Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Berpisah Untuk Pertama Kali


__ADS_3

...Percayalah hidup tanpa bayangan dendam dan kemarahan adalah sebuah level dimana kita bisa hidup secara tenang dan tanpa pikiran....


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Tak ada alasan untuk Syakir menolak. Tak ada alasan untuk Syakir tak menemani mantan istrinya itu. Permintaan pertama kalinya dari Humai padanya tentu akan dikabulkan.


Ya untuk pertama kalinya mantan istrinya itu meminta padanya. Meminta untuk di antara ke kota dimana mereka bertemu, dimana takdir keduanya terjadi disana. Kota yang begitu dingin tapi tidak dengan kenangan mereka yang begitu panas. 


Dengan segala hal yang begitu terburu-buru tanpa persiapan. Namun, Humai tentu bisa menyelesaikannya dengan cepat. Ibu satu anak itu memasukkan beberapa bajunya ke dalam koper. Lalu setelah itu dia segera menemui mamanya langsung.


"Untuk apa kamu ke Malang, Nak. Biarkan Papa yang menyelesaikan semuanya," kata Mama Emili saat Humai mengatakan niatnya.


Humai menggeleng. Dia meraih kedua tangan mamanya dan menggenggam dengan erat.


"Humai mohon, Ma. Berikan izin buat Humai nyusul Papa. Humai pengen nemuin Rachel agar semua masalahnya selesai," pinta Humai penuh harap.


Kedua mata ibu satu anak itu tentu sudah berair. Dia menatap mamanya penuh permohonan. Dirinya hanya ingin melihat kondisi Rachel. Dirinya juga ingin meminta maaf jika memang ada salah yang dia perbuat.


Humai sadar, bahwa dia yang disakiti oleh Rachel. Bahwa Rachel yang berbuat jahat padanya. Namun, percayalah tak akan ada asap jika tak ada api. 


Tak akan ada masalah jika tak ada penyebabnya. Semuanya pasti ada sebab akibat dan membuat seseorang menjadi jahat. 


"Humai janji bakalan pulang setelah semuanya selesai," kata Humai pada mamanya.


Mama Emili tak tega melihat istrinya yang meminta penuh mohon padanya. Apalagi ini adalah untuk pertama kalinya anaknya itu meminta padanya. Selama ini Humai tak pernah menuntut apapun. 


Selama mereka tinggal bersama, selama mereka hidup di atap yang sama, Humai tak pernah meminta apapun. Meski dia tahu papanya memiliki segalanya. Dirinya bisa membeli apapun. Namun, Humai menggunakannya karena kebutuhannya saja. 


"Ya, Ma?" 


Akhirnya Mama Emili mengangguk. Dia meraih kedua tangan Humai dan menggenggamnya.

__ADS_1


"Baiklah tapi…" jeda Mama Emili yang membuat Humai menunggu perkataan mamanya itu. "Jangan pernah melakukan hal bodoh apapun di sana. Jangan membuat Mama disini kembali gila karena kehilangan kamu. Oke?" 


Humai mengangguk. Dia paham apa maksud mamanya itu. Namun, dalam kepala Humai tak pernah ada bayangan untuknya bunuh diri. Bahkan dulu, seberat apapun masalah yang dihadapi. Seberapa Hancur mentalnya diuji dia masih memilih bertahan. 


"Humai janji bakalan kuat demi Mama dan Jay."


Akhirnya malam itu, Humai berangkat bersama Syakir. Dua orang yang saling mencintai itu saling menggenggam dan menguatkan.


Humai dan Syakir, bukti cinta yang begitu nyata. Dua orang yang pernah saling menyakiti dan tersakiti itu ternyata mampu berada dalam satu langkah bersama.


Ketika orang bisa ikhlas dan menerima takdir. Ketika orang baik selalu berpikiran baik pada Tuhan. Maka dia percaya ada hikmah di setiap ujian. Maka ada alasan dibalik ujian yang Allah berikan padanya dan membuatnya semakin kuat. 


Mereka langsung menuju ke hotel dimana orang tua Syakir dan Jay berada. Ya Humai meminta bertemu putranya dulu. Dia ingin berpamitan meski dirinya tahu putranya pasti sudah tidur. 


"Maafkan Humai, Ma, Pa. Kedatangan Humai mengganggu waktu istirahat, Mama dan Papa," kata Humai saat mereka dibukakan pintu oleh Mama Ayna. 


"Jangan katakan itu lagi. Bukankah Mama sudah bilang bahwa kamu itu putri Mama. Jadi gak ada kata mengganggu atau apapun," kata Mama Ayna lalu membawa menantu hebatnya itu dalam pelukan.


Humai tersenyum dengan bahagia. Namun, air matanya berkaca-kaca tak bisa menggambarkan perasaannya sekarang. Dia bersyukur dikelilingi dan dipertemukan oleh keluarga mertua yang begitu baik padanya. Menganggapnya sebagai anaknya sendiri.


"Tuh!" 


Humaira berjalan pelan ke arah anaknya yang tidur dengan tenang. Dia duduk disamping Jay yang tengah memejamkan matanya dengan nafas teratur. Dengan pelan, dia mengusap kepala putranya lalu memberikan kecupan singkat di dahi Jay.


"Ibu sama Ayah pergi dulu yah. Hanya sebentar, Nak. Nanti kalau waktunya dudah tepat, Jay pasti ikut ke Malang. Tempat dimana Jay hadir dan tumbuh di rahim Ibu," kata Humai dengan meneteskan air matanya. 


Untuk pertama kalinya dia pergi jauh dengan putranya. Berpisah dalam waktu yang tak dapat diperkirakan. Jujur ini adalah hal berat. Biasanya mereka akan pergi berdua. Namun, kali ini dia harus meninggalkan putranya di Jakarta.


"Jay pasti mengerti, Sayang. Biarkan Mama dan Papa yang memberikan pengertian," kata Syakir pada mantan istrinya itu.


Humai mengangguk. Kembali dia mencium pipi putranya sebelum dia beranjak dari ranjang. Dirinya kembali menuju ke arah sofa yang ada kedua mertuanya disana. 


"Humai titip Jay ya, Ma, Pa," ujar Humai pada Mama Ayna dan Papa Haidar. "Maaf Humai merepotkan Mama dan Papa terus." 

__ADS_1


"Kamu gak ngerepotin," kata Mama Ayna menjawab. "Mama malah seneng Jay disini. Kamu berangkatlah ke Malang dengan hati-hati. Jay bakalan aman disini."


"Iya, Ma. Humai pamit yah," ujar Humai dengan mencium kedua telapak tangan mertaunya.


"Kamu gak bawa baju, Nak?" tanya Mama Ayna pada putranya.


"Nggak, Ma. Syakir nanti mampir ke apartemen. Baju Syakir kan disana," kata Syakir dengan tenang.


"Yaudah. Kalian hati-hati yah," kata Papa Haidar pada keduanya. "Syakir jagain Humai ya." 


"Iya, Pa." 


...🌴🌴🌴...


Malang.


Waktu telah berganti lagi. Langit malam telah hilang dan diganti dengan langit yang begitu cerah. Udaranya yang dingin di pagi hari tak membuat sepasang langkah kaki mengurungkan niatnya. 


Dia berbelok ke kiri. Berjalan menuju tempat dimana sosok anak yang pernah ia adopsi berada. Tempat dimana kesalahannya itu ada disana.


Ya kesalahan terbesar dalam hidupnya. Selama ini ia mencoba menutupi apa yang ia rasakan. Papa Haidar, tetaplah seorang pria yang merasakan bagaimana memiliki seorang anak.


Dia menyakiti Rachel pun tentu menyakiti dirinya juga. Jujur sebenarnya dia menyayangi Rachel. Sejak kecil anak itu memang bersama dengan pengasuh karena dirinya harus bekerja. Tambah istrinya yang semakin gila membuat Papa Hermansyah tak bisa memecahkan waktu untuk keduanya.


Maka dari itu dia memenuhi kebutuhan financial Rachel. Menuruti segala hal yang diinginkan anak angkatnya itu. Itu adalah bukti bahwa dia menyayangi Rachel. Hanya saja dia tak bisa menunjukkan rasa sayangnya secara langsung. 


Dia juga melewati ujian yang berat. Istri gila, anaknya harus dirawat oleh orang lain dan perusahaannya bermasalah. Rachel, tentu dititipkan pada pengasuh agar dia bisa melakukan segalanya. 


Akhirnya langkah kakinya berhenti di depan pintu kamar dimana Rachel berada. Papa Hermansyah menarik nafasnya begitu dalam. Dia mulai mendorong pintu utama dan membuat sosok yang sedang duduk di atas ranjangnya menoleh.


"Papa!" teriak Rachel yang masih mengingat siapa sosok Papa Hermansyah. 


~Bersambung

__ADS_1


Sabar tenang ntar lagi selesai loh. Kelar kelar setelah itu selamat ngebucin deh kalian yekan yekan. Bucin dah bucin.


Tapi aku gak berani baca komentar dari kemarin. Takut ntar mood nulis aku turun. Jadi aku bacanya setelah part Rachel Adam selesai yah.


__ADS_2