Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Menguntit


__ADS_3

...Secepat itukah cinta yang dulu pernah dia katakan telah habis untukku dan memiliki seorang pengganti....


...~Guntur Syakir Alhusyn...


...🌴🌴🌴...


Pengusiran yang baru saja terjadi kepadanya. Tak membuat Syakir sakit hati. Pria itu malah memilih diam di mobil dengan tangan memegang sebuah foto USG yang diletakkan di dalam kopernya.


Senyumannya begitu terlihat saat dia mengingat jika putranya telah lahir dengan negitu sehat. Jay, anak yang ia bantu buang air kecil. Anak yang sopan dan begitu cerdas ternyata adalah darah dagingnya.


Anak yang memiliki wajah begitu mirip dengannya saat masih kecil. Lalu firasatnya yang mengatakan pasti ada hubungan antara dirinya dan Jay ternyata menjadi sebuah kenyataan.


Ternyata anak itu adalah anak kandungnya. Anak yang pernah dihina, dicaci maki, ia tak terima kehadirannya kini telah ada di depan mata.


"Ternyata kau masih berbaik hati kepadaku, Tuhan. Mempertemukan kami berdua tanpa kusadari sendiri," lirih Syakir sambil mengusap kedua wajahnya.


Air matanya tentu saja sejak tadi mengalir. Pria itu selalu tak bisa menahan air matanya jika melihat hasil USG itu. 


Semua perbuatan yang pernah ia lakukan. Semua hinaan yang pernah ia lontarkan seakan terus berputar di kepalanya. Seakan foto itu selalu mengingatkannya akan kejahatannya di masa lalu.


"Aku akan terus mengejar kalian berdua. Aku akan mencari cara agar kalian memaafkanku dan aku berjanji akan menukar rasa sakit yang pernah aku berikan dengan sebuah kebahagiaan," kata Syakir bertekad pada dirinya sendiri. 


Akhirnya Syakir meletakkan foto USG itu kembali ke dalam tasnya. Dia sengaja berada disini karena menunggu dua orang kesayangannya itu. Dia yakin jika Humaira dan Jay akan pulang setelah kejadian tadi.


Hingga tak lama, nasib baik berada di tangan Syakir. Namun, senyumannya menjadi surut saat melihat Jay berada dalam gendongan seorang pria. Tangan Syakir mencengkram kuat di setir kemudi saat melihat bagaimana putranya yang bermanja dengan sosok pria yang ia temui di restaurant.


"Siapa sebenarnya dia?" gumam Syakir pada dirinya sendiri. "Apa dia kekasih Humaira yang baru?"


Ingatan Syakir sampai memutar saat dia untuk pertama kalinya bertemu dengan Jay di restoran. Anak itu memanggil pria itu dengan panggilan Om Jeno. Jadi, bisa dipastikan jika Humaira belum menikah lagi dengan pria itu.


Tapi besar kemungkinan jika dia menjalin hubungan dengan pria tersebut.


"Apa secepat itu kau melupakanku? Apa secepat itu cintamu yang dulu kau berikan padaku, kini telah berganti pada orang lain?" gumam Syakir dengan frustasi.


Namun, dia tetap menggeleng. Dia menghapus pikiran buruk itu dalam kepalanya. Matanya menatap ke arah mobil yang mulai bergerak meninggalkan halaman parkir.

__ADS_1


Dengan yakin, Syakir akhirnya menguntit mobil itu. Dia ingin menemukan dimana sebenarnya selama ini anak dan mantan istrinya tinggal. Dimana sebenarnya dua kesayangannya ini berteduh dan menjauh darinya selama berada di Kota Jakarta.


Tak sampai satu jam, akhirnya kendaraan Jeno mulai memasuki sebuah perumahan. Syakir menatap ke arah kanan dan kirinya dan melihat jika rumah itu begitu luas dan tertata dengan apik.


Hingga di ujung jalan, Syakir menghentikan mobilnya saat mobil Jeno mulai belok ke sebuah rumah. Terlihat Humaira dan Jay dalam gendongannya mulai turun dibantun oleh Jeno yang membukakan pintu mobilnya. 


"Ternyata disana kamu tinggal, Sayang," gumam Syakir dengan mata berkaca-kaca. "Ternyata Kalian tinggal dengan nyaman dan bahagia tanpaku disana." 


Syakir menghapus air matanya yang haru. Dia yakin tanpa dirinya, Humaira bisa hidup dan meneruskan kehidupannya tanpa bayang-bayangnya.


Syakir bahkan masih mengingat bagaimana sosok istrinya dalam versi baru. Tak ada lagi Humaira yang kucel, jerawatan dan kusam. Sosok yang berdiri dengannya tadi, yang bertemu dengan dirinya ,yang takut akan dirinya adalah Humaira yang cantik.


Kulitnya yang putih, wajahnya yang mulus dan juga penampilannya yang sangat jauh berbeda dari penampilannya yang dulu.


Humaira lebih stylist, lebih kece dan keren outfitnya serta jangan lupakan, Syakir mengingat jika stand mantan istrinya itu banyak mahasiswa dan mahasiswi yang suka dan membuat Syakir mengerti jika kekasihnya telah sukses dan menjadi calon desainer yang hebat.


"Kamu Berhasil membuktikan bahwa kamu bisa, Sayang. Tapi aku…?" jeda Syakir dengan menertawakan dirinya sendiri. "Masih terbayang akan kesalahanku pada kalian berdua." 


Syakir tak mau semakin tersiksa. Setidaknya dia sudah bahagia karena tahu dimana tempat tinggal anak dan mantan istrinya. Akhirnya, perlahan Syakir mulai menghidupkan kendaraannya.


Namun, saat dia hendak melajukan mobil miliknya, tiba-tiba sebuah klakson menghentikan dirinya yang hendak putar arah. 


"Itu kan, mobil Bara?" gumam Syakir dengan pandangan tak percaya.


Jantungnya semakin berdetak kencang saat melihat kendaraan itu berbelok di depan rumah Humai. Bahkan pria itu sampai menertawakan dirinya sendiri saat dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana Almeera dan Bara turun dari sana dan segera masuk ke rumah Humaira dengan begitu fasih dan tanpa rasa canggung.


"Ternyata Lo udah tau dimana istriku, Bar. Tapi Lo ikut nyembunyiin dia?" gumam Syakir dengan menepuk dadanya sendiri.


Dia merasa ditipu oleh sahabatnya sendiri. Dia merasa dipermainkan oleh semua orang. Ternyata orang yang ia kira ada dipihaknya termasuk orang yang ikut menutupi keberadaan anak dan mantan istrinya.


"Ternyata gue dibohongin sama Lo, Bar. Ternyata Lo bukan sahabat gue. Lo gak mau bantuin gue buat bisa dapetin hati anak dan mantan istri gue lagi," lirih Syakir yang kecewa pada Bara.


Akhirnya tak mau mengetahui segala fakta lagi yang mengejutkannya. Syakir mulai memutar kemudinya. Dia pergi dari sana dengan pengetahuan baru dan informasi baru. Namun, perasaan kecilnya masih bersyukur.


Setidaknya dia sudah tahu dimana anak dan istrinya itu berada. Dia juga bisa melihat keduanya dari jauh dan akan mencari cara bagaimana dia bisa dekat kembali dengan mereka dan mendapatkan maaf serta kesempatan dari mantan istrinya.

__ADS_1


...🌴🌴🌴...


Sedangkan di rumah Hermansyah. Humaira telah meminum obat penenang dibantu oleh mamanya. Obat itu adalah obat yang pernah dia minum dulu setelah berkonsultasi dengan psikolog. namun, kini Humaira harus meminumnya lagi karena tangan wanita itu dan ketakutannya masih terlihat dan jelas bahwa dia ketakutan yang begitu luar biasa.


Setelah Humaira tertidur dengan tenangnya. Kini Papa Hermansyah dan Mama Emili menatap ke arah Bara dan Almeera yang datang ke rumah mereka.


Kedatangan keduanya memang atas undangan Papa Hermansyah. Entah kenapa ia merasa jika Bara telah mengetahui jika mantan suami putrinya telah datang.


Sedangkan Jeno, pria itu telah kembali ke kampus setelah menidurkan Jay yang begitu banyak tanya kenapa mamanya mengusir Om Syakir yang ia tahu baik.


"Kalian pasti sudah menebak kenapa saya memanggil kalian berdua," kata Hermansyah dengan pelam. 


Bara dan Almeera saling tatap. Keduanya menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya.


"Iya, Pa," sahut Almeera yang sudah sangat dekat dengan papa kandung Humai.


"Sejak kapan kalian tahu Syakir berada di Jakarta?" 


"Beberapa hari yang lalu, Pa. Dia datang bahkan tanpa menghubungi kami berdua," lirih Bara menjelaskan.


"Kami juga tak membahas dan memberi tahu Syakir dimana Humai berada," lanjut Almeera meyakinkan.


Papa Hermansyah terlihat frustasi. Dia mengusap wajahnya saat mengingat bagaimana takutnya putrinya itu.


"Lalu darimana pria brengsek itu tahu keberadaan Humaira yang berkuliah di sana dan cucuku juga?" 


~Bersambung


Kan Bang Kikir jadi tau juga, Kalau Mas Bar ikur nyembunyiin Si Humai. Yuhuu, huru haea dimulai.


Jangan lupa mampir ke novel temenku juga yah.



Ningtiyas Paramitha adalah gadis 18 tahun baru lulus SMK jurusan tata busana. Dia harus menerima takdir dinikahkan siri dengan paksa oleh ayahnya dengan lelaki dewasa berumur 30 tahun dan telah memiliki istri bernama Alfarizi Zulkarnain. Kontrak nikah selama lima bulan, tetapi Neng selalu mengalami kekerasan baik lahir maupun batin. Perlakuan suami sirinya selalu melampiaskan kekesalannya akibat kesalahan istri sahnya.

__ADS_1


Setelah empat bulan berlalu Al meninggalkan Neng begitu saja, tanpa disadari Al meninggalakan benih janin di kandungan Neng. Akhirnya Neng meninggalkan desanya yang selama ini menjadi kebanggaannya, pergi ke Jakarta untuk merubah nasib dan menyongsong masa depan yang lebih baik bersama janin yang dalam kandungan.


Sayangnya takdir mempertemukan mereka kembali setelah delapan tahun berlalu. Dengan situasi yang berbeda, apakah mereka akan bersatu kembali setelah Al mengetahui memiliki keturunan. Apakah Neng menerima cinta Al?


__ADS_2