Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Rasya Jay Achala


__ADS_3

...Saat melihat bagaimana garis wajah anakku, aku yakin bahwa Tuhan sedang menunjukkan kuasanya untuk membuktikan bahwa dia adalah keturunan asli dari ayah kandungnya....


...~Humaira Khema Shireen....


...🌴🌴🌴...


Akhirnya untuk pertama kali dalam hidup Humaira. Dia menggendong seorang bayi mungil yang merupakan keturunan dirinya sendiri. Seorang duplikat dirinya dan Syakir yang sangat amat ia sayangi. 


Tubuh mungil, pipi gumus dan jangan lupakan kulitnya yang kemerahan serta tubuhnya yang sedikit lebih kecil daripada bayi baru lahir. Membuat Humaira tanpa sadar menangis.


Dia merasa telah gagal menjadi ibu untuk anaknya. Karena keteledorannya, anak yang seharusnya masih beberapa minggu lagi lahir ke dunia, harus dipaksa keluar sekarang. 


"Jangan menyesali semuanya, Nak. Ini sudah takdir Tuhan untuk membuatnya terlahir ke dunia lebih cepat," kata Mama Ayna menghibur.


Humaira mengangguk. Dia mendekatkan kepalanya lalu dengan pelan, untuk pertama kalinya Humaira mencium dahi anaknya yang sedang memejamkan matanya dengan tenang.


Semua orang yang melihat tentu merasa sedih bercampur haru. Momen yang seharusnya membahagiakan untuk seorang ibu dan anak yang baru lahir dengan berkumpulnya keluarga. Namun, tidak dengan Humaira.


Proses kelahiran yang seharusnya ditemani oleh sang suami, proses yang seharusnya menjadi kekuatan antara suami dan istri ternyata mampu ia lewati meski sendirian.


Hanya ada dia dan anaknya yang berjuang. Berjuang antara hidup dan mati agar anaknya terlahir di dunia. Dunia yang kejam tapi Humaira siap memberikan dunianya untuk sang putra. 


"Aku gak pernah menyesal hamil dia, Ma. Sedikitpun gak ada dalam pikiranku menyesali kehadirannya. Tapi…" jeda Humai lalu menatap ibu mertuanya. "Aku menyesal karena kehadirannya tak disambut lengkap oleh Kak Syakir. Anak pertama yang seharusnya menjadi teman dan penguat kami berdua ternyata tak mampu membuat Kak Syakir sadar akan kita berdua." 


Apa yang dikatakan Humaira memang benar. Dia tak pernah menyesali dirinya yang hamil diluar nikah. Dia juga tak menyesal karena melakukan semuanya sendiri. Namun, dia menyesal kenapa kehadiran anaknya tak mau diterima oleh ayah kandungnya sendiri. 


Kenapa anak sekecil itu harus menjadi korban dari kedua orang tuanya?


Dia juga tak mau dihadirkan dalam perut Humai. Dia juga tak minta dilahirkan seperti ini. 


"Sebentar lagi, Nak. Sebentar lagi Tuhan akan memberikan kuasanya sama kamu. Percaya sama Mama yah, adanya dia…" ujar Mama Ayna menatap cucu pertamanya dengan penuh sayang. "Akan membawa keberkahan buat kamu, buat Syakir dan buat kita semua?" 


Humaira mengangguk. Dia percaya hadirnya anak dalam hidupnya akan menjadi satu berkah yang tak bisa dijabarkan. Akan menjadi momen terbaik dalam hidup Humai selama dia hidup di dunia. 


"Apa kamu sudah siapkan nama anak untuknya?" tanya Papa Haidar yang baru saja mendekat dengan Papa Hermansyah.


Humaira mendongak. Dia menatap dua pria yang sangat menyayanginya ini. Kepalanya menggeleng menandakan bahwa Humaira belum menyiapkan sebuah nama untuk putranya. 


"Tapi aku ingin nama putraku ada satu kata yang sudah Humai siapkan sejak dulu, Pa," ujarnya yang membuat mereka semua mendekat.

__ADS_1


"Apa?" 


"Rasya," lirih Humai dengan pelan.


Spontan ucapan Humai membuat Sefira menoleh. Dia sangat tahu kata itu terdapat dari mana. Kata yang pernah Humaira dan Sefira pikirkan saat mereka masih tinggal di Kota Malang. 


"Humaira Syakir?" 


Gadis yang menggendong putranya itu mengangguk. Dia tersenyum meski senyuman itu menandakan sebuah kesedihan.


"Bagaimanapun Kak Syakir padaku. Mau mengelak atau nggak, dia tetap putraku dari Kak Syakir. Biarkan Humai ingat bahwa didalam tubuhnya ada darah Kak Syakir," lirih Humai dengan kembali menangis. "Karena pernikahanku akan kandas dan hadiah terakhir dari Tuhan untuk pernikahan kami berdua adalah dia." 


Hermansyah sampai mengusap kepala putrinya. Dia tak menyangka putrinya sekuat itu. Humaira benar-benar seperti Emili. Dia tak pantang menyerah saat sakit jiwanya belum datang.


Emili adalah sosok ibu yang berhati lembut tapi tak mudah menyerah. Emili selalu mengutamakan kebahagiaan anaknya daripada dirinya. Itu yang Hermansyah juga lihat dalam diri anaknya. 


"Boleh Papa memberikan nama panjang cucu Papa ini?" 


"Tentu, Pa. Berikan nama yang penuh berkah untuknya."


"Rasya Jay Achala. Semoga dia seperti artinya. Menjadi anak laki-laki tinggi dengan kejayaan yang pantang menyerah," ucap Papa Hermansyah yang sudah mencari tahu nama akhir itu bersama Papa Haidar.


"Jadi dipanggil Jay, boleh dong, Pa?" ucap Sefira dengan mentoel pipi keponakannya itu.


"Tentu. Panggil dia dengan nama depan, tengah atau belakang. Semuanya sama saja."


Humaira mengangguk. Dia menunduk sambil mengusap pipi anaknya yang masih terlihat lemah. 


"Kamu anak kuat, Nak. Kita akan berjalan bersama setelah ini yah. Rasya akan menjadi penguat mama," ucap Humai dalam hati dengan air mata yang hendak kembali turun. 


...🌴🌴🌴...


Akhirnya hanya butuh waktu dua hari Humaira di rawat. Hari ini dia dan putranya sudah diizinkan pulang. Tentu mereka langsung disambut penuh bahagia oleh putri kedua pasangan Bara dan Almeera. 


Ya mereka masih tinggal di rumah Almeera karena masih belum ada tempat tinggal di sana untuk mereka. Semua orang diminta tinggal di rumah pasangan Bara dan Almeera atas persetujuan keduanya memang. 


"Tante, Adik Jay tampan sekali," kata Bia dengan memegang tangan mungilnya.


Saat ini mereka sedang ada di kamar Humaira. Hanya ada dia, Bia dan Jay yang ada di ranjang.

__ADS_1


"Adek Jay, 'kan, laki-laki, Sayang. Kalau dia perempuan, pasti cantik kayak Mbak Bia," ucap Humaira sambil mencubit pipi Bia dengan pelan karena gemas.


"Papaku selalu bilang kayak gitu juga, Tante," katanya dengan ekspresi wajah yang menggemaskan.


"Iya dong. Bia cantik kayak Mama." 


Bia mengangguk. Bocah itu benar-benar tak bisa jauh dari Jay. Dia terus menempel pada Humaira dan anaknya sepanjang hari. Sampai akhirnya hampir dua jam mereka bermain di ranjang.


Bia mulai memejamkan matanya di samping putranya. Humaira tersenyum saat melihat keduanya tidur dengan tenang. Namun, tiba-tiba kedatangan Mama Ayna dan Sefira ke kamarnya membuat Humaira perlahan duduk.


"Ada apa, Ma?" 


"Mama pengen bicara sama kamu, Nak. Bisa?" 


"Tentu. Tapi anak-anak…?" 


"Biarkan aku yang menjaganya, Mai," sela Sefira dengan cepat. 


Akhirnya Humaira meninggalkan anaknya. Dia mengikuti langkah mama mertuanya yang ternyata membawanya ke ruang tamu.


Disana sudah ada Papa Haidar dan Papa Hermansyah yang menunggu. Sedangkan Mama Emili, Humai yakin jika ibu kandungnya itu sedang istirahat.


"Ada apa, Ma?" 


"Ini." Papa Haidar menyerahkan sebuah amplop coklat pada Humai.


Ibu yang baru melahirkan itu menatap amplop itu dengan bingung. Namun, akhirnya Humaira yang tak mau dipenuhi rasa penasaran memilih mengambilnya dan segera membukanya dengan pelan.


Sampai akhirnya surat putih itu mulai terlihat. Humaira mulai membukanya dan terlihat goresan tinta hitam disana. 


Jantung Humaira mencelos. Saat ternyata surat yang ia pegang bukanlah surat biasa. Melainkan, surat perceraian.


"Ini?"


"Iya, Nak. Surat perceraian kamu dengan Syakir," ucap Mama Ayna menatap menantunya itu dengan mata memerah menahan tangis. "Syakir sudah menandatangani surat itu. Tinggal kamu saja sekarang. Tanda tangan disana dan kalian akan resmi bercerai." 


~Bersambung


Bahkan jahitan di perutnya masih basah tapi dia udah dikasih surat cerai. Jadi Humai emang semenyakitkan itu yak. Tapi gakpapa ntar lagi kamu kuliah lagi, semangat lagi. Rubah hidup Mai. Nih aku udah siapin alur bagus buat kamu hehe.

__ADS_1


Siap untuk beberapa tahun kemudian geng? yuhuu aku mau melompat nih alurnya hahaha.


__ADS_2