
...Percayalah seseorang akan berubah menjadi kuat setelah banyaknya masalah yang menerpa dirinya....
...~Humaira Khimar Shireen...
...🌴🌴🌴...
Jujur pertanyaan itu tanpa sadar membuat Sefira menginjak pedal remnya secara mendadak. Dia seakan tak salah dengar jika sahabatnya menanyakan perihal si pecel musuh bubuyutannya itu.Â
Untung saja Humaira dan Sefira memakai sabuk pengaman dan di belakang mereka tak ada mobil lain. Entahlah jika semisal tadi ada kendaraan di belakang mereka pasti keduanya dalam bahaya.
Sefira menoleh kesamping. Dia benar-benar terkejut tentang Humai yang tahu kondisi wanita gila itu sekarang. Wanita yang menurutnya mendapatkan karma dari semua yang telah dilakukan di dunia.Â
"Kamu tahu darimana?"Â
"Kak Syakir mengatakannya padaku, Fir. Apa itu benar?"Â
Sefira hanya mampu menarik nafasnya begitu dalam. Jika membahas Rachel entahlah Sefira merasa takut. Takut jika fakta nyata tentang Ayah Humai yang mengadopsi Rachel akan diketahui oleh sahabatnya itu. Dirinya takut jika hal itu menyakiti sahabatnya.Â
"Jangan berbohong padaku, Fir. Katakan semuanya," pinta Humai yang membuat Sefira menghembuskan nafasnya dengan berat.Â
"Ya. Dia ada di rumah sakit gila. Semenjak tekanan dari penjara banyak diterima olehnya," ujar Sefira membuka mulut.
"Lalu bagaimana kabarnya sekarang?"Â
Sefira menggeleng. Jujur dia telah mengatakan apa yang dia tahu dengan jujur. Dirinya juga sudah lama sekali tak mendengar kabar tentang Rachel. Wanita itu benar-benar tak mau tahu.
"Jujur sama aku, Fir?"Â
"Kabar terakhir yang aku dengar. Dia sering membenturkan kepalanya di dinding jika sedang kambuh. Setelah itu aku tak pernah mendengar kabar apapun lagi," kata Sefira menatap sahabatnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
Entahlah jujur dia tak tahu apa yang harus dia lakukan. Dirinya ingin berkata jujur tapi hal itu bukan rana untuknya. Sefira juga yakin pasti sahabatnya itu akan kecewa pada kedua orang tuanya jika tahu apa yang sebenarnya terjadi.Â
Sebuah kisah masa lalu yang rumit. Namun, hal itu bukan hak yang bisa diterima dengan mudah. Sefira yakin Humaira yang memiliki hati begitu lembut akan semakin merasa bersalah jika tahu tentang semua yang pernah terjadi antara dirinya, keluarganya dan Rachel.
"Sekarang lebih baik lupakan tentang wanita itu dan biarkan aku mengemudi dengan aman," kata Sefira yang membuat Humaira terkekeh.
Dia tahu jika pertanyaannya yang membuat Sefira mengerem mendadak. Dia juga sadar jika tingkahnya itulah yang membuat keduanya hampir dalam kondisi berbahaya.
"Maafkan aku yah. Maaf," rayu Humai sambil mencolek dagu sahabatnya.
__ADS_1
"Satu mangkuk es krim cukup untuk merayuku," kata Sefira sambil melajukan mobilnya.
"Oke. Besok aku traktir dua mangkuk es krim."Â
"Deal!"Â Â
...🌴🌴🌴...
Di sebuah rumah besar. Terlihat seorang pria paruh baya tengah mengecek pekerjaan yang diberikan oleh salah satu asistennya. Dirinya memang bekerja melalui rumah karena semua perusahaan yang dia miliki ada di Kota Malang.Â
Usianya yang tak lagi muda juga membuatnya memikirkan kesehatannya untuk terbang dari Malang ke Jakarta. Dirinya akan datang kota dingin itu jika ada urusan yang benar-benar tak bisa digantikan.Â
"Bagaimana keadaan perusahaan?" tanya Papa Hermansyah pada dua orang pria yang merupakan asisten dan sekretarisnya itu.
Mereka memiliki tenggang usia yang lumayan jauh. Asistennya mungkin berusaha sudah empat puluh tahunan tapi sekretarisnya ini masih sangat muda dan seusia putrinya.Â
Namun, pekerjaannya yang baik dan cekatan serta orangnya yang jujur. Membuat Papa Hermansyah begitu percaya pada pria itu.Â
"Semua aman, Tuan. Para klien juga bisa kita handel dengan baik," jawab asisten Papa Hermansyah dengan tegas.
"Bagus. Jika ada hal sulit yang tak bisa kalian pecahkan. Katakan padaku. Aku pasti akan datang membantu," ujarnya yang membuat kepala dua pria itu mengangguk.
Tak lama, Mama Emili datang dengan nampan berisi minuman dan cemilan. Wanita paruh baya itu sangat mengenal dua pria di depannya ini karena memang ini bukan pertama kalinya mereka datang.
Kedua pria itu terkekeh malu. Istri tuannya ini memang begitu mudah akrab dan tak pernah menilai seseorang dari derajatnya. Mama Emili sangat amat ramah dan begitu baik dengan para pekerja suaminya.
Entah itu sekarang atau dulu sebelum kejadian mental dirinya yang terganggu.Â
"Kami baik, Nyonya," sahut asisten Papa Hermansyah dengan baik.
"Cepatlah cari istri, Gas. Kau sudah berkepala empat tapi masih gila kerja," kata Mama Emili yang membuat Bagas menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Soal itu nanti saja, Nyonya. Saya masih ingin mengumpulkan uang untuk masa depan."
"Gaji kamu kurang dari suami saya?"Â
"Eh." Bagas menggeleng.
Menjadi orang kepercayaan Hermansyah memiliki gaji paling besar dari yang lain. Apalagi dirinya adalah tahta tertinggi di perusahaan jika tak ada Papa Hermansyah. Apa yang pria itu katakan adalah titah. Karena semua karyawan sangat tahu jika Bagas adalah asisten yang sangat tegas, jujur dan dingin.Â
__ADS_1
"Cukup, Nyonya. Bahkan sangat cukup!"Â
Hermansyah hanya mampu menahan tawanya melihat tingkah istri dan pekerjaanya itu. Tak lama percakapan itu terhenti saat ponsel Hermansyah berbunyi. Dirinya lekas meriah benda pipih itu dan melihat siapa yang menghubunginya.Â
"Siapa, Pa?" tanya Mama Emili saat melihat ekspresi wajah suaminya berubah.
"Rekan bisnis Papa, Ma. Sebentar yah. Papa mau mengangkatnya," kata Papa Hermansyah pamit.
Mama Emili mengangguk. Dirinya tak curiga apapun. Dia sangat tahu bagaimana sibuknya suaminya itu. Pekerjaan yang harus di handel dari jauh dan semua dia lakukan di usianya yang sudah tak lagi muda.Â
"Halo?" sahut Papa Hermansyah saat panggilan itu tersambung.Â
Dirinya berjalan ke arah taman samping rumah. Dirinya benar-benar merasa moodnya menjadi buruk saat melihat nama salah satu suster yang ia minta untuk menjaga anak adopsinya itu.
"Maaf Tuan Hermansyah. Jika saya mengganggu waktu Anda. Tapi…"Â
"Katakan apa yang terjadi disana?" tanya Papa Hermansyah pada lawan bicaranya.
Tanpa pria itu tahu jika ada sepasang langkah kaki mendekati pria itu. Langkah kaki yang baru saja datang memasuki rumah dan langsung mencari dirinya.
"Nona Rachel sering mengamuk, Tuan. Dia kembali memukulkan kepalanya di dinding. Dokter ingin Anda segera datang kesini karena ada yang ingin dibicarakan," kata suster itu menjelaskan.Â
Terlihat wajah Papa Hermansyah begitu frustasi. Jujur di satu sisi dia sangat kasihan dengan kondisi anak adopsinya. Apalagi dia mengaku jika apa yang terjadi pada Rachel ada keikutsertaan dirinya yang membuat anak adopsinya seperti ini.Â
"Lakukan apapun untuk Rachel. Bagaimanapun aku tak mau dia melakukan hal yang membahayakan nyawanya sendiri," kata Papa Hermansyah yang tentunya masih memiliki hati dan perasaan.
Pria paruh baya itu sadar apa yang dia lakukan adalah salah. Dirinya juga tak bahwa dia ikut andil membuat Rachel seperti ini.
"Baik. Tuan."Â
"Katakan pada Dokter. Aku akan segera ke Malang untuk menemuinya!" ujarnya yang kemudian panggilan itu terputus.
Terlihat dirinya begitu amat sangat frustasi dan membuatnya hanya mampu mengusap wajahnya dengan lelah.Â
Setelah itu dia mencoba menarik nafasnya begitu dalam. Mencoba menerima semua yang terjadi. Merasa sedikit tenang, pria paruh baya itu segera berbalik.Â
Namun, tepat disaat yang sama langkah kakinya terhenti. Matanya langsung menatap ke depan. Jantungnya berdegup kencang saat tatapannya langsung bertemu pandang dengan putrinya yang berdiri berjarak beberapa langkah dengannya dan air mata tentu bisa ia lihat memenuhi kedua bola mata putri tunggalnya itu.
"Humai!"Â
__ADS_1
~Bersambung
Kan kan mulai penasaran lagi kan. Huhu gimana reaksi Humai yah kalau gini.