
..."Ternyata tanpaku kau bisa berdiri di bawah kakimu sendiri. Bahkan sekarang kau terlihat jauh lebih baik daripada saat bersamaku....
...~Guntur Syakir Alhusyn...
...🌴🌴🌴...
Akhirnya acara pagelaran busana dimulai. Semua anak dari fakultas manapun yang memiliki tiket dan orang dari luar memang diizinkan masuk. Pagelaran baju ini memang diadakan untuk menunjukkan bermacam-macam potensi desain dan beberapa tema serta melihat apakah desain mereka laku di pasaran atau tidak.Â
Semua stand tentu memiliki banyak tujuan promosinya sendiri dan memiliki pasarnya sendiri. Hingga dari yang dipenuhi mahasiswa sampai yang terlihat sepi pun ada disana.
Salah satunya stand milik Humaira. Wanita dengan status single parents itu adalah salah satu stand yang dipenuhi oleh anak-anak fakultas lain. Cara pengenalan desain mereka yang berbeda, lalu penataan ala-ala Korea dan juga model mahasiswi yang memakai baju desainnya pun ada disana ikut mempromosikan membuat semua orang yang melewati standnya pasti akan tertarik.
Bahkan dengan bahan yang nyaman dan dingin. Lalu tak transparan, membuat mereka tentu suka dengan bajunya.
"Apa desain yang mau kau bawa ke Korea seperti ini?" Tanya seorang kating pada Humai yang sedang mempresentasikan hasilnya di hadapan pengunjung standnya.
"Ya hampir mirip tapi tak semuanya seperti ini, kata Humai dengan jujur.
Banyak mahasiswa yang keluar dari stand Humai pasti membawa kantong berisi bajunya. Benar-benar dari sekian banyak stand, penjualan Humai membludak. Bahkan sampai Hunai dan contoh pemakai baju yang didesain oleh Humai tak terlihat karena dipadati oleh banyak mahasiswa dan mahasiswi yang penasaran dengan bajunya.Â
"Mai, kamu menjual dengan beli dua gratis satu, apa gak rugi?" Tanya seorang teman seangkatan Humai tapi beda fakultas.
"Nggak. Itu adalah salah satu trik untuk menggaet pembeli lebih banyak," ucap Humai yang mendapat anggukan dari teman seangkatannya itu.Â
Benar-benar semua sudah diperhitungkan. Semuanya sudah dipikirkan begitu aman hingga membuat Humaira tak merasa rugi atau apapun.
Begitupun dengan stand milik Mira dan Lidya. Dua wanita itu tam kalah ramainya juga. Apalagi ditambah dengan kehadiran Jay yang ikut berteriak dan promosi membuat siapapun yang datang semakin suka berada disana.Â
"Ante, kenapa pipi Jay dicubitin terus sih?" Ujar Jay dengan mengusap pipinya yang memerah.
Ya sejak tadi, anak berumur dua tahun lebih itu menjadi pusat perhatian. Pipinya yang gembul dan begitu comel buat siapa saja merasa gemas.Â
"Ya karena Jay itu lucu. Banyak fans Jay juga disini," kata Lidya pada anak sahabatnya itu.
"Tapi pipi Jay sakit, Ante," katanya dengan bibir cemberut. "Jau mau ke Ibu aja."Â
"Ehhh." Lidya gelagapan.Â
Dia melihat standnya juga banyak pembeli lalu dia melihat ke samping, ke tempat Mira berada. Perempuan itu juga sedang melayani orang yang mampir ke stand miliknya.Â
"Entar lagi ya, Sayang. Tunggu Kakak-kakak ini selesai terus Ante anter ke Ibu. Gimana?" Bujuk Lidya dengan pelan. "Jay makan kue ini dulu aja."
Kepala mungil itu menggeleng. "Jay mau Ibu sekarang. Jay tahu kok dimana Ibu."Â
"Beneran Jay tahu stand Ibu dimana?" Tanya Lidya yang khawatir.Â
"Iya," sahut Jay dengan kepala mengangguk. "Di dekat sini, 'kan?"Â
Jay menunjuk arah kiri dan Lidya memang membenarkan. Stand Humaira berada di kiri stand miliknya. Namun, masih berjarak 3 stand lagi untuk sampai kesana.
"Jay beneran mau ke Ibu?" Tanya Lidya sekali lagi.
"Iya," sahut Jay serius.
__ADS_1
Akhirnya Lidya segera menurunkan Jay dari kursinya. Lalu dia menggandeng tangan anak itu dan berdiri di depan stand mereka.Â
"Lihat Ante yah," kata Lidya mensejajarkan tubuhnya. "Stand ibu itu disitu. Yang banyak bunganya di stand."Â
Lidya menunjuk stand Humi yang dipadati oleh beberapa mahasiswa. Jay mengangguk, dia juga melihat stand tersebut.Â
"Cium dulu pipi Ante. Nanti Ante kangen Jay gimana?"Â
Jay yang memang sudah kenal dan nyaman bermain dengan Lidya dan Mira tentu mencium pipi Lidya dengan cepat. Setelah itu dia melambaikan tangannya dengan wajah bahagia.
"Hati-hati yah."Â
🌴🌴🌴
Di area yang lain, terlihat seorang pria yang tengah berjalan bersama teman kerjanya yang lain. Dia bersama dua perempuan yang usianya jauh darinya dan seorang pria yang umurnya hampir seumuran dengannya.
Dia melihat-lihat beberapa stand yang menjual bermacam-macam desain baju bagus disana. Dengan telinganya juga mendengar penjelasan dari dua perempuan yang menjadi tersangka utama mengajaknya disini.Â
"Jadi stand ini dibuat untuk?"Â
"Ya untuk melihat potensi desain mereka bisa menarik banyak orang atau nggak," kata salah satu perempuan yang kulitnya putih.
"Oh ya, Stand Kak Ema full katanya yah?" Ucap perempuan itu pada teman perempuan di sebelahnya.
"Ya. Baju ala Korea yang dia buat bikin anak-anak suka."
"Ayo kesana! Aku juga pengen lihat aslinya dan pengen beli!"Â
Disana, dia melihat seorang anak laki-laki yang menjadi tersangka dirinya tak bisa tidur dengan nyenyak beberapa hari ini. Sosok kecil yang mengingatkannya akan masa kecilnya.
"Kak Syakir mau kemana?" Tanya dua perempuan yang melihat Syakir hendak pergi.
"Sebentar. Gak kemana-mana kok. Entar lagu aku nyusul!"Â
Akhirnya mereka membiarkan Syakir yang entah kemana. Sedangkan pria itu segera berjalan ke arah bocah kecil yang sedang melihat seorang penjual es krim disana.
"Jay!" Panggil Syakir yang membuat anak itu menoleh.
"Om Syakir," pekik Jay yang masih sangat ingat pria itu.Â
Syakir lekas mendekati sosok Jay. Dia melihat apa yang membuat anak itu diam berdiri di sana.
"Kamu liatin apa?" Tanya Syakir menatap wajah bocah itu yang menggemaskan.
"Es krim, Om. Itu!" Tunjuk Jay pada mesin es krim yang dipencet lalu keluar dengan sendirinya.
"Kamu mau?"Â
Kepala mungil itu mengangguk. "Tapi Jay mau minta uang sama Ibu."
"Eh gak usah. Nih Om beliin," kata Syakir menahan tangan bocah itu.
Syakir lekas membelikannya lalu dia memberikan pada Jay yang membuat bocah itu bahagia. Dengan semangat, Jay menjilat dan mencomot es itu begitu antusias.
__ADS_1
"Kamu ngapain disini, Jay? Kamu sama siapa?"
"Aku sama Ibuku, Om. Ibuku kuliah disini," kata Jay bercerita.
"Terus Ibumu sekarang dimana?"Â
"Disana!" Tunjuk Jay ke salah satu stand yang penuh.Â
Syakir yang penasaran akan sosok ibu Jay akhirnya menjadikan ini kesempatan untuknya. Entah kenapa Syakir merasa ada sesuatu yang menggelitik hatinya hingga tiba-tiba kata yang muncul darinya adalah,Â
"Ayo Om anter ke Ibu Jay. Gimana?"Â
Jay mengangguk. "Gendong ya, Om."Â
Syakir mengangguk. Dia lekas menggendong Jay lalu berjalan ke arah stand yang ditunjuk oleh bocah kecil itu. Semakin dekat, entah kenapa jantung Syakir semakin tak karuan. Dia bahkan merasa tangannya berkeringat dingin.
Hingga akhirnya mereka telah berada di depan stand itu. Syakir menatap sekeliling. Ada tiga perempuan yang ada disana dan salah satunya membelakanginya.Â
"Mana Ibu Jay?"Â
"Ibu!" Teriak Jay yang kencang dan membuat perempuan yang membelakangi mereka berbalik.
Jantung Syakir mendadak mencelos. Bahkan tubuh pria itu menegang saat melihat siapa sosok yang berbalik itu. Bahkan wajah pria itu sampai menatap tak percaya akan sosok di depannya ini.
"Humai."
~Bersambung
Bab yang kalian tunggu, 'kan?
ketemu asli ini hee.
Gimana masih aman kalian bacanya?
Jangan lupa mampir ke karya temanku juga yah
🚨 Area dewasa, bocil jangan coba-coba ngintip bahaya 🤣. Yang suka romantis, baper, komedi yuk mampir di anak ke 3 emak online ini.
🚦Mafia story, (Karya ini sesoan 2 Kehidupan kedua sang putri)
"Lepaskan aku Ken, cari pasangan yang seusiamu, kau masih muda!" Teriak Angelina Aya M.A.
"Tidak semudah itu wahai wanita! Saat kau menyetujui dokumen pernikahan kita, artinya kau hanya milikku, istriku! Meski harus kupatahkan kaki indahmu, aku tak keberatan. Karena aku sangat mencintaimu!"
Angelina Aya M.A melakukan hal yang konyol ketika ia masih mengalami cacat penglihatan yaitu mencari suami bayaran untuk memuluskan aksi membalas dendam pada mantan calon suaminya yang berselingkuh.
siap sangka mencari suami pengganti membawanya dalam jeratan seorang pria muda yang tajir melintir yang begitu mencintai nya hingga tahap obsesi.
Akankah pernikahan mereka akan bertahan setelah Aya tau jika suaminya lebih muda 7 tahun darinya?
Atau mereka akan berpisah sesuai dengan kesepakatan kertas di atas putih sebelum pernikahan mereka di langsungkan?
__ADS_1