Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Identitas Humaira


__ADS_3

...Aku mungkin merasa takut tapi keadaan membuatku harus menjadi sosok penguat dan mampu mengalahkan segala ketakutan yang ada dalam diriku....


...~Humaira Khema Shireen...


...🌴🌴🌴...


Keesokan harinya.


Saat waktu dimana para keluarga yang ada di ruang ICU boleh mengunjungi para pasien yang ada di dalamnya. Tentu membuat Humaira bahagia. Walau cuma lewat kaca pembatas aja, yang terpenting menurutnya sudah bisa menatap wajah Rein yang tengah terbaring di dalam sana. 


Dengan langkah pasti, Humai dan Sefira mulai berjalan menuju ruang pembatas antara pengunjung dan kamar ICU. Jendela itu masih tertutup tapi sudah banyak keluarga yang menunggu disana. 


"Hanya setengah jam, Mai," kata Sefira menunjuk sebuah info kunjung di ruang ICU.


Humaira mengangguk. Dia mengerti jika mereka memiliki waktu yang sedikit untuk melihat kondisi Rein sebentar lagi. 


Tak lama, tirai itu mulai dibuka oleh seorang suster dan membuat Humaira menatap adiknya dengan lekat. Mata Humaira berkaca-kaca. Apalagi saat melihat kondisi Rein disana. 


Tubuhnya sedikit lebih kurus. Wajahnya pucat pasi dan kulitnya sedikit lebih putih. Tak ada senyuman manis tersemat disana. Tak ada lagi suara yang selalu memanggilnya dengan penuh semangat. 


Saat ini semua itu sudah menjadi kenangan. Kenangan yang tak akan bisa tergantikan oleh siapapun. Kenangan yang akan menjadi pemanis ketika dia merindukan momen dengan adiknya itu.


Cepat sembuh, Rein. Ada kakak disini yang menunggumu. Ada kakak disini yang membutuhkanmu, lirih Humai dalam hati.


Air mata terlihat menetes di sana dan membuat Sefira lekas memeluk sahabatnya dengan erat. Dia sangat tahu jika kondisi sahabatnya sedang tak baik-baik saja. Humaira pasti sedang menahan segala kesedihan yang ia alami agar orang-orang tak merasa kasihan. 


"Jangan ditahan, Mai. Jangan merasa sendiri," kata Sefira mengusap punggung sahabatnya. "Ingat! Ada aku disini yang bakal selalu support kamu."


Humaira menjauhkan wajahnya dari pelukan Sefira. Dia mengusap kedua matanya yang terus meneteskan air matanya. 


"Makasih, Fir. Kamu selalu ada untukku!" kata Humaira dengan tulus.


Sefira mengangguk. Dia menggenggam kedua tangan sahabatnya dengan erat.


"Jangan terus berterima kasih padaku. Kita ini sahabat dan sudah seharusnya saling menolong." 


Akhirnya jam kunjung berakhir. Mereka mulai keluar dari sana dan berjalan ke salah satu kursi yang disediakan. Namun, saat Humai dan Sefira masih melangkahkan kakinya. 

__ADS_1


Dia merasa ada yang berbeda pada Humai. Dari jalan berjalannya yang membuat gadis itu sejak tadi menatap Humaira.


"Tapi, Mai. Tunggu!" kata Sefira menahan.


Humaira menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan menatap sahabatnya yang sedang menatapnya juga.


"Ada apa?" tanya Humai dengan mengerutkan keningnya. 


"Apa kamu sakit?" tanya Sefira khawatir.


Kepala itu menggeleng. "Aku baik-baik saja, Fir. Ada apa?" 


"Jalanmu terlihat aneh saja, Mai. Kamu kayak lebih membuka kakimu. Apa ada yang sakit?" 


Jantung Humaira mencelos. Dia terlihat gugup tapi mencoba menahan semuanya. Humai berusaha bersikap dengan tenang agar sahabatnya tak curiga kepada siapapun. 


Jujur ini adalah aib. Humai belum siap untuk bercerita dengan sahabatnya. Entah kenapa dia takut jika Sefira akan pergi meninggalkannya dan mengatakan bahwa dia juga wanita penggoda dan murahan.


"Oh itu," ujar Humai sambil mengusap tengkuknya. "Kakiku cuma capek aja, Fir. Mangkanya jalanku agak terbuka."


"Oh!" Sefira mengangguk tanpa curiga sedikitpun. "Lebih baik kita duduk dan kamu bisa istirahat." 


...🌴🌴🌴...


Disana terlihat suaminya sedang duduk berbincang dengan tangan kanannya. Hal itu membuat Ayna tahu jika suaminya pasti sedang membahas tentang apa yang dia minta kemarin.


Haidar adalah pria yang cekatan. Suaminya itu selalu melindungi keluarganya nomor satu. Meski terlihat cuek tapi perhatian Haidar sangat tinggi pada keluarganya.


"Aku sudah mendapatkan semuanya, Sayang," kata Haidar menatap istrinya penuh cinta.


"Saya pamit pulang dulu, Tuan Husyn," pamit tangan kanan Haidar dengan sopan.


"Hati-hati. Terima kasih sudah mendapatkan informasi ini dengan cepat."  


"Sama-sama, Tuan. Semoga Anda puas dan tak ada yang kurang di dalamnya."


Setelah kepergian tangan kanannya. Haidar menyerahkan dokumen berisi identitas Humaira secara lengkap pada istrinya, Ayna.

__ADS_1


Tentu ibu dua anak itu lekas menerimanya dan membukanya dengan tak sabaran. Perlahan tapi pasti, Mama Ayna membaca satu per satu yang sudah tertulis di sana.


Hingga sebuah gambar yang diambil oleh tangan kanan suaminya membuat jantung Mama Ayna mencelos. Tangannya gemetaran saat dia baru mengetahui satu fakta. 


Satu fakta yang sudah dia pikirkan kemarin saat Humai meminta uang kepada mereka. Ternyata apa yang ada dalam pikirannya adalah kebenaran. Jika uang itu digunakan bukan untuk foya-foya.  


"Humaira anak yatim piatu, Sayang. Ibunya baru saja meninggal dalam kecelakaan dan adiknya dirawat di rumah sakit," kata Ayna dengan air mata mengalir. "Jadi kemarin dia minta uang untuk perawatan adiknya." 


"Aku tak salah menilainya, Sayang. Aku yakin dia gadis yang baik dan itu memang benar," ujar Mama Ayna yang mendapatkan anggukan kepala dari suaminya.  


"Jadi kejadian kemarin, pasti membuat Humai banyak pikiran, Sayang. Bayangkan saja, disaat dia memikirkan keadaan adiknya, baru mendapatkan kenyataan tentang kematian ibunya lalu kemarin dia harus menerima jika perawannya diambil oleh putra kita. Sekuat apa hati gadis itu, Sayang?" 


Mama Ayna menangis. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Jangankan berada di posisi Humaira. Membaca jalan hidupnya saja, Mama Ayna sudah merasa sesak di dadanya.


Apalagi saat mengingat bagaimana dewasanya gadis itu, menerima segala cacian dari putranya. Tentu semakin membuat rasa bersalahnya semakin tinggi.


Humaira adalah gadis yang sangat baik dengan semua tingkah lakunya. Meski wajahnya tak cantik dan kulitnya kusam. Namun, ibu kandung Syakir bisa melihat ketulusan dalam hati Humai dan membuat nilai plus di matanya. 


"Aku tak akan pernah memaafkan Syakir jika dia benar-benar menyia-nyiakan Humai, Sayang. Aku berjanji akan ada di belakang Humai dan selalu membelanya." 


"Meski melawan putra kita sendiri?" tanya Haidar pada istrinya.


"Ya," sahut Mama Ayna tanpa ragu. "Aku yakin ada yang menjebak Humai dan Syakir. Aku sangat tahu bagaimana putraku, Sayang. Dia tak akan melakukan hal gila itu disaat dirinya bau alkohol." 


"Apa!" Haidar terkejut. Dia menatap istrinya yang mengangguk.


"Jika memang Syakir berniat meniduri seorang wanita. Aku yakin dia akan ada dalam keadaan sadar. Namun, bersama Humai? Putra kita dalam keadaan mabuk, Sayang."


Haidar mengangguk. Dia membenarkan ucapan istrinya itu. 


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Haidar sambil mengusap pundak istrinya.


"Cari tahu siapa yang membawa Humai ke apartemen, Sayang. Lalu berikan penjagaan dari jauh untuk calon menantu kita. Mama yakin Humai pasti mengandung calon keturunan Alhusyn." 


~Bersambung


Loh belum apa-apa udah diakuin calon mantu loh, haha. Udahlah si pecel mah, terima nasib aja.

__ADS_1


Jangan lupa klik like, komen dam vote. Biar author makin semangat updatenya.


__ADS_2