Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Pagelaran Busana


__ADS_3

...Ternyata pertemuan kita sudah direstui oleh Tuhan. Hingga sejauh apapun aku pergi, kamu pasti menemukanku....


...~Humaira Khema Shireen...


...🌴🌴🌴...


Setelah mendapatkan kabar tentang Syakir dari kedua mertuanya. Humaira tetap melanjutkan hari-harinya tanpa memikirkan Syakir. Terlebih Papa Hermansyah telah menjanjikan bahwa mereka akan diawasi dari jauh dan anak buahnya akan mencari tahu dimana keberadaan Syakir.


Bukan berniat menjauhkan Jay dari ayah kandungnya. Bukan berniat untuk menjauh dari Syakir. Namun, Humai belum mendapatkan keberanian untuk bertemu dengan mantan suaminya itu.


Seakan rasa cinta dalam hatinya yang semakin besar, membuat Humaira takut dia akan semakin berharap pada mantan suaminya itu. Dia takut semakin menjatuhkan hatinya dan terpesona akan pesona Syakir yang sekarang.


Maka dari itu, biarlah kali ini dia berusaha untuk menjauh sejenak. Berusaha bersembunyi dari mantan suaminya itu.


Hari ini, Humaira akan pergi ke kampus. Dia akan mengadakan acara pagelaran busana di kampus hasil karya mereka. Ini juga ajang untuk mendapatkan nilai terbaik dari dosen mereka. Maka dari itu, Humaira sendiri sudah menyiapkan semuanya dengan baik.


"Gak ada yang ketinggalan, Sayang?" tanya Mama Emili pada putrinya.


Terlihat beberapa pakaian yang belum dibawa ada disana. Ada dua koper yang belum diangkut oleh orang kepercayaan papanya itu.


"Gak ada, Ma. Semuanya sudah siap," kata Humai dengan membenarkan pakaian putranya.


"Jay mau ikut Ibu?" tanya Emili yang melihat cucunya sedang bersiap.


Kepala mungil itu mengangguk. 


"Iya, Oma. Ibu bilang Jay boleh ikut," kata Jay menirukan perkataan ibunya.


"Tapi Jay harus ingat. Gak boleh nyusahin Ibu yah. Ibu disana juga ada kegiatan," kata Mama Emili menasehati.


"Siap, Oma. Jay bakalan nurut sama Mama," kata anak itu yang selalu ingat nasehat ibunya.


Akhirnya Jay telah selesai dengan sepatu sport yang melekat di kedua kakinya. Humai mulai beranjak berdiri. Dia juga mengambil tas miliknya lalu ia gantungkan di lehernya.


"Kamu bawa mobil sendiri?" 


"Nggak, Ma. Supir Papa yang antar," kata Humai sebelum dia mencium punggung tangan mamanya dan mendaratkan kecupan singkat di pipinya.


"Hati-hati ya, Nak." 


"Iya, Ma." 


Akhirnya mobil yang dikemudikan oleh supir Papa Hermansyah lekas melaju dengan kecepatan sedang. Mereka menembus ramainya Kota Jakarta di pagi hari. Suasana yang masih segar itu mampu membuat keduanya tak terjebak macet.


Hingga saat kendaraan roda empat itu sampai di parkiran kampus. Humai lekas membantu anaknya turun. Kedatangan Humai dengan bocah kecil laki-laki tentu membuat perhatian semua orang tertuju padanya.


Humai sudah tak merasa takut. Bahkan gadis itu tak merasa insecure dengan adanya Jay di sampingnya. Bahkan dia tak takut lagi di bully. Kejadian di masa lalu, dan kebenaran yang sudah terungkap membuat kehidupan Humai di kampus barunya begitu tenang.

__ADS_1


Semua orang bahkan menerima kehadiran mereka dan tak mengungkit masa lalu Humai. Maka dari itu, disinilah Humai bisa berkembang. Dia bisa menjadi dirinya sendiri meski perubahan dirinya sudah jauh dari masa lalu. 


"Jangan lepas pegangan sama Ibu yah. Ibu sambil bawa koper soalnya," kata Humai pada Jay saat sopir menurunkan koper berisi baju pagelaran miliknya.


"Iya, Bu."


Akhirnya ibu dan anak itu mulai berjalan menuju stand mereka. Mereka semangat untuk berjualan dan menunjukkan hasil karya mereka pada seluruh fakultas yang ada di kampus tersebut.


Selama perjalanan menuju stan. Banyak mahasiswa dan mahasiswi yang menyapa Jay. Bocah yang untuk pertama kalinya diajak masuk itu tentu melambaikan tangannya dengan ramah.


"Ibu, banyak yang kenal sama Jay, yah?" 


Humaira terkekeh. Putranya ini memang sangat percaya diri sekali. Berbeda dengan dirinya dulu yang pemalu.


"Iya, Sayang. Jay udah terkenal disini."


Jay tak bertanya lagi. Sampai akhirnya saat mereka sudah hampir sampai di stand Humai. Suara teriakan dua perempuan prik yang sangat Humai sayangi muncul.


"Halo, Mamud cantik dan si bocah tampan," sapa Mira dengan hebohnya.


"Halo ponakanku yang manis," sapa Lidya pada Jay.


"Halo,  Ante Mira, Ante Lidya," sapa Jay pada duanya dengan tersenyum. 


"Ya tuhan. Senyumannya manis banget loh, Mai. Gue pacarin nih anak yah!" 


"Jangan aneh-aneh. Gue gak mau punya  


mantu modelan kayak kalian," cibir Humai dengan bercanda.


"Ya tuhan jahat banget. Cocok jadi mertua kejam lo, Mai!" 


"Biarin!" kata Humai yang mulai mengeluarkan busana miliknya.


Berapa desain pakaian Humai sudah tertata rapi. Saat ini gadis itu mengeluarkan model dress dengan potongan pendek sepaha dan lengan pendek dan ada yang seperempat lengan. 


Beberapa motif dari bunga dan polos semuanya ada. Karakter ini memang menggambarkan sebuah tema kebahagiaan. Apalagi jika dipakai foto ala ala Korea juga cocok.


"Jay gue bawa ke Stand kita ya, Mai. Biar Lo bisa puas mengapresiasikan karya luar biasa Lo ini," kata Mira pada temannya itu.


Humai yang memasukkan bajunya ke patung lekas menoleh.


"Oke. Titip Jay yah." 


"Siap!"


Sepeninggal Mira, Lidya dan putranya. Humai mulai memasang poster penjualan untuk pagelaran miliknya di depan Stand. Gadis itu benar-benar sudah memikirkan semuanya dengan matang. Dari tema, desain dan model baju yang lagi trend semua Humai lakukan dengan baik dan sempurna.

__ADS_1


Bahkan kabar tentang perwakilan Humai yang akan ke Korea sudah menyebar ke seluruh kampus. Nama dan foto Humai telah terpajang di dalam kampus dan dia juga mendapatkan banyak doa dari teman-temannya agar dia bisa menjalin kerja sama dan desainnya diterima.


"Semangat, Humai. Kamu pasti bisa melakukan semuanya!" kata Humai menyemangati dirinya sendiri.


...🌴🌴🌴...


Sedangkan di tempat lain. Terlihat dua orang perempuan tengah memohon pada dua pria yang saat ini merasa pusing dengan tingkah keduanya. Sepertinya pembicaraan keduanya seperti sebuah permintaan.


"Ya, Kak Syakir. Ya temani kami lihat pagelaran di kampus," pintanya pada lelaki yang saat ini tengah menatap ponselnya sedang mengerjakan sesuatu.


"Kalian pergilah. Itu kampus kalian. Jadi hanya kalian yang boleh masuk," kata Syakir tanpa menatap kedua pria itu.


"Kata siapa. Kita boleh ajak teman. Sekalian mempromosikan karya mereka juga," kata seorang perempuan yang memiliki kulit lebih putih. 


"Malas!" balas Syakir tanpa menatap mereka.


Merasa kesal dengan dua pria di depannya ini. Akhirnya dua perempuan yang merupakan teman kerja Syakir, atau bisa dibilang anak kuliah yang kerja part time di restoran tempatnya bekerja, mengambil ponsel Syakir dan temannya. 


"Kembalikan!" kata Syakir yang sedang mengerjakan pekerjaan membantu papanya.


"Kak Syakir harus mau dulu. Baru aku kembalikan!" kata perempuan tetap kekeh.


Syakir yang tak bisa menolak akhirnya dengan berat menganggukkan kepalanya.


"Baiklah. Aku ikut!" 


~Bersambung


Penyesalan terbesar ketika kita melihat orang yang pernah kita hina ternyata bisa sukses melebihi dirinya sendiri.


Kali ini no typu. Next bab kubuat kau jungkir balik liat mantan glow up Bang Kikir.


mampir juga ke karya temanku ya



Bara tersenyum sinis, dia menaikkan bahu dan alisnya setelah mendengar perkataan Maura, "Hah! Apa kamu bilang? Cemburu? Aku? Apa kamu bercanda? Rasa cemburu hanya dimiliki oleh orang yang memiliki perasaan cinta, kau tau aku tidak memilikinya untukmu!" Bara memegang kedua pipi Maura dengan keras, kedua kakinya mengunci tubuh mungil Maura yang berontak.


Kekejaman Bara tidak hanya disitu saja, tidak hanya menyiksa tubuhnya. Tapi juga mental dan hatinya, itu yang lebih terluka.


"Kalau kamu tidak mencintaiku, kenapa tidak lepaskan saja aku? Apa susahnya?" Tanya Maura memberanikan dirinya. Terlihat dirinya sangat lelah dengan sifat Bara.


Pria yang aku cintai telah berubah, apalagi yang harus dipertahankan? Semua kehangatan itu. Semua cinta yang dia tunjukkan padaku sebelumnya, adalah cinta palsu. Aku lelah.. aku ingin mengakhiri semuanya. Maura membatin perih dalam hatinya.


Sekuat tenaga gadis itu menahan tangis, dia terisak dengan perlakuan suaminya.


"Beraninya kamu meminta aku melepaskanmu! Sepertinya belakangan ini aku terlalu lembut padamu. Baiklah, akan aku tunjukan betapa dalam aku cinta padamu, kalau kamu ingin tau!" Pria itu tersenyum sinis.

__ADS_1


__ADS_2