Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Pak Dosen?


__ADS_3

...Seberapa jauh kalian berusaha menjauh jika Tuhan menakdirkan untuk bertemu maka akan ada pertemuan itu tanpa kalian rencanakan....


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


"Bagus. Desain ini akan saya ajukan ke teman saya yang ada di Korea. Kamu bersedia?" 


"Iya, Pak. Saya bersedia," jawab Humai dengan mengangguk. 


"Bagus. Siapkan saja paspor untuk jaga-jaga jika desainmu ini lolos. Kamu pasti akan berangkat kesana dan menemui teman saya."


Hati Humaira menjadi bahagia. Kepalanya mengangguk tak membantah. Wanita itu telah memikirkan semuanya. Dia akan menjadikan ajang ini untuk batu loncatan agar dirinya memiliki nama atau memiliki pengalaman baru sebelum benar-benar terjun ke dunia gelar busana, fashion dan desainer. 


"Terima kasih banyak, Pak. Sudah membantu saya untuk terus berkarya!" kata Humai yang sejak tadi tak berani menatap wajah Pak Jeno. 


Sejak pertemuannya dengan dosen satu ini. Humai memang tak pernah melihat Pak Jeno secara dekat. Entah kenapa dia merasa dosennya ini terlalu dingin dan tertutup.


"Jangan pernah menundukkan kepalamu pada siapapun," kata Pak Jeno dengan suara tegasnya yang membuat jantung Humai berdetak tak menentu.


Dia seperti kesulitan untuk menelan ludahnya paksa. Seakan suara dingin dan tegas itu mendominasi telinganya. 


"Kamu harus siap bertemu orang banyak ketika cita-citamu menjadi desainer terjadi. Angkat kepalamu agar orang segan kepadamu dan tak merendahkanmu!" 


Perlahan kepala Humai terangkat hingga pandangannya langsung bertatapan dengan sepasang mata yang memiliki bulu mata lentik, alis tajam dan hidung mancung. Jangan lupakan, kulitnya yang putih membuat siapapun yang menatapnya akan langsung jatuh cinta.


Namun, tidak dengan Humaira. Dia hanya mengagumi cara bicara dosennya ini. Bagaimana dia memberikan motivasi yang selalu membangkitkan semangat Humaira.


"Saya…" 


"Beranilah untuk tampil. Jika karyamu saja bisa bersanding dengan desainer terkenal, maka kamu harus siap menjadi sosok tangguh di luar sana."


Humaira menatap dosennya dengan lekat. Hatinya tersentuh oleh perkataan Pak Jeno. Apa yang pria itu katakan memang benar. Diluar sana, siap gak siap, Humai harus menyiapkan diri dan mentalnya. 


Jangankan terjun di dunia kerja secara langsung. Tugas lomba pagelaran busana di kampus saja, mulai banyak yang iri ketika melihat desain temannya yang bagus. 


Hal kecil itulah yang menjadi kunci kecil Humai berkaca. Selama ini lingkupnya masih satu kampus tapi nanti lingkungannya bukan hanya sebesar gedung ini. Melainkan banyak desainer dan model terkenal di seluruh kota dan dunia. 


"Terima kasih banyak atas nasehatnya. Motivasi dari Bapak juga membuat saya semangat menyelesaikan desain yang Bapak minta," kata Humai sebelum ia pamit dari ruangan Jeno dan meninggalkan pria muda dengan pakaian rapi itu yang menatap kepergiannya dengan tatapan yang tak bisa dijabarkan.


Saat Humaira baru saja menutup pintu ruangan Oak Jeno. Suara berisik sahabatnya mulai mendekat. 


"Bagaimana?" tanya Lidya dan Mira yang ternyata menyusul Humaira ke ruangan Pak Jeno.


Keduanya mengerubungi Humaira yang baru saja keluar dari ruangan dosen killer tapi super ganteng.


"Bagaimana apanya?" tanya Humai yang menggoda keduanya. 


Humai sangat tahu jika kedua sahabatnya itu masuk dalam tim pecinta Dosen Jeno. Maka dari itu dia paling suka menggoda keduanya.


"Udah disalamin belum?" 


"Udah," sahut Humai yang jalan lebih dulu.

__ADS_1


Lidya dan Mira saling menatap. Keduanya berteriak gila membayangkan jika apa yang keduanya salamkan disampaikan pada sang pemilik mata tajam itu.


"Tapi dalam mimpi!" lanjut Humai yang membuat senyum Lidya dan Mira surut. 


Gadis itu tertawa kencang saat dua wanita itu cemberut. Tangan mereka di pinggang dan menatap Humaira yang masih asyik tertawa karena berhasil menggoda keduanya. 


"Humai! Kau!" teriak mereka secara bersamaan.


Humaira lari lebih dulu saat Mira dan Lidya mengejarnya. Wanita yang memiliki satu orang anak itu terlihat bagaimana dengan kehidupannya yang sekarang.


Memiliki sahabat, memiliki keluarga yang utuh, memiliki orang yang ia anggap seperti kakak kandungnya. Lalu memiliki buah hati yang selalu menjadi hiburan dikala Humai merasa lelah dengan kesibukannya.


"Daripada cemberut. Kita makan di tempat biasa yuk!" ajak Humai pada dua temannya.


"Restoran kesukaan kita, 'kan?" tanya Lidya dengan heboh.


"Iya." 


"Ditraktir, 'kan?" tanya Mira dengan wajah polosnya.


"Iya."


"Wahhh berangkat!" 


...🌴🌴🌴...


Di Malang.


Bunyi bel berulang kali membuat seorang pria yang baru saja selesai memasak makan malam menghentikan kegiatannya. Dia segera berjalan ke arah pintu apartemen dan membukanya. 


"Apa ada yang ingin kamu bicarakan sama Papa?" tanya Papa Haidar langsung.


"Apa Papa sibuk?" Bukannya menjawab. Syakir malah balik bertanya.


Dia bisa melihat wajah papanya yang lesu dan kelelahan. 


"Nggak. Hanya tadi saat kamu menelpon. Papa sedang ada meeting," ucap Papa Haidar pada putranya lalu melangkah masuk ke apartemen Syakir. "Kamu sedang apa?" 


"Aku baru saja selesai memasak makan malam. Ayo makan, Pa!" ajak Syakir lalu menghidangkan sup ayam yang ia buat sendiri lalu disajikan diatas meja makan.


Papa Haidar lekas duduk. Dia menatap sup ayam itu dengan hati yang tersenyum. Dirinya lah yang menjadi saksi bagaimana perubahan putra pertamanya itu. 


Hanya Papa Haidar yang menemani putranya berkembang saat dia benar-benar terjatuh. Sedangkan istri dan anak perempuannya memantau Syakir dari jauh.


Meski mereka tak mengatakan pada Papa Haidar tapi melihat bagaimana perhatian yang selalu Mama Ayna dan Sefiea tanyakan kepadanya membuat Papa Haidar tahu jika sebenarnya keduanya telah memaafkan Syakir. 


"Bagaimana, Pa? Enak?" 


"Enak banget," ujar Papa Haidar yang mulai menyuapi mulutnya lagi. "Kamu sudah pandai memasak, Syakir."


"Karena pekerjaan mangkanya aku bisa, Pa." 


Akhirnya pembicaraan keduanya terhenti saat mereka memilih menikmati makanan itu sampai habis. Setelah itu Syakir lekas mengajak papanya ke ruang tamu. Dia ingin membicarakan masalah tadi siang pada papanya.

__ADS_1


"Ada apa, Syakir?" 


"Aku mau dipindah kerja, Pa," kata Syakir memulai pembicaraan. "Papa tahu sendiri, 'kan? Restoran tempatku bekerja memiliki banyak cabang."


Papa Haidar mengangguk. Dia memang tahu dimana putranya bekerja sekarang.


"Terus?" 


"Managerku tadi bilang, karena kinerja Syakir yang bagus maka Syakir mau dipindah ke restoran pusat." 


Tubuh Papa Haidar menegang. Dia menatap anaknya dengan lekat.


"Jakarta?" 


Kepala Syakir mengangguk. "Kenapa, Pa? Kenapa wajah Papa tegang sekali?" 


Syakir mengerutkan keningnya saat melihat ekspresi wajah papanya yang begitu tegang. Entah kenapa hal itu membuat Syakir merasa curiga.


Papa Haidar menggeleng. Dia berusaha menetralkan ekspresi wajahnya agar putranya itu tak curiga. 


"Kamu yakin mau ninggalin Kota Malang?" tanya Papa Haidar dengan pelan. "Bukankah kamu pernah bilang, kalau kamu gak bakal ninggalin Kota ini?" 


Syakir menunduk. Apa yang dikatakan papanya memang benar adanya. Dia pernah berjanji untuk tetap bertahan di Malang tapi pikirannya kembali berpikir.


Bukankah ini kesempatan bagus untuknya. Dia bisa bekerja di Jakarta dan mencoba mencari pengalaman lain agar pikirannya semakin luas.. 


Ditambah dua sahabatnya juga ada disana dan membuat Syakir berpikir ini adalah kesempatan yang bagus. 


"Syakir yakin, Pa. Syakir tak mau terus bergantung sama Papa disini." 


Papa Haidar mengangguk. Dia juga tak bisa mengatakan apapun. Bukankah Kota Jakarta juga luas. Menurutnya seberapa jauh atau dekat mereka berada tapi jika sudah jodohnya dan ditakdirkan bersama. Pasti ada jalan lain keduanya untuk bertemu.


"Kamu gak mau kembali ke perusahaan?" 


Kepala Syakir menggeleng. "Syakir ingin berpijak di kaki Syakir sendiri. Selama ini Syakir sadar, arogan dan egois yang ada dalam diri Syakir karena Syakir gak pernah memulainya dari bawah."


Papa Haidar tersenyum melihat bagaimana dewasanya putranya sekarang. Dia bangga melihat Syakir yang mau belajar dari masa lalu. Putranya mau berdamai dan belajar menjadi pribadi yang lebih baik.


"Baiklah. Kalau itu keputusanmu, Papa bakalan dukung!" 


~Bersambung


Nah loh ya kan. Yang satu OTW Korea, yang satu OTW Jakarta.


Ditambah ada Pak Dosen lalala.


Kabur aja lah.


Jangan lupa mampir ke karya temanku juga guys.



Aisyah, seorang istri yang di jadikan pembantu di rumah suaminya sendiri. Bahkan dirinya harus menerima pernikahan suaminya dengan kekasihnya. Penghinaan kerap dia rasakan dari suami, ibu mertuanya, dan juga istri kedua suaminya. Aisyah hanya di jadikan istri yang tak di hargai oleh suaminya yang bernama Kenzi.

__ADS_1


Namun pertemuannya dengan sang dewa penolong merubah takdirnya. Aisyah yang memiliki kulit tak terawat ( jelek ) dan penampilan kampungan berubah menjadi sosok wanita cantik dan memukau. Di tambah pertemuannya dengan orang masa lalunya yang membantu dirinya mewujudkan balas dendamnya.


Yuk ikuti kisah Aisyah dalam merubah takdirnya dan membalaskan dendamnya atas perbuatan mantan suami, mantan madunya, dan keluarga mantan suaminya


__ADS_2