Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Panggilan Bara?


__ADS_3

...Ketika seseorang mencoba bertahan pasti ada sebuah alasan yang kuat. Namun, ketika alasan itu sudah tak ada artinya. Dia akan memilih pergi dan menjauh....


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Suasana rumah terlihat sepi saat Syakir baru saja sampai di rumah Humai. Dia lekas masuk dan berkeliling untuk mencari kemana gadis cupu itu berada. 


"Kemana dia?" gumamnya dalam diam. 


Syakir mengangkat bahunya tak acuh. Dia tak peduli wanita itu kemana. Mau dia mati atau hidup, dia kabur atau selingkuh, Syakir tak peduli.


Pria itu lekas menarik kopernya, dia berjalan ke arah lantai dua dan memilih kamar disana. Sampai kapanpun ia tak akan satu kamar dengan Humai. Dia tak akan terjebak lagi dengan rencana Humai.


Tak lama, saat Syakir baru saja selesai mandi. Dia mendengar suara mesin mobil yang sangat ia kenali. Pria itu lekas turun ke bawah setelah mengenakan pakaiannya kembali. 


Samar-samar ia mendengar suara yang sangat ia kenali. Suara yang sangat dirindukan, sikap manjanya yang selalu ia berikan pada Syakir.


"Giska!" panggilnya saat melihat adiknya sedang mengobrol dengan Humai.


Wanita yang memiliki nama itu lekas menoleh. Bukannya menjawab dia kembali memalingkan wajahnya dan menatap Humai di depannya.


"Ingat pesan Mama yah! Jangan telat makan dan minum vitamin kamu!" kata Sefira penuh perhatian. "Jangan capek-capek juga. Banyakin istirahat. Kasihan keponakanku nanti. Kamu mengerti?"


Humai tak nyaman. Apalagi dia melihat suaminya menatap Giska dengan kerinduan yang mendalam. Humai sangat tahu jika Syakir pasti merindukan adiknya. Namun, ia juga tak bisa melakukan apapun.


"Aku mengerti." 


"Ya sudah. Aku pulang ya, Mai!" pamit Sefira yang lekas memeluk sahabatnya lalu memasuki mobilnya lagi.


Tak ada sapaan, tak ada senyuman ataupun panggilan manja sang adik kepadanya. Syakir merasa rindu dan sakit. Dia juga marah dan kecewa pada Humaira. Karena wanita itu, semua yang ada disekitarnya menjauh. Karena wanita itu, kebahagiaan telah hilang. 


Mama yang sangat sayang padanya. Papa yang percaya kepadanya lalu adik yang sangat manja padanya semuanya hilang. Semua itu sangat dia rindukan tapi dirusak oleh wanita di depannya.


"Kak." 


"Kau puas?" seru Syakir dengan tatapan tajam berkilat marah pada Humai. "Kau puas sudah mengambil semuanya dariku?"


"Dari mamaku, papaku lalu sekarang adikku? Apa kau sudah puas, hah?" 

__ADS_1


"Apa kurang kau menghancurkan aku? Hidupku dan semua masa depanku."


"Aku…" 


"Aku benar-benar membencimu. Aku benar-benar membenci kehadiran anak dalam kandunganmu. Kenapa kalian tak pergi saja dari hidupku!" seru Syakir yang mulai lepas kendali. 


Tak mau semakin mengeluarkan segala sumpah serapah. Akhirnya Syakir kembali ke kamarnya. Dia membanting pintu kamar itu dan menimbulkan suara keras yang membuat Humai terkejut bukan main. 


Kemarahan itu telah jelas terlihat dan semakin membuat Humai merasa ini semua karena salahnya. Dia mengusap air matanya yang mengalir karena sakit melihat suaminya terlihat frustasi.


Jangankan Syakir, Humai sendiri bingung harus melakukan apa agar keluarga suaminya memaafkan Syakir. Pria itu mau bertanggung jawab, menurut Humai sudah cukup untuknya. 


Namun, tanpa Humai tahu, jika sebenarnya baik Giska, Mama Ayna dan Papa Haidar melakukan itu agar Syakir sadar. Sadar bahwa tingkah lakunya buruk pada wanita. Sadar bahwa dia memiliki adik perempuan yang bisa kapan saja disakiti seperti Humai. 


"Aku berjanji akan pergi, Kak. Aku berjanji akan pergi setelah pengobatan Rein selesai. Aku tak akan mengekangmu bersamaku secara terus menerus. Aku tau kau tak bahagia dan aku akan melepaskanmu," kata Humai dengan yakin.


...🌴🌴🌴 ...


Syakir menghela nafas berat. Dia berusaha membuat hatinya tenang. Matanya tanpa sengaja menatap sebuah pigura yang ia bawa dari rumah. Pigura kecil foto keluarga bahagia yang sangat dia sayangi.


Ada Mama, Papa dan adiknya, Giska. Senyuman terpancar di potret itu dan membuat Syakir merindukan momen kebersamaan mereka.


"Apa kalian benar-benar membenciku?" ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Aku merindukanmu, Ma. Aku juga merindukan manjamu, Giska." 


Saat dia mulai mendalami kerinduan ini. Panggilan di ponselnya membuat Syakir menoleh. Namun, dia menebak mungkin itu Rachel dan membuatnya malas untuk mengangkatnya.


Tapi setelah panggilan pertama mati. Ponsel itu kembali berbunyi. Syakir lekas mendekat dan hampir meledakkan amarahnya. Namun, melihat nama yang tertera di sana, membuat Syakir menghembuskan nafasnya.


"Ada apa Bara menelfonku?" gumamnya pelan sebelum menggeser tombol panggilan.


"Halo?" sapanya saat panggilan itu tersambung. 


"Hai, Gila! Akhirnya Lo angkat juga telepon gue," seru Bara secara langsung. 


Syakir bisa mendengar suara sahabatnya ketus. Dia yakin jika Bara mencarinya selama ini.


"Lo ada dimana? Lo menghilang seperti perawan yang takut dikawinkan," sindir Bara tang membuat Syakir terkekeh.

__ADS_1


"Gue bersemedi!" sahut Syakir asal. "Biar ketampanan gue makin paripurna!" 


"Bersemedi kepala Lo, Gila!" umpat Bara tak percaya. "Gue tanya yang bener. Lo dimana?" 


Syakir berjalan menuju jendela kamar. Dia berdiri disana dan bisa melihat atap-atap tetangga yang ada di dekat rumahnya ini.


"Gue ada di malang, Bar!" ujar Syakir dengan jujur.


Dia tak mungkin bersembunyi terus. Persahabatan antara Bara, Reno dan dirinya sudah sangat lama. Beberapa bulan ini dia pergi ke Malang dan tak tinggal di Jakarta atas permintaan orang tuanya.  


Mereka ingin Syakir mengurus perusahaan keluarga daripada membantu dan membangun perusahaan sendiri. Mereka juga ingin Syakir dekat dengan keluarganya.


"Gila. Lo pergi sejauh itu, buat apa, hah?" tanya Bara dengan nada suara terkejut. "Lo cari jodoh?"


"Sialan, Lo!' umpat Syakir dengan ketus. "Gue kerja disini!" 


Terdengar tawa kecil disana dan Syakir tahu jika sahabatnya juga sama bercandanya dengan dirinya.


"Ngapain Lo hubungin gue?" tanya Syakir saat mengingat Bara menelponnya secara mendadak. 


"Gue awalnya mau liburan ke Jogja tapi gue inget-inget Lo kan sering ke Malang. Mangkanya gue mau tanya Lo dulu, sebelum gue ajak istri dan anak-anak gue kesana," kata Bara mulai bercerita.


Syakir mendengar penjelasan Bara. Kepala pria itu mengangguk saat sahabatnya menceritakan semuanya.


"Lo beruntung, Bar. Lo beruntung masih dikasih kesempatan sama Tuhan," kata Syakir dengan ikut terharu.


"Lo bener," sahut Bara dengan cepat. "Gue gaktau perbuatan baik apa yang udah gue lakuin sampai Tuhan kasih kesempatan kedua."


"Jangan pernah Lo sia-siain, Meera!"


"Ya jelas," sahut Bara dengan cepat.


"Lo kabarin aja kalau udah otw kesini. Gue bakalan jemput kalian ke Bandara sendiri dan dengan suka rela gue jadi guide untuk kalian." 


"Oke. Thanks yah. Gue sama istri berangkat besok!" 


"Oke. Gue tunggu di Malang!" 


~Bersambung

__ADS_1


Nah yang ditunggu kalian yah. Noh Next Bab bakalan ada Mas Bar & Keluarga haha.


Maaf baru update. Semalam aku datengnya kemaleman alhasil baru bisa update. Hari ini aku usahain update 3 bab buat nalangin utang bab kemarin.


__ADS_2