
...Ada alasan tersendiri orang berubah menjadi jahat. Dia seperti korban paling tersakiti dan membuatnya menjadi sosok joker dalam hidupnya....
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan!"Â
"Apa maksudmu, Rachel?" Tanya pria paruh baya itu tak mengerti.Â
Rachel dengan pelan beranjak dari tidurnya. Dia turun dari ranjang dan berjalan ke arah sosok yang berdiri dengan kemarahan di hadapannya ini.
"Sampai kapan Papa menutupinya dariku?" Tanya Rachel dengan menatap sosok papanya itu. "Sampai kapan Papa menutupi kenyataan tentang aku dan dia!"Â
Rachel berteriak di hadapan papanya. Sudah cukup selama ini dia mencoba bersabar. Dia berusaha diam dan tak bertanya ketika dirinya mendengar sebuah kenyataan. Kenyataan yang membuatnya terkejut dan marah.Â
"Dia siapa yang kau maksud?"Â
"Humaira!"Â
Wajah pria paruh baya itu terlihat terkejut. Dia menatap putrinya dengan pandangan tak percaya.Â
"Humaira siapa yang kau maksud, Nak?" Tanya pria itu dengan terbata.
Rachel tertawa sinis. Dia mengusap air matanya yang menetes saat mendengar papanya lagi-lagi mengelak. Dirinya tak menyangka selama ini papanya menyimpan semuanya dengan rapi.
Menutupi kebenaran yang ternyata membuatnya tak terima. Tak terima jika ternyata perempuan yang benar-benar beda level dengannya memiliki sebuah hubungan dengannya.
"Humaira Khema Shireen!" Seru Rachel dengan menatap papanya penuh luka. "Anak kandung Papa dan Mama."Â
Pria yang merupakan papa dari Rachel, seorang pria kaya raya kedua setelah keluarga Alhusyn itu menatap anaknya tak percaya. Dia tak menyangka jika Rachel telah mengetahui semuanya.
Suatu hal yang ditutupi sebaik mungkin. Sebuah rahasia yang ditahan selama ini dan hanya mampu dipendam olehnya.Â
"Kenapa? Kaget, 'kan? Pasti Papa mikir Rachel tahu darimana. Bener, 'kan?" Todong Rachel tanpa ampun.Â
"Kamu tahu darimana, Rachel?"Â
"Aku tau ketika Papa berbicara dengan kepala pelayan. Aku mendengar semua yang Papa bicarakan dengannya!"Â
Rachel masih terngiang jelas akan apa yang ia lihat dan dengar. Saat itu wanita yang baru saja pulang dari kampusnya lekas memasuki rumah dengan hati yang riang.
Di tangannya juga terdapat fotokopi nilai ujian yang sudah di print hasil dari kampusnya. Rachel berniat memberikan nilai itu pada papanya. Sejak dulu, memang Rachel adalah anak yang pandai. Namun, semenjak di kampus. Dia selalu berada di bawah Humaira.
Meski begitu, dia tak pernah iri dengan Humai. Dia sangat tahu papanya tak pernah memarahi dirinya berapapun nilainya. Hingga saat langkah kaki Rachel hendak mencapai ruang kerja dimana papanya berada.
__ADS_1
Pintu yang sedikit terbuka membuat Rachel mendengar papanya sedang berbicara dengan seseorang. Rachel tak mau mengganggu. Gadis itu hendak menjauh sampai namanya disebut oleh papanya.Â
"Apa Rachel tahu, Bi?"Â
"Tidak, Tuan. Non Rachel belum tahu apapun," kata kepala pelayan yang paling lama bekerja disana.Â
Terdengar helaan nafas berat dari bibir papanya. Rachel yang hendak pergi mengurungkan niatnya. Dia menjadi penasaran tentang apa yang akan dibahas oleh papanya itu.Â
"Bagaimana keadaannya?" Tanya pria paruh baya itu dengan nada khawatir.
"Putri Anda sepertinya benar-benar tak mendapatkan perilaku baik dari ibunya, Tuan. Dia sering diabaikan dan dituntut menjadi sosok yang sempurna," kata kepala pelayan itu dengan serius.
"Apa yang sebenarnya dibahas oleh Papa. Putri siapa yang Papa maksud?" Gumam Rachel pelan yang semakin tak mengerti.
Rachel mengintip sedikit. Dia bisa melihat papanya mulai beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah jendela yang ada disana.
"Apa mata-mata kita tetap mengawasinya?"Â
"Iya, Tuan. Saya memerintah mereka untuk menjaga Nona Muda," jawabnya dengan tegas.
"Bagus." Rachel lihat Papanya menepuk pundak wanita paruh baya itu dengan pelan. "Jaga Nona muda dengan baik. Dia adalah putriku, putri kandungku yang selama ini terpisah dariku."
Jantung Rachel berdegup kencang. Dia tak menyangka akan apa yang dimaksud papanya. Jadi maksudnya apa dia memiliki saudara kandung? Atau memiliki saudara lain beda ibu atau papa?Â
"Apa maksud Papa? Putri lain begitu?" Gumam Rachel menggelengkan kepalanya.
"Saya pasti menjaga Nona Muda dengan baik, Tuan. Penjagaannya akan kami perketat."Â
Pria paruh baya itu mengangguk. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Matanya menatap ke arah luar jendela dengan pandangan lurus ke bawah menatap taman di bawahnya.Â
"Jangan sampai lengah. Aku tak mau terjadi sesuatu dengan putri kandungku. Humaira Khema Shireen adalah belahan jiwaku dan istriku. Kebahagiaannya adalah kebahagiaanku juga."Â
"Jangan menutupinya lagi dari Rachel, Papa!" Seru Rachel dengan kemarahan besar di matanya.Â
Dia benar-benar tak terima dengan kebenaran yang ada. Dia tak sudi harus bersaudara dengan Humaira.Â
"Apa karena Humai, Papa tak pernah menyayangiku? Papa tak pernah ada waktu untukku. Bahkan aku hanya ditinggal di rumah besar ini tanpa ditemani olehmu, Pa? Iya?" Seru Rachel dengan mengeluarkan segala keresahan dalam pikirannya.Â
"Apa sebegitu berartinya Humaira untuk Papa? Sampai aku tak berarti sedikitpun untukmu, Pa? Iya? Jawab aku, Pa! Jawab Rachel!" Teriaknya dengan frustasi.
Kekasih Syakir itu meneteskan air matanya ke arah papa yang sejak tadi diam. Bahkan papanya itu memalingkan wajahnya tanpa berniat memeluknya.Â
Dari sini saja Rachel bisa melihat bagaimana sikap papanya yang berbeda antara dirinya dan Humai. Papanya rela meletakkan banyak mata-mata untuk Humaira. Sedangkan dirinya, mau dia pulang, mau dia sakit hanya pelayan dan pengasuhnya yang ada.Â
Ketika dihubungi, papanya yang selalu bilang dia sibuk bekerja. Hal itu tentu membuatnya semakin marah. Hal itu tentu semakin membuat Rachel membalas dendamnya pada Humai.
__ADS_1
Membully gadis itu, menjahatinya bahkan sampai membuat mata-mata papanya tersingkirkan agar rencana berhasil.Â
"Papa!"Â
"Tentu. Humaira jauh lebih penting untuk Papa daripada kamu!"Â
Jantung Rachel mencelos. Dia menatap papanya tak percaya. Seakan lukanya yang dalam semakin dikorek begitu luar biasa. Seakan apa yang selama ini menjadi sakitnya seakan tak berarti untuk papanya itu.
Tak ada wajah penyesalan disana. Tak ada wajah panik atau kasihan melihat dirinya marah seperti ini.Â
"Aku ini juga anak, Papa. Aku juga anak kandung, Papa. Kita berdua sama tapi kenapa Papa tak adil? Kenapa?" Teriak Rachel semakin menjadi.
Dia bahkan sampai mengacak rambutnya sendiri. Dirinya bahkan tak peduli jika penampilannya sangat kacau. Jika dirinya terlihat cengeng di hadapan papanya. Rachel sudah tak peduli.Â
"Jawab, Pa. Aku ini anak, Papa, 'kan? Lalu kenapa papa tak adil?"Â
"Karena kamu…" Jeda pria paruh baya itu dengan menatap wajah Rachel.
Dia tahu mungkin jawabannya akan menyakiti anaknya ini. Dirinya tahu jika apa yang akan disampaikan mungkin tak akan diterima oleh Rachel. Anaknya itu pasti tak percaya, dia pasti akan marah dan memberontak padanya.Â
"Karena apa, Pa? Apa?"Â
"Karena kamu bukan anak kandung Papa!"Â
~Bersambung
Hiyaa ada yang bener tebakannya gak?Â
Hihi ada yang kaget gak yah? yuhuu
Oh ya jangan lupa mampir ke karya temenku yah.
Seorang gadis miskin nan bodoh yang terjebak untuk menyelesaikan misi dalam sebuah game. Rasa frustasi yang memuncak membuat Mila nekat memakai uang hasil kerja kerasnya kemarin untuk membeli kuota. Bermodalkan ponsel lawas dan beberapa giga kuota, Karmila berhasil mendownload sebuah game yang berjudul 'My Kepet pet'. Game ini adalah sebuah game pertarungan hewan dan permainan misi dengan iming-iming berhadiah uang.
"Keren nih game, bisa dapet duit beneran nggak ya? Coba aja lah, aku lagi frustasi."
Ponsel Mila telah menyala, menampilkan gambar-gambar dengan warna dan suara yang menarik. Mila sangat asyik bermain game tersebut, beberapa saat kemudian notifikasi gagal terdengar keras.
Tet Tot !!!
What?! Aku kalah? Bahkan game pun nggak rela aku menang?" Mila melongo melihat kegagalannya.
"Aaaa ... inj sungguh tidak adil!!!" Teriak Mila.
__ADS_1
Bagaimakah cara Karmila menyelesaikan semua misinya demi mendapatkan hadiah uang tunai? Siapakah pemilik game tersebut?