
...Momen ini adalah momen yang dulu pernah menjadi impianku dan sekarang ternyata Tuhan mengizinkanku untuk merasakannya....
...~Humaira Khema Shireen...
...🌴🌴🌴...
Humaira benar-benar tercengang akan aksi Syakir. Dia bahkan sampai menatap tak percaya ke arah pria yang mulai berjongkok di depannya dengan tangan yang memegang salah satu tangannya juga.Â
Humaira merasa dejavu. Dia merasa perasaannya tak menentu. Antara dia merasa terharu, bahagia dan sedih. Momen seperti ini adalah momen yang sangat dinanti oleh Humai sejak dulu.
Momen yang menjadi impiannya. Dia ingin dilamar oleh sosok yang sangat dicintai dan mencintainya. Dia ingin lamaran itu benar-benar terkesan tanpa rencana dan begitu natural.Â
Hal itu tentu sangat tepat sekali seperti apa yang dilakukan oleh Syakir sekarang. Humai merasa jantungnya berdegup kencang. Dia menatap Syakir dengan lekat dengan kedua matanya yang mulai berair.Â
"Aku…"Â
"Jangan menjawabnya jika kamu belum siap, Sayang. Katakan saja nanti jika kamu…"Â
"Aku siap, Kak. Aku siap," kata Humai srdikit berteriak dan tanpa beban.
Gadis itu benar-benar sudah menunggu momen ini sejak dulu. Dia juga menyimpan perasaan ini sejak lama. Entah kenapa semakin hari semakin kesini. Semakin dia melihat perjuangan Syakir. Entah kenapa dia tak mau lagi berbuat lebih jauh.
Humai sadar bahwa dia dan Syakir bukan anak remaja yang akan terus bucin dan pergi bersama tanpa ikatan halal. Di antara mereka sudah ada anak yang pasti menunggu kedunya bisa tinggal bersama.
Humai tak mau membuat jarak menunggu lagi. Dia tak mau putranya semakin lama menunggu hal yang sudah sejak lama Jay minta.
Bocah kecil itu sejak dulu ingin memiliki ayah. Jay pernah cerita bahwa dia ingin tidur bersama ayahnya, diantar sekolah oleh ayahnya dan bermain dengan ayah.Â
Semua hal itu tentu bisa dikabulkan jika mereka menikah lagi. Semua hal yang menjadi impian dirinya dan Jay bisa terjadi setelah mereka kembali menjadi seorang suami istri.
"Kamu serius?" tanya Syakir menatap Humai tak percaya.
Humaira menarik kedua pundak Syakir. Dia meminta mantan suaminya itu berdiri agar keduanya bisa mengobrol bersama. Tatapan keduanya saling pandang dengan lekat. Tanpa sadar Humai membawa Syakir duduk di atas ranjang pria itu dan berhadapan.
"Aku serius, Kak. Aku benar-benar mau kembali menikah denganmu," ujar Humai semakin jelas.
Syakir menerbitkan sebuah senyuman lebar. Dia merasa seperti mimpi sekarang. Sejak dulu bayangan ini tak pernah terlintas dalam pikirannya.Â
__ADS_1
Dia tak pernah berpikir jika wanita yang pernah ia siksa, ia sakiti mentalnya mau kembali dengannya. Dia tak pernah berpikir bisa mendapatkan hati Humaira kembali. Namun, ternyata semua itu bisa berubah. Semua bisa kembali ke sedia kala ketika Tuhan telah memberikan jalan dan restu pada keduanya.
"Aku serius, Kak," jawab Humai sambil mengulurkan tangannya dan mengusap pipi Syakir. "Aku tak mau kita terus bersama tanpa sebuah hubungan. Aku dan kamu bukan anak remaja. Barusan…"
Humaira menjeda. Dia merasa kedua pipinya memerah mengatakan ciuman yang terjadi begitu candu untuknya. Namun, Humaira hanya ingin mengatakan pada Syakir bahwa mereka bukan anak yang tepat untuk menunda hal baik.Â
"Kita saja sudah melebihi batas," lirih Humai yang membuat senyum Syakir semakin manis.
Dia tahu apa maksud mantan istrinya ini. Namun, entah kenapa Syakir ingin menjahilinya. Melihat wajah Humai yang malu-malu menjadi sesuatu hal yang menarik untuk dirinya sendiri.
"Memangnya kita ngapain, hmm?" tanya Syakir yang membuat Humai menaikkan kepalanya.
Dia menatap Syakir yang seakan menahan tawa dan hal itu membuat Humaira tahu jika mantan suaminya mengerjainya.
"Ih nyebelin banget sih!" ucap Humai mencubit paha Syakir hingga pria itu mengaduh.Â
Hal itu membuat Humak reflek memegang paha Syakir dan mengusapnya.
"Terlalu kencang yah. Maaf, Kak. Maaf," ujar Humai yang menatap paha Syakur dengan tangan terus mengusap.
"Aku tahu kita sudah sama-sama dewasa. Kita juga pernah merasakannya. Aku juga ingin segera menikah agar aku tak berdosa untuk menyentuhmu seperti tadi," ujar Syakir yang mulai berbicara dari hati ke hati. "Apakah kamu siap untuk dilamar dalam waktu dekat?"Â
Humaira benar-benar merasa hari ini penuh kejutan. Entahlah banyak hal yang tak pernah ada dalam listnya tapi Tuhan dengan baik membuat semuanya kembali seperti semula.Â
Dari doanya yang lalu untuk memberikan putranya seorang ayah. Dari yang dia berharap untuk menemukannya dengan pria yang tepat. Dari harapannya yang ingin kembali dengan Syakir versi yang terbaik.Â
Semua itu ternyata allah kabulkan sekarang. Tuhan benar-benar membuktikan kuasanya yang membuat Humai tak mampu mengatakan hal apapun lagi.Â
"Aku siap, Kak."
Syakir tersenyum. Tanpa kata dia menarik Humai dalam pelukannya.
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih sudah memberiku kesempatan untuk memulai semuanya dari awal," ujar Syakir dengan kebahagiaan yang tak bisa ia katakan lagi.
Humai mengangguk. Dia juga tak bisa menjabarkan tentang perasaannya sekarang.Â
"Jay pasti akan senang dengan kabar ini, Kak."Â
__ADS_1
Ah Humai baru menyadari sesuatu. Dia lekas melepaskan pelukannya dan menatap Humai dengan lekat.
"Ada apa, Kak?" tanya Humai yang terkejut dengan aksi Syakir.
"Kamu menerima lamaranku bukan karena Jay, 'kan, Sayang? Kamu menerima pinanganku bukan karena Jay yang…"Â
"Ustt!" Humai menutup mulut Syakir dengan telunjuknya.Â
Mata itu menatap mata Syakir yang terlihat khawatir.
"Jay bukan alasan yang tepat untukku kembali padamu, Kak," ujar Humai dengan jelas. "Aku mau kembali padamu karena aku memang mencintaimu. Aku ingin mengawali semuanya dengan baik karena aku tak mau kehilanganmu lagi."Â
Perasaan Syakir berbunga. Dia merasa bahagia dengan Humaira yang sekarang. Wanita itu taj tertutup lagi akan perasaannya. Humaira menjadi lebih terbuka dan jujur tentang apa yang dia rasakan.Â
"Aku tak mau melakukan semuanya dan menjadi kesalahan kedua. Aku ingin menikah karena aku memang mencintai, Kakak. Dan aku bahagia dengan versi Kakak yang sekarang."
Syakir benar-benar dibuat takjub oleh jawaban mantan istrinya. Dia semakin yakin jika kali ini hubungan mereka diawali dengan kejujuran. Hubungan mereka diawali dengan hal baik dan Syakir berharap semoga semuanya berjalan lancar.
"Aku akan segera melamarmu, Sayang."
"Aku akan menunggu dan…" jeda Humai yang membuat Syakir tak sabaran.
"Dan apa?" tanya Syakir yang sudah sangat penasaran.Â
Rasanya Huami ingin menahan tawa. Apalagi ketika melihat wajah mantan suaminya itu yang begitu tegang.Â
"Jangan melebihi waktu untukku berangkat ke Korea," bisik Humai yang membuat Syakir membulatkan matanya.
Ya dirinya baru sadar. Dia baru ingat jika akan ditinggal oleh pujaan hatinya.
"Kapan kamu berangkat, Sayang?"Â
"Kurang lebih dua minggu lagi," jawab Humaira yang membuat Syakir semakin terkejut bukan main.
~Bersambung
Awww ini mah kapal Syakir Humai gaspoll haha. OTW halal yekan. Aku yakin banyak yang nunggu haha.
__ADS_1