
...Terkadang apa yang selalu kita anggap baik hanya untuk menutupi niat jahatnya kepada kita. Namun, percayalah dibalik hal jahat itu, akan ada orang baik yang membantu kita. ...
...~Humaira Khema Shireen...
...🌴🌴🌴...
"Aku gak mau, Kak. Udah sampai sini saja. Dia wanita baik-baik, " Seru seorang perempuan dengan air mata menetes menolak ucapan saudaranya itu.
"Kau harus mau! " Seru pria itu dengan beranjak berdiri. "Karena dia impianku gagal! Karena dia semua yang sudah aku perjuangkan gagal! "
"Bukan gagal tapi memang desain Kakak jauh kalah dari dia! "
"Kau! " Seru pria dengan mata berkilat marah berjalan menuju ke arah saudaranya itu. "Yang pasti kau harus tetap ikut menjalankan rencana ini. Aku hanya ingin mengerjainya saja! Agar dia bisa melihat siapa yang dia lawan! "
Perempuan dengan wajah sembab itu menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Dia menarik nafasnya begitu dalam seakan tersiksa dengan semua yang diminta saudaranya itu.
Jujur dia tak mau melanjutkan semua itu. Dia ingin mundur. Sejak awal dirinya terpaksa melakukan ini. Melakukan hal yang benar-benar berkebalikan dengan dirinya.
"Kumohon, Kak? Hentikan semua ini. Ikhlaskan kalau fashion show mu kalah dari dia. Dia juga sedang hamil. Apa kau tak kasihan? " Ucap wanita itu dengan bahasa Indonesia yang lancar.
"Sekali tidak tetap tidak. Besok kau harus ikut galeri dan kita akan mengacak-ngacak hasil desainnya agar dia buat lagi! "
...🌴🌴🌴...
"Bagaimana, Sayang? " Tanya seorang perempuan yang tengah berdiri di depan sebuah layar yang menampilkan wajah suami tercintanya.
"Itu bagus. Bahkan sangat bagus! " Jawab Syakir dengan mengangguk.
"Serius? Ini masih sketsa. Jika besok dia ingin revisi, ya aku revisi, " Kata Humai dengan mendudukkan dirinya dan meletakkan hasil desain di atas meja.
"Jangan terlalu diforsir, Sayang. Ingat anak kita, " Kata Syakir dengan menunjuk perutnya yang bermaksud mengingat Humai tentang kandungannya.
Humai tersenyum. Dia mengusap perutnya dengan lembut sambil tersenyum.
"Anak kita baik banget, Kak. Dia gak pernah rewel. Gak pernah pengen ini itu selama kamu gak ada, " Ujar Humai dengan jujur.
Namun, tak lama ekspresi itu berubah menjadi jadi sedih. Hal itu tentu bisa ditangkap oleh Syakir yang ada dibalik layar.
"Kenapa hmm? "
"Kapan kamu pulang? Kamu gak mau nemenin aku USG, Sayang? "
"Aku belum bisa ngasih tau kamu kapan aku pulang," Ujar Syakir dengan wajah penuh penyesalan. "Masih banyak pekerjaan disini, Sayang. Maafkan aku. "
Humai hampir menangis. Namun, meski kecewa dia menahan agar air matanya tak jatuh. Bagaimanapun suaminya disana bukan untuk main-main. Syakir benar-benar bekerja dengan baik. Bahkan semua urusan perusahaan terkendali dengan aman.
__ADS_1
Ayah mertuanya juga bilang. Semua kerjasama sukses dipegang oleh Syakir. Bahkan seakan hal itu adalah rezeki anak mereka, apapun berdatangan meminta kerja sama dan membuat Syakir dibuat kewalahan.
"Iya, " Sahut Humai dengan mengangguk.
"Jangan lesu gitu dong. Aku janji bakalan cepet pulang, " Bujuk Syakir yang dibalas hanya anggukan kepala.
"Kasih senyumannya dikit dong. Ayah kangen sama Ibu, " Rayu Syakir yang paling bisa membuat Humai tak dapat menahan marah terlalu lama.
Perlahan senyuman itu muncul di kedua sudut bibirnya. Dia menatap suaminya dengan perasaan rindu yang mendalam.
"Tahan sedikit lagi yah. Aku janji bakalan cepet pulang, " Kata Syakir yang mendapatkan anggukan kepala.
Akhirnya pembicaraan itu berakhir. Humai mematikan panggilan itu dan segera keluar dari kamar. Waktu memang masih siang disini dan itu membuat perut Humai merasa lapar.
Sejak tadi dia memang di dalam kamar untuk menyelesaikan sketsa ini dan benar. Semua bisa berjalan dengan cepat dan tanpa gangguan. Perlahan Humai keluar. Dia menatap sekeliling hingga pandangannya jatuh ke arah wanita yang berdiri di balkon rumah.
Rachel, wanita yang sudah dianggap kakak kandung sendiri tengah sendirian disana. Entah apa yang membawa Humai. Wanita itu malah mendekati saudaranya itu.
"Kak, " Panggil Humai yang membuat Rachel membalikkan tubuhnya.
"Humai, " Sahut Rachel terkejut.
"Sedang apa disini sendirian? " Tanya Humai menatap wajah Rachel yang terlihat sedikit lebih berisi dari pertama dia datang.
"Gak ada, " Jawab Rachel menggeleng. "Aku suka liat Korea dari sini. Kota ini terlihat lebih indah. "
"Disini memang indah, Kak. "
Humai memejamkan matanya. Dia menghirup udara yang sangat segar disini. Jujur perasaan Humai tak pernah membayangkan akan tinggal menetap sampai dia melahirkan disini. Namun, mau bagaimana lagi.
Syakir si tukang protektif tak mau istrinya hamil dan naik pesawat. Maka mau tak mau dia harus bertahan disini sampai proses melahirkan selesai.
"Mai."
"Hmm? "
"Maafkan aku yah, " Kata Rachel pelan yang membuat Humai membuka matanya.
Dia menatap ke samping. Menatap kedua bola mata yang dulu pernah menatapnya penuh kebencian.
"Aku sudah memaafkanmu, Kak, " Kata Humai dengan jujur. "Jangan menatap masa lalu. Saat ini kita sudah menjadi saudara. Kita akan saling menjaga dan saling melindungi. "
Rachel mengangguk. Apa yang dikatakan oleh wanita baik di depannya ini benar.
"Boleh aku peluk kamu? "
__ADS_1
"Tentu. "
Humai mendekat dan akhirnya dia wanita yang pernah memiliki masa lalu buruk itu saling berpelukan. Saling berdamai dengan masa lalu yang kelam. Masa lalu yang pahit di antara mereka berdua.
"Terima kasih sudah menerimaku, Mai. Memaafkan semua kesalahanku yang fatal. Aku berjanji akan mengingat semua kebaikanmu kepadaku. "
...🌴🌴🌴...
Akhirnya acara pertemuan dengan Lee dan sepupunya akan dilakukan di galeri. Humai telah menyiapkan semuanya dan mulai menyambut kedatangan mereka.
Kali ini kliennya ini hanya berdua saja. Tuan Lee dan sepupunya saja. Namun, Humai seakan menangkap gelagat aneh di wajah wanita yang akan memakai desainnya itu.
"Bagaimana? Apa desain untuk sepupuku sudah selesai? " Tanya Lee dengan gaya wajah yang selalu menaikkan dagunya.
Humai sudah paham tentang Lee. Dia memang memiliki aura tegas dan seakan bersikap angkuh. Namun, Humai tak pernah menanggapi itu dengan serius.
"Sudah, Tuan Lee. "
Humai perlahan mengeluarkan semua hasil desainnya. Dia meletakkan di atas meja dan menatanya.
"Fira, minta tolong Chen suruh bawakan minuman yah, " Kata Humai saat Sefira hendak masuk.
"Baik."
Senyum miring tercetak di bibir Lee. Namun, tak ada yang menyadarinya. Perlahan Humai mulai menceritakan hasil desainnya pada kliennya itu. Menjelaskan semuanya dengan detail.
"Jadi Anda ingin memilih yang mana? " Kata Humai setelah menjelaskan semua desain miliknya.
"Aku… "
Sepupu Lee itu melirik ke arah Lee sebentar. Namun, mata Lee yang tajam melotot dan membuat Sepupunya menunjuk desain baju yang menurutnya bagus.
"Ini."
"Wah itu desain yang memang bagus juga menurut saya, Nona. Baiklah kita akan memulai mengukur badan Anda. "
"Permisi," Sela Chen seorang perempuan yang datang.
Humai menoleh ke belakang dan mengangguk. Pintu masuk memang ada di belakang tubuh Humai hingga dia tak bisa melihat dan Lee ada di depan Humai.
Perlahan karyawan Humai itu berjalan dengan nampan yang diatasnya terdapat beberapa cangkir disana. Dia berjalan dengan sangat pelan hingga semua orang yang fokus akan melihat ke arah desain tak tahu jika ada seseorang yang ikut masuk saat pintu masih terbuka oleh Chen dan berjalan di belakangnya.
Saat Chen hendak sampai, Tiba-tiba kakinya ada yang menghalau dan akhirnya…
"Awas! "
__ADS_1
~Bersambung
Huaa kira kira siapa yang dateng yah? terus tu air bakalan ancurin desainnya atau nggak?