Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Resmi Bercerai?


__ADS_3

...Percayalah ketika kamu berada di titik rendah dan merasa tak ada yang peduli, maka kamu akan mengingat masa ketika kamu berjaya dan ada sosok yang dengan tulus menghargai dan memperjuangkanmu....


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Kesepian dan kesunyian adalah masa yang menjadi mimpi buruk seseorang. Kehilangan segala hal yang pernah ia miliki adalah sakit yang luar biasa untuknya.


Tak ada lagi dekapan hangat, tak ada lagi penyemangat untuknya ketika dirinya merasa down. Tak ada lagi elusan lembut di kepalanya yang selalu membuatnya merasa menjadi anak kecil.


Dia benar-benar merasa sendiri. Seakan kekosongan hatinya semakin menjadi saat tak ada siapapun yang memperdulikannya.


Hingga ingatannya tertuju pada mimpi yang membawanya masih berada disini. Bunga tidur yang hadir ketika dia berada di meja operasi. Sosok anak kecil yang membawanya bisa kembali berpijak di tanah bumi ini. 


Dirinya juga masih mengingat bagaimana wajah anak itu yang sangat mirip dengan perpaduannya dan perpaduan wanita yang pernah hadir dalam hidupnya.


"Apa anakku sudah lahir?" gumamnya dengan menatap ke arah jendela di mana suasana Malang terlihat disana. 


Dirinya merasa sakit saat mengetahui jika semua yang terjadi padanya karena jebakan Rachel. Bahkan anak yang benar-benar darah dagingnya bisa ia ragukan kebenarannya. 


"Kenapa aku tak sadar sebelum mereka pergi?" ucapnya pada dirinya sendiri.


Tak lama suara pintu yang terbuka, tak membuat pria itu bergerak. Dia masih asyik berdiri di dekat jendela dengan penyangga infus di sampingnya dan kepalanya yang dibalut perban putih. 


"Maaf, Tuan Syakir. Waktunya makan siang," kata seorang suster yang beberapa hari ini Syakir temui semenjak dirinya sadar. 


"Letakkan saja disana!" kata Syakir tanpa peduli.


Pria itu telah bangun dari komanya. Dia bahkan mengingat semua yang terjadi sebelum dirinya tak sadarkan diri. Bagaimana cintanya dikhianati, bagaimana orang yang sangat ia percaya menikamnya dari belakang.


Lalu jangan lupakan, fakta tentang bagaimana kejadian pemerkosaan di kamar itu adalah ulah Rachel dan anak yang dikandung istrinya itu adalah anak kandungnya. 


Semenjak Syakir tahu semua ini. Dia seakan tak memiliki semangat hidup. Bahkan kepalanya terus berputar mengingat bagaimana bibirnya yang menghina Humaira. Bagaimana dia yang mencela anak yang bahkan belum lahir ke dunia. 


Dia hancur? Tentu saja.

__ADS_1


Menyesal? Sangat terpuruk dalam penyesalan.


Bahkan pria yang terkenal arogan, tegas dan kejam itu kini berubah menjadi sosok pendiam.


Syakir tak banyak bicara apapun. Bahkan saat polisi meminta keterangan, pria itu hanya menjawab seadanya dan sesuai dengan yang dia tahu. 


Dia benar-benar tak memiliki gairah hidup. Dirinya benar-benar sudah pasrah akan dalam hidupnya. Semua telah meninggalkannya seorang diri. Dari Mama, Papa, Adik kesayangannya dan wanita yang pernah menjadi istrinya.


Sampai akhirnya suara pintu yang kembali terbuka membuat Syakir menghela nafas pelan. Dia berubah menjadi sosok yang tak suka keramaian memang dan dirinya tak suka diganggu oleh perawat atau siapapun kecuali memang waktunya minum obat atau makan.


"Apa ada yang ketinggalan?" tanya Syakir tanpa menoleh. 


Tak ada jawaban apapun tapi Syakir juga tak mendengar suara pintu yang dibuka kembali. Jika seperti ini, Syakir bisa menebak jika ada seseorang di ruangan yang sama dengannya.


Dengan pelan Syakir berbalik hingga pandangannya tertuju pada seorang pria yang sangat ia kenali. Pria yang merupakan sosok pegangan dalam hidupnya, pria yang selalu menjadi kebanggaannya selama dia hidup di dunia.


"Papa!" lirih Syakir dengan tangan memegang penyangga infus.


"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Papa Haidar pada putranya.


Dekapan yang dulu menghangatkannya kini mampu ia rasakan lagi setelah sekian lama mereka bertengkar. 


"Mama mana, Pa?" tanya Syakir dengan wajah berbinar menatap ke arah pintu kamar.


Dia tak menyangka papanya ada disini. Jika begini Syakir sangat tahu bila kedua orang tuanya tak meninggalkannya sendirian.


"Mamamu sedang tak ada di Malang. Dia pergi bersama Giska," ucap Papa Haidar yang membuat senyuman Syakir surut.


Mulanya dia berpikir mama dan adiknya akan datang. Syakir juga bermaksud akan meminta maaf jika benar mereka semua datang menjenguknya. 


"Apa Mama tak tahu keadaan Syakir, Pa?" tanya Syakir dengan pandangan yang seakan penuh harap.


"Mama dan Giska sudah tahu, kalau kamu masuk rumah sakit," ucap Papa Haidar dengan berusaha mengabaikan tatapan anaknya. 


Papa dengan dua orang anak itu sejak tadi menahan kesedihan. Melihat penampilan anaknya yang sangat jauh berbeda membuat Haidar tak tega. Tubuh yang dulunya kekar itu, kini mulai menyurut. Wajah yang biasanya mulus dan rahang yang menggoda, kini mulai ditumbuhi kumis dan jenggot. 

__ADS_1


"Berikan Mama dan adikmu waktu untuk memaafkanmu, Syakir. Bukankah luka yang kamu berikan pada mereka terlalu menyakitkan?"


Hati Syakir terasa tertusuk. Dia benar-benar tak lupa bagaimana dirinya yang melawan mamanya, membentak adik perempuan yang sangat ia sayangi. Semua yang ia lakukan hanya demi membela Rachel. Wanita yang mengkhianati cintanya dan tak tahu rasa berterima kasih. 


"Duduklah. Papa ingin memberikan sesuatu untukmu!" kata Papa Haidar membantu anaknya untuk duduk di sofa yang ada disana.


Dua anak pria dengan wajah yang sama kini duduk berhadapan. Dengan pelan, Papa Haidar membuka tas yang ia bawa. Pria itu mulai meraih amplop coklat yang sudah ditandatangani hakim dan yang lainnya.


"Untukmu!" kata Papa Haidar pada anaknya


Syakir menelan ludahnya paksa. Dia menerima berkas itu dengan perasaan yang tak bisa dijabarkan. Dirinya sangat tahu logo yang ada di depannya.


Logo suatu instansi yang bergerak di bidang pengadilan agama.


Dengan ketakutan yang besar, pria itu lekas membukanya. Dia mulai mengambil kertas putih yang ada disana dan membacanya. 


Jantung Syakir terasa sakit saat kata tiap kata tergores penuh makna disana. Kata dimana menjadi bukti bahwa dirinya dan sang istri Humaira telah bukan suami istri lagi. 


"Humaira sudah menandatangani surat perceraian kalian dan itu menjadi bukti bahwa kalian resmi bercerai, Syakir!" 


Syakir terasa semakin lemas. Bahkan dia sampai melepaskan file di tangannya sampai jatuh ke lantai yang langsung diambil alih oleh Papa Haidar. Pria itu masih merasa linglung dengan kenyataan yang ada. 


"Bagaimana bisa Papa dan Mama memisahkanku dengan Humaira?" 


"Karena itu yang terbaik untukmu, Nak!" jawab Papa Haidar menatap putranya. "Humaira hanya sedang memberikan kamu waktu untuk tetap bebas melakukan apapun. Dia memberikan kesempatan kamu meraih kebahagiaan tanpa bayangan dirinya."


"Tapi aku menyesal, Pa. Bahkan aku sudah tahu jika semua ini ulah Rachel. Aku mengetahui apa yang terjadi setelah mereka pergi!" lirih Syakir yang membuat Papa Haidar menatap putranya dengan lekat.


"Kamu menyesal?" tanya Papa Haidar pada putranya.


"Sangat, Pa. Kenapa penyesalanku datang disaat istri dan anakku telah pergi?" 


~Bersambung


Soalnya kalau gak pergi, kamu gak sadar-sadar sih mas. Ngereog mulu tingkahmu.

__ADS_1


__ADS_2