
...Apa yang harus aku takutkan lagi dari dirimu jika sikapmu saja menunjukkan bahwa kau takut kehilanganku. ...
...~Humaira Khema Shireen...
...🌴🌴🌴...
Sebanyak apapun perubahan seseorang pasti ada salah satu di antara mereka yang masih belum percaya dengan perubahannya. Pasti masa lalu itu masih terngiang dan membuatnya takut. Takut jika sesuatu yang menjadi miliknya akan terpengaruhi.
Begitupun dengan sosok wanita yang berdiri tak jauh dari mereka. Matanya berkilat marah seakan tak menyukai interaksi di antara dua orang yang pernah memiliki ikatan di masa lalu itu.
Dia tak menyukai suasana seperti ini. Dirinya takut, takut jika pria yang merupakan kakak kandungnya kembali menyakiti sahabatnya.
"Dasar perempuan gak tahu malu! " Seru Sefira yang tak bisa lagi menahan amarahnya.
Suara Sefira tentu membuat Syakir dan Rachel menoleh. Istri Jeno itu berjalan dengan menatap orang yang pernah menindasnya itu dengan pandangan benci.
"Kau pasti sengaja melakukannya agar Kakakku membantumu, 'kan? Kau pura-pura dan ingin menarik perhatiannya! " Seru Sefira dengan langsung.
Wajah istri Jeno itu sudah memerah. Dari sekian banyak keluarga. Memang hanya Sefira yang belum percaya sepenuhnya. Dia sangat tahu bagaimana liciknya Rachel di masa lalu.
Dia bahkan sejak kemarin menahan. Sejak kedatangan keluarga sahabatnya, dia menahan untuk bicara. Menahan segala hal yang rasanya ingin tak melihat sosok Rachel.
"Giska, " Panggil Syakir menahan adiknya yang ingin menyerang Rachel.
"Kenapa, Kak? Kenapa? " Seru Sefira tak terkendali. "Kakak juga ingin membela dia? Kakak kasihan sama dia? "
Sefira benar-benar diluar kendali. Jujur baru kali ini Syakir melihat amarah adiknya meletup-letup.
"Bagaimana jika Humai melihat tadi, hah? Bagaimana? "
Suara pertengkaran itu tentu membuat semua orang yang masih istirahat spontan terganggu. Mereka lekas keluar dari kamar dan menuju ke asal suara.
Disana tentu semua orang langsung melihat adegan antara kakak dan adik yang saling berseteru.
"Kakak hanya membantunya saja, Giska. Gak lebih! "
"Kakak ingat! Di antara kalian itu pernah ada ikatan. Jaga hati Humai! Bagaimana kalau dia cemburu? Dia lagi hamil, Kak. Hamil! " Seru Sefira dengan emosi yang meledak.
"Sayang, " Panggil Jeno yang sama terkejutnya.
Semua orang baru kali ini melihat Sefira seperti ini. Orang yang biasanya lemah lembut, ceria dan mudah bercanda itu kini berubah seratus delapan puluh derajat. Wanita itu benar-benar menunjukkan wajah bencinya pada Rachel.
"Kakak juga mau membela dia? " Seru Sefira langsung.
Kepala Jeno menggeleng. Dia tak mau istrinya semakin berontak dan marah. Dia ingin istrinya sedikit lebih tenang.
"Ada apa ini? " Tanya Humai yang baru saja datang.
__ADS_1
Ibu hamil satu ini menatap semuanya. Wajahnya dipenuhi kebingungan. Humai memang tak tahu apa permasalahannya.
"Kak? " Tanya Humai menatap suaminya dengan penuh tanda tanya.
"Gak ada kok, Nak. Gak papa, " Tanya Mama Ayna menengahi.
Dia tak mau menantunya memiliki pikiran buruk dan mempengaruhi kandungannya. Bagaimanapun Mama Ayna masih percaya pada putranya.
Percaya jika Syakir tak akan mengecewakan mereka lagi. Percaya jika Syakir tak akan menyakiti hati istrinya lagi. Percaya jika putranya tak akan melakukan kesalahan yang sama.
Hal yang sangat amat menakutkan. Hal yang membuat rumah tangganya yang dulu hancur.
"Kamu mau makan hmm? " Tanya Mama Ayna mendekati menantunya itu.
Saat Humai hendak menjawab. Pekikan seseorang dari belakang membuat semua orang menoleh.
"Giska! "
"Sefira! "
Adik Syakir itu tak sadarkan diri. Namun, Jeno yang ada di dekatnya dengan siaga lekas menangkapnya. Dia langsung membawa istrinya ke kamar agar bisa dibaringkan.
"Sebenarnya ada apa, Ma? Kenapa Sefira berteriak? " Tanya Humai yang masih tak percaya.
"Sefira hanya salah paham, Sayang, " Tambah Mama Emili menambahi.
"Syakir carikan istrimu buah di lemari pendingin. Dia pasti lapar. Biarkan Mama melihat kondisi adikmu dulu. Jeno juga pasti sudah memanggil dokter untuknya, " Kata Mama Ayna yang masih khawatir pada menantunya.
"Iya, Ma. "
"Nanti temui Mama, Syakir. Mama ingin bicara padamu! "
...🌴🌴🌴...
Semua orang tentu berkumpul di ruang kamar Jeno dan Sefira. Mereka menunggu kabar dari dokter yang dipanggil oleh Jeno. Pria itu juga tak kalah khawatir daripada yang lain.
Dia bisa melihat wajah istrinya yang pucat pasi. Bahkan Jeno masih ingat jika tadi saat istrinya bangun. Sefira izin ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan karena dia ingin meminum obat.
"Bagaimana, Dokter? " Tanya Jeno dengan menggunakan bahasa Korea yang fasih.
Pria dengan wajah tampan itu tak sabaran. Dokter mulai lihat denyut jantung Sefira yang masih belum sadarkan diri.
"Jika menurut diagnosa saya. Istri Anda sedang hamil, " Ujar dokter yang membuat semua orang mematung tak percaya.
Begitupun dengan Jeno. Pria itu membelalakkan matanya tak yakin. Tak yakin dengan ucapan dokter yang baru saja dia dengar.
"Apa, Dok? "
__ADS_1
"Iya, Tuan. Istri Anda sedang hamil. Untuk meyakinkan diagnosa saya. Setelah istri Anda sadar. Lakukan tes dan segera bawa ke dokter, " Kata Dokter yang membuat Jeno menatap mamanya.
"Ma, istriku hamil, Ma! "
Mama Mey mengangguk. Dia langsung memberikan pelukan hangat pada putranya itu.
"Selamat, Nak. Selamat kamu akan menjadi calon ayah, " Ucap Mama Mey dengan ikut merasa senang.
"Selamat ya, Sayang. Mama akan tambah memiliki dua cucu sekaligus, " Ujar Mama Ayna memeluk menantunya itu.
Jeno mengangguk. "Terima kasih banyak, Ma. "
"Sama-sama, Ma. "
Akhirnya dokter mulai pamit pergi. Jeno lekas mendekati istrinya yang masih memejamkan matanya. Dia menatap ke arah perut Sefira. Memberanikan diri mengangkat tangannya dan meletakkannya di sana.
Meletakkan di perut Sefira yang sedang dipenuhi oleh sosok duplikat dirinya dan istrinya. Sosok hasil buah hati keduanya setiap malam.
"Selamat datang di perut Mama, Nak. Kamu harus bahagia disana ya. Papa sama Mama akan menjagamu sampai kamu lahir di dunia ini, " Ujar Jeno dengan perasaan yang begitu haru.
Dia menundukkan kepalanya. Memberikan kecupan lembut di perutnya dan meletakkan kepalanya di sana. Tak ada yang bisa menggambarkan kebahagiaan Jeno sekarang.
Perasaan yang tak bisa dijabarkan. Penuh syukur, bahagia, senang dan terharu. Dia tak percaya jika sebentar lagi ia akan dipanggil oleh sosok kecil yang sangat dinantikannya.
"Kak, " Lirih suara yang sangat dia kenal dan membuat Jeno menegakkan tubuhnya.
"Sayang, " Panggil Jeno dengan bahagia.
Dia menciumi seluruh wajah Sefira dengan perasaan bahagia.
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih banyak, " Ujar Jeno dengan perasaan harunya.
Sefira yang baru sadar tentu tak paham. Di menatap ke arah Jeno yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Ada apa, Kak?" Tanya Sefira dengan bingung. "Terima kasih untuk apa? "
"Kamu pingsan baru karena kamu sedang hamil, " Ujar Jeno dengan serius.
"Hamil? " Ucap Sefira tak percaya.
Jeno mengangguk. Dia menyentuh perut istrinya dan mengusapnya.
"Iya, Sayang. Kamu hamil. Disini ada anak kita yang sedang tumbuh. Ada sosok kecil yang akan memanggil kita dengan panggilan Mama dan Papa. "
~Bersambung
Hua akhirnya hamil barengan yah, hihi.
__ADS_1
Ini mah udah bahagia semua. Yuhuuu btw kisah Zelia kayaknya awal bulan. Soalnya masih aku diskusiin sama editor dulu.