Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Kado Dari Reyn


__ADS_3

...Kebahagiaan semua orang itu tak bisa disamakan. Hal sederhana saja mampu membuat beberapa dari mereka tertawa bahagia karena memang sesederhana itu untuk mereka menikmati kebahagiaan itu. ...


...~Humaira Khema Shireen...


...🌴🌴🌴...


Sefira terkekeh pelan. Dia mengacungkan jempolnya saat Lidya dan Mei mewawancarai keduanya. Dua gadis muda itu duduk di hadapan dosen killernya dan Sefira. Jujur apa yang dia lihat membuatnya terkejut bukan main.


Keberadaan Jeno di sini membuat keduanya yakin ada sesuatu diantara Sefira dan dosen killernya itu.


"Jadi, Fir. Ini? "


Sefira tersenyum malu-malu. Jujur semua yang terjadi padanya itu juga karena terkadang cepat Jeno. Sampai dirinya saja tak mampu mengatakan pada siapapun.


Kedekatan keduanya yang bisa dibilang cepat. Kedekatan mereka yang tanpa babibu membuat beberapa orang pasti terkejut dengan keduanya.


"Iya, Lid. Maaf yah, " Kata Sefira tak enak hati. "Aku belum sempat bilang ke kalian. Kalau aku dan dosen kalian ini akan menikah. "


"Apa! " Lidya dan Mei membelalakkan matanya.


Keduanya menatap Sefira dan Jeno bergantian. Seakan telinga mereka masih tak percaya mendengar kabar ini.


"Ya. Kedekatan kami bisa dibilang cepat dan Kak Jeno… " Jeda Sefira menatap calon suaminya itu dengan bibir yang tersenyum. "Dia juga tak mau berlama-lama untuk pacaran. Jadi dia datang langsung memintaku pada Mama dan Papa. "


Jujur Lidya dan Mei tak menyangka akan hal ini. Sahabat yang paling jauh. Sahabat yang jarang mereka temui benar-benar. Sat set sat set dalam menikah. Namun, keduanya tak merasa sedih. Mereka berdua ikut bahagia di antara para sahabatnya yang saling berlomba ingin saling halal.


Dengan semangat, Lidya memeluk Sefira dengan erat. Perempuan itu ikut merasa senang. Jujur meski dia ikut sekte ngefans parah dengan dosennya itu. Lidya tak segila itu ingin merebut Jeno dan sahabatnya.


Dia hanya suka sebagai fans pada dosen killernya itu. Namun, untuk masalah hati, Lidya masih sadar diri bahwa dia tak akan merusak kebahagiaan sahabatnya demi hatinya sendiri.


"Selamat yah. Selamat, " Kata Lidya dengan melepas pelukannya.


"Aku juga, Fir, " Kata Mei yang tak kalah bahagianya. "Do'ain kita berdua ya. Biar bisa nyusulin kalian. "


Lidya memukul kepala sahabatnya itu dengan pelan. "Kamu aja dulu. Akunya belakangan aja! "


"Ih kenapa sih? " Tanya Mei mendelik kesal.


"Aku belum siap aja mau nikah. Jadi kamu duluan aja, okey? "


Tingkah keduanya dan perdebatan Lidya dan Mei membuat Sefira tak bisa menahan tawanya. Dia benar-benar geleng-geleng kepala melihat tingkah absurd dua sahabatnya itu. Hingga tak lama kedatangan pengantin baru itu membuat perhatian keempatnya beralih.

__ADS_1


"Ah Kakak Iparku, " Panggil Sefira sambil terkekeh geli.


Humaira menepuk lengan Sefira saat memeluknya. Jujur dia juga merasa aneh dengan panggilan itu. Namun, mau menolak bagaimanapun hebatnya. Kenyataannya dia adalah ipar dari sahabatnya itu.


"Jangan gitu ih! "


"Jen, " Panggil Syakir yang bersalaman ala pria dengan dosen istrinya itu.


"Selamat ya, " Kata Jeno dengan tulus.


Dalam mata pria itu tak ada lagi cinta untuk Humai. Tak ada perasaan apapun dalam diri pria itu untuk wanita yang merupakan istri dari Syakir. Seakan perasaan yang pernah dia berikan pada Humai. Seakan hati yang pernah diduduki oleh wanita itu mampu digeser oleh Sefira.


"Thank you, Jen. Semoga kalian cepet nyusul, " Kata Syakir menepuk pundak pria yang ia berikan kepercayaan menjaga adiknya.


Ya, Syakir sudah sangat yakin jika Jeno bisa menjaga adiknya itu. Dia tak pernah mempermasalahkan pria itu pernah mencintai Humaira.


Perihal hari tak ada yang tak bagaimana akhirnya. Cinta itu tak bisa dipaksa dan hati tak bisa memilih kepada siapa dia jatuh cinta.


Jika dulu Jeno mencintai Humai makan itu sudah fitrahnya. Hati hanya bisa meletakkan cinta kepada siapa tapi mereka tak bisa memilih untuk mendapatkan dan memilikinya.


"Doakan yang terbaik untukku, Calon Kakak Ipar, " Kata Jeno dengan bercanda. "Aku juga berniat cepat-cepat menyusulmu. "


"Ya. Agar anak kita bisa seumuran, " Kata Syakir yang membuat Jeno menganggukkan kepalanya setuju.


"Bagus. Aku menunggu kehadiran kalian di rumah kami, Jen, " Kata Syakir memberitahu.


"Tentu. Mungkin besok kita akan kesana. Tapi tergantung orang tuamu, Calon Kakak Ipar."


"Untuk itu serahkan padaku. Mama dan Papa pasti siap. "


...🌴🌴🌴...


Akhirnya acara akad nikah yang dihadiri oleh keluarga besar dan teman terdekat itu mulai berakhir. Beberapa tamu sudah mulai kembali ke rumahnya.


Ya, memang acara kecil-kecilan ini dilakukan atas permintaan Humaira. Perempuan itu tak mau akad nikah secara besar-besaran. Menurutnya ini adalah pernikahan kedua mereka. Humaira ingin akad nya lebih privasi dan khidmat.


Dan ternyata itu bisa dilakukannya. Dia bisa merasakan bagaimana akad nikah yang hanya dihadiri oleh orang-orang terdekatnya saja. Hanya satu orang yang tak datang. Ya, Reyn, adik yang sangat dia sayangi itu tak bisa izin pulang karena lomba renang akan segera dilaksanakan.


Namun, meski Reyn tak datang. Pria muda itu, sudah mengirimkan paket untuk hadiah pernikahan kakaknya. Dengan bantuan sosial media. Pria muda itu memberikan sebuah kado spesial yang datang di hari yang tepat saat pernikahan Humaira.


"Jadi ini kado dari kamu? " Tanya Humai menatap layar ponsel yang menyala.

__ADS_1


Ya, saat ini Humaira ada di balkon kamarnya. Dirinya lekas menelpon adiknya itu saya pelayan memberikan kotak hadiah itu padanya.


"Iya, Kak, " Sahut Reyn dengan menghapus air matanya penuh haru.


Make up yang masih terjaga dengan rapi. Baju pengantin yang masih melekat indah membuat Reyn ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh kakaknya itu. Wajah Humai yang tertawa tanpa beban. Kedua mata yang begitu memancar indah membuat Reyn yakin jika pernikahan kedua kakaknya ini benar-benar membawa kebahagiaan.


"Kakak buka yah? " Kata Humai yang siap membuka kotak itu.


"Jangan! " Pekik Humai dengan cepat.


Kepala pria muda itu menggeleng. Dia tak mengizinkan Humai membuka data telepon mereka masih tersambung.


"Lah kenapa gak boleh dibuka? " Tanya Humai pada adiknya itu.


"Bukannya nanti kalau Reyn sudah matikan telfonnya. "


"Kalau sekarang? "


"Reyn gak kasih izin, " Balas Reyn dengan mode galak.


Humai akhirnya mengalah. Dia tak lupa menanyakan bagaimana perkembangan dan persiapkan lomba Reyn bulan depan.


"Aku akan lomba di pusat kota, Kak. Doain bisa masuk ke antar negara yah. Biar namaku bisa membawa nama Korea, " Kata Reyn dengan begitu bahagia.


"Tentu. Kakak doakan yag terbaik! "


Akhirnya panggilan itu berakhir saat ada suara ketukan di pintu kamar adiknya. Humaira lekas meletakkan ponselnya di atas meja yang ada di balkon kamar lalu dia segera menatap kotak yang ada di pangkuannya ini.


"Jadi aku sekarang bisa membukanya, " Kata Humai dengan rasa penasaran yang tinggi.


Perempuan itu menegakkan tubuhnya. Perlahan dia mulai membuka pita merah yang ada di kotak hitam itu. Setelah itu dengan perlahan Humai membuka kotaknya dan akhirnya.


"Ya Tuhan! " Pekik Humai membulatkan matanya.


Dia mengangkat pakaian dinas malam yang berwarna hitam dan merah terlihat begitu seksi di matanya. Hingga pandangannya jatuh di sebuah kertas yang ada di antara tumpukan baju dinas itu.


"Jangan marah dulu ya, Kakakku Sayang. Aku tahu hadiah ini dari Google. Aku kasih hadiah ini karena aku yakin Kakak sudah punya semuanya. Aku cuma ingin melihat Kakak bahagia dan berikan aku keponakan yang banyak, " Kata Humai mengeja kalimat yang ditulis di kertas itu.


"Dari adikmu Reyn. Pria kecil yang menyayangimu."


~Bersambung

__ADS_1


Hahah Reyn mah mulai nakal ye kan. Kira-kira gak ada yang kepo ni kisah Reyn selama di Korea, hm? aku pen bikin tapi artinya genrenya teen.


__ADS_2