Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Maisya Jen Arashel


__ADS_3

...Percayalah setelah hujan pasti ada pelangi. Setelah kesedihan pasti ada kebahagiaan. Setelah luka pasti ada obat yang akan menyembuhkan. Semua itu membutuhkan proses dan orang yang bisa melewati proses itu akan merasakan indahnya hikmah dari semua yang terjadi. ...


...~Humaira Khema Shireen...


...🌴🌴🌴...


Suara tepuk tangan tentu terdengar riuh saat seorang pria muda berjalan menaiki podium dimana dia akan menerima medali kemenangan. Medali yang merupakan jadi bukti dia bisa mewujudkan mimpinya. Medali yang didapatkan dari usaha kerasnya selama ini.


Reyn, pria itu berdiri di podium dengan tulisan satu disana. Matanya berkaca-kaca saat papa dan mama angkatnya dengan bangga mengacungkan jempol ke arahnya.


Jangan lupakan ponsel yang diarahkan ke arahnya menjadi pertanda jika mereka pasti merekamnya. Hatinya berbunga begitu cerah. Teun bahagia bisa mewujudkan impiannya. Dia bahagia bisa melihat keluarganya datang dan menatapnya bangga.


Perlahan pembagian medali untuk pemenang mulai dilakukan. Reyn melihat teman-temannya dari negara lain mulai menerima medali mereka. Tak lama giliran Reyn. Dia membungkukkan badannya dan tersenyum serta berjabat tangan.


"Jangan berhenti berjuang setelah kemenangan ini. Teruslah belajar! " Kata seorang pria yang memasangkan medali padanya.


"Siap. Terima kasih banyak, " Ucap Reyn dengan bahasa Korea yang lancar.


Para wartawan tentu mulai mengarahkan kamera ke arah mereka. Reyn dengan bangganya mengangkat medali miliknya dan tersenyum ke arah kamera. Dengan bangga dia juga menunjukkan medali itu dan berpose begitu bahagia.


"Terima kasih, " Kata Reyn sambil bersalaman dengan teman lainnya.


Setelah sesi potret selesai. Akhirnya Reyn berjalan ke arah orang tuanya. Dengan bangga dia menunjukkan medalinya sambil berjalan ke arah mereka.


Tanpa diduga, dengan rasa terharu dan penuh syukur. Reyn menurunkan tubuhnya dan bersujud lalu mencium kedua kaki Mama Emili. Meski wanita yang ia cium kakinya bukan ibu kandungnya. Reyn sadar berkat doa beliau dia bisa ada di titik ini.


Ibu angkatnya yang menganggapnya sebagai anak kandung tak pernah membedakan dirinya dengan kakak-kakaknya. Setiap hari Mama Emili terus mengabari melalui ponsel. Menanyakan kabar dan kegiatannya hingga dia mulai nyaman dengan namanya itu.


"Makasih banyak, Ma. Makasih banyak, berkat doa Mama, Reyn bisa menang, " Ujar Reyn yang membuat hati Mama Emili tersentuh.


Wanita itu meneteskan air matanya. Dia menarik tubuh putranya agar berdiri dan memeluknya. Jujur dia dan suaminya memang tak pernah melarang Reyn untuk mengambil pelajaran yang dipaksa oleh mereka.


Keduanya ingin Reyn mengeksplor masa mudanya sendiri. Belajar tentang apa yang mereka inginkan. Tanpa paksaan, tanpa tekanan dan tanpa rasa takut.


"Mama bangga sama kamu! "


"Papa juga bangga sama kamu, Reyn! " Sahut Papa Hermansyah yang membuat pelukan ibu dan anak itu lepas.


Bergantian Reyn memeluk papa angkatnya itu. Dia sudah seperti menemukan papa pengganti almarhum papanya. Hidupnya bahkan jauh lebih bebas dan terbuka dengan kedua orang tua barunya ini.


Tak pernah ada yang disimpan rapat oleh Reyn. Semua lika liku di sekolah selalu dia ceritakan pada ibunya. Karena sebegitu dekatnya mereka dan Mama Emili yang begitu pengertian membuat siapapun nyaman dengannya.


"Selamat ya, Reyn. Kamu memang terbaik! " Kata Rachel sambil menyerahkan bucket bunga darinya.

__ADS_1


Reyn menerimanya. Dia tersenyum dan mencium punggung tangan Rachel. Pria muda itu sudah tahu semua cerita antara Humai dan Rachel.


Dia tahu tentang masa lalu di antara mereka dan itu tentu pernah membuat Reyn ingin marah. Namun, pengertian dan penjelasan Humai mampu membuatnya bisa memaafkan dan menerima Rachel seperti sekarang.


"Terima kasih banyak, Kak. Kakak juga semangat kuliahnya, " Ujar Reyn yang membuat Rachel mengangguk.


"Ayo kita pulang, Ma, Pa. Reyn mau kasih tau Kak Humai tentang ini, " Ajak Reyn dengan antusias yang besar.


Akhirnya Reyn mulai mengemasi barang miliknya. Medali dirinya juga dia bawa dengan begitu senangnya. Tak ada hal yang lebih berarti dari semua ini selain perjuangan yang kamu lakukan terbukti dengan begitu besar.


Saat semua orang mulai masuk ke dalam mobil. Sebuah nada panggilan dari saku jas Papa Hermansyah membuat pria paruh baya itu menghentikan gerakannya yang ingin menghidupkan mesin mobil.


"Siapa, Pa?" Tanya Mama Emili dengan memjukan wajahnya.


"Syakir, Ma, " Sahut Papa Hermansyah sambil menggeser panggilan itu agar tersambung.


"Ya, Syakir? " Kata Papa Hermansyah langsung saat panggilan itu mulai tersambung.


"Apa! Ya Papa segera kesana, " Ucapnya dengan terkejut lalu panggilan itu berakhir.


"Ada apa, Pa? " Tanya Rachel dan Mama Emili bersamaan.


"Apa terjadi sesuatu sama Kak Humai? " Tanya Reyn yang ternyata memiliki ikatan batin yang kuat.


"Humai mau melahirkan, Ma. Air ketuban nya sudah pecah. "


...🌴🌴🌴...


Suasana di ruang bersalin begitu tegang sekaligus heboh. Seorang pria dengan keringat di dahinya tengah menggenggam tangan sangat istri yang tersenyum menatap ke arahnya.


Ada ketakutan yang besar dalam diri pria itu. Apalagi ketika dia pernah bertanya sesakit apa melahirkan pada mamanya dan dia mendapatkan jawaban jika melahirkan itu adalah mempertaruhkan nyawa. Antara hidup dan mati.


"Kak, tenang, " Kata Humai dengan menahan sakit yang luar biasa.


Dia sudah merasa seperti ingin poop. Sakitnya yang luar biasa sudah ia rasakan. Namun, melihat wajah suaminya yang begitu tegang membuat Humai khawatir jika dia ikut mengeluh maka Syakir semakin ketakutan.


"Bagaimana aku bisa tenang, Sayang. Kamu sedang berjuang antara hidup dan mati. Lalu bagaimana aku bisa tenang? " Tanya Syakir dengan wajah yang panik.


Humai mengangkat tangannya. Dengan pelan dia mengusap keringat di wajah suaminya dengan sayang.


"Aku masih bisa bertahan. Kamu bisa lihat aku sekarang, 'kan? Aku baik-baik aja, Kak, " Ujar Humai dengan meringis menahan sakit.


"Tapi itu lihat! Sakit, 'kan?" Kata Syakir lalu menciumi wajah Humai dengan begitu sayangnya.

__ADS_1


Tak lama pembicaraan mereka berakhir saat dokter datang dan mendekat. Seorang perempuan berkulit putih, hidung mancung dan jangan lupakan. Wajah khas Orang Korea sangat amat terlihat disana dan membuat Humai tersenyum saat dokter itu mendekatinya.


"Ready? " Tanya Dokter itu pada Humai.


"Yes, " Sahut Humai tanpa ragu.


Dokter mulai melihat pembukaan Humai. Kepala dokter itu mengangguk dan mengatakan bahwa proses melahirkan normal bisa dilakukan.


Dengan pelan dokter juga mengatakan dan menjelaskan proses mengejan yang baik. Humai yang sudah berpengalaman tentu dengan mudah mengerti maksud dokter di depannya ini.


"Semangat, Sayang, " Bisik Syakir saat Humai mulai mengumpulkan nafasnya.


Dia menarik nafasnya begitu dalam dan akhirnya Humai mulai mengejan. Seluruh ototnya terlihat, wajahnya begitu tegang dan dengan kuat tangannya meremas tangan suaminya itu.


"Again, " Kata Dokter dengan mengacungkan jempolnya pertanda proses pengenalan begitu bagus.


Humai kembali mengatur nafasnya. Namun, matanya menatap wajah suaminya yang meneteskan air mata. Dia begitu bahagia saat ini ada Syakir di sampingnya. Dia tak sendirian. Hingga akhirnya Humai mengejan panjang dan tak lama.


Suara tangisan bayi mulai terdengar memenuhi ruangan itu. Suara yang sangat amat kencang dan mampu menggetarkan dua hati pasangan suami istri itu.


Rasanya Humai melepaskan semau tanggung jawab yang selama ini ia jaga sembilan bulan. Perasaan lega dan bahagia saat tangisan itu terdengar di telinganya.


"Congratulations. Your baby is girl, " Ucap dokter itu sambil meletakkan bayi yang masih kemerahan di atas dada Humai.


Pasangan suami istri itu menatap bayi mungil itu dengan perasaan baru.


"Lihat, Sayang. Dia duplikat kamu banget, " Ucap Syakir dengan menatap wajah bayi yang memang benar mirip dengan istrinya.


Humai hanya tersenyum. Dia merasa lelah tapi rasa lelahnya tergantikan dengan bayi mungil di dekapannya ini.


"Kamu sudah menyiapkan nama, Kak? "


"Tentu, " Sahut Syakir lalu mulai mendekatkan bibirnya di telinga sang putri.


Dia mulai mengadzani anaknya dengan suara serak menahan tangis. Namun, air mata itu tetap mengalir seakan dia merasa rasa syukur saja tak. Bisa dia ucapkan pada Tuhan.


Seakan semua yang dia dapatkan sekarang begitu istimewa dan benar-benar luar biasa untuk perjalanan hidupnya.


"Selamat datang putriku, Sayang. Maisya Jen Arashel. "


~Bersambung


Makasih yang udah kasih ide nama buat Baby Jen hihi. Nama kalian bener-bener unik banget Yuhuu selamat atas kelahiran putri kedua pasangan Syakir Humai.

__ADS_1


__ADS_2