Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Sikap Lain Syakir


__ADS_3

...Seburuk apapun seorang anak pertama laki-laki. Ketika dia memiliki adik perempuan, maka ia akan menjadi sosok kakak yang siap siaga menjaga adik perempuannya....


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Syakir mulai menggerutu tak jelas. Dia menatap jarum jam yang terus berputar tapi sang kekasih belum datang. Padahal bayangan Syakir dia akan bermanja dengan sang kekasih sebelum kembali ke rumah utama.


Namun, ternyata semua hanyalah harapan semu. Rachel tak ada kabar apapun dan membuatnya semakin merasa bad mood.


"Kemana dia sih!" seru Syakir berusaha menghubungi kekasihnya.


Panggilan itu tersambung tapi tak diangkat. Hal itulah yang membuat Syakir khawatir sekaligus kesal. Padahal tadi Rachel sudah bersemangat untuk datang ke sini tapi tiba-tiba dia menghilang tanpa jejak.


"Sepertinya dia tak jadi kesini," kata Syakir mulai kecewa.


Pria itu akhirnya beranjak berdiri. Dia berjalan ke arah kamarnya yang ada di lantai dua. Saat pintu itu didorong, terlihat dua buah koper besar miliknya yang sudah berisi pakaian.


Syakir benar-benar menuruti perintah mama dan papanya. Dia tak mau membuat masalah dan semua yang ia punya dicabut. Harta yang dimiliki Syakir, perusahaan dan semuanya masih atas nama mama dan papanya.


Beliau berdua berjanji akan memberikan segalanya pada Syakir bila pria itu sudah mau menikah.


"Aku yakin tak akan bisa bebas setelah ini," ujar Syakir sebelum meninggalkan apartemen yang banyak memiliki kenangan.


Entah kenapa dia seperti tak rela. Menatap ranjang king size milikinya, Syakir tiba-tiba terbayang wajah Humai yang membuatnya lekas menggelengkan kepala.


"Bisa-bisanya aku memikirkan gadis cupu itu! Menjijikkan sekali!" umpatnya dengan bibir terus menggerutu.


Akhirnya Syakir segera keluar dari kamarnya dengan menarik kedua kopernya. Dia menutup pintu kamar lalu segera turun ke lantai pertama. Disana sudah ada Adam yang baru saja memasuki apartemennya.


"Anda sudah siap, Tuan?" 


"Ya," sahut Syakir dengan malas. 


Dia segera menyerahkan kartu apartemen dan dua kopernya pada Adam. Biarlah sekretarisnya itu yang akan mengurus semuanya. Dia sudah sangat percaya padanya hingga apapun Syakir limpahkan pada Adam.


"Kita langsung pulang ke rumah, Tuan?" tanya Adam saat keduanya mulai masuk ke dalam mobil.


"Iya. Aku malas ingin keluar," sahut Syakir sambil menyandarkan punggungnya.


Adam hanya mengangguk. Dia segera menginjakkan pedal gas dan mulai melajukan mobilnya. Tak ada pembicaraan apapun disana. Hanya keheningan dan suara mesin mobil saja yang menjadi irama di perjalanan mereka.


...🌴🌴🌴...


"Mama, kenapa pelayan membersihkan kamar Kakak?" tanya Sefira sambil duduk di samping papanya. "Papa sehat?" 

__ADS_1


Haidar tersenyum. Dia meletakkan tangannya di bahu putrinya dan mencium puncak kepala anak keduanya itu. 


"Sehat. Papa sangat sehat," sahut Haidar dengan tersenyum.


Mama Ayna menatap keduanya dengan tersenyum. Walau jujur dalam hatinya yang terdalam, ibu dua anak itu gelisah. Dia tak bisa membayangkan bagaimana jika putrinya tahu tentang Syakir dan Humai. 


Ayna yakin Giska akan kecewa pada kakaknya. Putrinya sangat menyayangi kakaknya selama ini. Bahkan Syakir sangat berbeda jika ada di depan adiknya. Dia menjelma sebagai kakak yang penyayang walau ya memang sikapnya cuek.


"Mama!" panggil Sefira yang membuat lamunan Ayna buyar. "Kenapa kamar Kakak dibersihkan?"


"Kakakmu akan kembali tinggal di rumah, Sayang." 


Mata Sefira terbelalak. Dia menatap mama dan papanya tak percaya.


"Mama gak boong, 'kan?" 


"Nggak. Sayang. Mama beneran," sahut Ayna yang membuat Sefira tersenyum begitu bahagia. 


Dia memang sangat senang jika Syakir ada di rumah. Meski pria itu cuek. Namun, Syakir selalu menuruti semua kemauannya.


"Tapi kenapa Kakak mau pulang?" tanya Sefira menatap curiga. "Kakak biasanya gak mau tinggal di rumah utama. Dia bilang jarak rumah sama perusahaan jauh. Apa ada yang disembunyiin dari Giska?" 


Tubuh Mama Ayna mematung. Namun, tidak dengan Haidar. Pria paruh baya tersebut belum tahu apa yang sebenarnya sudah diketahui oleh istrinya itu, oleh sebab itu kepalanya langsung menggeleng. 


Dia hanya berpikir mungkin istrinya diam karena tak mau Giska mengetahui apa yang sudah dilakukan oleh Syakir di apartemennya.


Tak lama, terdengar suara mesin mobil memasuki halaman rumah Sefira. Gadis itu segera keluar dengan cepat karena ia yakin jika itu adalah kakaknya.


"Kakak!" teriaknya seperti tingkah anak kecil.


Sefira menatap berbinar ke arah sosok yang baru saja keluar dari mobil. Dia segera berlari ke arah sang kakak dan memeluk tubuhnya. 


"Akhirnya Kakak pulang," kata Sefira sambil memeluk Syakir dengan hangat.


Ayna dan Haidar yang menyusul putrinya itu hanya bisa menatap interaksi keduanya dengan tersenyum. Mereka berdua sangat tahu, dibalik sikap Syakir yang seperti itu ketika diluar, dia adalah kakak yang baik ketika di rumah.


"Tumben kamu di rumah?" sindir Syakir sambil mengacak-ngacak rambut kakaknya.


"Ish!" Sefira memukul tangan kakaknya. "Tadi ada kejadian di kampus. Mangkanya Giska milih pulang." 


"Jangan suka bolos. Nanti nilai kamu jelek!" ujar Syakir lalu berjalan ke arah kedua orang tuanya. 


"Aku pinter yah. Nilaiku gak bakal kayak Kakak!" 


"Ma, Pa," sapa Syakir sambil mencium kedua tangan orang tuanya. 

__ADS_1


"Akhirnya kamu pulang," kata Haidra menepuk pundak putranya.


"Pergilah ke kamar kalau kamu lelah, Syakir. Nanti Mama bangunkan waktu makan malam," kata Mama Ayna pada putranya.


Mereka tak mau Sefira curiga. Keduanya berusaha menyembunyikan masalah ini dari anak keduanya. 


"Aku ke kamar dulu ya, Ma."


"Giska, ikut!" teriak Sefira yang langsung menggandeng tangan Kakaknya. 


Keduanya berjalan bersama-sama menuju kamar Syakir. Sefira terlihat sangat bersemangat semenjak kedatangan kakaknya.


"Kakak!" panggil Sefira saat keduanya baru saja memasuki kamar Syakir.


"Ya?" sahut Syakir sambil melepas pakaian atasnya karena merasa gerah.


"Ihh, kebiasaan banget sih!" seru Sefira melemparkan bantal ke arah Syakir. "Mata suciku dinodai perjaka tua!" 


Syakir hanya melirik sang adik. Dia tak berniat menjawab karena takut adiknya akan kecewa padanya.


"Kakak udah punya pacar gak sih?" tanya Sefira sambil berbaring di atas ranjang kakaknya.


Dia menumpukan kedua tangannya di atas bantal  dengan tubuh tengkurap dan mata memandang sosok kakaknya yang sedang berganti atasan.


"Udah." 


"Yah," seru Sefira kecewa.


"Memangnya kenapa?" tanya Syakir mulai ikut berbaring di atas ranjang.


"Aku mau ngenalin Kakak sama sahabatku. Dia baik banget, jujur anaknya, lugu juga," cerita Sefira sambil membayangkan wajah Humai. "Dia selalu baik sama Giska. Gak pernah mau naik mobil Giska, aku anter pulang, aku ajak main ke rumah, dia gak mau. Dia selalu bilang, kalau dia gak mau dibilang temenan sama aku karena aku kaya." 


"Berarti dia sahabat yang baik dong. Dia juga gak manfaatin kamu."


"Nah mangkanya aku mau jodohin Kakak sama dia!" kata Sefira dengan semangat.


"Kakak udah punya pacar!" kata Syakir dengan tegas.


"Yaudah Kakak putus aja terus jadian sama sahabat aku." 


"Crewet," seru Syakir sambil memeluk adiknya. "Ayo tidur! Mulutmu ini jangan ngoceh terus." 


~Bersambung


BTW macem mana kalau Sefira tau apa yang dilakuin Kakaknya yah?

__ADS_1


Siapin, batin ya. Bab selanjutnya detik-detik drama prahara rumah tangga ehh. Kaborr.


Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar aku semangat.


__ADS_2