Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Jay Minta Bantuan Jeno


__ADS_3

...Tak ada yang berubah sedikitpun di antara kita berdua. Meski perasaan itu kau tolak tapi semuanya tetap sama. Sama seperti sebelum cinta itu kunyatakan padamu....


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Keesokan harinya seperti yang dikatakan oleh Humaira. Pagi-pagi sekali, Jeno datang dengan membawa beberapa makanan kucing dan mainan. Kedatangan pria itu tentu membuat kedua orang tua Humai memintanya membangunkan Jay.


Ya, baru pertama kali ini bocah kecil itu masih asyik tidur padahal waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Mungkin karena kelelahan bermain dengan Syakir dan membuatnya bangun kesiangan.


"Selamat pagi, Jay Sayang," sapa Jeno dengan duduk di pinggiran ranjang.


Pria itu memang diminta masuk ke kamar Humaira. Dia hanya berniat membangunkan Jay yang susah dibangunkan. Sejak tadi bocah kecil itu hanya menggeliat lalu memeluk bantalnya lagi kemudian tertidur kembali.


"Gak mau bangun, 'yah? Ini Om Jeno loh! Om Jeno bawa apa nih," kata Jeno yang mencoba merayu.


Tak ada tanda-tanda bangun. Namun, mata Jeno bisa melihat jika kedua mata Jay bergerak. Dirinya yakin jika Jay mengajaknya bercanda dan sebenarnya bocah kecil itu sudah terbangun tapi ingin menggodanya. 


"Yaudah. Kalau gak bangun, Om pulang nih. Pulang yah!" 


"Jangan!" teriak Jay lalu membuka kedua matanya sempurna dan lekas berdiri.


Jeno terkekeh saat melihat tingkah Jay yang sangat menggemaskan. Rambut yang acak-acakan dengan baju berantakan begitu terlihat lucu di mata pria tampan itu.


Bahkan dengan cepat, Jay juga berlari ke pelukan Jeno dan melingkarkan tangannya di leher dosen killer tersebut. 


"Om gak boleh pulang," ujar Jay merayu. "Jay cuma bercanda kok tadi."


"Iya kah?" tanya Jeno dengan memegang pinggang Jay agar tak jatuh. "Jadi kamu godain Om yah? rasakan pembalasan dari Om!" 


"Hahaha ampun, Om!" pekik Jay dengan tertawa begitu kencang.


Ya, tangan Jeno menggelitik pinggang Jay sampai bocah itu terpingkal-pingkal. Bahkan air mata terlihat menetes dari kedua mata kecilnya yang membuat Jeno juga tak kalah ikut tertawa.


"Hahaha ampun, Om. Jay janji gak ulangi lagi!" katanya dengan nafasnya yang memburu karena lelah tertawa.


Jeno menghentikan aksinya. Dia lekas melepaskan Jay dan sasaran tangannya saat anak itu mengangkat tangan meminta menyerah. 


Sungguh pemandangan sederhana ini membuat Emili dan Hermansyah ikut bahagia. Menurutnya hidup cucunya kini dianugerahi oleh kasih sayang yang begit banyak.


Dulu, Humaira sampai cemas jika Jay kurang kasih sayang tapi ternyata lihatlah sekarang. Allah mendatangkan dua pria dengan kasih sayang besar dan tulus.


Dua pria yang sama-sama memiliki hati dan perasaan pada Humaira. Sama-sama menginginkan Humai menjadi pasangannya meski ya, seluruh takdir semuanya ada ditangan mereka sendiri.


Akhirnya kedua orang tua Humai meninggalkan keduanya. Mereka keluar dari kamar Humai.


"Ayo Jay mandi dulu! Biar Om Jeno nungguin dibawah," kata Humai yang baru saja masuk ke dalam kamarnya.


Sejak tadi gadis muda itu sedang menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Maka dari itu, dia tak ikut mengantar dosennya membangunkan putra semata wayangnya itu.


"Sebentar, Bu!" sahut Jay lalu menatap ke arah Jeno dengan keringat banyak di tubuhnya karena terlalu banyak tertawa. "Om bawa apa kesini?" 


Jeno terkekeh. Dia tak menyangka jika Jay bisa sepenasaran itu. 


"Kamu harus mandi dulu baru bisa lihat. Hadiahnya ada di bawah," ujar Jeno yang membuat bibir Jay mengerucut. 

__ADS_1


Tapi dia tak memprotes. Jay dengan tertib turun dari ranjang dan melambaikan tangannya pada Jeno.


"Jay mandi sebentar ya, Om. Om tunggu Jay yah, jangan pulang!" serunya dengan nada sedikit mengancam.


"Baik, Bos!" 


...🌴🌴🌴...


"Wahhh banyak!" teriak Jay saat dia baru saja keluar dari dalam rumah.


Dia melihat Jeno sedang memberi makan kucingnya. Beberapa bungkus makanan juga terlihat di sana yang membuat mata Jay berbinar. 


"Banyak sekali makanannya, Om?" pekik anak itu mendekati sosok Jeno yang memberikan makan pada kucingnya.


"Ya. Om tau, pasti kamu belum beli makanannya, 'kan?" 


Kepala mungil itu mengangguk. Dia memang lupa membeli karena asyik bermain dengan Syakir kemarin.


"Terus kemarin makan apa kucingnya?" 


"Makan sama kayak makan Jay," katanya dengan polos. "Iya, 'kan, Mbak?" 


Pengasuh yang duduk di dekat Jay mengangguk. Dia mengakui bahwa memang Jay memberikan makan apa yang dia makan juga.


"Jadi nasi?" 


"Iya, Om," kata Jay dengan sedikit takut. "Jay salah. Maaf."


Jeno merasa takjub. Lihatlah anak ini mudah mengatakan hal keramat seperti kata maaf. Ini hasil didikan orang tuanya dan Jeno sangat bangga. Hal inilah yang membuatnya mencintai Humai. Salah satu hasil didikan perempuan muda yang tak gagal. Menghasilkan anak cerdas dan pandai. 


Kepala mungil itu mengangguk. Tangan Jay ditarik oleh Jeno hingga duduk di sampingnya. Lalu Jeno memberikan makanan di tangan Jay.


"Ulurkan tangannya kayak gini," kata Jeno memberikan contoh. "Biar kucingnya makan." 


Jay menirukan apa yang dicontohkan dan benar saja. Kucing itu mendekat dan mulai memakan makanan yang ada di tangan kecil itu.


"Wah kucingnya makan banyak!" pekiknya dengan begitu heboh.


"Jay udah kasih nama kucingnya?"


Kepala kecil itu menggeleng. "Belum, Om."


"Yaudah. Ayo kita namain!" ajak Jeno yang membuat Jay mengangguk.


"Kucing ini dari Om Jeno. Jadi Om aja yang namain," ucap Jay pada dosen ibunya itu.


"Gimana kalau JJ. Singkatan nama Om sama Jay?"


"Wah bagus. Terima kasih, Om. Namanya Jay suka!"


Jeno tersenyum. Dia menyayangi Jay sepenuh hati. Meski sejujurnya dia sangat ingin memiliki hati keduanya. Dia ingin memenangkan hati ibunya juga. Namun, Jeno sadar bahwa perasaan tak bisa dipaksakan.


Biarkan semuanya mengalir seperti air. Dia juga tak mau memaksa persoalan hati. Menurutnya hati adalah bagian yang paling mudah terluka. 


"Om," panggil Jay yang membuat Jeno tersadar dari lamunannya. 

__ADS_1


"Ya?" 


"Jay belum cerita yah," jeda anak itu tanpa menatap ke arah Jeno. 


"Soal apa?" 


"Ayah Jay udah datang. Jay udah ketemu sama, Ayah," pekiknya yang membuat Jeno pura-pura terkejut.


Dia ingin Jay tak kecewa karena dirinya sudah tahu sebenarnya. 


"Wah. Om ikut bahagia," kata Jeno dengan antusias.


Kepala mungil itu mengangguk. Dia lekas duduk di pangkuan Jeno saat selesai memberikan makan.


"Ayah Jay itu Om Syakir yang waktu itu ketemu sama Om di sini," katanya memulai cerita.


"Oh yah?" kata Jeno dengan mimik wajah ia buat kaget.


"Iya. Kemarin Ayah disini seharian. Main sama Jay," ceritanya dengan begitu heboh.


"Om ikut seneng. Apalagi Jay bahagia, 'kan, ketemu Ayah?" 


"Banget. Jay bahagia banget. Akhirnya Ibu gak nangis lagi," katanya dengan menatap wajah Jeno.


"Bagus. Jay juga harus perhatian sama Ibu meski sudah ada Ayah. Jangan membuat Ibu menangis," pesan Jeno pada bocah kecil yang sudah ia anggap putranya itu.


Kepala mungil itu mengangguk.


"Tapi…" 


"Tapi, Pa?" tanya Jeno dengan lembut.


Dia mengusap kepala Jay saat melihat anak itu seperti ragu cerita kepadanya.


"Jay mau Ayah tinggal selamanya disini bersama Jay dan Ibu. Jay mau Ibu kembali nikah sama Ayah. Om mau, 'kan, bantu Jay?" 


~Bersambung


Jay tau, gak? Om Jeno itu juga pengen nikah sama Ibu kamu hiks. Nyesek banget.


Btw mampir juga dikarya temanku yah



BLURB:


Kejadian tragis yang dialami Brian beberapa tahun lalu yang menyebabkan ia kehilangan istri, membuat pria itu menjadi bersikap lebih dingin pada setiap wanita.


Bagi Brian tidak ada wanita yang bisa menggantikan posisi mendiang istri dihatinya.


Hingga akhirnya Brian bertemu dengan Hana, gadis desa yang cantik dan mandiri.


Apakah Hana akhirnya dapat meluluhkan hati Brian?


Mari ikuti kisahnya..

__ADS_1


__ADS_2