Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Jay & Jeno


__ADS_3

...Tak ada yang bisa memungkiri takdir yang sudah Tuhan siapkan. Entah itu pahit atau manis, semuanya sudah sesuai dengan porsinya....


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Terdengar suara canda tawa seorang anak laki-laki kecil yang usianya sudah dua tahun lebih. Dia terlihat begitu bontot dengan pipi gembulnya. Perutnya yang besar dan menggemaskan membuat siapa saja ingin mentoel pipi tembamnya itu. 


Anak itu selalu bahagia ketika bermain dengan siapapun. Bahkan wajahnya yang putih kadang sampai memerah karena terlalu banyak tertawa. Dia benar-benar salah satu penguat dari hati yang begitu merindukan seorang pendamping yang masih diharapkan kehadirannya. 


"Tangkap, Ibu!" 


Humaira lekas menangkap bola yang dilemparkan padanya. Kemudian dengan wajah bahagia, Humai mengangkat ke atas dan membuat Jay, berputar dengan bertepuk tangan.


"Ye. Ibu berhasil. Berhasil!" 


Humaira sampai mengikuti gerakan anaknya. Keduanya sedang bermain bersama di taman yang ada di komplek perumahan. Tempat ini adalah tempat favorit ibu dan anak itu karena bisa bermain dengan bebas dan bisa berinteraksi dengan anak yang lain. 


Perlahan Humaira menjatuhkan dirinya di atas rumput. Dia duduk disana dengan wajah yang memang terlihat begitu lelah. Wajar saja, perempuan itu baru saja kembali dari kampus.


Lalu dia langsung mengajak anaknya bermain di sini. Prinsip Humai memang selalu ia pegang. Meski dia sibuk belajar, dia sibuk kuliah tapi jangan sampai Jay kekurangan kasih sayang


Dia tak mau anak itu merasa ibunya tak ada waktu untuknya. Humaira tak mau putranya merasa dikesampingkan. 


"Ibu capek?" tanya Jay pada Humaira penuh perhatian. 


"Sedikit," sahut Humai dengan jujur. "Ayo kalau Jay masih mau main. Ibu siap." 


Jay menggeleng. Dia memegang kaki ibunya yang hendak beranjak berdiri.


"Ibu duduk disini aja. Biar Jay main sendiri!" 


Lihatlah. Bocah kecil yang dulu diperjuangkan mati-matian. Bocah kecil yang kehadirannya tidak diharapkan. Bocah kecil yang sebelum lahir, sudah ingin dilenyapkan kini lahir menjadi anak yang cerdas.


Jay adalah sosok anak yang tak pernah rewel. Bahkan ketika meminta apapun, anak itu tak pernah memaksa. Dia bahkan selalu mengerti jika Humaira pulang kampus terlalu malam, maka dia akan tidur bersama ibunya dan memijat kaki atau tubuh Humaira tanpa diminta.


Hal kecil itulah yang Jay berikan untuk ibunya tapi mampu membuat Humai merasa menjadi ibu yang beruntung. Dia ingat dulu pernah berpikir untuk menggugurkan kandungannya. Namun, saat detak jantung Jay yang masih dalam kandungan terdengar, membuatnya memilih mempertahankan kandungannya.


Dan terbukti sekarang! 


Anak yang ia pertahankan ternyata mampu membuatnya bahagia sepanjang hari. Mampu membuat lelahnya menjadi rasa bahagia. Mampu membuat sedih yang hendak muncul lekas menepis dengan kehadirannya.


Sampai akhirnya Humaira bisa memetik hikmah yang Tuhan berikan. Disinilah hal yang paling membahagiakan ketika dia sudah rela mengorbankan semuanya.


"Jangan main di jalan yah. Jangan jauh dari Ibu!" kata Humai sambil menatap anaknya yang menggiring bola sendirian.


"Iya, Bu." 


Tak lama bunyi ponsel terdengar dari saku celana Humai. Hal itu tentu membuat perempuan dengan pakaian yang masih sama dipakai ke kampus segera mengangkat teleponnya saat nama Lidya tampil disana. Humaira yakin jika ada sesuatu yang terjadi pada sahabatnya itu. 


Sedangkan Jay, bocah itu terus bermain dengan bahagianya. Dia mendengar nasehat ibunya untuk bermain di sekitar ibunya saja. Sampai akhirnya terlalu kencang menendang. Bola miliknya terlempar dan menyebrang di jalan.


"Ya. Bola Jay!" ujarnya dengan berdiri di pinggir jalan. 


Mata anak itu menatap ke kanan dan ke kiri. Jay sepertinya sedang ingin mengambil bola miliknya. Namun, mengingat nasehat ibunya yang tak mengizinkan dirinya bermain di jalan raya, membuat Jay hendak berbalik dan meminta bantuan ibunya. 


Saat dia hendak berlari ke arah Humaira. Jay melihat seorang pria dengan kemeja yang membalut tubuhnya dan celana hitam panjang membuatnya menghentikan langkah.

__ADS_1


Bibir bocah itu melebarkan senyum saat pria itu berjalan ke arahnya. 


"Ini." Pria itu menyerahkan bola kesayangan Jay yang langsung diterima oleh anak itu.


"Makasih, Om. Sudah mengambilkan bola punya Jay," kata anak itu dengan sopan. 


Pria yang ada di depannya tertegun. Dia tak menyangka anak seusia Jay bisa mengatakan hal yang sangat sulit dilakukan oleh seusianya. 


Kata maaf, tolong dan terima kasih adalah tiga kata yang sangat sulit untuk dilakukan. Namun, melihat bagaimana anak itu yang lancar mengatakannya membuat pria itu kagum dengan parenting orang tuanya.


"Kamu main sendiri?" tanya pria itu pada Jay.


"Iya, Om," sahut Jay langsung. "Tadi main di temani Ibu tapi karena Ibu capek, jadi Jay main sendiri." 


"Mau main sama Om?" 


Mata anak itu berbinar. Jay mendongak dan menatap wajah pria dewasa di depannya dengan lekat.


"Memangnya Om mau? Om gak capek?" tanya Jay penuh perhatian. "Baju Om seperti Opa kalau pulang kerja. Terus Ibu selalu bilang kalau Opa pake baju begini berarti Opa capek habis kerja." 


Pria itu semakin dibuat kagum. Bicara Jay yang dewasa membuatnya entah kenapa senang dengan tingkah laku Jay. 


"Nggak kok. Om habis dari belajar," kata pria itu dengan yakin. "Jadi ayo main!" 


"Ayo!" 


Jay berlari mengambil sandalnya. Dia lalu meletakkan sandal itu berdampingan dengan diberi jarak seakan itu adalah gawangnya.


"Ini gawang buat masukin bola ya, Om!"


...🌴🌴🌴...


"Iya, Lid. Desain itu udah bagus tapi warnanya coba kamu ubah sedikit. Menurutku terlalu mati warnanya," kata Humaira dengan menatap layar yang menunjukkan video sahabatnya sedang meminta pendapat.


"Yaudah. Makasih ya, Sayang. Nanti aku hubungi kamu lagi," kata Lidya lalu keduanya mulai melambaikan tangannya sebelum panggilannya terputus.


Humaira lekas meletakkan ponselnya dalam saku celana. Dia juga ingat telah mengabaikan Jay terlalu lama. Sampai akhirnya suara tawa dan candaan dari mulut Jay membuat Humaira penasaran. 


Wanita itu lekas berbalik dan matanya terbelalak saat melihat dua pria berbeda usia sangat jauh terlihat begitu bahagia. Namun, jantung Humai terasa seakan berhenti berdetak saat matanya dengan jelas melihat jika sosok yang bermain dengan putranya adalah dosen killernya itu.


"Pak Jeno!" panggil Humai yang berjalan mendekati keduanya yang terlihat sangat akrab.


Dua pria beda usia itu langsung menoleh ke arah Humaira secara bersamaan. 


"Humaira!" 


"Ibu!" teriak Jay yang berlari ke arah Humai dan memeluk kakinya. 


"Om, ini Ibu aku," kata Jay mengenalkan.


Entah kenapa Humaira merasa gugup dan seperti susah menelan ludahnya. Tatapan yang selalu dosennya itu berikan bisa membuatnya gugup setengah mati.


"Pak Jeno, maaf jika Jay merepotkan Anda. Jay…"


"Dia tak merepotkan. Bahkan saya yang mengajaknya bermain bersama!" 


Humaira cengo. Dia menatap putranya untuk meminta penjelasan.

__ADS_1


"Iya, Ibu. Om yg ngajak main Jay sepak bola disini," kata Jay dengan jujur.


Humaira meringis. Dia menatap dosennya itu dengan pandangan tak enak.


"Terima kasih banyak, Pak Jeno. Sudah menemani anak saya bermain. Saya sangat berterima kasih pada Anda," kata Humai tak enak hati. "Jika boleh membalasnya. Saya ingin membalas kebaikan Pak Jeno karena mau bermain bersama Jay."


Jeno terdiam kemudian dia menatap Jay yang dengan tenang berada dalam gendongan Humaira. Entah tatapan apa yang sedang diberikan oleh dosen tersebut dan Humao tak bisa mengartikannya.


"Bagaimana kalau kamu membalasnya dengan kita makan es krim bersama. Bagaimana, Jay?" 


Mata anak itu berbinar. Kepala mungil itu mengangguk dengan semangat. 


"Mau, Om. Mau es krim!" balas Jay dengan cepat. "Ayo, Bu!"


Akhirnya Humaira terjebak dengan ucapannya sendiri. Dia berpikir Pak Jeno akan menolak tapi ternyata dia tak menyangka jika dosennya meminta imbalan atas kebaikannya. Namun, jika dibanding dengan apa yang dosennya lakukan. Ini tak ada artinya.


"Naik mobilku saja, Humaira," ajak Pak Jeno saat Humai hendak berjalan ke arah rumahnya.


"Ah. Semobil?" gumam Humai dengan perasaan yang semakin tak enak hati.


~Bersambung


Lalala hahaha makin makin ye. Hahaha


Mampir ya di karya temanku juga



Cuplikan Bab


Brugh.. Brugh ..Brugh..


Seorang gadis di lempar ke luar oleh ayah ya sendiri beserta barang barang dan pakaian nya .


"Pa..papa .. dengarkan aku dulu pa " ucap gadis itu di iringi dengan tangis .


"Dasar anak tak tahu di untung, kau memalukan ku saja" bentak laki laki yang di panggil nya papa.


"Pa.. Shila mohon jangan usir Shila pa .. Shila mau tinggal dimana pa Shila gak punya siapa siapa selain papa " ujar Shila gadis yang di usir ayah ya.


"HAlah ,udah pa gak usah di kasihani anak seperti dia memalukan keluarga saja" ujar wanita yang di samping ayah Shila dia adalah ibu tiri Shila yang memang tidak suka dengan Shila .


"Ma .. Shila mohon ma .. jangan usir Shila " ujar Shila pada ibu tiri nya .


"Aku tidak peduli kau mau tinggal dimana , anak seperti mu memang pantas di usir " bentak laki laki itu. Lalu kembali masuk ke dalam rumah meninggalkan Shila yang terduduk di tanah.


"Pa..papa .. dengarkan Shila dulu pa " teriak Shila yang tak di indahkan papa nya


"Untuk apa kau berteriak .. papa mu tidak akan mendengarkan mu kamu sungguh membuat keluarga mu malu " cibir ibu tiri nya yang tersenyum sinis


"Cepat pungut baju baju mu dan pergi dari sini " pekik ibu tiri nya , seperti nya dia begitu puas dengan memarahi Shila .


Dugh..


Ibu tiri nya masuk ke dalam rumah membanting pintu keras membuat Shila terkesiap .


Shila memungut satu persatu baju nya untuk di masukan kedalam koper setelah selesai memasukan semua baju nya Shila pergi meninggalkan rumah nya .

__ADS_1


__ADS_2