Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Kecupan Indah Dari Humai


__ADS_3

...Untuk pertama kalinya dalam hidupku. Aku memberikan tempat untuk pria lain memasuki duniaku....


...~Sefira Giska Alhusyn...


...🌴🌴🌴...


Jeno mendadak linglung. Tubuhnnya seakan seperti patung. Dia bahkan sampai terkejut dengan aksi Sefira yang spontan. Tangannya sampai kaku dan tak tahu harus melakukan apa.


Sampai akhirnya Sefira menyadari sesuatu. Menyadari ketika matanya menatap ke sekitarnya dan melihat beberapa orang tersenyum malu sambil menatapku.  


"Ehh!" Sefira lekas melepaskan pelukannya pada Jeno.


Dia menundukkan kepalanya dengan pipi bersemu merah. Ah rasanya dia ingin tenggelam ke dasar laut jika begini. 


"Maafkan aku. Aku…" Sefira benar-benar hampir memukul kepalanya.


Dia sampai lupa jika di depannya ini adalah dosen sahabatnya dan lebih brutalnya lagi dengan berani dia memeluknya.


"Aku" 


"Kamu bahagia?" ungkap Jeno menatap sosok Sefira yang terlihat canggung dan malu.


Spontan pertanyaan Jeno membuat kepala Sefira terangkat sempurna. Tatapan keduanya bertemu dan Jeno mampu melihat kemerahan di kedua pipi adik dari mantan rivalnya dulu. 


"Ya," sahut Sefira dengan menunduk lagi. 


Jujur Sefira bukan bahagia karena memeluk Jeno. Namun, dia bahagia karena bisa bermain dengan puas. Bisa menemukan partner main yang kuat dengan tingkah lakunya. 


Biasanya jika bersama kakak atau sahabatnya. Sefira akan ada waktu bermain sendiri karena keduanya tak mampu mengikuti keaktifan dari gerakan dirinya. 


"Aku bahagia karena memiliki teman main yang selawan denganku!" lanjut Sefira yang tak mau membuat Jeno salah paham. 


Pria itu mengangguk. Dia bertanya itu pun bertanya apakah Sefira bahagia bermain dengannya. Apakah gadis itu puas bermain bersamanya.


"Jika kamu bahagia. Lakukan apa yang kamu lakukan. Jangan memikirkan orang lain sedikitpun!" 


"Eh!" Sefira mengerutkan keningnya.


Dia tak paham akan perkataan itu. Saat Sefira hendak bertanya lagi. Tiba-tiba tanpa diduga, Jeno mengusap pucuk kepalanya yang semakin membuat Sefira mendadak berdiri mematung.


"Ayo kita ambil voucher hasil lomba kita. Kita akan menukarnya nanti!" kata Jeno lalu dia berbalik merobek voucher hasil permainan gilanya dengan Sefira. 


Gila. Bau tubuhnya kenapa tercium sempurna di hidungku, gumam Sefira dalam hati. 


Dia juga merasa ingin melayang saat tangan itu mengusap kepalanya dengan lembut. Saat tangan itu untuk pertama kalinya menyentuh kepalanya yang masih suci dari tangan siapapun. 


Ya. Untuk pertama kalinya dalam hidup adik Syakir. Baru Jeno saja yang menyentuh kepalanya. Baru Jeno saja, pria yang ia peluk selain Kak Syakir dan Papa Haidar. Baru Jeno saja, pria yang mampu sedekat ini dengan dirinya. 


Biasanya Sefira adalah gadis yang memberikan jarak lebih dulu jika teman prianya mendekati. Dia akan memberikan ruang karena memang dirinya belum siap dekat siapapun. 


Namun, sekarang seakan semuanya telah ia trobos dengan brutal. Seakan semua yang tak pernah ia dapatkan dan ia lewati kini bisa ia rasakan.

__ADS_1


Sebuah elusan, sebuah partner main, sebuah teman baru pria yang membuatnya tetap menjadi dirinya sendiri. Menjadi sosok Sefira yang apa adanya. Sosok Sefira yang cerewet dan hiperaktif. Sifat Sefira yang jahil dan bar bar begitu ia lihatkan dengan sempurna. 


Dan semua itu karena satu orang. Satu orang yang saat ini ia tatap punggung tegapnya itu. Punggung pria yang menjadi teman bermainnya sejak tadi.


Ada apa dengan diriku, Tuhan. Kenapa aku merasa malu jika di dekatnya tapi aku nyaman bermain dengannya? Gumam Sefira bertanya pada dirinya sendiri. 


"Fira!" panggil Jeno yang membuat tatapan Sefira beralih.


"Ya?" 


"Kenapa masih diam. Ayo tarik voucher kamu dan kita bermain yang lain!" 


"Ah iya iya." 


Sefira akhirnya menepis lamunanya sejak tadi. Dia segera merobek voucher hasil bermainnya lalu segera mengikuti langkah kaki Jeno yang membawanya ke permainan lain.


Entahlah wanita itu mulai merasakan perasaan yang berbeda tapi Sefira berpikir biarlah dia menikmatinya sekarang. Biarlah dirinya bermain dengan puas tanpa ada beban apapun. Entah akan berakhir dengan apa, tapi Sefira hanya bisa memasrahkannya pada Tuhan.


...🌴🌴🌴...


Akhirnya tak hanya Sefira dan Jeno yang bermain dengan kehebohannya. Sekarang, Syakir tanpa diduga menggendong putranya dengan tangan menarik tangan mantan istrinya itu.


Syakir menggenggam tangan Humai dan membawanya ke sebuah permainan yang bisa mereka mainkan berdua.


"Kamu capek?" tanya Syakir saat menurunkan putranya dari gendongannya.


Humaira menggeleng. Dia memang sudah tak merasa lelah. Menemani putranya bermain, melihat senyuman bahagia dari bibir Jay, membuatnya lupa akan apa itu kata lelah.


"Kalau kamu gak capek. Temani aku main mesin capit ini yah," kata Syakir sambil mengusap pipi Humai dengan lembut.


Ah rasanya Humaira sampai menahan nafas. Elusan tangan itu membuatnya bisa merasakan kulit Syakir sedikit kasar.


Hal itu membuat Humaira berpikir. Apa yang mantan suaminya itu kerjakan hingga membuat tangan Syakir tak selembut dulu. 


"Ayah mau ambil boneka itu?" celetuk Jay yang sama antusiasnya. 


Dia berdiri di samping mesin capit dan melihat boneka apa yang akan diambil ayahnya itu. 


"Iya. Ayah mau ngasih boneka ini untuk Ibu," ujar Syakir dengan jujur. 


Hal itu tentu semakin membuat Humaira tak mampu mengatakan apapun lagi. Seakan ucapan pria itu semakin membuat jantungnya berdegup dengan kencang.


Perlahan tatapan Humaira beralih. Dia mulai melihat Syakir menggesek kartu permainan dan mulai menggerakkan mesin capit itu.


"Ayah yang itu, Ayah. Yang itu!" pekik Jay yang mulai heboh.


Percobaan pertama, gagal.


"Yah!" seru Jay yang mendadak kecewa.


Hal itu tentu membuat Humaira lekas menggendong putranya saat dia sadar bahwa putranya ingin ayahnya itu mendapatkan boneka.

__ADS_1


"Jay harus semangatin Ayah biar bisa dapat boneka. Jangan sedih gini dong!" bujuk Humai yang membuat mata anak itu menatap ke aeah ibunya.


"Jadi Jay harus semangatin Ayah ya, Bu?" 


"Tentu. Ayo!" 


"Ayah ayo, Ayah. Semangat!" teriak Jay yang membuat Syakir menoleh. 


Bibirnya tersenyum saat dia hendak memulai percobaan keduanya. Dia menganggukkan kepalanya dan mengangkat tangannya karena merasa semangat karena teriakan penonton putranya.


Aku harus mengambil boneka besar itu demi Humai. Ya, demi Humai aku pasti bisa, gumam Syakir pada dirinya sendiri. 


Akhirnya Syakir mulai menggesekkan kartunya lagi. Perlahan dia mulai fokus. Dia mengabaikan semua teriakan kehebohan putranya. Sampai akhirnya, dia menekan tombol disana dan matanya langsung berbinar.


"Ya. Kita dapat, Jay!" 


Jay, Humai dan Syakir bisa melihat boneka itu tersangkut di capitnya. Kemudian dengan pelan, boneka itu jatuh ke lobang yang bisa mereka gunakan untuk mengambilnya. 


Sebuah boneka beruang besar berwarna putih kecoklatan itu kini berpindah di tangan Syakir. Boneka besar yang sangat menggemaskan.


"Untukmu," kata Syakir dengan tersenyum begitu hangat. 


Jay lekas meminta turun. Dia lalu menatap ayah dan ibunya secara bergantian. 


"Terima kasih, Ayah Jay," ucap Humai dengan malu-malu.


Dia menerima boneka itu dan memeluknya. 


"Ibu!" panggil Jay yang membuat keduanya menoleh. "Ibu selalu bilang, kalau kita harus cium orang yang kita sayangi ketika mereka kasih hadiah pada kita."


"Jadi, Ayah kan sayang sama Ibu. Jadi Ayah bisa dapat ciuman dong?" 


"Eh!" Humaira spontan mendongak.


Tatapan keduanya saling bertemu pandang. Humaira merasa malu dan rasanya dia ingin menarik ucapannya itu. Padahal dia mengatakan itu hanya untuk Jay agar mencium opa dan oma serta dirinya. Namun, kenapa sekarang menjadi senjata makan tuan. 


"Ayo, Bu. Kasih cium sayang untuk Ayah!" 


Jay masih meminta. Dia bahkan dengan hebohnya terus merengek agar ibunya mengabulkan. Jika sudah begini, Humaira tak bisa mundur lagi. 


Apalagi dengan percaya dirinya. Syakir memajukan tubuhnya dengan lekat. Tangannya terulur dan menarik pinggang Humai agar lebih dekat dengannya. 


"Kabulkan permintaan putra kita, Sayang!" bisik Syakir yang membuat Humai seakan terhipnotis.


Dia tanpa sadar perlahan mendekatkan bibirnya dan akhirnya untuk pertama kalinya. Bibir Humai menempel sempurna di pipi Syakir dan membuat jantung keduanya semakin berdegup kencang. 


"Terima kasih kecupan kecilnya. Aku mencintaimu," bisik Syakir lalu mencium pipi Humai kembali.


~Bersambung


Ah jangan senyum mulu kalian. Ini kapal kita makin ngebrutal. Bikin yang ngetik juga gigit jari.

__ADS_1


__ADS_2