Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Digugurkan?


__ADS_3

...Percayalah apa yang kamu lakukan sekarang. Kesabaran yang kau lakukan akan ada buah manis yang kau raih di masa depan....


...~Humaira Khema Shireen...


...🌴🌴🌴...


Humaira tak membalas apapun. Dia hanya mengangguk dan mencengkram bantal itu untuk menahan air matanya yang mengalir. Rasanya Humaira ingin menangis apalagi ditambah ibu hamil adalah wanita perasa yang membuatnya mudah tersinggung.


Namun, Humai tak mau membuat Syakir marah. Ditambah pria itu mulai memejamkan matanya yang membuat wanita berbadan dua itu langsung berjalan ke arah sofa.


Dia tak mungkin tidur di lantai. Humai takut terjadi sesuatu dengan anak yang dikandung. Hingga akhirnya dia memilih tidur di sofa yang ada disana. Sofa itu memang lumayan besar dan Humai yakin jika ia cukup untuk tidur disana.


Dengan pelan, Humai membaringkan tubuhnya. Dia meletakkan tangannya di atas perut dan mengusapnya dengan pelan.


Yang kuat ya, Nak. Ayah gak jahat kok. Ayah baik sama kita mangkanya disini ada sofa, ucap Humai dalam hati.


Lihatlah wanita berhati lembut ini. Dia masih bisa berpikiran positif untuk menenangkan anak yang ada dalam perutnya. Humai memang merasa perutnya mulai kaku. Dia berusaha bersikap setenang mungkin.


"Adek lagi capek yah," tanya Humai dengan pelan dan matanya menatap perutnya yang masih rata. "Ayo istirahat. Mama juga mengantuk." 


Akhirnya mata itu perlahan terpejam. Humai benar-benar berusaha membuat dirinya nyaman meski hanya tidur di atas sofa. Mengabaikan rasa dingin yang AC kamar berikan agar perutnya mulai tenang dan tak mengalami kram kembali.


Akhirnya pasangan pengantin itu mulai memejamkan matanya. Mereka tertidur setelah drama panjang di antara keduanya. Baik Syakir, pria itu tak peduli Humai tidur dimana. Dia asyik dengan empuknya ranjang miliknya dan membuatnya semakin jatuh ke dasar mimpi.


Begitupun dengan Humai, gadis itu berusaha membuat dirinya nyaman agar tak ada pertengkaran kali ini. Dia tak mau sikap dan sifat Syakir yang seperti ini diketahui oleh semua orang. 


Apalagi Humai sadar alasan keduanya menikah karena apa. Pernikahan yang sangat tak diinginkan pria itu tapi tak bisa dia tolak. Humai hanya bisa berdoa pada Tuhan.


Dia hanya bisa meminta agar Syakir diberikan kelembutan hatinya. Bisa menerima dia dan calon anak yang dikandung. Setidaknya cukup menyayangi calon anak mereka saja, itu sudah lebih dari cukup menurut Humai.


...🌴🌴🌴...


Entah sudah berapa lama Humai tertidur dia merasa semakin lama pendingin ruangan Syakir terasa sangat dingin. Humai bahkan sampai memeluk tubuhnya sendiri. Dia juga tak tahu sudah jam berapa sekarang.


Hingga sebuah cipratan air mengenai wajahnya dan membuat Humai lekas tersadar dan terduduk dengan nafas tersendat. 


"Dasar malas!" seru Syakir dengan nada menyindir. "Cepat bangun dan turun untuk makan malam!" 


"Memangnya jam berapa sekarang?" tanya Humai sambil mengusap wajahnya yang basah. 


"Lihat sendiri!" seru Syakir menunjuk jam mahal miliknya yang tergantung di dinding. "Jangan jadi wanita pemalas yang sulit dibangunkan!" 


Setelah mengatakan itu Syakir lekas duduk di atas ranjangnya dengan laptop di pangkuan. Sepertinya pria itu sedang melakukan pekerjaan. 


Tak mau membuat Syakir semakin marah. Akhirnya Humai segera ke kamar mandi. Dia mencuci wajahnya sebentar dan berganti pakaian. Dirinya melakukan semua itu dengan cepat. Humai tak mau Syakir mengatakannya sebagai wanita lambat dan lelet. 

__ADS_1


Hingga sebuah ketukan pintu di kamarnya bersamaan dengan Humai yang baru saja keluar dari kamar mandi. Wanita itu lekas membuka pintu itu dan melihat seorang wanita yang sangat ia kenal sebagai pelayan berdiri disana.


"Ada apa, Mbak?" tanya Humai dengan ramah.


"Tuan Syakir dan Non Humai diminta segera turun karena waktunya makan malam," kata pelayan itu dengan sopan.


"Iya, Mbak. Makasih." 


Sepeninggal pelayan itu, Humai hendak masuk kembali. Namun, ternyata di belakangnya sudah ada Syakir yang berdiri dengan menatapnya tajam.


Humai lekas menunduk saat melihat ekspresi suaminya yang terlihat marah besar.


"Jangan jadi wanita manja atau lambat di dekatku. Kalau tidak! Lihat saja apa yang akan kulakukan padamu." 


Setelah mengatakan itu, Syakir menyingkirkan tubuh Humai dengan menariknya ke samping dan dirinya segera keluar dari kamar. Pria itu tak menatap ke belakang sedikitpun. Dia benar-benar tak peduli dengan perasaan Humai. 


Mata gadis itu mulai meneteskan air mata. Humai hanya bisa mengusap perutnya dengan berusaha tenang.


"Sabar, Sayang. Ingat Ayah masih berusaha dekat dengan kita. Jadi kamu gak boleh membencinya yah," ucap Humai sambil menghapus air matanya.


Dia menarik nafasnya begitu dalam lalu segera menyusul langkah kaki Syakir yang hendak mencapai tangga. Pria itu berbalik dan menatap Humai dengan tajam.


"Berdiri di sampingku dan berjalan disini. Jangan sampai Mama dan Papa bilang aku tak memperlakukanmu dengan baik, Gadis Lambat. Kau mau mereka memarahiku, hah?" 


Humai yang mempercepat langkahnya lekas menggeleng. Dia tak memiliki pikiran seperti itu. Bahkan angannya untuk mengatakan pada kedua mertuanya pun tak ada. 


"Awas sampai kau mengatakan hal buruk tentangku pada mereka. Akan kubuat anak ini keluar dari tubuhmu dengan paksa!" 


"Jangan!" Humai langsung memegang perutnya.


Tangannya gemetar karena takut, jika perkataan Syakir benar adanya.


"Ingat ini. Jangan mengadu dan jangan memberitahu siapapun jika kau ingin anak ini selamat. Kau mengerti?" 


"Aku mengerti!" 


"Ayo jalan!" 


Akhirnya pasangan pengantin baru itu turun dengan jalan berdampingan. Wajah Humai masih pucat dan ketakutan dalam dirinya berkumpul. Dia tak mau anaknya diapa-apakan. Dia ingin melihat anaknya tumbuh dan berkembang dalam dirinya. 


Kita harus kuat, Nak. Ibu bakalan ngelakuin apapun agar kita bisa bertemu di dunia, ucap Humai dalam hati. 


"Selamat malam," sapa Syakir sebelum duduk.


"Ada apa, Nak? Kenapa wajahmu pucat?" tanya Mama Ayna yang peka dengan keadaan menantunya.

__ADS_1


Dia melihat wajah Humai pucat pasi dengan keringat dingin. 


"Gapapa, Ma," sahut Humai dengan cepat.


"Beneran kamu gak papa?" timpal Sefira lalu menatap kakaknya yang malah dengan tenang mengambil makan untuk dirinya sendiri. "Bukan karena kakakku, 'kan?"


Tubuh Humai menegang. Dia menatap suaminya yang duduk di sampingnya. Dengan bersusah payah, Humai menelan ludahnya paksa dan menggeleng.


"Bukan, Fir. Aku tadi gak sengaja lihat proses melahirkan di youtube dan aku takut." 


"Kenapa kamu melihatnya, Sayang?" tanya Mama Ayna dengan penuh perhatian. "Jangan khawatir. Melahirkan tak semenyakitkan itu."


"Tadi gak sengaja lewat beranda, Ma," kata Humai dengan yakin. 


"Lain kali jangan melihat hal-hal seperti itu. Biar kamu gak takut."


"Iya, Ma. Maaf," sahut Humai dengan perasaan tenang karena berhasil meyakinkan mertuanya.


"Ayo makan yang banyak sekarang! Kamu harus sehat demi anakmu, Nak."


Syakir benar-benar tak peduli. Dia mengabaikan istrinya dan malah asyik menikmati makanannya sendiri.


"Kakak!" 


"Diamlah, Fira. Aku lapar!" seru Syakir karena dia tahu jika adiknya akan membuatnya menjadi babu gadis cupu di sampingnya.


Akhirnya Mama Ayna memberikan kode pada anak keduanya agar tenang. Dia sendiri yang membantu menantunya mengambilkan makanan dan memenuhi piring Humai.


"Ini terlalu banyak, Ma," kata Humai tak enak hati.


"Ini cukup. Badanmu terlalu kurus untuk ukuran ibu hamil. Kamu harus makan biar kamu dan cucu mama sehat." 


Akhirnya Humai mengalah. Mereka mulai makan dengan tenang. Saat semua orang mulai fokus dengan makanannya masing-masing. Humai merasakan remasan sakit di pahanya dan sebuah suara yang membuatnya merinding.


"Bagus! Kau memang gadis penurut. Ingat, kau berani mengadu, maka selangkah lagi anak ini akan keluar dari tubuhmu."


~Bersambung


Bener-bener emang ya, namanya aja titisan dakjal. Ya gitu itu bikin darting mulu.


Yang pengen alurnya cepet, ini masih bab berapa guys. Sikapnya Syakir juga mana ada langsung berubah, hiks.


Sing sabar yah. Alur ini udah aku buat dengan sebaik mungkin sesuai pikiran author sendiri. Jadi beda sama HTS yang diatur sama Mas Bar dan Mbak Meera nyata.


Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.

__ADS_1


__ADS_2