
...Suatu cinta akan kembali datang dan mekar ketika kita mencoba memberinya kesempatan untuk masuk dan mengisinya. ...
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
Setelah melewati banyak permainan bersama. Sefira baru mengakui. Dia baru sadar jika apa yang ia lakukan sekarang ternyata tak seburuk yang ia bayangkan.
Pria yang tanpa sengaja dipeluk saat dirinya senang. Pria yang menemaninya bermain apapun, tak seburuk dalam bayangannya. Sefira pernah berpikir bahwa keduanya yang baru bertemu dua kali. Lalu keduanya yang baru berkenalan akan membuat dirinya dan Jeno merasa canggung.
Namun, ternyata semua itu telah ditepis dengan sempurna. Ternyata pelukan yang tanpa sengaja dilakukan olehnya, membuat dirinya tahu seperti apa dosen killer tersebut.
Jika Jeno adalah pria jahat, dia akan memanfaatkan keadaan. Tapi pria itu berbeda dari pria yang lain. Jeno tak melakukan itu padanya. Bahkan dengan baik, dia memaklumi tindakan spontanitas Sefira dan mengatakan sesuatu yang entah kenapa membuat jantung Sefira berdetak dua kali lebih cepat.
"Jangan melakukan hal seperti ini pada pria lain. Jika itu terjadi, aku tak tahu apa yang akan terjadi pada mereka!"
Tentu ucapan itu terngiang di kepala Sefira. Entah kenapa mengingat kata-kata itu selalu membuat pipinya bersemu merah. Seakan dirinya merasa sesuatu yang tak bisa dijabarkan oleh perasaannya.
Sesuatu yang membuat hatinya berdebar, malu dan ya khawatir.
"Woy!" pekik Humaira menepuk pundak sahabatnya itu.
Sefira terjingkat kaget. Dia menoleh ke samping dan menatap sahabatnya yang cengengesan melihat reaksinya.
"Ngelamunin apa sih? Aku lihat semenjak kita pulang dari timezone kamu diem mulu?" tanya Humaira yang penasaran.
Mantan istri Syakir itu menatap sahabatnya dengan lekat. Dia sangat tahu seperti apa Sefira. Perempuan itu akan menyendiri dan diam jika ada sesuatu yang sedang memenuhi pikirannya.
Mereka bukan berteman satu atau dua tahun saja. Tapi sudah berapa tahun mereka menjalin persahabatan itu. Sejak masa sekolah sampai sekarang Humaira memiliki anak.
Hubungan keduanya sudah lebih dari seorang sahabat. Mereka saling menyayang seperti layaknya seorang saudara.
"Nggak. Aku nggak ngelamunin apapun!" kata Sefira berkilah.
__ADS_1
"Yakin?" ghaida Humaira dengan mencolek dagu adik mantan suaminya itu. "Kelihatan loh kalau kamu lagi mikirin sesuatu!"
Sefira menepis tangan sahabatnya itu. Sejak dulu ia adalah pembohong yang gagal. Sejak dulu dia tak pernah bisa menutupi apa yang ia rasakan. Humaira selalu bisa membaca gerak geriknya. Wanita itu selalu bisa mengerti apa yang dia rasakan.
"Katakan padaku. Apa yang sedang membuatmu berpikir dengan berat?" tanya Humaira dengan suaranya yang begitu lembut.
Dia tersenyum kecil. Mengangkat tangannya dan mengusap puncak kepala sahabatnya itu. Ini adalah salah satu bentuk perhatian yang Humaira berikan. Dia selalu melakukan ini setiap kali Sefira merasa khawatir atau kacau akan suatu masalah.
"Jatuh cinta itu seperti apa sih, Mai?" tanya Sefira setelah dia berpikir berulang kali untuk menyimpan atau mengatakannya.
Jujur dia tak pandai akan hal ini. Dia tak pandai tentang masalah hati. Sejak dulu Sefira tak pernah dekat dengan siapapun. Dia tak pernah mencintai seorang pria. Dia memang tertutup itu.
Sedangkan Humaira yang mendengar pertanyaan sahabatnya langsung membulatkan matanya. Dia menatap sahabatnya dengan pandangan tak percaya.
Jujur baru pertama kalinya sahabatnya itu, adik dari mantan suaminya menanyakan tentang perihal yang sangat amat berbeda. Sesuatu hal yang sangat sensitif dan itu masalah hati.
Ini adalah pertama kalinya sahabatnya itu bertanya tentang ini.
"Kau sedang jatuh cinta, Fir?" tanya Humaira telak.
"Aku…"
"Kau sedang jatuh cinta!" kata Humaira tepat sasaran.
Dia yakin bahwa dirinya menebak dengan benar. Jujur apa yang sahabatnya itu lakukan, pernah terjadi padanya. Dan ekspresi serta kelakuannya sama sepertinya dirinya dulu.
Humaira sangat ingat bagaimana dia yanh jatuh cinta pada suaminya sendiri. Bagaimana dia yang selalu merasa khawatir ketika tak melihat wajahnya. Bagaimana dia yang selalu gelisah ketika berjauhan dengannya.
Meski Humaira mengakui dia hanya jatuh cinta sekali, patah hati sekali dan hancur sekaligus. Namun, Humaira masih percaya bahwa cinta adalah satu hal yang bisa menjadi obat di setiap kesakitan di dunia.
"Aku…" jeda Sefira dengan perasaan yang bingung.
Dia tak yakin jika dirinya mencintai dosen killer itu. Dia tak yakin cinta dayang pada pandangan pertama, pada momen pertama mereka dan pada masa dekat mereka yang pertama kali.
__ADS_1
Apa cinta bisa datang secepat itu pada orang yang baru saja ia kenal? Semua hal yang terjadi apa mungkin terjadi hanya dalam hitungan jam?
"Katakan, Fir. Apa yang kau rasakan?"
Sefira merasakan sesak. Dia mencoba menarik nafasnya begitu dalam. Mencoba menenangkan dirinya yang seperti kacau dengan perasaan aneh ini.
"Aku merasa malu ketika ada di dekatnya tapi bersamaan dengan itu, aku merasa nyaman. Aku merasa ketika dia melihatku, perasaanku berdebar, Mai. Apalagi ketika mata kami tak sengaja saling bertatapan. Aku merasa mata itu begitu teduh dan menenangkan," ujar Sefira dengan pelan.
Dia menunduk. Jujur dirinya malu mengatakan dan menceritakan semua ini pada sahabatnya. Namun, Sefira mengakui bahwa hanya Humai yang mampu membuatnya tenang. Dia hanya memiliki Humai untuk teman bercerita di saat duka maupun senang.
"Katakan sesuatu, Mai. Apa itu bisa disebut jatuh cinta?" tanya Sefira yang mulai tak sabaran.
"Apa kau pernah dengar, jika cinta akan datang ketika kita mulai terbiasa dan nyaman dengannya?" tanya Humaira dengan menatap balik sahabatnya itu.
Sefira mengangguk. Dia pernah dengar teman kampusnya yang menceritakan bagaimana mereka jatuh cinta. Bagaimana mereka bisa suka pada seorang pria.
"Apakah bisa cinta datang secepat itu?" tanya Sefira yang seakan masih ragu akan apa yang dia rasakan.
"Cinta bisa datang ketika kita menatapnya hanya dalam satu detik. Semua itu bisa terjadi dan tak ada yang tak mungkin jika menyangkut tentang ini!" kata Humai menjawab sambil menunjuk dada Sefira.
"Ketika disini berdebar kencang. Ketika disini dia merasa nyaman sekaligus senang ketika bertemu dan bersama dengannya. Maka itu yang namanya kamu sedang jatuh cinta!"
Sefira merasakan perasaannya sedikit lega. Entah kenapa pikiran yang sejak tadi berputar di kepalanya seakan menemukan jalan keluar. Seakan dirinya mulai memahami apa yang sedang dirasakannya dan dihadapi saat ini.
"Apa kamu jatuh cinta pada Pak Jeno?" tebak Humaira dengan tepat sasaran.
Pertanyaan itu tentu membuat Sefira yang tadinya menatap ke depan kini kembali menoleh. Dia menatap sahabatnya itu yang sedang menatapnya juga.
"Entahlah, Mai. Tapi aku merasa sesuatu yang berbeda dengan dirinya."
~Bersambung
Hahah ada yang nulai jatuh cinta pada pandangan pertama lah. Kira-kira abis ini Sefira bakalan ngapain yah?
__ADS_1
Dia mulih menjauh atau menerima perasaan itu?
Yang tanya si pecel sama Adam. Ntar lagi bakalan muncul khusus mereka. Harus kalian baca loh yah. Jan dilompat hiks