Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Curiga


__ADS_3

...Sepintar apapun kau menutupi sebuah keburukan. Pasti akan ada celah untuk Tuhan menampakkannya....


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Akhirnya disinilah Syakir berada. Di parkiran apartemen sang kekasih. Dia tak jadi pulang ke apartemennya karena mengingat bahwa dirinya meninggalkan Rachel di ruangannya sendirian.


Pria itu sangat tahu jika kekasihnya pasti saat ini sedang marah kepadanya. Syakir sadar bahwa ini juga kesalahannya yang mengabaikan Rachel karena masalah dengan gadis cupu tersebut. 


Dengan pelan dia segera menarik kopernya memasuki bangunan tinggi ini. Tanpa dia bertanya, Syakir sudah sangat mengenal tempat ini. Dia juga sangat paham tentang alamat ini karena dulu sering menjemput kekasihnya.


Entah setelah mereka berpacaran. Rachel tak pernah mengajak dirinya ke apartemennya. Mereka berdua hanya saling bertemu di apartemen Syakir dan menghabiskan waktu berdua disana.  


Setelah keluar dari lift. Syakir lekas berjalan menuju pintu paling ujung. Saat dia sudah berdiri di depan pintu itu. Syakir lekas memasukkan password kunci pintu apartemen sang kekasih.


"Kenapa gak bisa?" gumam Syakir saat angka yang dimasukkan salah. 


Syakir mencobanya lagi dan berakhir sama. Pintu itu tak terbuka dan membuat pria itu mengerutkan keningnya. 


"Sejak kapan Rachel mengganti password pintunya?" 


Akhirnya tak ada yang bisa dia lakukan kecuali memencet bel. Dia menekan bel itu beberapa kali. Tak ada sahutan apapun. Namun, Syakir tak menyerah. Dia yakin jika kekasihnya ada di dalam.


"Sayang! Kau di dalam bukan?" serunya dengan kesabaran yang mulai habis. 


Saat Syakir hendak berteriak lagi. Terdengar suara pintu yang mulai dibuka dan membuat Syakir memundurkan langkahnya sedikit.


"Maaf, Sayang. Aku dari kamar mandi," sahut Rachel dengan penampilan acak-acakan. 


Syakir menatap kekasihnya dari atas sampai bawah. Dia meneliti penampilan kekasihnya yang sangat berbeda. 


"Kamu habis ngapain? Kenapa keringetan gitu dan terlihat lesu?" tanya Syakir lalu melewati kekasihnya begitu saja.


Rachel mengusap dahinya. Dia lalu menutup pintu apartemen dan menyusul Syakir yang mulai duduk di sofa ruang tamu.


"Aku sudah bilang, 'kan? Aku dari kamar mandi. Perutku lagi mules mangkanya aku sampai keringetan gini," ucap Rachel lalu duduk di samping kekasihnya. 


Syakir kemudian duduk menyamping. Dia menatap kekasihnya dengan teliti. 


"Kamu habis makan apa?" tanya Syakir dengan mengusap kepala kekasihnya. "Kamu pasti salah makan, 'kan?" 


"Bukan salah makan. Aku gak makan dari pagi dan ke perusahaan sengaja buat ngajak kamu makan. Tapi bukannya makan, kamu malah ninggalin aku sendirian," sindir Rachel dengan memasang wajah kesal. 

__ADS_1


Syakir terlihat menyesal. Dia meraih bahu Rachel dan memeluknya.


"Maafkan aku, Sayang."


"Maaf maaf terus. Tapi kau akan mengulanginya lagi," ujar Rachel melepas tangan Syakir dari bahunya. 


"Aku janji tak akan mengulanginya lagi, Sayang. Pegang kata-kataku!" ucap Syakir dengan bersungguh-sungguh. 


"Kalau kamu mengulanginya lagi. Aku akan meninggalkanmu. Bagaimana?" tawar Rachel dengan wajah tak main-main. 


"Oke. Aku setuju," sahut Syakir dengan menganggukkan kepalanya. 


"Aku pegang ucapanmu. Aku gak bercanda, Sayang. Aku akan pergi kalau kau melupakanku lagi!" 


"Iya," sahut Syakir lalu menarik bahu Rachel lagi dan memeluknya dengan hangat. "Tapi aku tak akan mengizinkanmu pergi dariku. Jadi jangan harap kau bisa lepas!" 


Rachel memeluk Syakir dengan tersenyum miring. Lihatlah, pria itu bucin sekali dengannya. Dia sangat bahagia melihat bagaimana pria itu bertekuk lutut di kedua kakinya. 


"Oh iya. Kau dari mana, Sayang? Kenapa bawa koper?" tanya Rachel yang baru ingat dengan pertanyaan ini. 


"Aku mau menginap disini. Aku pergi dari rumah," ucap Syakir lalu menyandarkan punggungnya di sofa. 


"Ada apa, hmm?" tanya Rachel dengan penuh perhatian. 


"Mama memberikan sahamnya pada anak haram itu," kata Syakir dengan jujur. "Hal yang seharusnya menjadi hakku, malah direnggut."


"Lupakan masalah itu, Sayang. Bagaimana kalau kita minum bersama?" tawar Rachel dengan suara seksinya.


Syakir yang merasa frustasi akhirnya mengangguk. Ini bukan pertama kalinya keduanya mabuk bersama. Pernah Syakir dan Rachel minum dan berakhir dengan tepar di ruang tamu apartemen Syakir.


"Oke. Aku akan mengganti pakaian dulu. Boleh?"


Rachel yang mulai beranjak dan hendak menuju ke dapur mengangguk.


"Bawalah kopermu ke kamar, Sayang. Letakkan saja disana. Kita akan tidur bersama," ucap Rachel yang membuat Syakir mengangguk.


Pria itu dengan cepat menarik kopernya menuju kamar Rachel. Di apartemen itu memang ada dua kamar dan Syakir sudah tahu mana ruang kamar kekasihnya. Namun, saat melewati jalan menuju kamar.


Syakir melihat kamar yang satunya tertutup rapat. Pria itu mencoba membukanya tapi tak bisa.


"Tumben sekali kamar ini dikunci?" guman Syakir dengan bingung.


Dia dulu sangat tahu jika kamar ini tak pernah dikunci. Namun, kenapa sekarang tertutup. Memikirkan hal tak penting membuat Syakir memilih bodo amat. Akhirnya dia melanjutkan langkah kakinya menuju kamar. 

__ADS_1


Syakir mulai meletakkan kopernya di dekat pintu. Merasa gerah, pria itu lekas membuka pakaiannya dan berjalan ke arah lemari pakaian. Syakir hendak mengambil handuk baru. Namun, sesuatu tiba-tiba mengusik matanya. 


"Ini…" gumam Syakir saat melihat beberapa tumpukan kaos pria ada di sana. 


Syakir akhirnya membuka seluruh pintu lemari. Dia melihat beberapa baju pria ada disana. Wajahnya mulai memerah menahan amarah. Dia merasa Rachel bermain di belakangnya. 


Emosinya mulai naik. Saat pria itu hendak berbalik. Bersamaan dengan pintu kamar terbuka dan muncullah Rachel disana. 


"Sayang?" panggil Rachel terkejut.


"Baju milik siapa ini, Chel? Katakan!" seru Syakir dengan marah. "Kau bermain di belakangku? Kau selingkuh?" 


"Jangan menuduh sembarang!" sahut Rachel dengan wajah yang tak mau kalah. "Pakaian itu milik teman-temanku kuliah. Kalau kau tak percaya. Lihat aja di bagian sisi kiri. Disana juga ada pakaian sahabatku juga." 


Rachel mengatakannya dengan tenang. Bahkan gadis itu terlihat berbicara dengan jujur.  


"Kau jangan membohongiku!"


"Aku tak berbohong. Aku akan menelfon sahabatku jika kau tak percaya!" 


Saat Rachel meraih ponselnya di atas nakas lalu hendak menelpon. Syakir lekas mengambil benda pipih itu dan melemparkannya di atas ranjang. 


"Kenapa?" seru Rachel dengan marah. 


"Maaf, Sayang. Aku tak bermaksud menuduhmu. Aku hanya takut kau…" 


"Aku tak akan meninggalkanmu. Bukankah aku sudah berjanji seperti itu?" seru Rachel mengingatkan.  


Syakir mengangguk. Dia menarik Rachel ke dalam pelukannya.


"Maafkan aku. Aku juga berterima kasih karena kamu mau setia padaku, Sayang."


"Sama-sama." 


Keduanya perlahan saling menatap. Hingga entah siapa yang memulai, saat wajah mereka hendak berdekatan dan bibir mereka hampir menyatu. Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh yang membuat mereka saling menatap.


"Suara apa itu?" tanya Syakir dengan bingung. 


Rachel menelan ludahnya paksa. Dia menatap wajah Syakir yang seperti menatap ke sekeliling.


"Itu pasti benda jatuh, Sayang. Kalau tidak, itu pasti tikus. Sejak kemarin ada tikus di kamar sebelah." 


~Bersambung

__ADS_1


Lalala bener tikus gak yah? Hihi.


Maaf baru update yah. Aku baru selesai ngetik ini.


__ADS_2