
...Ketika melihatnya ada di depanku dan memelukku begitu rapat. Aku mulai percaya bahwa semua yang terjadi bukan mimpi semata. ...
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
Suara kicau burung mulai terdengar di telinga dua orang manusia yang masih memejamkan mata. Dinginnya udara kota Malang tentu masuk melalui celah jendela dan membuat mereka saling merapatkan tubuhnya.
Sentuhan kulit yang hangat, membuat keduanya tak mau saling berjauhan. Namun, hal itu tentu membuat seorang perempuan, mulai menggeliat dengan pelan.
Dia mulai sadar akan tidur panjangnya. Matanya mulai bergerak dengan pelan. Dirinya terbangun dari tidurnya dan mulai membuka mata.
Pemandangan pertama yang dia lihat setelah sekian lama tidur sendiri adalah wajah Syakir yang begitu tenang dalam tidurnya. Pandangan pertama di pagi hari yang bisa dia lihat dan harus biasa dia pandang mulai hari ini.
Sosok pria yang mencintainya dan sangat dirinya cintai. Sosok pria yang dulu pernah menyakitinya ternyata kembali hadir dan memulai semuanya dengan begitu baik.
Sosok pria yang dulu menjadi luka lalu datang menjadi obat. Pria yang mau berubah demi kembali dengan mereka adalah pria yang ada di hadapannya.
Bibir Humai tersenyum. Dia banyak mendapatkan hikmah dari segala hal yang terjadi pada mereka berdua. Dia memiliki banyak syukur dari setiap tindakan Syakir padanya.
Tangannya terulur. Humai ingin menyentuh wajah pria yang tengah memeluknya ini. Dengan pelan, tangan Humai menyingkirkan rambut yang menutupi dahi suaminya dengan pelan.
"Aku kira semua yang terjadi adalah mimpi, Kak. Tapi sekarang, aku sudah yakin bahwa ini nyata, " Gumam Humai dengan pelan.
Tanpa diduga, sebuah tangan yang melingkar di perutnya tiba-tiba bergerak menariknya hingga lebih dekat. Tubuh Humai yang tak memakai apapun, kini semakin merapat dan menempel di tubuh Syakir.
Tentu hal itu membuat Humai terkejut bukan main. Matanya terbelalak tak percaya dan dirinya juga menahan tubuhnya agar suaminya itu tak semakin erat memeluknya.
"Ternyata kamu udah bangun, Kak? " Tanya Humai dengan pipi bersemu merah.
Ah, jadi apa yang dia katakan barusan didengar oleh Syakir. Untung saja dirinya banyak bergumam dalam hati. Untung saja dia tak banyak bicara hingga Syakir tak tahu apa yang tengah dibicarakan.
Perlahan mata Syakir terbuka. Dirinya langsung menatap ke arah Humai yang juga tengah menatapnya. Tatapan keduanya beradu dan kini membuat siapapun tahu jika mereka saling mencintai satu dengan yang lain.
Tak ada kebohongan di mata keduanya. Baik Syakir ataupun Humai. Keduanya sama-sama tengah dilanda cinta yang besar. Keduanya sama-sama diterpa kebucinan.
"Sejak kamu menyentuh wajahku. Aku mulai terbangun, Sayang, " Kata Syakir dengan jujur.
__ADS_1
Humai tak mengatakan apapun. Namun, dia malah semakin mengusap rahang tegas Syakir dengan pelan.
"Apa kamu masih berpikir ini mimpi, hmm? " Tanya Syakir dengan pelan.
"Iya, Kak. Terkadang aku berpikir ini mimpi. Aku masih tak percaya bahwa kamu kembali ke pelukanku, " Ujar Humai dengan jujur.
Membayangkan masa lalu keduanya. Bagaimana sikap Syakir dulu padanya. Hampir membuat Humai tak percaya jika keduanya bisa kembali bersama seperti ini.
Masa lalu yang begitu buruk. Seakan Syakir yang tak mau kepadanya. Ternyata dihancurkan oleh takdir Tuhan bukan. Apa yang pria itu katakan dulu, cacian, makian yang semua Syakir lontarkan ternyata menjadi ancaman balik padanya.
Ketika Tuhan dengan baik menyentuh hatinya, membuatnya berubah ternyata semua yang dulu dia benci kini dia cintai begitu dalam.
"Tapi ini bukan mimpi, Sayang. Pernikahan kita nyata dan kita telah kembali bersama, " Ujar Syakir yang dibalas anggukan kepala oleh Humai.
Tak lama, Humai mulai merasa ingin buang air kecil. Dirinya lekas mencoba beranjak duduk.
"Mau kemana, Sayang? " Tanya Syakir yang ikut duduk.
"Aku ingin buang air kecil, Kak, " Jawab Humai yang mulai menurunkan kedua kakinya.
Dia baru sadar bahwa dirinya tak memakai apapun. Maka dari itu dirinya menarik selimut yang membalutnya tadi untuk menutupi dirinya yang tak memakai pakaian.
"Sayang! " Pekik Syakir terkejut.
Humai melihat kedua kakinya. Dia merasa gemetaran. Sepertinya kakinya benar-benar lelah karena kegiatan keduanya semalam.
"Kakiku, " Lirih Humai menatap kakinya.
Syakir merasa kasihan. Karena ulahnya istrinya harus seperti ini.
"Sayang, maafkan aku. "
Humai menepuk lengan suaminya dengan pelan. Dia tak menyalahkan suami tercintanya itu. Bagaimanapun yang mereka lakukan atas dasar suka sama suka. Tak ada paksaan di antara keduanya.
"Lain kali jangan bikin aku kayak semalam yah. Kalau kek gini gimana? " Kata Humai dengan pelan.
Dia memikirkan Jay juga. Jika dirinya kelelahan seperti ini, tentu ia tak bisa menemani Jay dan melihat putrinya itu.
__ADS_1
"Aku tak janji tapi aku akan melakukannya lebih lembut, " Kata Syakir dan membuat Humai membulatkan kedua matanya.
Suaminya ini benar-benar otak omes sekali. Namun, Humai menerimanya karena mau bagaimana lagi dia adalah suaminya.
"Ayo kubantu ke kamar mandi, Sayang, " Kata Syakir tanpa menunggu jawaban akhirnya mulai mengangkat tubuh istrinya dalam gendongan.
Tentu hal reflek itu membuat Humai tak bisa protes. Kedua tangannya lekas melingkar di leher Syakir dan keduanya mulai menuju ke dalam kamar mandi.
"Duduklah disini dulu, Sayang, " Kata Syakir mendudukkan istrinya di closet.
Dia segera mengisi bathup dengan air hangat. Syakir ingin tubuh istrinya rilex dan menghilangkan penat. Setelah terisi penuh, Syakir perlahan membantu Humai berdiri.
Dia meletakkan kedua tangan istrinya di kedua pundaknya.
"Pegangan yang erat yah, " Ujar Syakir dengan pandangan tulusnya.
seakan terhipnotis akan pesona kedua mata Syakir. Humai hanya bisa mengangguk. Selimut yang membalutnya mulai dibuka dan akhirnya Humai telah polos layaknya seorang bayi. Syakir menggendongnya lagi dan mulai memasukkan Humai ke dalam bathup.
Saat air hangat menyentuh kulitnya. Humai merasakan ketenangan. Dia perlahan memejamkan matanya dan tak memperdulikan suaminya. Humai berpikir Syakir pergi keluar. Namun, tak lama, gelombang air yang bergerak membuat Humai membuka kedua matanya.
Dia reflek terkejut. Disana, suaminya itu. Guntur Syakir Alhusyn telah membuka seluruh pakaiannya dan mulai masuk ke bathup yang sama.
"Kakak ngapain ikutan masuk? " Tanya Humai dengan bingung.
"Karena aku ingin mandi denganmu, Sayang, " Jawab Syakir dan mulai memasukkan tubuhnya dan berhadapan dengan sang istri.
"Tapi… "
Ucapan Humai mulai tertahan saat tangan Syakir menyentuh kakinya. Pria itu mengusapnya dengan pelan dan mulai memijatnya hingga membuat Humai merasa kenyamanan.
Dia yang hendak marah dan protes perlahan mulai menyandarkan tubuhnya. Humai memejamkan matanya menikmati pijatan itu dan membuat bibir Syakir melengkung ke atas.
Dia tahu istrinya kelelahan. Dia tahu karena ulahnya istrinya tak bisa jalan. Maka dari itu, untuk menebus semuanya. Syakir memijat kaki istrinya itu dengan pelan dan begitu perasaan.
"Jika kamu sudah merasa tenang dan rilex. Aku akan meminta upah, " Ucap Syakir dalam hati dengan menahan sesuatu yang kembali bergejolak dalam dirinya.
~Bersambung
__ADS_1
Gak kaget sama otaknya Bang Syakir. Isinya omes mulu hahaha.