Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Kebahagiaan Tak Terhingga


__ADS_3

...Saat sebuah kalimat sakral itu keluar dari bibirmu dan terucap dengan satu kali tarikan nafas. Mulai saat itu tanggung jawabku mulai berpindah di kedua pundakmu. ...


...~Humaira Khema Shireen...


...🌴🌴🌴...


Air mata penuh syukur mengalir indah dari kedua sudut mata ibu satu anak itu. Jantung yang terus berdegup kencang dengan telapak tangan berkeringat dingin tentu sangat amat terasa. Humaira wanita itu menangis penuh hari karena terlalu bahagia.


Saat yang tak pernah ada dalam bayangannya. Saat dimana dia tak pernah berani memikirkan hal ini terjadi kedua kali dalam hidupnya. Merasa penuh sujud syukur.


Ternyata dibalik ujian yang Tuhan berikan. Dibalik segala hal yang menyakitkan. Terdapat hikmah indah di belakangnya. Humaira percaya jika selamanya hidup tak akan penuh tangisan.


Hidup tak akan selamanya tentang air mata, penghianatan, kesedihan dan luka. Pasti akan ada masa dimana kamu bahagia, dimana kamu dihargai dan dicintai begitu dalam.


"Selamat, Mai. Selamat, " Kata Sefira memeluk sahabatnya. "Selamat datang di keluargaku kembali."


Humaira menganggukkan kepalanya. Tak ada kata yang mau dia ucapkan sekarang dari bibirnya. Seakan semuanya terasa seperti dejavu. Antara bahagia dan begitu penuh syukur.


"Semoga kamu terus bahagia, Sayang, " Kata Lidya yang ikut memeluk mereka berdua dan diikuti Mei.


Persahabatan keempat wanita itu begitu terasa sekali. Meski Lidya dan Mei adalah teman baru Humaira. Namun kedekatan keempatnya jangan ditanya lagi.


Mereka sudah seperti saudara satu dengan yang lain. Suka dan duka. Bahagia ataupun sedih semuanya selalu ada di antara satu dengan yang lain.


"Jangan nangis, Mau. Udah ah. Nanti make up kamu rusak, " Kata Mei memberikan tisu baru pada sahabatnya.


Pelukan itu terlepas. Wajah keempatnya saling tatap hingga suara kekehan muncul diantara keempatnya ini. Ekspresi wajah yang menggemaskan terlihat di antara mereka hingga tak mampu menahan rasa ingin menertawakan tingkah mereka sendiri.


Tak lama perias datang untuk memberitahukan waktunya untuk turun. Tentu Sefira, Mei dan Lidya juga ikut turun untuk mengiringi sahabatnya memulai hidup baru.


Semua memegang dan mengikuti langkah kaki pengantin wanita yang mulai berjalan menuju ke arah taman samping rumah. Humaira, mata wanita itu tak lepas dari arah depan sana.


Jantungnya berdegup kencang tak mampu membayangkan bagaimana berekspresi pada pria yang baru beberapa menit yang lalu menjadi suaminya.

__ADS_1


Saat langkah kaki Humaira baru memasuki pintu menuju taman samping. Kilatan kamera mulai memenuhi wajah Humai. Fotografer yang disewa oleh Syakir, Jeno dan beberapa teman yang lain tentu membuat kilatan itu lumayan banyak.


Namun, mata Humai hanya terfokus pada satu objek. Mata Humai terus menatap ke depan dimana Syakir berdiri di sana menunggunya.


Mata keduanya saling beradu pandang. Mata keduanya saling bertatapan. Tatapan penuh cinta begitu terasa hingga pasangan pengantin baru itu saling berdiri berhadapan.


Perlahan Syakir mengangkat tangannya dan meletakkan di kepala Humai. Tanpa kata, Humaira mengangkat kedua tangannya dan memejamkan matanya.


Saat bibir Syakir mulai membaca doa, bersamaan dengan itu air mata mengalir lagi di kedua sudut matanya. Jujur semua perasaan bercampur aduk dalam hati Humaira.


Dia tak menyangka Syakir begitu jauh berubah pesat. Apalagi membaca doa ini pun bibir pria itu begitu fasih hingga terakhir ditutup dengan adegan manis.


"Cium dahi pengantin wanitanya, tahan ya, Mas, " Kata salah satu fotografer yang disewa oleh Syakir.


Syakir hanya mampu menatap mata Humai yang dipenuhi air mata. Namun, bukan hanya istrinya saja yang menangis. Saat Syakir membaca doa itu, air matanya juga ikut turun dan membuat suaranya serak serak basah.


Hingga akhirnya perlahan kecupan itu mulai menempel di dahi Humai. Bibir Syakir mulai menyatu di dahi istrinya itu hingga langsung dipenuhi oleh kilatan kamera yang ingin mengambil scene terbaik ini.


Syakir menjauhkan wajahnya. Bibirnya tersenyum begitu tulus saat matanya langsung bertatapan dengan istrinya itu. Dengan pelan dia mengangkat tangannya dan menghapus air mata di ujung sudut kata Humaira.


"Jangan pernah menangis lagi, Sayang. Ingatlah, mulai saat ini. Kita akan melalui semuanya bersama-sama, " Ujar Syakir dengan begitu romantis.


"Tak ada lagi kamu dan aku. Yang ada adalah kita, Sayang, " Ujar Syakir semakin menegaskan bahwa mereka saat ini akan hidup bersama.


Baik suka maupun duka. Baik senang maupun sedih. Baik sakit maupun sehat. Mereka akan berjalan bersama, bergandengan tangan dan melewati segala hal dengan tangan saling menggenggam.


Bibir mereka saling tersenyum antara satu dengan yang lain. Sampai akhirnya MC mengatakan untuk pemakaian cincin nikah secara bergantian membuat Syakir dan Humai tersenyum.


...🌴🌴🌴...


Sedangkan di sisi yang lain. Tiga perempuan yang tengah menikmati keuwuwan pasangan pengantin baru tak menyadari sosok Jeno yang mendekati calon istrinya itu.


Ketiganya yang saling menatap malu-malu ekspresi wajah pengantin baru membuat Jeno mampu menyelinap di antara ketiganya. Dengan pelan, pria itu memeluk Sefira dari belakang dan membuat adik Syakir itu terkejut.

__ADS_1


"Kakak! " Pekik Sefira dengan jantung berdegup kencang.


"Kamu mau seperti mereka hmm? " Bisik Jeno dengan pelan.


Mei dan Lidya yang ada di samping Sefira dan tengah merekam momen keduanya tengah bergantian memasangkan cincin pengantin tentu tak menyadari sekitar. Keduanya memang belum tahu apapun. Tentang Jeno dan Sefira, Lidya dan Mei memang belum mengetahuinya.


Kepala Sefira menggeleng. "Aku mau versi terbaik kamu, Kak. Aku tak mau disamakan oleh siapapun."


Apa yang Sefira katakan memang benar. Dia tak mau hubungannya disamakan oleh siapapun. Dirinya ya dirinya. Kakaknya ya kakaknya. Tak ada persamaan antara Jeno dan Syakir.


Dia ingin calon suaminya itu menjadi versi terbaiknya sendiri. Tanpa peduli orang lain atau ingin menjadi seperti orang lain.


"Yey! " pekik Mei dan Lidya saat keduanya selesai bertukar cincin.


"Ahh aku jadi pengen nikah juga, Mei," Kata Lidya dengan memegang kedua sisi wajahnya dan menatap ke arah pasangan pengantin baru itu.


Mei menoleh. Dia yang hendak menatap ke arah Lidya tiba-tiba terpekik dan hampir berteriak jika saja Lidya tak membekap mulutnya.


"Kamu kenapa si, Mei? " Tanya Lidya yang belum sadar.


Wanita itu menatap sahabatnya dengan kesal. Jika dirinya tak langsung menutup mulut Mei, mungkin mereka sudah menjadi tatapan mata semua orang.


"Itu… Itu? " Kata Mei yang masih menatap tak percaya.


Wajah wanita itu masih tegang. Seakan dia tak percaya dengan apa yang ditatapnya. Namun, dua oknum yang menjadi bahan keributan itu bukannya melepas pelukan mereka malah semakin tersenyum ke arah Mei.


Mei yang tak tahan akhirnya memegang dagu Lidya dan menunjukkan ke arah apa yang membuatnya hampir gila.


"Astaga! Kalian? "


~Bersambung


Apa kalian juga butuh jodoh, Mei, Lid? Kalau iya ntar masih ku cariin nih hhahaha.

__ADS_1


__ADS_2