira dengan santai.
Namun, entah kenapa. Apa mungkin firasat mereka berdua atau bukan semua mahasiswa dan mahasiswi banyak yang menatap ke arah mereka berdua.
Lebih tepatnya ke arah Humai dengan ekspresi wajah jijik dan menatapnya rendah.
"Ada apa, Mai? Kenapa mereka semua sinis sama kamu?" tanya Sefira dengan menatap sekeliling.
Hingga tak lama, saat keduanya melewati lorong kampus dengan banyaknya mahasiswa yang berdiri di sepanjang lorong membuat Sefira ataupun Humai sedikit mendengar gibahan mereka. Â
"Aku gak nyangka aja, kalau dia obral badannya buat biaya hidup!"Â
"Aku juga. Apa sebegitu pentingnya uang dan kuliah sampai dia jual diri!" bisik-bisik yang lain.
Entah kenapa jantung Humai berpacu cepat. Dia menelan ludahnya paksa saat dipaksa mengingat kejadian itu. Kejadian dimana dia tak ingat apapun dan berakhir di atas ranjang dengan kejadian sadis selama hidupnya.
"Mai. Ada apa sih?" tanya Sefira penuh penasaran.
Tak tahan akan jiwa keponya. Akhirnya Sefira mendekati salah satu gerombolan.
"Kalian lagi bahas apa sih?"Â
"Mending Lo pergi jauh deh dari sahabat Lo, Fir. Gue takut Lo malah diajak kerja gak bener," kata salah satu wanita berpakaian bagus menatap ke arah Sefira kasihan.
"Maksud Lo apa'an?" tanya Sefira yang tak paham.
"Apa!" Mata Sefia membulat penuh.Â
Dia menatap marah ke arah gadis yang berdiri di depannya ini.Â
"Lo kalau ngomong perlu dijaga, yah! Jangan suka fitnah orang," semprot Sefira marah.
"Gue gak fitnah. Ada banyak bukti yang sudah disebar dan diketahui oleh semua orang!" ketusnya tak mau kalah.
"Dimana? Lo liat dimana, hah?"Â
"Udah, Fir. Udah. Biarin aja," kata Humai dengan mata memanas.
Entah kenapa Humaira merasa takut. Takut jika foto yang dimaksud oleh anak-anak itu adalah fotonya bersama Syakir. Dia takut aibnya tersebar dan membuat hidupnya terancam disini.
"Coba aja cek di mading kampus. Disana banyak kok dan jelas kalau temen Lo itu pelacur."Â
"Ya mulut Lo itu yang pelacur!" seru Sefira dengan marah. "Ayo, Mai. Kita lihat!"Â
Sefira lekas menarik tangan Humai. Meski berat, gadis itu mengikuti langkah sahabatnya. Mereka segera berjalan menuju mading besar yang ada di tengah-tengah kampus.
Dari jauh mereka bisa melihat banyak mahasiswa berdiri di sana dan menatap ke arah mading tersebut.
"Minggir!" seru Sefira menerobos.
__ADS_1
Dia tak peduli keadaannya. Sefira hanya ingin melihat hujatan apa lagi yang menimpa sahabatnya. Gadis itu benar-benar tak terima jika ada fitnah baru yang menimpa Humaira.
Hingga saat dia berhasil menerobos. Terlihatlah berita yang di mading. Wajah Sefira membulat penuh. Disana…ya disana Sefira bisa melihat sosok sahabatnya tertidur dengan keadaan polos dan hanya dibalut oleh selimut.
Lalu yang kedua, gaya dimana Humaira didudukkan meski kepalanya menunduk dengan wajah pria yang diblurkan. Namun, mereka tau sedang apa yang dilakukan dua orang itu di foto tersebut.Â
Sefira terkejut sampai dia menatap foto-foto itu tak percaya. Dia ingin menolak kenyataan tapi foto itu jelas tanpa editan. Itu sahabatnya. Ya sahabatnya sendiri.
Hingga ingatan dimana saat itu Humaira datang dengan keadaan yang berbeda. Jalan yang mengangkang dan begitu pelan.
Apa mungkin saat itu Humaira melakukan ini? gumam Sefira pelan di dalam otaknya.
Lamunan gadis itu buyar saat suara teriakan seseorang tertuju pada Humai.
"Nah ini tersangka utamanya!" teriak salah satu mahasiswi menatap Humai dengan jijik.
"Dasar tidak tahu malu!"
"Dasar pelacur!"Â
"Dasar wanita penggoda!"Â
"Lo gak malu yah sampai jual diri!"Â
"Huuu!" Mereka semua melempari Humai dengan kertas, air dan apa saja yang mereka pegang.
Humaira hanya bisa menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Gadis itu benar-benar pasrah dengan keadaannya sekarang.
Tubuhnya basah kuyup dan kotor. Bahkan mahasiswa lain sampai ikut melemparkan pasir ke arahnya dengan kalimat-kalimat yang sangat menyakitkan.
"Memalukan!"Â
"Wajah polos tapi perilaku Lo, pelacur banget!"Â
"Jual diri buat kuliah yah!"Â
"Kalau gak kuat mah, gak usah kuliah. Gak usah maksa sampai jual diri sama om-om!"Â
Hingga lemparan-lemparan itu semakin banyak dan membuat Humaira jatuh terduduk. Aksi itu langsung terhenti saat satpam kampus datang dan membubarkan mereka semua.
"Pergi Lo dari kampus ini. Malu-maluin angkatan aja Lo, *****!"Â
~Bersambung
Hiks Kan nangis lagi aku kalau udah perudungan gini. Emang gak tega banget pas bikin karaktee Humai begini. Banyak sesak nafasnya.
Masih kuat bacanya? btw novel ini aku tulis secara matang. Insya allah alurnya bakalan gak ketebak. Jauh gak sama kek cerita HTS.
Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar aku semangat ngetiknya.
__ADS_1