
...Harapan itu masih tertata rapi dan tak ada yang bisa merusaknya sebaik apapun mereka yang datang....
...~Humaira Khema Shireen...
...🌴🌴🌴...
Saat mobil yang dikendarai oleh Jeno berhenti tepat di depan pasangan suami istri itu. Humaira dan Jay akhirnya turun dengan wajah bahagianya. Mereka bahkan dengan melebarkan senyumannya keluar dari kendaraan itu dan berjalan ke arah Almeera dan Bara.
"Kenapa kalian gak ngabarin dulu sih, kalau mau kesini?" tanya Almeera sama Humaira memeluknya.
"Surprise dong. Kalau aku bilang, nanti bukan kejutan lagi," kata Humai menjelaskan.
Almeera terkekeh. Apa yang dikatakan oleh wanita itu benar. Hingga tak lama, suara pintu mobil yang ditutup membuat perhatian Almeera dan Bara teralihkan.
"Eh siapa dia, Mai?" tanya Almeera yang terkejut dengan kehadiran Jeno.
"Dia Om Jeno, Tante," jawab Jay yang langsung menarik tangan Jeno dan memintanya gendong.
Semua yang dilakukan oleh Jay tak luput dari tatapan mata pasangan suami istri itu. Tentu Humaira sangat tahu jika pasti mereka bingung dengan keadaan ini.Â
"Pak Jeno ini dosen di kampus, Kak," kata Humai mengenalkan. "Dan, Pak Jeno. Ini Mbak Almeera dan Mas Bara. Dia Kakak aku."Â
Almeera tersenyum. Lihatlah, Humai. Keduanya sudah menganggap seperti adik dan kakak. Siapapun yang bertanya baik Humai ataupun Almeera pasti akan menjawab seperti itu.
"Salam kenal. Saya Jeno," sapa Jeno mengulurkan tangannya.
"Selamat datang di rumah kami, Pak. Saya Bara dan ini…"Â
"Almeera. Istrinya Mas Bar," lanjut Almeera menerima jabat tangan itu.
Jeno mengangguk. "Panggil saya Jeno saja. Jangan terlalu formal."Â
Bara dan Almeera tersenyum kaku. Namun, keduanya akhirnya mengangguk.Â
Perlahan Almeera mulai mengajak ketiga tamunya masuk. Saat mereka baru saja memasuki ruang tamu. Suara teriakan seseorang membuat Jay menoleh.
"Kak Bia!" pekik Jay dengan bahagianya.
Dia lekas meminta turun. Lalu dengan pelan, mengambil kotak berisi kue diatas meja dengan cepat.
"Eh hati-jati, Nak!" kata Humaira hendak melarang.
__ADS_1
Namun, ternyata putranya itu bisa. Dia membawa kue itu ke arah Bia yang juga sedang berjalan ke arah mereka.
"Wahh kue ini!" pekik Bia dengan mata berbinar.
"Ayo makan, Kak!" ajak Jay yang langsung mendapatkan anggukan kepala.
"Jay main sama aku ya, Tante Mai," pamitnya pada Humaira.
"Iya, Sayang. Hati-hati yah," ucap Humaira pada anak kedua pasangan Almeera dan Bara.
"Siap, Tante."
Akhirnya setelah kepergian Jay dan Bia. Almeera pamit untuk membuatkan minuman. Disaat itulah, Humai ikut berdiri untuk kabur dari situasi ini.
"Aku ikut, Mbak," kata Humai beranjak berdiri. "Saya tinggal sebentar ya, Pak. Boleh, 'kan?"Â
Jeno yang saat itu berbincang dengan Bara mengangguk. Akhirnya dia mulai berjalan menyusul langkah Almeera.
Dengan manja Humai melingkarkan tangannya di lengan Almeera. Dia berjalan bersama menuju dapur yang dulu sering digunakan untuk memasak.
"Kamu ada hubungan sama Pak Jeno?" tanya Almeera tiba-tiba dengan tangannya yang mulai bergerak memanaskan air panas.
"Eh." Humai lekas menggeleng. "Hubungan kami sebatas mahasiswa dan dosennya, Mbak. Gak ada hubungan spesial apapun."Â
"Tapi bagaimana bisa Jay begitu dekat dengan Pak Jeno?"Â
Humaira menghembuskan nafas beratnya. Akhirnya Humaira mulai menceritakan asal muasal mereka kenal. Bagaimana awal Jay tiba-tiba bersama Jeno menjadi akrab dan sampai sekarang.
"Pak Jeno sangat baik memperlakukan Jay maka dari itu, dia sangat mudah akrab dan suka pada Pak Jeno," kata Humaira mengakhiri ceritanya. "Aku saja sampai tak memahami sikap dosenku, Mbak. Di Kampus dia disebut dosen killer, dingin dan jarang bicara. Namun, ketika bersama Jay. Semua itu tertepis!"Â
"Tertepis maksudnya?"Â
"Ya Pak Jeno bisa tertawa, tersenyum, bercanda dengan Jay sebebas itu. Hanya ketika bersama Jay saja dia menjadi seperti orang lain."Â
Almeera masih mendengar semuanya. Seakan dia masih memahami cerita antara Humaira dan Jeno. Entah kenapa ia merasa ad Sesuatu yang ditutupi oleh dosen muda itu. Namun, masih disimpan rapi.
"Kamu yakin, kamu gak suka sama dosenmu itu?" tanya Almeera yang ingin memastikan.
Humaira menatap lekat Almeera. Dia menunjuk dadanya sendiri.
"Trauma itu masih ada, Mbak. Bahkan masih teringat jelas. Aku ingin membelinya tapi belum bisa," kata Humai dengan jujur. "Bayangan wajah Kak Syakir selalu memutar di kepalaku."Â
__ADS_1
Almeera menghembuskan nafas lega. Dia sedikit lebih tenang saat mendengar pengakuan Humaira. Setidaknya Syakir masih ada harapan pikir Almeera.
Setidaknya perjuangan Syakir yang hendak dimulai tak sia-sia. Pria itu masih memiliki kesempatan. Ya kesempatan untuk memperbaiki semuanya.
"Kamu masih mencintainya, Mai?"Â
Mata Humia berkaca-kaca. Namun, dia tak mau berbohong. Kepala itu mengangguk. Mengiyakan ucapan Almeera.
"Bahkan hatiku tak mau munafik, Mbak. Aku sering memimpikan Kak syakir dan hatiku masih untuknya," lirih Humai dengan jujur.
Almeera tersenyum. Ada rasa bahagia dalam hatinya saat melihat satu pasangan yang dipisahkan oleh takdir ini masih memiliki hati yang sama. Perasaan yang sama, cinta yang sama dan perjuangan yang sama.Â
"Bagaimana jika Syakir tiba-tiba datang dan bertemu denganmu?" celetuk Almeera tiba-tiba.
Hal itu membuat jantung Humai deg degan. Dia menatap Almeera yang sedang menyeduh teh hangat dengan air yang sudah mendidihÂ
"Apa kamu bakalan pergi, atau kamu akan berani menemuinya?" lanjut Almeera yang semakin membuat Humai bingung.
"Entahlah, Kak. Mungkin yang utama bukan denganku tapi dengan Jay," lirih Humai dengan suaranya yang serak.
Wanita itu menahan tangis. Setiap kali membahas Syakir, bayangan utama yang ada dalam pikirannya adalah Jay.
Hal Utama yang harus dia lakukan pertemukan Jay dan Syakir. Biarkan ayah dan anak itu bertemu agar putranya tahu siapa ayah kandungnya.
Selama ini Humai memang belum menceritakan apapun. Namun, Jay sangat tahu setiap kali dia bertanya tentang ayahnya, Humai akan menangis.
Hal itulah yang membuat anak dua tahun lebih itu tak pernah bertanya tentang papanya. Seakan dia mengerti jika itu menyakiti ibunya sendiri.Â
"Jay adalah sosok yang paling butuh Kak Syakir," kata Humaira melanjutkan. "Jangan aku dulu, biarkan Kak Syakir bertemu anaknya. Aku merasa bersalah sama Jay. Setiap kali dia bertanya tentang ayahnya aku menangis dan Jay berpikir jika ayahnya sejahat itu."Â
Humaira menunduk. Pecah sudah tangisannya. Dia selalu tak kuat jika memikirkan nasib putranya. Dia selalu merasa nasib Jay sangat amat jauh lebih buruk darinya.
Sejak di kandungan dia tak diharapkan. Sejak di kandungan, Jay sudah banyak menerima caci makian dari ayah kandungnya sendiri. Namun, lihatlah sekarang. Anak itu telah tumbuh dengan baik.Â
"Tenanglah, Mai!" kata Almeera yang kemudian memeluk Humaira. "Mbak yakin pasti mereka bisa bertemu. Mbak yakin, Jay bisa bertemu dengan ayah kandungnya".
Humaira mengangguk. Dia sesenggukan karena dadanya sesakit itu. Dadanya selalu merasa sesak ketika mengingat jalan hidupnya.
"Aamiin, Mbak. Aku bahkan berharap dia menjemput kami. Dia menemui kami berdua dan meminta semuanya berjalan kembali dari awal. Memperbaiki semuanya dan menjadikan Jay anak yang beruntung karena memiliki keluarga yang lengkap.".
~Bersambung
__ADS_1
Woo sekte Humai Syakir bahagia. Mbak Humai masih ngarep lo guys.
Hihi kira-kira dah ada bayangan tamatnya sama siapa hayoo?