
...Ternyata berdamai dengan segalanya mampu membuat kita bisa hidup dengan tenang. Memulai semua dengan kejujuran dan berharap semoga berakhir dengan keinginan yang sama....
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
Malang.Â
Akhirnya hari yang baru kembali hadir. Matahari kini bersinar lebih cerah dan begitu hangat. Udara dingin yang sejak pagi terasa menusuk tulang perlahan menipis saat kulitnya terkena sinar mentari yang begitu menghangatkan.Â
Dia dengan santai berdiri di balkon kamar. Dengan tangan yang ia tarik ke atas karena tubuhnya terasa pegal-pegal. Jujur tubuhnya membutuhkan adaptasi baru.Â
Sepertinya tinggal di Jakarta yang terkenal kota panas. Membuatnya harus menyesuaikan lagi dengan udara dingin yang dulu menjadi teman baiknya. Tadi saja saat dirinya menyentuh air kamar mandi. Rasanya begitu dingin dan membuatnya lari ke balkon kamar.Â
Hal itulah yang membuatnya sejak tadi tak bisa menghentikan tawa kecil ya karena aksi gilanya sendiri. Ditambah bayangan dimana hubungan dirinya dan mantan suami yang kembali bersama.Â
Mimpi buruknya telah hilang. Mimpi yang biasa datang dan menghantuinya kini tak ada lagi. Sepertinya usaha Syakir berhasil. Dia berjanji mengganti kenangan yang pahit dengan hal romantis yang membuat Humaira terus mengingatnya.Â
"Nak, " Panggil Papa Hermansyah yang membuat Humaira menoleh.Â
Perempuan itu lekas berjalan ke arah pintu kamar. Dia lekas membukanya dan melihat sosok papanya yang telah berdiri disana dengan pakaian santai.Â
"Papa mau kemana? " Tanya Humaira yang penasaran karena papanya sudah serapi ini.Â
"Papa mau ke rumah sakit jiwa dulu, Sayang, " Ujar Papa Hermansyah yang membuat Humaira hampir melupakan masalah ini.Â
Terlalu bahagia akan kabar yang ia dapat. Terlalu bahagia dengan bersatunya dirinya dan Syakir, membuat Humaira lupa jika saudara angkatnya itu butuh kedua orang tuanya.Â
"Humai, " Panggil Papa Hermansyah mengusap kepala putrinya.Â
Dia menatap anak tunggalnya itu yang diam. Dirinya benar-benar takut jika Humai tersinggung akan niatnya ini. Namun, Papa Hermansyah tak mau berbohong pada siapapun. Dia benar-benar telah berubah sebaik mungkin. Dirinya ingin putri tunggalnya itu tahu tentang apa yang dia lakukan.Â
"Kamu baik-baik aja, 'kan, 'Nak? " Tanya Papa Hermansyah khawatir.Â
Humai perlahan mengangkat wajahnya. Dia menarik kedua sudut bibirnya ke atas menampilkan sebuah senyuman terbaik.Â
"Humai ikut ya, Pa, " Pinta Humai merengek.Â
"Tapi, Nak. Nanti… "Â
__ADS_1
"Plis, Pa. Aku hanya ingin melihat saudara angkatan dari jauh. Aku tak akan muncul dihadapannya," Pinta Humai penuh harap.Â
Agh jika sudah begini. Papa Hermansyah tak bisa menolak. Wajah Humai yang begitu meminta padanya tentu membuatnya tak tega.Â
"Baiklah. Bersiaplah, Nak. Papa tunggu dibawah, " Kata Papa Hermansyah yang membuat Humai meloncat bahagia.Â
Dia memeluk papanya dengan erat lalu memberikan ciuman terbaik di pipi pria paruh baya tersebut.Â
"Terima kasih banyak, Pa. I love you. "Â
...🌴🌴🌴...
Setelah membersihkan dirinya dengan cepat. Sebuah langkah kaki mulai menuruni tangga rumahnya. Dia bersenandung kecil karena merasa hidupnya begitu jauh lebih baik dari masa lalu.Â
Meski masih ada ujian di antara hidupnya. Namun, Humai masih bisa jauh lebih bersyukur sekarang. Dirinya sudah melewati banyak hal yang membuatnya bisa menjadi sosok lebih baik lagi. Dirinya bisa menjadi sosok kuat sampai detik ini adalah pencapaian luar biasa untuknya.Â
Hingga saat langkah kakinya mencapai lantai pertama dan hampir sampai di ruang tamu. Telinganya Sama-samar mendengar suara pria yang sangat familiar di telinganya.Â
Bibirnya mengundang senyum tipis saat matanya menatap kepala belakang pria yang dicintainya. Pria yang membuatnya sakit sekaligus bahagia. Pria yang pernah menghancurkan dirinya di masa lalu ternyata menjadi sosok obat di masa depan.Â
Perubahan sosok Syakir yang jauh lebih baik. Sikapnya yang jauh berbeda dari terakhir kalinya. Tentu membuat Humai merasa sangat dicintai dan dihargai.Â
"Sayang, " Panggil Humai yang datang lalu memeluk Syakir dari belakang.Â
Syakir menoleh. Dia menampilkan senyum tipis saat melihat calon istrinya itu sudah cantik dengan penampilannya. "Kamu kok gak ngabarin dulu kalau mau kesini? "Â
Humai melepaskan pelukannya. Dia memilih berjalan ke samping dan duduk di kursi tepat samping papa kandungnya.Â
"Kalau ngabarin dulu gak jadi kejutan dong? " Ucap Syakir yang membuat Humai terkekeh. "Kamu mau kemana, Sayang? Kenapa Papa dan kamu rapi sekali? "Â
Ya, Syakir memang baru saja datang. Dirinya yang belum sempat bertanya pada mertuanya itu tentu belum tahu keduanya hendak pergi kemana.
"Aku dan Papa mau ke Rumah Sakit Jiwa, Kak. Kamu mau ikut? "Â
Syakir menatap Humai tak percaya. Lihatlah calon istrinya itu. Tak ada beban dalam hidupnya. Humai benar-benar ikhlas apa yang terjadi dalam hidupnya sekarang.Â
"Tentu. Aku akan menemanimu, Sayang. "Â
Papa Hermansyah tersenyum. Dia percaya jika keputusannya memberikan kesempatan pada Syakir adalah hal yang tepat. dia percaya bahwa bahwa atau kandung cucu pertamanya itu benar-benar sudah berubah menjadi pribadi yang jauh lebih baik.Â
__ADS_1
Akhirnya kendaraan yang ditumpangi Syakir, Papa Hermansyah dan Humai mulai melesat keluar dari halaman rumah Humai. Syakir dengan fokus mengemudikan kendaraannya ini.Â
Mereka menggunakan satu mobil karena Humaira yang meminta. Dia ingin menunggu papanya sampai selesai. Dirinya juga ingin melihat perkembangan Rachel dengan kedua mata kepalanya sendiri.Â
"Kalau kamu capek. Kamu bisa pulang, Nak, " Kata Papa Hermansyah setelah keduanya melewati perjalanan yang panjang.Â
Suasana pagi di Kota Malang tentu membuat beberapa kendaraan memenuhi jalanan. Ada beberapa orang yang harus bekerja, sekolah dan kesibukan yang lainnya.Â
Hal itu tentu membuat beberapa jalan terasa macet dan mereka membutuhkan waktu yang lebih untuk bisa sampai ke rumah sakit jiwa ini.
"Nggak, Pa. Humai gak capek. Humai pengen ketemu sama Rachel," Kata Humai yang masih kekeh dengan keinginannya.Â
Papa Hermansyah tak bisa menolak apapun lagi. Ketiganya mulai masuk ke bangunan yang menjadi tempat apra manusia yang tak kuat mental atau dengan masalahnya sendiri.Â
Sepanjang jalan, Humai, Syakir dan Papa Hermansyah tentu disuguhi banyaknya orang gila yang berkeliaran. Hingga saat ketiganya hampir mencapai ruangan Rachel.Â
Sebuah panggilan membuat langkah ketiganya berhenti dan berbalik.Â
"Tuan, " Sapa seorang perempuan berpakaian suster.Â
"Kemana Rachel? "Â
"Nona Rachel ada di taman, Tuan. Dia sedang berjemur bersama suster yang lain. "
Papa Hermansyah mengangguk. Ketiganya langsung menuju ke taman yang menjadi tempat dimana Rachel berada. Hingga saat mereka hampir smapai, Humaira menarik tangan calon suaminya itu untuk menghentikan langkahnya.Â
Wanita itu menarik lengan Syakir agar tak terlihat oleh Rachel yang mulai kelihatan di mata mereka. Sedangkan Papa Hermansyah dia belum menyadari jika putrinya tak ada. Wajah dan matanya terus terfokus pada Rachel yang duduk dengan tenang.Â
"Rachel," Panggilnya yang membuat gadis itu berbalik.Â
Wajahnya yang muram langsung berbinar terang. Bibirnya bahkan terus melebarkan senyuman seakan kedatangan Papa Hermansyah adalah sosok yang dinantinya.Â
"Akhirnya Papa datang, " Ujar Rachel yang langsung berlari dan memeluk Papa Hermansyah dengan erat.Â
~Bersambung
Gimana kalau Rachel dan Humai ditemuin ya, 'kan? Reaksi Rachel gimana yah?
Penyelesaian masalah sih ini. Sebelum kita ngebadut dan ngereog bersama dengan bucin dua pasangan. Mending selesain dulu ya kan hehe.
__ADS_1