Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
LDR


__ADS_3

...Percayalah sebuah kegagalan membuat seseorang takut untuk mencobanya lagi. Dia merasa takut mengalami kegagalan kembali jika mencobanya. Namun, rasa yang masih tertata rapi itu pasti akan memberikan jalan untuk dirinya bertahan atau membuka hatinya kepada orang baru....


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Ucapan papanya seakan suara menggema yang sejak tadi berputar di tangannya. Dia memejamkan mata seakan sedang kacau harus melakukan apa setelah ini. Pikirannya terus memikirkan semua yang dikatakan oleh papanya. 


Menikah?


Suatu kegagalan yang pernah terjadi padanya. Menikah memang ikatan terpanjang selama hidupnya. Namun, kenangan yang pernah terjadi membuat wanita itu merasa sedikit takut mengalami kegagalan lagi.


Seakan hatinya yang saat ini masih tertata rapi untuk Syakir belum siap ia buka lagi. Seakan cinta yang masih banyak ditujukan untuk Syakir membuatnya tak mau membuka pintu untuk cinta yang baru.


Cintanya masih tetap sama. Sama pada pemilik darah dari putranya. Sejahat apapun Syakir, sekejam apapun pria itu di masa lalu. Namun, Humai masih menyimpan semua perasaannya dengan baik.


Bahkan dia masih berharap Syakir menemukan mereka. Kembali pada keduanya. Bukan karena Humai bodoh. Melainkan dia tahu jika anaknya bukan butuh sosok ayah baru. Melainkan Jay sangat ingin bertemu dengan ayah kandungnya. 


Hingga pikiran Humai pecah saat sebuah pelukan dari samping membuatnya menoleh. Putranya, Jay ternyata yang memeluknya dengan memberikan kecupan lembut di pipinya. 


"Ibu kenapa?" tanya Jay yang membuat Humai menggeleng.


"Ibu kangen Om Rein?" tanya Jay dengan polosnya.


"Ya. Sepertinya Ibu rindu Om Rein," jawab Humai dengan asal.


"Ayo telepon Om Rein, Bu. Jay juga kangen sama Om Rein," kata anak itu yang mengambil ponsel Humai yang sedang tergeletak di nakas samping ranjang. 


Humaira tersenyum. Dia sangat tahu jika sebenarnya putranya itu juga kangen dengan Rein. Keduanya memang belum saling berkabar hamoir satu hari karena Rein kemarin bilang jima hari dia jadwal sekolahnya padat. 


Ya, Rein. Adik yang sudah ia anggap seperti adik kandungnya itu keluar dari rumah. Laki-laki yang dulunya remaja kini telah disekolahkan di Sekolah Korea yang jurusannya khusus tentang Renang.


Keluarga Humaira benar-benar menuruti semua keinginan dan cita-cita Rein. Mereka membiayai semua keperluan remaja itu sampai akhirnya bisa berada di Negara Ginseng.


"Oke. Tapi kalau gak diangkat berarti Om Rein sedang belajar," kata Humaira pada putranya.


Perlahan Humai langsung melakukan panggilan. Ternyata dugaan wanita itu salah. Masih dalam sekali deringan, panggilan itu langsung diangkatnya dan muncullah wajah Rein di layar ponsel itu.


"Assalamualaikum, Om Rein!" teriak Jay dengan heboh.


Rein terlihat melambaikan tangannya dengan senyuman yang begitu lebar. "Waalaikumsalam Sayangnya Om!" 


"Kamu sedang sibuk, Dek?" tanya Humaira yang sebenarnya tak enak hati jika menelpon di sore hari.


Biasanya mereka akan saling berkabar ketika Humaira dan Jay hendak tidur. Rein terlihat menggerakkan kameranya lalu menunjukkan apa yang sedang dia lakukan.


"Aku baru saja selesai mengerjakan tugas, Kak." 

__ADS_1


"Kamu betah di asrama?" tanya Humaira pada adiknya.


Wajah Rein terlihat lebih bahagia. Bahkan tak ada lagi wajah kurus disana. Rein terlihat mulai berisi lagi dengan binar mata yang terlihat lebih cerah. 


"Tentu, Kak. Sekolah disini adalah keinginanku. Hobiku bisa aku salurkan dan menjadi sebuah semangat untuk meraih medali emas atau perak untuk menang perlombaan," Kata Rein dengan sangat antusias. 


Humaira bisa melihat wajah adiknya yang sangat bahagia ketika menceritakan semua kesibukannya. Jay yang masih berumur tiga tahun kurang pun juga ikut semangat mendengar cerita omnya.


"Jay pengen kesana juga, Bu. Jay pengen sekolah sama Om Rein," celetuk Jay yang membuat Humaira menunduk.


Dia menatap putranya dengan lekat.


"Memang Jay tahu apa itu sekolah?" 


Kepala mungil itu mengangguk seakan dia tahu apa yang sedang dimaksud.


"Sekolah itu yang belajar, 'kan? Seperti Opa yang selalu ajarin Jay huruf A, B, C, D, E, F, G, J!" 


"H, Nak." Koreksi Humai dengan cepat. "H dulu baru J." 


"Oh iya. Jay lupa," jawabnya yang membuat Rein tertawa dari seberang telepon. 


"Jay kalau nanti sudah bisa pakai baju sendiri, makan sendiri, mandi sendiri dan bawa sepeda sendiri. Jay bisa sekolah disini," kata Rein yang membuat Jay berdiri dengan hebohnya.


"Yey. Jay sekolah sama Om Rein. Yey!" 


Saat Jay masih bayi, Rein lah yang membantunya paling banyak. Remaja itulah yang mau direpotkan dengan segala hal untuk urusan Jay.


"Om tunggu disini ya. Nanti bilang Opa. Kalau kamu mau sekolah disini," kata Rein yang membuat Jay mengacungkan jempolnya. 


"Jay bilang Opa sekarang," katanya lalu melambaikan tangannya pada Rein sebelum ia berlari keluar dari kamar.


Akhirnya tinggallah Humaira dan Rein. Wanita itu menatap adiknya dengan lekat. Ada perasaan rindu yang besar dalam diri Humai. Namun, mengetahui jika Rein disana sekolah, membuatnya harus kuat menahan segala keinginannya untuk berkumpul.


"Bagaimana kabar, Kakak?" tanya Rein yang terlihat serius menatap kakaknya.


"Kakak baik," sahut Humai dengan memberikan senyuman kecil di bibirnya. "Kamu juga baik, 'kan?" 


Rein mengangguk. "Kemarin kakiku cuma terasa sakit karena kram saat diminta berendam di kolam renang." 


"Lalu sekarang?" 


Kepala Rein menggeleng. "Udah mendingan. Sampai asrama aku kasih air hangat, Kak. Ototku hanya kaku saja." 


Humaira menatap adiknya dengan bangga. Rein sudah banyak perubahan. Remaja itu memang terlihat jauh lebih bahagia sekarang.


"Kamu udah betah disana?" tanya Humaira pada adiknya.

__ADS_1


"Udah, Kak. Gak kerasa udah satu tahun aku disini." 


Ya, satu tahun yang lalu Rein berangkat ke Korea. Dia memang sengaja telat sekolah karena satu tahun pertama dia memilih untuk berkumpul, Rein malah membantu merawat Jay kecil. Hingga saat anak itu sudah bisa berjalan, di sanalah Rein mau meninggalkan Humaira sendirian untuk merawat Jay.


"Sekolah yang pinter yah. Kamu pasti bisa mengejar cita-citamu." 


Rein mengangguk. "Kakak juga. Bukalah hati Kakak biar sakit yang lama menjadi sembuh."


Humaira sangat tahu apa maksud adiknya itu. Namun, dia hanya membalasnya dengan senyuman tipis dari bibirnya.


"Kakak masih berharap dia kembali?" 


Humaira menghembuskan nafas beratnya. Kedua manusia itu memang memiliki ikatan yang kuat melebihi saudara kandung. Hubungan mereka yang dekat membuat Humai dan Rein saling mengerti satu dengan yang lain.


"Mungkin," sahut Humai dengan mengangkat bahunya tak acuh. 


"Kalau Kakak menunggu. Rein doakan semoga Kak Syakir memiliki takdir yang sama dengan Kak Humai." Doa Rein dengan wajah tulusnya. "Rein bakalan selalu dukung apapun yang Kak Humai putuskan. Jadi jangan merasa sendiri yah." 


~Bersambung


Nah yang tanya Rein kemana. Nongol nih, haha.


Mulai kemarin mau masukin Rein tapi partnya kan belum pas. Untuk part Rachel dan Adam, tenang nanti ada flashback khusus untuk mereka.


Jangan lupa mampir ke karya temenku juga yah



Menceritakan wanita yang nyaris sempurna hidup dan fisiknya.


Sangat cantik, pintar dan tajir. Namun, kesepian dan butuh cinta.


Keadaan memaksa nya untuk menikah, dan dia membutuhkan lelaki untuk bisa dinikahinya.


Dan lelaki yang dinikahinya harus mau menerima bayaran untuk pernikahan itu dan menjadi suaminya, sebagai suami bayaran.


Karena dia belum bisa sepenuhnya mempercayai kata cinta. dan tidak ingin terhutang budi oleh seseorang karena telah menikahinya.


Namun siapa sangka, lelaki yanh di nikahinya itu, seorang bocah yang masih dibawah umur, yang diidolakan banyak kaum hawa.


Agung. Seorang lelaki bocah yang ternyata mempunyai kehidupan yang sempurna juga, dia di idolakan oleh hampir semua kaum hawa di sekelilingnya. Bahkan setelah menjadi suami Alexa ,Agung pun di idolakan dan di incar oleh para kaum hawa yang ada dalam ke hidupan Alexa.


Lalu, akankah Alexa mampu mempertahankan Agung tetap jadi milikny?


Akankah Agung tetap setia?


Dan akankah Alexa kuat dengan semua masalah yang dihadapinya?

__ADS_1


Dimana masalahnya ternyata penghianatan dari orang-orang terdekatnya?


__ADS_2