
...Ternyata tidur dalam dekapanmu membuatku mampu merasakan ketenangan. Meski terkadang rasa takut dan kenangan buruk itu kembali muncul dalam kepalaku. ...
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
Hembusan angin pagi mulai menyusup melalui celah-celah jendela. Embun basah memenuhi dedaunan dan saham di luar sana. Burung-burung terbang dengan bebas menikmati udara pagi yang begitu menyegarkan.
Begitu pula dengan suasana di dalam sebuah kamar. Terlihat bocah kecil dengan kehebohannya tengah menatap wanita kesayangan setelah ibunya berdiri di dekat ranjang tidurnya. Dengan sebuah ponsel di tangannya dan diarahkan ke arah sepasang anak mantan suami istri yang tengah tertidur saling berpelukan.
Keduanya menahan tawa saat gadis itu menutup mulutnya karena tawa cekikikan keponakannya lumayan kencang.
"Jangan keras-keras. Nanti Ayah sama Ibu bangun!" Kata Sefira dengan dirinya mencari posisi yang tepat untuk mengambil gambar dari momen ini.
Momen yang sangat langka. Momen yang sangat mereka tunggu sejak lama.
"Cepet, Ante! Ayo foto!" Pekik Jay yang otaknya sudah teracuni oleh pikiran nakal Sefira.
Wanita itu pagi-pagi sekali memang sengaja datang kesini karena keluarganya memang menginap di rumah Humaira. Dia juga dengan sadar mengganggu keponakannya tidur saat menyadari jika kakaknya tak keluar dari dalam kamar Humai.
Dan yah, pemandangan pertama yang Sefira lihat sangat membuatnya ingin menangis. Sebuah pemandangan manis dengan Jay yang tidur di antara Humai dan Syakir lalu dengan tangan kakaknya yang memeluk mantan istri dan putranya itu.
Sefira juga tak lupa mengambil gambar ketiganya sebelum dia membangunkan Jay agar bisa mengerjai kedua orang itu. Dia hanya ingin mengambil momen manis ini. Momen yang bisa membuat keduanya malu bukan main.
Sefira juga sengaja membunyikan bunyi kamera agar keduanya terganggu dan merasa terpergok oleh dirinya.
"Oke oke."
Sefira segera membidik keduanya dengan cepat.
Cekrek. Cekrek. Cekrek.
Tiga kali bidikan yang lumayan keras membuat seorang perempuan mulai menggeliat dari tidurnya. Dia merasa kehangatan dalam dirinya. Ditambah sebuah benda yang ia pegang ini tak selembut dan seempuk bantal. Namun, lumayan keras dan berotot.
Ingat otot, membuat ibu satu anak itu lekas membuka matanya.
"Aghhh!" Pekik Humai terkejut.
Dia mendorong tubuh Syakir menjauh dan dirinya terduduk dengan nafas tak beraturan. Syakir yang juga terkejut dengan reaksi Humai tentu spontan membuka matanya.
__ADS_1
"Hahaha cie cie!" Pekik Sefira dengan hebohnya.
Tentu hal itu membuat Syakir dan Humai menoleh. Keduanya membulatkan matanya saat melihat Jay dan Sefira tengah berdiri di dekat ranjang sambil menahan tawa.
"Wah ada yang dipeluk nih, Jay," Kata Sefira memancing. "Mangkanya tidurnya pules banget. Diketuk-ketuk gak bangun!"
Sefira benar-benar menggoda. Dia semakin merasa ingin meledakkan tawanya saat melihat wajah sahabatnya memerah bak kepiting rebus.
"Omo omo, Sayangku. Pipinya memerah ni yah!" Goda Sefira semakin menjadi.
Jujur Humai menundukkan kepalanya malu. Bukan malu karena wajahnya yang bangun tidur. Namun, dia baru menyadari jika yang ia pegang tadi adalah dada bidang Syakir.
Tempat dimana dia merasakan kehangatan, aroma tubuh yang membuatnya tenang dan juga sebuah rasa yang entah tak bisa dijabarkan lebih jelas.
Senang, bahagia, takut dan sedih semua bercampur menjadi satu. Dia bahagia karena Syakirnya telah berubah. Dia senang karena kini ayah kandung putranya telah menerima keberadaan putranya lagi. Humai takut, takut jika semua ini hanya ilusi atau jebakan. Jelang agar Syakir bisa kembali pada keluarganya. Dan terakhir sedih karena dia merasa sesuatu dalam dirinya merasakan bagaimana jika ini hanya mimpi dan Syakir bisa kembali seperti dulu lagi.
Humai menggeleng. Dia berdoa semoga ini bukan mimpi. Semoga ini bukan jebakan lagi.
"Mai!"
"Diem," Sahut Humai yang tahu temannya ini memancing dirinya.
"Jangan malu. Anggap saja latihan, Mai. Latihan sebelum kalian kembali bersama!"
"Kakak kenapa diam?" Cibir Humai lalu bergerak mendekati kakaknya yang sudah duduk dengan rambut berantakan.
Dengan penuh perhatian Sefira merapikan rambut kakaknya itu. Dia menata dengan jarinya dan membuat Syakir sedikit bisa percaya diri dengan penampilannya yang masih muka bantal.
"Kakak senang kan bisa peluk kesayangan? Hayoo!"
Humai tak mau membuat pipinya semakin merah. Dia tak mau mati kebaperan disini. Akhirnya wanita itu mulai bergerak, menurunkan kakinya lalu beranjak berdiri. Hal itu tentu menarik perhatian Sefira.
"Mau kemana, Mai. Ini loh Kak Syakir masih disini," Kata Sefira dengan heboh.
"Aku mau mandi!" Ujar Humai dengan menyembunyikan pipinya yang semakin merah.
"Wah aku tau, Mai. Biar cantik di depan Ayank, 'kan?"
"Nggak!" Sela Humai langsung.
__ADS_1
Sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Dia mengambil handuk lalu menatap ketiga orang yang wajahnya benar-benar saling memiliki kemiripan.
"Sebelum aku keluar dari kamar mandi. Kalian harus keluar dulu, okey!"
"Kalau gak mau?" Goda Sefira semakin menjadi.
"Aku seret kamu dari sini!"
...🌴🌴🌴...
Suasana meja makan yang biasanya hanya dipenuhi oleh empat anggota keluarga kini mulai terisi penuh. Rumah yang biasanya ramai dengan celotehan Jay saja. Kini ramai dengan hadirnya keluarga Syakir. Sungguh pemandangan ini membuat mereka terlihat seperti keluarga bahagia.
Membuat semua orang benar-benar tak bisa menutupi keadaan yang benar-benar bahagia. Mereka semua senang dengan kebersamaan ini. Seakan mereka tak ada yang mau ini semua cepat berakhir.
Semua hal yang mereka anggap hanya bayangan, hanya ilusi, hanya mimpi yang tak bisa digapai ternyata sekarang bisa mereka rasakan dengan nyata. Kini kondisi ini benar-benar real terjadi di antara mereka.
Suara riuh semakin terdengar saat kaum wanita mulai meletakkan semua masakan di atas meja makan. Humai, Mama Emili dan Mama Ayna menata makanan itu dengan rapi.
Kepulan asap masakan terlihat dengan jelas. Aroma sedap tentu tercium di hidung mereka, membuat perut mereka semua meronta keras. Semua orang perlahan mengambil duduknya masing-masing.
Humai duduk di samping putranya dan Syakir duduk tepat di samping kanan Jay. Jadi anak itu diapit oleh kedua orang tuanya.
Dengan perlahan para istri mengambilkan makanan untuk suami mereka masing-masing. Hal itu tentu membuat Jay yang pandai dan meniru contoh orang-orang menatap ibunya itu.
"Ibu ayo ambilkan Ayah makanan, seperti Opa sama Oma, itu!" Katanya menunjuk Mama Emili yang mulai mengambilkan makanan untuk Papa Hermansyah.
Hal itu membuat Humai menelan ludah secara kasar. Dia bingung harus menjawab apa atas permintaan putranya. Seakan itu adalah hal tersulit untuknya.
"Ayo, Bu!"
"Ambilkan, Mai. Ya sambil belajar jadi calon istri," Ujar Sefira dengan menahan tawanya.
Humai melototkan matanya. Dia benar-benar kesal pada sahabatnya yang satu ini. Canda tawa sahabatnya itu selalu membuatnya hampir gila.
"Aku akan membalasmu!" Kata Humai tanpa suara tapi bisa dibaca gerak gerik mulutnya oleh Sefira.
"Aku tunggu, wlekk!"
~Bersambung
__ADS_1
Gimana kalau dengan adegan huru hara Jeno Sefira haha. Biar Humai bisa balas dendam isengin Sefira, haha.
maaf beberapa hari ini. Tiap malem telat update yah. Aku lagi ada pekerjaan offline. Mangkanya telat update.