Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Syakir Makin Brutal


__ADS_3

...Dunia itu luas tapi kenapa aku menemukannya lagi. Sebuah pertemuan pertama yang benar-benar awal pertemuan selanjutnya....


...~Sefira Giska Alhusyn...


...🌴🌴🌴...


Entah keberanian dari mana, Syakir semakin memajukan wajahnya. Hal itu tentu membuat jantung keduanya berdebar kencang. Semakin membuat cinta yang ada dalam hati keduanya semakin mekar sempurna.


Humaira bahkan tanpa kata spontan memejamkan matanya saat dia sudah tak tahan akan pesona mantan suaminya itu. Apalagi jangan lupakan, aroma tubuh Syakir yang dulu menjadi candu untuk Humai, apalagi saat dia hamil. Membuatnya lagi-lagi merasa ingin pingsan.


"Kamu mau memberiku kesempatan, 'kan?" Bisik Syakir lagi yang semakin membuat jarak hidung mereka begitu menempel.


Syakir bahkan sesekali memejamkan matanya. Nafas keduanya tentu beradu di wajah mereka. Namun, bukannya saling menjauh. Keduanya semakin menikmati momen ini.


Humaira yang tak sanggup akan pesona Syakir tentu mulai membuka bibir. Dia hendak mengatakan sesuatu tapi ternyata Syakir yang sudah begitu ingin mencium Humao tentu tanpa diduga langsung menyatukan bibir keduanya.


Humaira terkejut bukan main. Namun, Syakir yang berpengalaman tentu mencium Humai dengan lembut. Ayah satu anak itu mencoba menciptakan suasana yang lembut dengan perlakuannya pada Humai.


Syakir mencium dan menyesapnya dengan pelan. Tangan Syakir juga sudah ada di belakang tubuh Humai. Bahkan dengan sengaja Syakir menarik leher Humai semakin mendekat.


Jujur jantung Humaira terus berdebar kencang. Bahkan tangan gadis itu langsung ke kemeja Syakir dan menggenggamnya dengan erat. Bibirnya tak bergerak tapi ia membiarkan Syakir terus mengeksplor bibirnya dengan begitu lembut seakan itu benda rapuh.


Tak lama Syakir melepaskan ciuman itu saya nafas keduanya mulai habis. Dia memberikan kecupan lembut hidungnya dan membuat mata mereka kini terbuka sempurna dan saling menatap. Dengan penuh romantis, Syakir mengusap bibir Humai yang bengkak dan basah karena air liur mereka dengan begitu pelan.


"Maafkan aku yang tak tahan tapi aku serius dengan ucapanku, Sayang," Lirih Syakir yang semakin membuat jantung Humao tak berhenti berdisko ria.


Kelakuan keduanya akhirnya harus berakhir. Saya suara Jay kecil mulai terdengar mendekat dengan segala celotehannya.


"Ayah, Ante Fira beliin Jay es krim!" Ujarnya dengan membawa apa yang ia katakan ditangannya.


Dua manusia yang ada di dalam mobil itu terlihat begitu tegang. Apalagi Humai, gadis it7 memegang tisu dan terlihat merapikan dirinya.


"Kenapa cuma beli satu? Ayah sama Ibu, gak dibelikan juga?"


Kepala Jay menggeleng. "Kata Ante Fira, Ayah punya uang banyak."


Sang oknum yang menjadi pemicu otak Jay tentu cengengesan. Dia bahkan memeletkan lidahnya ke arah Syakir saat kakaknya itu meloloskan matanya ke arah dirinya.


"Ayah boleh minta punya, Jay?"


"Gak boleh!" sahut Jay mode pelit. "Ayah beli aja, sekalian punya Ibu!"


Humaira terkekeh. Seperti itulah putranya. Jika mode pelitnya keluar maka ia tak akan memberikan para siapapun. Apalagi es krim adalah makanan kesukaannya dan membuat Jay tentu tak mau berbagi dengan siapapun.

__ADS_1


"Kamu mau, Kak? Kalau mau aku belikan," Kata Humai yang sebenarnya ingin keluar dari mobil yang membuatnya sesak tak karuan.


Rasanya dia ingin menghirup oksigen. Dia membutuhkan udara segar untuk menyegarkan otaknya yang ngelag karena Syakir mengobrak abriknya. Tingkah laku mantan suaminya itu memang brutal. Apalagi saat menciumnya tanpa pamit.


Rasanya Humai tak bisa marah. seakan ciuman itu begitu memabukkan untuknya.


"Gak perlu!" Kata Syakir menahan tangan Humai yang hendak pergi.


Hal itu tentu menjadi perhatian Sefira. Gadis itu tersenyum sendiri dengan tangan memegang wajahnya.


"Ahh udah berani pegang-pegang ye, 'kan? Selamat datang dunia bucin!" Ujarnya yang membuat kedua orang itu langsung melepaskan tangan mereka dan Syakir kembali fokus dengan setir kemudinya.


"Kalian duduk yang benar. Papa bakalan melaju lagi!" Kata Syakir pada putra dan adik kandungnya.


...🌴🌴🌴...


Akhirnya perjalanan mereka mulai berakhir. Kendaraan roda empat milik Syakir mulai memasuki area parkiran mall. Keempatnya segera turun dan mulai berdiri di dekat mobil Syakir.


"Jay mau makan dulu atau… "


"Mau makan!" Sahutnya dengan cepat.


Jay memegang tangan Sefira. Dua mata Tante dan ponakan itu saling mengedipkan matanya ketika rencana kedua mereka mulai dijalankan.


"Ramen!" Jawab keduanya yang membuat Humai mengerutkan keningnya.


"Emang Jay suka ramen, Nak?" Tanya Humaira yang tahu jika putranya belum makan mie yang berasal dari Jepang itu.


"Kata Ante Fira enak. Jay disuruh nyobain," Ujarnya dengan sikap polosnya.


"Astaga!" Humaira geleng-geleng kepala dengan aksi dua orang di depannya ini.


Namun, ia tahu dirinya tak bisa menolak. Akhirnya Syakir pun yang tak mau membuat putranya kecewa tentu langsung menganggukkan kepalanya.


"Ayo!"


Suasana Mall tentu begitu ramai. Syakir dengan sikap protektif pada putranya langsung menggendong Jay karena takut anak itu hilang.


Sikap itu spontan ada dalam dirinya saat rasa sayang dan cintanya pada putranya muncul dengan sendirinya. Dia tak mau putranya kenapa-kenapa. Dia tak mau terjadi sesuatu yang buruk dan membuat Syakir akan berada di garda terdepan untuk melindunginya.


Sedangkan Sefira dan Humaira, mereka berjalan di belakang Syakir. Kedua sahabat yang akhirnya jalan bersama lagi itu saling bergandengan tangan.


"Jujur sama aku. Kalian ngapain di dalam mobil, he?" Goda Sefira dengan menaikkan salah satu alisnya.

__ADS_1


Humaira yang mengingat apa yang terjadi di antara keduanya tentu spontan menunduk. Dia merasa malu saat mengingat apa yang sudah ia lakukan. Kenapa dirinya tak marah pada Syakir. Kenapa dia tak menampar Syakir yang kurang ajar menciumnya.


Namun, tetap jawabannya karena hatinya terlalu berbunga-bunga. Hatinya terlalu meledak dengan semua perlakuan Syakir dan membuat Humai merasa nyaman dan aman.


"Gak ngapa-ngapain," Sahut Humai tanpa menatap ke arah Sefira.


"Ah gak mungkin, 'kan! Coba sambil menatap aku bilangnya, Ibu Jay!" Goda Sefira semakin gencar.


Pipi Humaira semakin kemerahan. Dia merasa malu dan gugup bercampur menjadi satu.


"Beneran, Fir. Aku… "


"Bibirmu bengkak, hmm?" Goda Sefira semakin gencar.


Ah rasanya Humai ingin menenggelamkan dirinya ke dasar jurang terdalam. Rasanya sejak dulu di atau bisa berbohong pada sahabatnya ini. Sefira selalu tahu apa yang dia rasakan.


"Jangan bilang kalian abis jub jub?"


"Ngawur!" Humaira menggeolak lengan sahabatnya yang ternyata semakin bar-bar. "Otakmu kenapa berubah jadi omes?"


"Bukan omes. Tapi kalian kan udah lama gak deket sama orang lain. Kalian juga pernah jub jub. Jadi…"


"Gak pernah. Aku sama Kak Syakir gak ngelakuin apapun!"


Tentu perdebatan keduanya membuat Humai dan Sefira tak melihat jalan. Syakir dan Jay yang fokus akan jalan mereka juga lumayan meninggalkan keduanya ke depan.


Tindakan keduanya yang saling beradu pendapatan membuat Sefira yang fokus menatap Humai tak melihat jika di depannya ada seorang pria tengah membawa paper bag di tangannya.


Akhirnya tanpa diduga Sefira menabrak tubuh orang yang ada di depannya itu dengan cukup keras.


"Aduh?"


Sefira memegang lengannya yang lumayan sakit. Namun, dia yang melihat buku-buku berantakan di lantai membuat Sefira lekas berjongkok dan membantunya.


"Maafkan saya. saya tak sengaja menabrak Anda," Kata Sefira dengan spontan dengan perasaannya menyesal.


Spontan ucapan itu membuat sosok yang sedang memungut bukunya mendongak. Sefira yang fokus pada bukunya juga ikut mendongak saat pria itu menatapnya.


Jantung Sefira langsung hampir melompat keluar saat tatapan mata itu kembali ia temui.


" Dosen itu… "


~Bersambung

__ADS_1


Humai yang dicium. Author yang tereak yakan. Ahhhhh


__ADS_2