
...Percayalah jika akan ada masa dimana yang merasa kuat akan mulai lemah dan yang lemah mulai terlatih kuat dengan segala hal....
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
Syakir mulai berjalan keluar dari perusahaan. Dia tak memperdulikan banyaknya karyawan yang menunduk hormat atau menyapanya. Pria itu hanya terfokus dengan jalan di depan agar segera sampai di mobilnya.Â
Pikirannya hanya satu saat ini. Pulang ke rumah dan menemui gadis matre yang pasti saat ini sedang bahagia. Syakir yakin jika wanita itu sedang tertawa puas karena keinginannya berhasil ia raih satu per satu.Â
Namun, saat dia sudah melihat pintu keluar masuk perusahaan. Bunyi panggilan di ponselnya membuat Syakir merogoh saku celana. Dia lekas mengambil benda pipih itu lalu melihat nama mamanya tertera di sana.Â
"Halo, Mama," sapa Syakir saat dia menggeser panggilan itu hingga tersambung. "Apa yang ingin Mama lakukan?"Â
Syakir tak mau berbasa basi lagi. Dia langsung menanyakan hal yang menurutnya benar-benar gila. Dia heran dengan mamanya yang seenaknya memberikan saham penting perusahaan pada gadis yang tak jelas asal usulnya. Â
"Apa yang ingin kau katakan, Syakir?" tanya Mama Ayna tanpa kehangatan seorang ibu lagi.
Hati Syakir sakit mendengar perkataan mamanya. Biasanya Mama Ayna akan menanyakan kabarnya dan keadaannya. Wanita itu akan selalu khawatir kepadanya jika mereka berjauhan.Â
"Kenapa Mama memberikan sebagian saham Mama pada wanita itu?" tanya Syakir dengan tegas. "Apa Mama tak tahu, dia hanya memanfaatkan kebaikan Mama saja!"Â
"Cukup, Syakir! Jangan keterlaluan atau mendikte Mama atas apa yang semua Mama lakukan!" kata Mama Ayna dengan suaranya yang tak kalah tegas.
"Tapi yang Mama lakukan itu…"Â
"Itu karena kau telah menghancurkan rasa percaya seorang ibu pada anaknya," ujar Mama Ayna menusuk jantung Syakir.
Hati pria itu mencelos. Tubuhnya menegang saat mendengar perkataan mamanya. Dia tak menyangka jika Mama Ayna adalah sosok paling kecewa dengan dirinya.Â
"Tapi, Ma…"Â
"Teruslah melakukan kekhilafan dengan wanita ular itu, Syakir. Semakin kau mendekatinya, maka satu per satu saham Mama dan Papa akan jatuh di tangan anakmu," ancam Mama Ayna yang membuat Syakir mengerutkan keningnya.
"Apa maksud, Mama?"Â
"Jangan kau kira Mama tak tahu apa yang sudah kau lakukan dengan gadis ularmu itu!"Â
__ADS_1
Perkataan Mama Ayna membuat jantung Syakir mencelos.
"Kau memiliki istri yang halal kau sentuh dan kau cumbu tapi kau malah…" jeda Mama Ayna yang membuat Syakir menelan ludahnya paksa. "Mencumbu wanita lain di ruangan kamu sendiri. Benar-benar kau menghancurkan kepercayaan seorang ibu pada anaknya, Syakir."
Deg.Â
Syakir sekarang yakin. Dia yakin jika Mamanya sedang memantau apa yang dia lakukan. Dia yakin Mama Ayna melihat apa yang terjadi di ruangannya barusan.Â
"Maaf, Ma. Syakir…"Â
"Semakin kau melakukan hal hina. Semakin kau berani berbuat lebih jauh. Maka jangan salahkan Mama dan Papa jika kau tak akan mendapatkan sepeser pun dari kami," kata Mama Ayna dengan nada suara mengintimidasi.Â
"Tapi itu hak Syakir, Ma. Itu hak Syakir sebagai anak!" kata Syakir tanpa mau mengalah.Â
"Jangan membahas tentang hak, jika kau tak mengerti tentang kewajiban," ujar Mama Ayna dengan skakmat. "Ingat! Sekali lagi kau menyiksa Humai maka kau harus pergi dari rumah!" kata Mama Ayna lalu panggilan itu segera terputus.
"Ma! Mama," panggil Syakir yang mulai marah sekaligus kecewa.Â
Dia hampir melempar hpnya jika lupa bahwa dirinya berada di depan perusahaan. Dia berusaha menarik nafasnya begitu dalam. Menyugar rambutnya ke belakang agar penampilannya tak terlihat begitu stress.
Setelah itu dia segera masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan oleh satpam kantor. Tanpa peduli apapun pria itu melempar hpnya ke kursi samping dan dia mulai melajukan kendaraan roda empat tersebut.
"Semuanya karena kau gadis cupu. Semua ini terjadi karena kau!"Â
Syakir akhirnya menghentikan mobilnya di depan rumah Humai. Dia menatap bangunan yang menjadi saksi penderitaannya dimulai. Siksaan hati karena terpaksa menikah dengan wanita yang tak dicintainya.Â
Dia segera keluar dari sana. Lalu berjalan memasuki rumah dengan rahang tegas dan ekspresi wajah yang menahan amarah. Dia melewati ruang tamu tanpa peduli ada kegiatan dua wanita yang ia tahu siapa.
Syakir menuju ke kamarnya. Dia segera mengambil satu koper miliknya dan memasukkan beberapa pakaiannya disana. Entah kenapa ia sudah tak peduli dengan ancaman orang tuanya. Toh apa yang ia lakukan selalu salah di mata mereka.
Sampai matanya tanpa sengaja menatap sebuah amplop putih di atas ranjangnya. Syakir membolak balikkan amplop itu dan tak ada keterangan apapun.Â
"Apa yang Sefira berikan kepadaku?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Akhirnya Syakir tak peduli itu. Dia memasukkan amplop itu ke dalam kopernya lalu menutupnya kembali. Syakir hanya ingin pergi ke apartemennya. Menenangkan pikirannya yang kacau karena tindakan mamanya.
Pria itu segera turun dan melewati ruang tamu dengan acuh. Tanpa peduli dengan seorang perempuan yang melihat kepergiannya dengan mata berkaca-kaca.Â
__ADS_1
...🌴🌴🌴...
"Humai!" panggil Sefira menepuk pundak sahabatnya yang melihat ke arah pintu rumah. "Ada apa?"Â
"Kak Syakir pergi membawa kopernya," ucap Humai dengan pelan.Â
Entah kenapa ada perasaan yang tak bisa dijabarkan. Dia sedih melihat suaminya pergi dari rumah. Ada sesuatu yang menggelitik dan membuatnya gagal menjadi seorang istri.Â
Humai merasa gagal mempertahankan ikatan halal yang seharusnya bertahan. Humai gagal membuat suaminya berubah dan mau menatapnya.Â
Sefira bisa merasakan kesedihan itu. Dia menarik lengan sahabatnya hingga pandangan keduanya saling beradu pandang. Sebenarnya Sefira juga merasa sakit. Namun, dia mencoba bertahan demi sikap kakaknya yang mau berubah.Â
"Percayalah. Kak Syakir gak bakal bisa pergi jauh dari kamu. Dia masih tetap di Malang. Aku yakin itu," ucap Sefira dengan yakin.Â
Humai hanya mampu menganggukkan kepalanya. Entahlah dia harus percaya atau tidak. Namun, yang pasti perasaan suka pada Syakir kini mulai memenuhi hatinya. Meski pria itu jahat kepadanya, bagaimanapun dia adalah ayah dari bayi yang dikandung.Â
Hingga suara ponsel yang begitu kencang membuat perhatian keduanya pecah. Humai segera menatap Sefira yang tengah mengambil ponsel di saku celananya.Â
"Dari Mama," ujar Sefira yang membuat wajah keduanya sama-sama dibuat bingung.
Sefira lekas mengangkat panggilan itu hingga saat panggilan itu tersambung, keduanya disambut oleh suara tangisan Mama Ayna. Hal itu membuat jantung Sefira dan Humai berdetak kencang.
Dengan cepat, wanita yang tengah berbadan dua itu lekas menarik ponsel Sefira dengan tangan bergetar.
"Mama, kenapa Mama menangis?" tanya Humai dengan ketakutan yang besar dalam hatinya.Â
"Rein, Sayang. Rein…" ucap Mama Ayna dengan suara yang tak bisa menutupi tangisannya.
"Kenapa, Ma? Adikku kenapa?" tanya Humai dengan tak sabar.
"Rein sudah sadar. Dia membuka matanya dan langsung mencarimu."Â
~Bersambung
Nah nah yang ditunggu yuhuu~~
BTW gakpapa ada yang bilang ceritanya merendahkan seorang wanita. Gakpapa aku yakin kalau ada yang paham maksud novel ini pasti ngerti.
__ADS_1
Cerita penokohan novel disini, emang udah aku buat dengan matang. Apalagi alurnya udah matang banget. Jadi meski diobrak abrik sama komen pembaca, alur ini bakalan tetep sama sesuai sinopsis yang aku buat.
So thnkyuu yang masih mau support aku.