
...Cobalah membuka mata selebar mungkin dan terimalah jika ternyata di dunia ini masih ada orang baik yang mampu memaafkan semua kesalahan orang dengan tulus. ...
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
Humaira tersenyum saat Rachel benar-benar tak melakukan apapun. Bahkan nafas gadis itu perlahan begitu teratur. Tubuh yang semula kaku kini perlahan mulai tak setegang tadi.
Dia benar-benar tak menyangka jika Rachel sesuai dengan dugaannya. Humaira tak menyesal jika dia pernah mengalami keadaan broken home. setidaknya apa yang terjadi padanya di masa lalu, membuat Humaira bisa merasakan derita anak broken home yang lain.
Dia bisa sedikit lebih sabar. Dia bisa mengalah dengan keadaan. Dia bisa belajar memaafkan orang lain ketika kita mampu merasakan apa yang terjadi ketika kita ada di posisi mereka.
Dunia tak kehabisan orang baik. Namun, terkadang banyak orang yang mengatakan bahwa orang baik adalah orang yang munafik. Orang baik adalah orang paling langkah sedunia.
Tak lama, tangan Rachel terangkat. Papa Hermansyah dan Syakir sudah mulai mendekat. Keduanya takut jika tangan itu digunakan oleh Rachel untuk melawan.
Namun, ternyata dugaan keduanya salah. Keduanya ditampar oleh kenyataan. Ya, tangan Rachel perlahan melingkar di pinggang Humai. Gadis itu perlahan memejamkan matanya hingga tak lama suara isakan mulai terdengar.
Gadis itu perlahan menyusupkan wajahnya di pundak Humai. Rachel, wanita yang selama ini dianggap gila. Melakukan segala hal buruk juga tetaplah manusia.
Terkadang dia mengamuk ketika mentalnya mulai kambuh. Ketika dia menyadari kesalahan yang selama ini ia lakukan sangatlah jahat. Namun, ketika dirinya tak kambuh. Rachel tetaplah seperti manusia biasa.
"Menangislah jika itu membuatmu tenang, " Kata Humaira pelan dengan mengusap punggung yang bergetar itu.
Humaira tak tahu apa yang dirasakan oleh Rachel sekarang. Apa yang membuat gadis itu menangis begitu sesenggukan. Namun, Humaira yakin jika sakit yang dirasakan Rachel masih penuh luka.
Sakit yang perempuan itu rasakan masih menganga lebar. Seperti dirinya yang dulu, ketika baru kabur ke Jakarta. Lukanya masih sempurna. Lukanya masih tak terobati dan membuat rasa marah dan benci pada Syakir menumpuk.
"Maafkan kesalahanku selama ini, Mai. Maafkan aku yang jahat padamu, " Kata Rachel dengan tangisan yang terdengar menyayat hati.
"Aku juga minta maaf. Karena kesalahan Papaku, kamu harus menanggung semua ini, " Kata Humai yang membuat Rachel perlahan melepaskan pelukannya.
Wajah gadis itu menatap Humaira dengan lekat. Kedua pria dengan usia yang berbeda juga tak kalah sigap. Keduanya berdiri di samping kanan dan kiri Humai untuk berjaga karena takut jika Rachel tiba-tiba kambuh.
"Tenanglah, Pa, Kak, " Kata Humaira yang menyadari jika Rachel mulai menatap ketiganya dengan lekat. "Dia adalah saudaraku. Aku percaya Rachel tak akan menyakitiku. "
Anak broken home hanya butuh teman. Mereka juga butuh sandaran dan pelukan. Mereka juga butuh telinga untuk mendengar keluh kesahnya selama ini. Seperti hal itulah yang membuat Humaira mencoba menjadi sosok di antara Rachel.
__ADS_1
Dia ingin gadis itu percaya padanya. Dia ingin saat kesadaran gadis itu seperti ini, Rachel tahu bahwa dia tak sendirian. Dia masih memiliki beberapa orang yang setia dan sayang kepadanya dengan tulus.
"Benar, 'kan, Kak? " Kata Humaira yang membuat tatapan Rachel kini tertuju pada Humai.
Rachel terdiam. Namun, matanya menatap ketiganya bergantian. Seakan kepala dan pikirannya kini mulai berperang. Gadis itu mulai menggelengkan kepalanya saat otaknya banyak menerima suara-suara yang terjadi di masa lalu.
"Kau hanya anak angkat! "
"Kau hanya hidup dengan harta! "
"Tanpa ayahmu! "
"Humai merebut ayahmu! "
"Humai adalah penjahat! "
Semua perkataan itu kini terngiang di kepala Rachel. Gadis itu seakan berusaha menerima luka di masa lalu. Luka yang dalam masih sangat jelas menghantui pikirannya hingga membuat gadis itu mengangkat tangannya dan mulai memukul kepala ya sendiri.
"Aghh, " Teriak Rachel dengan tangan tak berhenti memukuli kepalanya sendiri.
Hal itu tentu membuat Humai lekas meraih tangan Rachel. Berusaha menghentikan pukulan itu.
"Rachel berhenti! " Kata Papa Hermansyah yang juga membantu putrinya menahan tangan Rachel yang terus meronta.
"Pergi kalian. Pergi! " Jerit Rachel seakan ingin semua ucapan di dalam pikirannya itu hilang.
"Hahaha kau dibodohi! "
"Hahaha Humai jahat padamu! "
"Humai merebut segalanya darimu! "
Rachel benar-benar hilang kendali. Dia berusaha mengembalikan kewarasan dalam dirinya. Namun, ketika kambuh itu mulai datang. Ya seperti inilah dia.
"Panggilkan dokter, Sayang, " Ujar Syakir sambil memegang tangan Rachel dengan Papa Hermansyah. "Cepat! "
Humai akhirnya segera berlari masuk. Sampai akhirnya saat dia hendak menuju ruangan Rachel. Terlihat suster yang ia lihat tadi dan membuatnya lekas mendekati wanita itu.
__ADS_1
"Ada apa, Nona? "
"Rachel mengamuk. Rachel mengamuk di taman! " Kata Humai dengan nafas ngos-ngosan.
"Baiklah, Nona. Kami akan tangani! "
Humaira hanya bisa mengangguk. Dia mengusap wajahnya dengan pelan sekarang. Seakan Humai merasa benar-benar sakit dan menyesal. Menyesal dengan keadaan Rachel yang seperti ini. Ayahnya, pria yang menjadi cinta pertama adalah sosok yang juga membuat Rachel merasakan hal buruk ini.
Kesalahan di masa lalu yang begitu menakutkan. Mental yang dihancurkan karena sebuah kasih sayang dan dendam yang menumpuk membuat kehidupan seorang gadis hancur sia-sia.
Humaira hanya berharap. Semoga usaha mereka tak sia-sia. Semoga Rachel bisa kembali seperti semula.
...🌴🌴🌴...
"Bagaimana, Dokter?" Tanya Papa Hermansyah setelah Rachel tenang.
Ya lagi-lagi suntikan penenang diberikan. Kini nafas teratur mulai terlihat dan Rachel memejamkan matanya di atas ranjang.
Suster dan dokter tentu dengan sigap menangani kambuhnya Rachel tadi. Mereka lekas mengambil alih dan membawa perempuan itu kembali ke ruang rapatnya.
"Perubahan yang pesat, " Kata Dokter setelah mendengar penjelasan Humaira.
Ya calon istri Syakir menceritakan apa yang terjadi sebelum Rachel mengamuk. Apa yang dilakukan gadis itu tadi. Bagaimana Rachel yang menerima pelukannya. Bagaimana gadis itu yang tenang dengan orang yang ikut serta dalam masa lalunya. Hal itu tentu membuat dokter mengangguk mengerti.
"Aku yakin jika sebenarnya dia hanya butuh teman. Hanya saja, Rachel belum berdamai dengan dirinya. Seakan semua kejadian di masa lalu masih terekam jelas di otaknya sekarang, " Kata dokter dengan menatap sosok Rachel yang berbaring dengan tenang.
Dia adalah dokter yang merawat Rachel semenjak gadis itu masuk ke rumah sakit jiwa ini. Semua perkembangan Rachel tentu dikontrol olehnya.
"Apa saudaraku bisa sembuh, Dokter? " Tanya Humaira menatap dokter dengan sungguh-sungguh.
Ya Humaira serius dengan ucapannya ini. Dia serius menanyakan hal ini karena memang dirinya ingin Rachel sembuh. Dia ingin gadis itu bisa kembali ke kehidupan normal.
Dia ingin Rachel bisa berjalan bersamanya. Memaafkan semua yang terjadi di masa lalu dan keduanya bisa hidup berdampingan.
Humaira tak mau ayahnya menjadi sosok jahat. Dia tak mau ayahnya akan dihantui rasa bersalah jika Rachel terus seperti ini.
"Tentu bisa, Nona, " Kata Dokter dengan keyakinan yang sama. "Semua yang ada disini hanyalah manusia yang sakit jiwanya. Mereka bisa sembuh jika sadar bahwa masih ada kita yang peduli pada mereka."
__ADS_1
~Bersambung
Next bab kita bikin bucin dulu sedikit yakan hihi. Biar gak emosi mulu sama ni konflik yang mau selesai haha.