
...Kenyataan memang menyakitkan. Namun, mau ditolak bagaimanapun, tak ada yang bisa mengingkarinya....
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
"Nggak. Nggak mungkin!" seru Rachel tak terima. "Papa pasti bohong, 'kan? Papa bilang begitu biar Rachel gak kecewa sama Papa, 'kan?"Â
Hermansyah menggeleng. Dia hendak memegang tangan putri angkatnya itu tapi Rachel lekas menghindar.
"Katakan padaku, Pa! Papa bohong, 'kan?" teriak Rachel dengan emosi.
"Ayo ikut, Papa! Kamu akan tahu semuanya," ucap Hermansyah yang lekas keluar dari kamar Rachel.
Perempuan itu menatap terluka ke arah pria paruh baya yang selama ini ia anggap sebagai ayahnya. Rachel sebenarnya tak tahu harus percaya atau tidak dengan perkataan papanya. Namun, melihat sikap papanya selama ini padanya itu menunjukkan bahwa memang sepertinya dia hanyalah anak angkat.
Hermansyah tak pernah ada waktu untuknya. Pria tua itu selalu menyerahkan kebutuhan Rachel pada pelayan dan pengasuhnya. Bahkan ketika dia sakit, Hermansyah akan datang dan menemaninya sebentar lalu pergi lagi.
Akhirnya tak mau semakin berburuk sangka. Tak mau semakin berlarut. Rachel menyusul langkah kaki papanya. Dia tak tahu papanya akan membawanya kemana tapi Rachel berharap jika apa yang dia dengar bukanlah kebenaran.Â
"Kita mau kemana, Pa?" tanya Rachel saat keduanya mulai memasuki mobil dan Hermansyah mengendari kendaraannya sendiri.Â
"Ke tempat yang selama ini ingin kamu datangi," ucap pria paruh baya itu dengan fokus menatap ke depan.
Rachel menatap sosok papanya. Sosok yang menjadi cinta pertama sekaligus lukanya. Sosok yang dia harapkan kasih sayangnya ternyata tak pernah memberikan itu padanya.
Mungkin untuk materi dan uang, dia dicukupi begitu banyak. Namun, untuk batin, cinta, kasih sayang, semua itu tak dia dapatkan. Seakan dia dijadikan tuan putri di sebuah rumah yang sepi dan kosong.
Tak lama kendaraan mereka mulai berhenti di sebuah gedung dengan plat nama "Rumah Sakit Jiwa" yang membuat Rachel menatap papanya dengan heran.
"Kenapa kita kesini?"Â
"Ayo turun!" ajak Papa Hermansyah dengan membuka pintu mobil dan keluar.
Akhirnya keduanya mulai memasuki bangunan yang begitu luas tersebut. Sepanjang jalan, Rachel memegang kedua tangannya saat melihat beberapa orang tak waras berkeliaran. Bahkan dia sampai memegang tangan papanya saat mereka mendekat.
"Mereka gak bakal ganggu kamu," kata Hermansyah yang kemudian melingkarkan tangannya di bahu Rachel.
__ADS_1
Perasaan kekasih Syakir itu menghangat. Untuk pertama kalinya papanya begitu dekat dengannya seperti ini. Untuk pertama kalinya papanya memeluknya seperti ini.
Sebuah pelukan yang dia inginkan. Pelukan yang dia harapkan sejak dulu ternyata bisa ia rasakan.Â
"Kita sudah sampai," kata Papa Hermansyah berhenti di depan sebuah pintu kamar.Â
Rachel menatap pintu itu dengan pelan. Disinilah dia akan tahu semuanya. Tahu tentang kenyataan siapa dirinya yang sebenarnya.
Saat Hermansyah mulai membuka pintu itu. Dari jauh, Rachel bisa melihat seorang perempuan duduk di atas ranjang dengan kaki diikat sedang menatap ke arah jendela kamarnya. Perempuan dengan rambut yang begitu lurus hitam dan mirip dengan musuhnya.
Dia memegang tangan papanya saat langkah kaki mereka mulai mendekat. Sampai saat papanya menyentuh pundak wanita itu. Rachel mulai merasa ketakutannya menjadi kenyataan.Â
"Emili," panggil Hermansyah saat suaminya mulai menatap ke arah keduanya.
"Papa!" ujar Emili terlihat begitu bahagia. "Kamu udah ketemu sama anak kita? Kamu udah ketemu sama Ema kecil kita, 'kan?"Â
Rachel menatap interaksi itu. Dia baru mengerti tentang pertanyaan yang selalu dia tanyakan. Kemana mamanya itu berada. Kemana mamanya yang tak pernah ada di rumah. Dan inilah jawabannya. Jawaban dari segala rasa penasarannya selama ini.
"Aku belum menemui Ema, Ma. Ema…"Â
"Ema…Ema putri kecilku. Jangan ambil dia!" teriak Emili mulai kembali histeris.
"Sebentar lagi, Ma. Sebentar lagi aku akan menjemput putri kita," lirih Hermansyah yang membuat jantung Rachel semakin terasa ditikam.
Dia menatap papanya dengan kepala menggeleng. Ini tak boleh terjadi. Dia tak terima gadis cupu itu tinggal di rumah megahnya. Istana yang selama ini dibangun untuknya.Â
"Rachel," panggil Hermansyah saat Emili mulai tenang dan tertidur. "Kamu dari dulu ingin melihat siapa istriku, bukan?"Â
"Dia, Emili. Istri yang kucintai, ibu kandung Humaira," lanjut Hermansyah sambil mengusap kepala istrinya dengan pelan.Â
Dia tak berbicara apapun. Rachel masih merasa shock dan bertanya-tanya tentang jati dirinya. Siapa sebenarnya dia, jika bukan anak kandung Hermansyah dan Emili.
"Dulu saat Humaira mulai dibawa oleh Pak Seno dan istrinya. Emili mulai hilang akal. Dia stress karena kehilangan anak yang selama ini kami tunggu kehadirannya," jeda pria paruh baya itu bercerita. "Kemudian, sakit Emili semakin menjadi. Dia bahkan hanya menangis dan memeluk foto Humaira."
"Tak kuasa melihat kondisinya. Keluarga kami mulai berpikir untuk mencari anak lain agar Emili sembuh. Sampai akhirnya aku mendapatkanmu," ucap Hermansyah dengan menatap Rachel yang juga sedang menatapnya.
"Jadi Papa menemukanku dimana?"Â
__ADS_1
"Panti asuhan," lirih Hermansyah menjawab. "Ibu Panti bilang kamu adalah anak yang ditinggal kedua orang tuanya karena mereka meninggal."Â
Jantung Rachel mencelos. Air mata mulai menumpuk di kedua matanya. Dia tak menyangka jika kisah hidupnya yang selama ini indah hanyalah bahagia semata.
Kebahagiaan dan harta yang melimpah ternyata bukan miliknya. Ya, bukan dia yang pemilik dari segala hal yang Keluarga Alkitir punya. Melainkan, dia hanyalah anak pengganti yang dipungut dari panti lalu dijadikan seorang putri.
"Jadi, aku beneran bukan anak, Papa?"Â
"Ya. Kamu bukan anak kandungku!"Â
...🌴🌴🌴...
Jika di Malang suasana masih memanas. Di Jakarta, Humaira tentu sedang menangis saat sahabatnya menceritakan semua yang terjadi pada dirinya. Jebakan Rachel lalu semua perbuatan wanita itu diceritakan oleh Sefira dengan detail.
Tak ada yang ditutupi oleh adik Syakir. Semua dia ceritakan begitu terperinci hingga membuat Humaira mulai mencoba mencari benang merah di dalamnya.
"Apa alasan Rachel melakukan itu padaku, Fir?"
"Karena dia tau siapa kamu yang sebenarnya," jawab Sefira dengan pelan.
"Sebenarnya apa, Fir?" tanya Humaira yang tak mengerti.
Jujur dia tak paham akan apa yang dimaksud oleh sahabatnya. Hal apa yang sebenarnya menjadi alasan Rachel melakukan semua itu padanya. Humaira yang cerdas tentu memikirkan jika ada akibat maka ada sebab yang dilakukan.Â
"Kamu itu…" jeda Sefira yang seakan ragu untuk mengatakannya.
Sepertinya adik Syakir itu berat mengatakan hal yang sebenarnya pada Humaira. Keterdiaman Sefira tentu membuat Humaira mulai tak sabaran.
"Katakan padaku, Fir. Apa yang sebenarnya terjadi!"Â
"Sebenarnya kamu itu bukan anak dari Ayah Seno dan Ibu Shadiva, Mai."Â
~Bersambung
Mulai kupas satu per satu yah. BTW sebenarnya aku mau nulis down banget. Ini aja baru kelar nulis.
Yang gak suka part ini gakpapa gak usah dibaca. Aku gak bisa maksa kalian. Kalau yang kalian pikir ini sudah keluar dari alur cerita. Mohon maaf, malah ini adalah pondasi ceritaku sejak awal. Salah satu kunci cerita ini ada.
__ADS_1
Untuk pembaca lama pasti tahu gaya ceritaku gimana. Bakalan banyak intrik di dalamnya sekaligus aku kumpas tuntas.
Sekali lagi buat yang gak suka, kalian lewati gakpapa. Tunggu part yang kalian suka. Tapi nanti kalau gak nyambung jan marahin aku yah.