Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Humai Sakit?


__ADS_3

...Belajar untuk memulai semuanya di umur yang tak lagi muda bukanlah hal yang terlambat. Kamu berani melangkah dan mencoba hal baru adalah satu perjuangan awal yang begitu luar biasa. ...


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Hari ini adalah hari dimana Humai, Syakir, Jay, Jeno dan Sefira datang di acara fashion yang akan diikuti oleh Ye Jun. Gaun kuning yang sangat cantik itu akan dipakai oleh model pilihan rekan kerjanya.


Sejak pagi Humai sudah bersiap dengan baik. Dia memilih memakai rok panjang dengan jaket tebal karena beberapa hari ini dia merasa tubuhnya tak seperti biasanya.


Humai sering kelelahan. Bahkan dirinya merasa lemas dan membuatnya takut jika keadaannya ini karena dia yang sibuk mengurus gaun untuk acara lomba nanti.


Dengan begitu manisnya. Humai mengancingkan kemeja Syakir. Pria itu ingin memakai kemeja lengan pendek di dalamnya dan nanti akan dipadu dengan jaket tebal di luarnya.


Penampilan yang sangat amat luar biasa dan selalu mampu membuat perempuan yang tengah merapikan bagian kerah bajunya tersenyum.


"Selesai, " Kata Humai lalu memberikan kecupan di bibir Syakir.


Pria itu tersenyum kecil. Entah kenapa istrinya beberapa hari ini sangat manja padanya. Namun, bukannya risih. Syakir merasa sangat senang.


Dia bahagia dengan perubahan istrinya itu yang selalu bergantung padanya. Bahkan ketika malam. Humai akan meminta diusap punggungnya agar tertidur dengan nyenyak.


"Kenapa kamu manis sekali, " Kata Syakir yang memegang kedua pinggang istrinya dan memeluknya dengan mesra.


Humai terkekeh. Dia meletakkan kepalanya di dada Syakir dan menikmati aroma tubuh suaminya yang entah kenapa menjadi candu untuknya.


"Karena aku istrimu, Kak, " Jawab Humai yang membuat Syakir tertawa receh.


Tak lama sebuah pukulan di kakinya membuat Syakir melepaskan pelukannya dan menunduk.


"Jay juga mau peluk, Ibu! " Ujar anak umur 3 tahun itu yang membuat Syakir terkekeh.


"Kau iri, Boy! "


"Dia Ibuku! " Sahut Jay saat dia berpindah ke gendongan ibunya dan melingkarkan tangannya di leher Humai.


"Ya. Dia juga istriku! " Kata Syakir tak mau mengalah. "Jadi Ibu punya Ayah sama Jay! "


Kepala mungil itu menggeleng. "Ibu cuma punya Jay! "


"Terus, Ayah? " Kata Syakir pura-pura sedih.


"Ayah ngalah dulu sama Jay! "


Syakir memukul dahinya. Dia benar-benar kalang kabut dengan aksi putranya itu. Semenjak kejadian yang membuat dia tak merasa was was lagi pada Ye Jun.


Saat dimana Jay mengatakan semuanya apa adanya. Semenjak itu putranya semakin manja pada istrinya kesayangannya itu. Jay semakin menempel dan membuat waktunya dengan Humai berkurang.

__ADS_1


Namun, meski begitu. Syakir tak pernah marah. Bahkan dia lebih suka menggoda putranya sampai marah saat dia pura-pura mengatakan untuk mengambil ibunya.


"Yaudah. Ayo berangkat. Ante Fira pasti udah nungguin di depan! " Ajak Humai yang membuat Syakir lekas meraih sweater di atas ranjang dan memakainya.


"Jaketnya, Kak? " Kata Humai menggelengkan kepalanya melihat aksi suaminya yang selalu lupa.


"Bawakan ya, Sayang? "


"Okey."


...🌴🌴🌴...


Humai merapatkan jaketnya saat mereka baru turun dari mobil. Humai menatap sekeliling dan sudah banyak orang yang mulai berdatangan. Di tangan mereka juga sudah ada tiket pemberian Ye Jun yang memudahkan mereka untuk datang.


"Kamu baik-baik saja, Mai? " Tanya Sefira khawatir pada keadaan istri kakaknya itu.


Sefira berjalan sambil membawa dua buket bunga milik Humai dan dirinya. Sefira dan mereka memang menyiapkan ini untuk semangat tim mereka.


Sefira menatap sahabatnya itu. Dia merasa Humai tak seperti biasanya. Wanita itu terlihat kurang baik dan membuat Syakir juga ikut khawatir.


"Kalau kamu sakit lebih baik kita kembali ke hotel, Sayang. Biarkan Jeno dan Sefira yang datang, " Ujar Syakir mencari jalan tengah.


Humai menggeleng. Dia hanya merasa kedinginan sana dan badannya sedikit tidak enak.


"Aku baik-baik saja kok. Mungkin efek beberapa hari ini aku gak bisa tidur, " Ujar Humai yang membuat Sefira mengusap kepala sahabatnya itu.


"Jangan terlalu keras sama diri kamu sendiri, Mai. Gaun kita mau selesai, jadi kita bisa kerja santai saja! "


Humai benar-benar memforsir dirinya untuk ini, menyerahkan semua perjuangan dirinya untuk lomba ini dan hal itulah yang membuatnya berpikir jika dia merasa tak enak badan karena jarang tidur dan bekerja terus.


"Iya."


"Yaudah ayo masuk! " Ajak Syakir klau melingkarkan tangannya di pundak istrinya.


Sedangkan Jay, bocah kecil itu ada dalam gendongan Jeno.


Mereka berlima segera masuk ke sebuah gedung besar dan panjang itu. Saat langkah kaki mereka baru memasuki ruangan. Berjajar kursi telah banyak ditata rapi disana.


Bahkan beberapa orang sudah duduk dengan tenang sesuai nomor urutnya.


"Kita duduk dimana, Mai? "


"Ye Jun bilang ini tiket VIP. Jadi kita duduk paling depan! " Kata Humai yang membuat mereka semakin masuk.


Saat mereka mulai mencari kursinya. Sebuah panggilan membuat Humai dan Sefira menoleh.


"Hae! "

__ADS_1


"Kalian baru sampai? "


"Ya, " Sahut Humai mengangguk.


"Tempat duduk kalian bukan disini, " Kata Hae lalu mengajak mereka pindah.


"Kamu disuruh Ye Jun jadi? "


"Ya. Ye Jun memintaku untuk menunggu disini karena takut kalian tak tahu tempat duduknya, " Ujar Hae yang membuat mereka terkekeh. "Nah kalian duduk disini yah. Disini Humai dan Fira juga bisa lihat peragaan dengan begitu dekat dan sangat jelas. "


Humai dan adik Syakir mengangguk. Dia duduk tepat di sebelah podium yang digunakan untuk fashion show. Dari jarak dekat seperti ini, tentu hal itu membuat Humai dengan leluasa melihat semuanya.


"Lalu kemana Dong Min? " Kata Humai dengan pelan.


"Dong Min ada di dalam, " Ujar Hae dengan menatap sekelilingnya.


Dia mendekatkan bibirnya di telinga Humai untuk berbisik.


"Ada sedikit kendala di gaun kami. Ada area yang robek karena Dong Min tak sengaja membuatnya tersangkut! "


Humai terkejut. Dia membulatkan matanya dan menatap ke arah mata Hae. Benar saja, di sana dia bisa melihat mata yang kemarin penuh semangat terlihat putus asa.


"Lalu bagaimana sekarang? "


Har menghembuskan nafasnya berat. Perempuan itu terlihat sangat amat tertekan. Bahkan Hae memijat kepalanya yang sakit.


"Entah. Ye Jun bilang percayakan saja padanya tapi tetap saja. Aku khawatir, Mai, " Ujar Hae dengan wajahnya yang tak bisa menutupi kekhawatirannya.


Humai tak bisa melakukan apapun. Namun, dengan pelan dia menepuk pundak Hae.


"Percayalah pada Ye Jun. Dia pasti bisa menangani semua ini, " Ujar Humai yang sebenarnya sama khawatirnya.


"Ya."


"Semangat, Hae! " Kata Humai setelah mereka duduk dengan tenang.


"Oke. Aku pergi dulu! "


Mereka akhirnya duduk sebaris dengan Humai bersebelahan dengan Syakir sedangkan Sefira duduk di antara Humai dan Jeno.


Syakir yang masih khawatir meminta istrinya jangan membuka jaket yang berada di lapisan kedua yang dipakai oleh istrinya.


"Kalau kamu makin gak enak badan. Bilang, Sayang. Jangan memaksa yah? " Ujar Syakir dengan pandangan matanya yang jelas sangat khawatir.


Hal itu membuat Humai tersenyum. Lihatlah suaminya itu sangat amat mengutamakan kesehatannya.


"Iya, Ayahnya Jay."

__ADS_1


~Bersambung


Kebanyakan dikerjain Bang Syakir sih tiap malam. Mangkanya sakit hahah.


__ADS_2