Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Bucinnya Bara dan Syakir


__ADS_3

...Terkadang berdamai dengan masa lalu adalah hal utama untuk mendapatkan kebahagiaan yang nyata. ...


...~Humaira Khema Shireen...


...🌴🌴🌴...


Pandangan Humaira terus tertuju pada dua pria yang memenuhi hatinya itu. Bibirnya bahkan ikut tersenyum saat suara canda tawa muncul dari bibir Jay dan Syakir. Dirinya tak bisa melewatkan hal seperti ini.


Hal yang sangat dinanti putranya. Hal yang dulu selalu putra tunggalnya itu tanyakan akhirnya mampu diraih oleh Jay sekarang. Dia bisa kembali bersama ayahnya. Bermain bersama Syakir dan menghabiskan waktunya dengan pria itu.


Jujurly semua itu tentu membuat Humaira merasa keputusannya adalah hal terbaik. Keputusannya dengan berdamai oleh masa lalu adalah momen terbaik untuk mendapatkan kedamaian seperti ini.


"Ibu! " Pekik Jay yang membuat Humaira berhenti melamun.


Dua wajah pria yang memiliki kemiripan itu melambaikan tangannya meminta Humai mendekat. Tanpa kata, perempuan itu segera berjalan mendekati Jay dan Syakir kemudian duduk di samping calon suaminya.


"Ibu sejak kapan berdiri disitu? " Tanya Jay dengan ekspresi wajahnya yang menggemaskan.


Humaira tersenyum. Dia mencubit pipi anaknya dengan gemas. Pemikiran Jay yang lebih dewasa dari umurnya terkadang membuat Humai takut. Takut jika anaknya selalu memendam apapun yang diinginkan. Namun, melihat bagaimana Syakir yang menghadapi sikap Jay. Membuat Humai yakin jika calon suaminya itu bisa menangani Jay dengan baik


"Baru saja, " Sahutnya lalu menatap kucing yang ada dalam pangkuan putranya. "Kucing siapa, hm?"


Kepala Jay menggeleng. "Tadi kucingnya kesini sendiri, Bu. Dia laper terus ayah ambilin makanan."


Jay menunjuk sebuah piring berisi nasi dan ikan.


"Kamu dapet dari mana, Kak? "


"Minta ke Mbak, di belakang, " Sahut Syakir yang membuat Humai menatap kucing itu yang berbulu putih kecoklatan.


"Mbak gak punya makanan kucing, 'kah? Itu kucing persia loh, Kak. "


Kepala Syakir menggeleng pelan. "Kata Mbak gak ada. Jadinya ya terpaksa aku memberikannya makanan nasi. Dia terlihat sangat kelaparan, Sayang."


Humaira tak bisa marah pada keduanya. Bagaimanapun Jay dan Syakir berusaha menyelamatkan kucing itu. Dia juga bisa melihat bagaimana calon suami dan anaknya begitu senang mendapatkan dan bermain bersama kucing yang baru mereka temukan.


"Apa Jay mau merawatnya?" Tanya Humai yang langsung mendapatkan jawaban anggukan kepala.


"Biar bareng sama kucing dari Om Jeno, Bu. "

__ADS_1


"Baiklah. Besok pagi, bawalah kucing ini keluar di perumahan bersama Ibu okey. Nanti kalau gak ada yang mengaku punya siapa. Kamu boleh ambil, " Ujar Humai menasehati putranya.


"Beneran, Bu? "


"Iya. Daripada dia hidup dijalanan? " Ucap Humai sambil mengusap bulu kucing itu yang terasa halus. "Kita bawa jalan biar ada yang lihat kucing ini. Siapa tahu kita ketemu sama yang punya."


Jay hanya mengangguk kemudian dia kembali bermain dengan kucingnya. Berbeda dengan Syakir, pria itu menatap ke arah calon istrinya dan memeluknya dari samping.


"Istriku memang yang terbaik, " Bisik Syakir dengan menatap Humai penuh cinta.


"Gombal! "


"Aku gak gombal, Sayang. Ini serius, " Balas Syakir tanpa mau melepaskan pelukannya.


"Ada Jay, Sayang. Lepas! "


"Gak mau? " Balas Syakir dengan manja.


Ah jika mode begini, rasanya Jay kecil kalah manja dengan papanya. Sungguh sikap Syakir jauh berbeda dari Syakir yang dulu. Atau Humai berpikir jika mode bucin, maka ternyata Syakir memiliki sikap yang super manja dan selalu menempel.


Jujur Humai bukannya merasa risih. Namun, dia malah bahagia. Bahagia melihat calon suaminya begitu manja dengannya. Bahagia melihat sisi lain Syakir yang begitu berbeda dari Syakir diluaran sana.


"Dari siapa? " Tanya Syakir pada calon istrinya yang mulai membuka kunci layar.


"Mbak Meera, " Sahut Humai lalu segera membuka pesan teks yang dikirimkan oleh wanita yang sudah dianggap saudaranya sendiri.


"Aku akan berangkat ke Malang besok pagi. Jadi bisakah kau menjemput kami di bandara? " Ucap Humai menirukan pesan yang dikirimkan oleh Almeera.


"Mereka datang, Kak, " Kata Humai menatap calon suaminya.


"Tentu. Mereka tak pernah mengecewakan, Sayang. Setiap hubungan yang dekat dengan mereka. Pasti mereka selalu memberikan yang terbaik, " Ujar Syakir yang merasakan bagaimana berteman dengan Almeera dan Bara terlebih dahulu.


Pasangan suami istri itu benar-benar tulus jika berteman. Tak pernah memandang sosial atau uang. Apapun yang membuat keduanya nyaman, pasti mereka juga akan melakukan apapun untuk mereka.


"Jadi besok kita jemput mereka ya, Kak? "


"Tentu, Sayang. Kita akan menjemput mereka, " Balas Syakir dengan mengusap kepala Humai begitu lembut dan membuat tatapan keduanya semakin dipenuhi cinta yang besar.


...🌴🌴🌴...

__ADS_1


Di Jakarta.


"Apa kamu yakin mereka senang dengan pesan kita ini, Mas? " Tanya Almeera yang tengah bersandar di dada suaminya itu.


Saat ini pasangan suami istri itu tengah duduk bersama di atas ranjang. Mereka tengah menikmati waktu bersama karena empat anaknya sudah tertidur dengan tenang sejak tadi.


Jujur waktu seperti ini selalu keduanya sisihkan. Waktu dimana antara Bara dan Almeera akan menghabiskan tanpa seorang anak di antara mereka


Bagaimanapun menurut keduanya, quality time itu perlu. Memperbaiki hubungan mereka, semakin mendekatkan hati keduanya dan yang terpenting selalu menjadi tempat curhat di antara satu dengan yang lain.


"Tentu, Sayang. Mereka pasti senang, " Balas Bara sambil menciumi leher istrinya itu.


Dia melingkarkan tangannya di perut Almeera. Menyusupkan kepalanya di leher istrinya itu adalah kegiatan yang paling Bara sukai.


"Lalu gimana dengan Reno, Mas? Apa dia mau? "


"Mau. Dia sudah kuberikan pesan dan ya, dia langsung balas, " Kata Bara sambil menunjukkan pesan yang dikirimkan oleh Reno.


Almeera mengangguk. Dia lekas meletakkan ponselnya di atas nakas. Bibirnya tak henti tersenyum. Ibu empat anak itu merasakan bagaimana bahagianya Humaira.


Jujurly dia adalah saksi bisu bagaimana Humai dulu. Bagaimana gadis itu yang hamil saat perceraian mereka dan melewati masa sulit itu sendirian. Semua hal yang Humai lewati dengan tangguh, membuat Almeera sangat menyayanginya.


Almeera sangat sayang pada Humai. Menurutnya wanita seperti Humai adalah wanita mandiri yang tak pernah menye-menye dan lemah dengan keadaan apapun.


"Sayang, " Bisik Bara yang entah sejak kapan sudah membuka kaitan baju bagian atas milik Almeera.


Ibu empat anak itu baru sadar ketika dinginnya AC menusuk dadanya.


"Nakal banget sih? " Kata Almeera menepuk tangan Bara yang mulai memijat dua buktinya dengan pelan.


Almeera sampai menyandarkan punggungnya di tubuh Bara. Dia memejamkan matanya menikmati pijatan suaminya itu.


Meski usia keduanya tak lagi muda. Meski umur pernikahan mereka bukan pengantin baru. Namun, baik Almeera maupun Bara selalu seperti pengantin baru.


Mereka selalu menghangatkan ranjang keduanya. Tak pernah sedikitpun keduanya mendinginkan ranjang mereka tanpa kebersamaan. Baik itu cinta keduanya, baik itu kebutuhan jiwa dan raga. Keduanya selalu menyempurnakan.


"Mas! " Lirih Almeera saat bibir Syakir mulai menggigit lehernya dan meninggalkan bekas kemerahan.


~Bersambung

__ADS_1


Ya gimana yah, mereka emang pasangan panas haha. Mau lama gimanapun mah, aksi mereka udah overload gilanya haha.


__ADS_2