
...Aku akan melakukan segala cara untuk membuatmu bisa terus tersenyum dan melupakan segala kenangan yang sudah aku lakukan di masa lalu. ...
...~Guntur Syakir Alhusyn...
...🌴🌴🌴...
Akhirnya setelah menunggu hampir dua puluh menit. Syakir akhirnya datang dengan membawa nampan berisi semua pesanan keluarganya. Dia meletakkan dan menata makanan itu di atas meja.
Dirinya melakukannya dengan wajah tanpa beban. Dia benar-benar menikmati hidupnya sekarang. Pekerjaannya, lingkungannya, takdirnya, semua telah Syakir Terima dengan lapang dada.
Menurutnya semakin dia menerima dan ikhlas. Seakan Tuhan semakin selalu mengabulkan doanya. Ya, Syakir mengakui akan hal itu. Dia semakin dekat dengan Tuhannya. Apa yang dia lakukan, apa yang dia jalani ternyata tak luput dari setiap doa yang ia untai dalam shalatnya.
Syakir tak pernah mengatakan bahwa dirinya lebih baik. Bahwa dia lebih baik hubungannya dengan Tuhan. Syakir selalu menyembunyikan ibadah dan kebaikannya. Dia hanya ingin menikmatinya sendirian.
"Kak Syakir ayo duduk. Kita makan bersama!" Ajak Sefira sambil menarik tangan Kakaknya yang hendak pergi.
Syakir tersenyum. Dia mengusap kepala adiknya dengan sayang.
"Kakak harus bekerja, Giska. Kamu makanlah bersama Mama dan Papa. Kakak sudah makan tadi!"
Wajah Sefira berubah menjadi cemberut. Dia benar-benar tak suka penolakan atas kakak kandungnya itu.
"Jangan cemberut. Kakak harus bekerja," Kata Syakir mencoba merayu.
"Gak mempan rayuannya," cibir Sefira dengan mengalihkan tatapannya.
Syakir terkekeh. Adiknya kembali ke mode semula. Selalu memaksanya jika tak sesuai dengan apa yang dia inginkan. Selalu ingin membuatnya menuruti segala hal yang Sefira lakukan.
"Yaudah. Gimana kalau nanti malam kita keluar, hmm? Kakak bakalan traktir kamu dan kita makan bersama?" Tawar Syakir berusaha membujuk adiknya.
Bibir yang mulanya cemberut. Kini tiba-tiba mengembangkan senyumannya lagi. Mata yang tadinya sedih kini berbinar cerah.
"Beneran? Kakak mau ajak aku keluar nanti? Makan bersama? Traktir aku?" Tanya Sefira dengan menaikkan salah satu alisnya mencoba meyakinkan kakak kandungnya itu.
"Ya. Kakak serius. Kamu mau makan ramen atau apapun. Kakak turuti," Ujar Syakir dengan serius.
Kepala Sefira mengangguk. Dia menarik tangan kakaknya mengajak bersalaman.
__ADS_1
"Deal. Kita nanti makan malam dan semua ditanggung oleh Kakak," Ucap Sefira dengan wajah bahagia yang membuat Syakir mengangguk.
Akhirnya dia bisa membujuk adiknya itu. Dia sejak dulu tak suka melihat muka murung Giska. Syakir benar-benar benar menyayangi adiknya itu melebihi apapun.
"Yaudah. Ma, Pa, Syakir kembali kerja dulu yah. Kalian pulangnya hati-hati," Kata Syakir pada orang tuanya. "Jay juga, jangan rewel ya, Sayang. Nanti malam kita jalan-jalan!"
Jay yang tadinya hendak mengatakan ikut akhirnya mengangguk. Wajah anak kecil itu begitu bahagia saat dia tahu bahwa dirinya juga diajak jalan-jalan. Dirinya tak bisa menutupi rasa bahagianya saat ini hingga membuatnya makan dengan semangat.
"Makan yang banyak, oke, Boy?" Kata Syakir pada putranya.
"Siap, Ayah."
...🌴🌴🌴...
Sedangkan ditempat lain, terlihat seorang perempuan tengah menunjukkan finish desain yang akan dibuat dengan modelnya nanti. Semua yang ia lakukan sebaik mungkin. Apa yang ingin ia tunjukkan, ia tonjolkan semuanya benar-benar sempurna di mata pria muda yang menilai hasil semuanya.
"Saya yakin dress ini akan laku keras di sana, Humai. Kinerjamu benar-benar memuaskan!" Kata Jeno pada wanita yang masih menduduki hatinya itu.
Humaira tersenyum bahagia. Bukan karena pujian Jeno. Melainkan dia puas pada dirinya sendirinya. Akhirnya setelah dia mempush dirinya, berusaha menjadi yang lebih baik dari yang baik. Berusaha mengejar semua target yang ingin ia lakukan. Kini dia bisa membuktikan.
Dia bisa membuktikan bahwa dirinya bisa. Kini ia bisa mengatakan pada dunia, bahwa wanita yang dulu dihina, dicaci maki, mendapatkan pembullyan bisa berdiri sampai di titik ini.
"Terima kasih banyak, Pak," Ujar Humai dengan seprofesional mungkin.
Meski mereka saling kenal, meski Humai tahu perasaan dosen killernya kepadanya itu. Dia tak mau memanfaatkan apapun. Dia tak mau mendapatkan nilai puas karena tahu Jeno menyukainya.
Dia tetap bersemangat. Dia tetap terus belajar menjadi yang lebih baik. Dia akan membuktikan bahwa dia bisa sukses atas usahanya sendiri.
"Sama-sama," Balas Jeno mengangguk. "Kamu bisa langsung pulang dan jangan lupa siapkan semua keperluan kamu selama di Korea."
"Tinggal beberapa minggu lagi memang. Tapi menyiapkan dari sekarang itu lebih baik agar tak ada yang ketinggalan!" Kata Jeno menambahkan.
"Baik, Pak."
Akhirnya Humaira mulai merapikan barangnya. Mengumpulkan semuanya menjadi satu agar tak berantakan. Setelah itu dia memasukkan ke dalam tasnya.
Namun, tak lama ingatannya kembali memutar ke kejadian yang baru saja terjadi. Kejadian yang sebenarnya ingin membuatnya tertawa dengan tingkah lucu sahabatnya.
__ADS_1
"Pak," Panggil Humai yang membuat Jeno yang tengah menatap layar laptopnya lekas mendongak.
"Ya?"
"Saya mewakili sahabat saya, ingin minta maaf sama, Bapak. Maafkan tingkah sahabat saya tadi. Dia memang selalu mengutamakan keselamatan kami berdua," Ujar Humai yang membuat Jeno tersenyum.
"Kamu seharusnya tak perlu meminta maaf, Main. saya yang salah. Saya memang yang terburu-buru dan tak melihat apapun tadi. Saya hanya ingin segera sampai arena ada panggilan," Kata Jeno dengan menatap wajah Humai.
"Tapi sama aja, Pak. Tolong abaikan semua ucapan sahabat saya, yah?"
Jeno terkekeh pelan. Mengingat bagaimana wanita yang baru pertama kali ia temui berani menyemprotnya dengan segala kata-kata yang memang menyadarkan dirinya bahwa ia salah.
Tingkah Jeno juga membuat Humai mengerutkan keningnya. Dia baru kali ini melihat sosok dosen killernya itu tersenyum pada seorang wanita yang telah memarahinya.
"Saya baik-baik saja dengan segala ucapannya. Sya juga sadar bahwa saya salah," Ujar Jeno dengan yakin. "Kalau boleh tahu dia siapa?"
Humaira semakin merasa aneh. Kenapa tiba-tiba dosennya ini tanya tentang sahabatnya. Namun, Humai segera membuang pikiran itu karena dia berpikir mungkin Jeno ingin tahu siapa wanita yang berani membentak dan memarahinya di pertemuan pertama.
"Dia Sefira, Pak. Sahabat kuliah saya dulu di Malang dan sekaligus adik kandung, mantan suaminya saya."
Jeno menatap Humai tak percaya. Apa yang ia dengar tak salah kan? Sefira wanita itu adalah adik kandung rivalnya dulu.
Namun, wajah mereka jika diingat memang sedikit banyak ada kemiripan. Dan hal itu membuat Jeno rasanya ingin menertawakan dirinya sendiri.
"Jadi dia adiknya Syakir?"
"Ya, Pak. Benar."
Jeno mengangguk. Dia tak lagi bertanya apapun lagi. Namun, bayangan wajah Sefira dan ekspresi wajahnya memutar di kepalanya.
"Saya pamit ya, Pak. Permisi, assalamualaikum," Ujar Humai sebelum meninggalkan ruangan Jeno.
"Waalaikumsalam," Sahut Jeno dengan bibir tersenyum kecil dengan membayangkan wajah Sefira.
"Gadis yang menggemaskan dan bar-bar sekali tingkahnya."
~Bersambung
__ADS_1
Hiyaa mulai kebayang-bayang ya pak. hahhaha. kasihan sabar yah.
Udah update dua bab hari yah. Hehe. Kurang berapa jadinya utangku guys.