
...Jika biasanya kehamilan anak pertama sangat ditunggu dan dinanti-nanti. Maka berbeda denganku, yang harus melalui semuanya sendiri....
...~Humaira Khema Shireen...
...🌴🌴🌴...
Seorang perempuan terlihat tengah menyiapkan makanan untuk mereka dan tamunya. Humai menyiapkan bahan-bahan agar nanti dia tinggal memasaknya.Â
Dengan penuh cekatan, dia bergerak kesana kemari. Untung saja, bahan makanan yang ia beli kemarin masih ada dan membuat Humai tak perlu keluar dengan keadaan seperti ini.
Sampai saat Humai yang mulai membuat bumbu, sebuah bau tercium di hidungnya dan membuat wanita itu lekas menutup mulut.Â
"Kenapa baunya nyengat banget," gumam Humai dengan menggeleng.Â
Jika mode begini, itu tandanya si bayi mulai rewel. Humai yang tak tahan menahannya akhirnya segera ke wastafel yang ada di dapur. Dia muntah-muntah dengan hebat dan suaranya mampu terdengar ke segala penjuru rumah.
Hal itu tentu membuat Bara dan Syakir yang ada di ruang tamu lekas berjalan menuju ke asal suara diikuti Syakir. Disana lebih tepatnya di wastafel dapur. Terlihat Humaira tengah muntah-muntah. Namun, bukan itu yang membuat Bara khawatir.Â
Melainkan saat tubuh wanita itu mulai oleng dan siap jatuh. Dengan cepat Syakir ternyata menangkapnya sebelum terjatuh ke lantai.
"Humai...Humai!" panggil Bara melihat wanita itu tak sadarkan diri.
Tanpa kata Syakir menggendong wanita itu. Bersamaan dengan Almeera yang baru saja turun hendak memanggil suaminya. Mata wanita itu terbelalak. Dia segera menyusul keduanya yang memasuki salah satu kamar yang ada di lantai satu.
"Ada apa ini?" tanya Almeera yang baru datang.
"Humaira pingsan, Sayang. Dia habis muntah-muntah!" kata Bara apa adanya.
Akhirnya Almeera mendekat. Dia meraih tangan Humaira dan mulai mengusapnya agar hangat.
"Ambilkan minyak kayu putih, Mas. Aku akan mengoleskannya dulu!" kata Almeera pada Bara.
Pria itu segera menuju kamar. Sedangkan Syakir, di tetap berdiri di dekat ranjang dengan pandangan datarnya.
Entah wajahnya tak bisa ditebak. Sepertinya Syakir sedang berpikir, mode apa lagi yang akan dipakai oleh menjebak mereka. Dia sangat tak suka dan sangat membenci Humai.Â
"Bisa minta tolong, Kir?"Â
"Apa, Ra?"Â
"Tolong buatin teh buat saudaramu ini sekarang yah!"Â
Akhirnya Syakir mulai keluar. Dia tak membantah sedikitpun. Dia takut jika menolak maka Almeera dan Bara akan curiga pada keduanya.
__ADS_1
Tak lama Bara datang dan dengan tanggap ibu dua anak itu meminta suaminya keluar dulu karena dia akan mengolesi minyak itu di seluruh tubuh Humaira. Akhirnya perjuangan Almeera berhasil. Humaira mulai kembali sadar dan dirinya terkejut dengan kehadiran Almeera disana.Â
"Aku kenapa, Kak?"Â
Almeera tak menjawab. Dia menerima uluran teh itu dari tangan Syakir dan memberikannya pada Humaira.
"Minumlah dulu!"Â
Humaira perlahan duduk dan menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang. Lalu dia menerima gelas tersebut. Meminum air berwarna coklat itu setengahnya hingga perutnya hangat.
Almeera terus menatap Humaira dengan lekat hingga gadis itu salah tingkah. Â
"Kamu kenapa, Hum? Kata suamiku kamu habis muntah-muntah. Apa kamu…!Â
"Aku masuk angin, Kak. Ya masuk angin!" sela Humai dengan cepat.
Dia tak mau Almeera tau kebenarannya. Humai takut jika Almeera akan berubah setelah tau bahwa ia hamil di luar nikah.
"Yaudah. Kamu istirahat yah. Aku sama Mas Bara keluar dulu," pamit Almeera sambil mengusap kepalanya. "Kalau kamu butuh apapun, panggil aku aja gak papa."Â
"Iya, Kak Meera. Terima kasih."
Setelah kepergian Almeera. Syakir mendekat sosok wanita yang benar-benar mengganggu ketenangannya. Dia yakin jika wanita di depannya ini hanya pura-pura.Â
"Ingat! Jangan sampai kau menggunakan kelemahanmu ini untuk menggaet orang-orang kaya agar kasihan kepadamu. Itu trik licik dan sangat murahan!"
...🌴🌴🌴...
Jujur Humai merasa anaknya ini termasuk anak yang tangguh. Dia sering mengajak anaknya jalan ke pasar, lalu memberikan pengertian ketika dia memiliki banyak pekerjaan.
Syakir benar-benar membuktikan bahwa tak akan pernah ada pelayan di rumahnya. Semua pekerjaan dilakukan oleh Humai sendiri.Â
"Good Job, Nak. Kamu sore ini benar-benar luar biasa. Mama bisa selesaikan masakan ini dengan cepat!" kata Humai dengan tersenyum penuh bangga.
Meski tubuhnya merasa lelah, Humai mencoba menahannya. Dia segera menyiapkan meja makan dan menata semua makanan disana. Setelah selesai, Humai segera menghampiri Almeera dan keluarga yang baru saja turun dan menuju ruang tamu.
"Makan malamnya sudah selesai, Mbak. Ayo masuk!"Â
"Maaf ya, Mai. Aku gak bantuin kamu. Aku kira ada pelayan disini," ujar Almeera menyesal.
"Udah gakpapa, Mbak. Ayok!"
Mereka segera pindah ke meja makan. Bia, Abraham, Bara, Almeera dan Syakir sudah duduk mengelilingi makanan yang ada di atas meja makan. Humaira dengan gesit menyiapkan semuanya. Saat gadis itu hendak beranjak, Almeera menahan lengannya hingga perempuan itu menoleh.Â
__ADS_1
"Mau kemana?"Â
"Eh itu, Mbak. Ke depan…" ujarnya terbata dengan melirik Syakir takut-takut.Â
Almeera menggeleng. "Ayo makan sama kita. Duduk sini!"Â
Humai menelan ludahnya paksa. Dia takut Syakir marah jika ia berada disini.
"Saya lebih baik makan nanti aja, Mbak."Â
"No! Kamu yang masak dan kita ini sudah keluarga. Jadi kita makan harus satu meja makan."Â
Akhirnya dengan sangat amat terpaksa. Humaira duduk di samping Almeera. Gadis itu mengabaikan sorot mata penuh ancaman dari mata milik pria yang merupakan suaminya.Â
Humaira merasakan lidahnya keluh dengan rasa takut yang membuat dia makan dengan tak berselera. Apalagi rasa mual yang kembali hadir, membuatnya segera minum teh hangat yang sudah disiapkan.
"Kenapa, Hum?" tanya Almeera melihat raut Humai yang seperti menahan sesuatu.
"Sebentar, Mbak." Gadis itu segera berlari menuju kamar mandi.
Dari tempatnya Almeera bisa mendengar bagaimana gadis itu mual dan muntah dengan hebat hingga membuat ibu dua anak itu melihat ke arah Syakir.
"Kenapa?" tanya Syakir saat tatapan Almeera mencurigai dirinya.
"Dia siapa, Kir?" tanya Almeera dengan sorot mata tajam. "Katakan padaku! Apa Humaira sedang mengandung?"Â
Syakir membisu. Bahkan pria itu seakan susah untuk menjawab pertanyaan Almeera yang kelewat gampang. Hingga istri Bara itu mulai khawatir pada kondisi Humaira dan membuatnya segera berjalan dengan cepat menuju kamar mandi.Â
"Humai!"Â
"Jangan masuk, Mbak!" lirih Humaira dengan suara lemah.
Almeera tak bisa menunggu disini. Ini terlalu bahaya jika apa yang ia pikirkan benar adanya. Saat Almeera baru saja mendorong pintu itu. Mata istri Bara membola.
Dia segera berlari ke arah Humaira yang mulai oleng dan sekali gerakan. Akhirnya Humaira kembali pingsan tak sadarkan diri.Â
"Mas!" teriak Almeera mengabaikan dasternya yang basah.
Bara dan Syakir tentu langsung ke kamar mandi. Mereka berdua terkejut saat melihat Almeera sudah memegang tubuh Humai dan mengabaikan dasternya yang basah.Â
"Siapkan mobil, Kir! Kita harus cepat bawa Humai ke rumah sakit!" bentak Bara menyadarkan sahabatnya yang hanya diam.
~Bersambung
__ADS_1
Nah nah, 'kan. Emang kelakuan Bang Syakir ini, lihat Humai banyak rencana. Padahal noh si pecel banyak rencana banget.
Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetik.