
...Percayalah jika rejeki itu tak datang dari arah kanan, maka akan datang dari arah yang lain....
...~Humaira Khema Shireen...
...🌴🌴🌴...
Hari libur adalah hari yang sangat dinantikan oleh semua orang. Mereka bisa berkumpul dan menghabiskan waktunya dengan orang-orang yang terkasih.Â
Begitupun dengan Humaira. Hari ini ia diajak untuk CFD bersama keluarga Almeera. Dirinya tak bisa menolak. Wanita berhati baik yang merupakan istri dari sahabat suaminya mengajaknya dengan begitu antusias. Hingga untuk menolaknya, tentu saja Humai tak bisa.
Pagi-pagi sekali. Istri Syakir itu sudah bangun dari tidurnya. Dia berjalan ke arah lemari untuk mengambil dompetnya. Humai segera meraih benda kecil yang sudah lusuh itu lalu membukanya.
Bibirnya tersenyum miris. Dia menghitung sisa berapa uang tunai di dompetnya.
"Apa cukup uang segini membeli bahan makanan ke pasar nanti?" gumam Humai dengan pelan.
Dia menghembuskan nafas berat. Walau sudah menikah. Humaira tetap menggunakan uangnya sendiri atau lebih tepatnya, Syakir tak pernah memberikan nafkah kepadanya.Â
Humai tak meminta, dia takut jika suaminya benar-benar berpikir bahwa dia mata duitan. Humai menggunakan uangnya sendiri untuk belanja bahan makanan setiap harinya.
"Ingat, Humai. Gak boleh manja! Kamu masih ada uang di rekening. Jadi nanti kamu harus ambil uang," katanya menyemangati dirinya sendiri.Â
Saat dia hendak meletakkan dompetnya lagi, bersamaan dengan itu, suara ketukan pintu membuatnya lekas menutup lemari. Humai lekas mendekat dan membuka pintu kamar.
"Udah siap?" tanya Almeera saat pintu itu dibuka.
"Belum, Mbak. Ini aku baru selesai beres-beres kamar terus langsung mandi," sahut Humai dengan menatap Almeera yang sudah siap.
"Ya sudah. Aku tunggu di depan yah," kata Almeera yang langsung dijawab anggukan kepala.
Akhirnya Humai lekas pergi ke kamar mandi. Dia nanti akan meminta berhenti di pasar untuk membeli bahan makanan. Istri Syakir itu sangat ingat betul jika untuk makan malam, bahan makanan di rumah habis.
"Aku harus cepat mandi, karena takut Mbak Meera menunggu."Â
...🌴🌴🌴...
Kali ini, mereka akan pergi ke jalan ijen Malang untuk mengikuti kegiatan mingguan warga Malang yaitu Car Free Days. Kegiatan itu sudah merupakan hal lumrah bagi penduduk Malang asli. Ijen selalu menjadi tempat CFD an dan terkenal disana. Kegiatan ini tentu banyak sekali manfaatnya.Â
Selain untuk olahraga, bisa untuk jalan sehat sepanjang jalan, ada kuliner dan berbagai stand jualan aneka produk menarik juga. Benar-benar sangat amat lengkap sekali di sana. Akhirnya mereka mulai menaiki mobil yang dikemudikan oleh Syakir.Â
Humaira terus menunduk. Dia takut pada pandangan mata Syakir akan sorot mengancam. Dia yakin suaminya itu tak suka dia ikut. Namun, Humai mulanya menolak tapi Almeera terus membujuknya dengan dalih atas nama anak yang dikandung.Â
"Tante di sana nanti rame banget, 'gak?" tanya Bia yang duduk di antara Humai dan Almeera.
Abraham mengalah. Anak itu duduk di kursi paling belakang.Â
"Banget. Banyak muda mudi terus ada banyak pedagang makanan juga."Â
"Wah!" Mata Bia berbinar.
Mendengar kata makanan saja sudah bisa memancing selera anak kedua pasangan Bara dan Almeera.Â
"Mama nanti kita beli yah?"Â
__ADS_1
"Iya, Sayang. Tapi Bia harus jalan-jalan dulu. Oke?"
"Oke."Â
Akhirnya perjalanan yang memakan waktu hampir 45 menit itu mulai berakhir. Dari arah parkiran, bisa dilihat banyaknya pedagang makanan yang sudah standby disana.
Dari makanan basah, kering. Minuman hangat dan dingin semua tersedia disana. Macam-macamnya saja sangat banyak. Hingga hal itu membuat Bia berulang kali menelan ludahnya sendiri.Â
"Ayo! Jangan lihatin makanan mulu. Ntar Bia gendut loh!" goda Abraham menggandeng tangan adiknya itu.
"Ih. Gak bakal gendut!" seru Bia memukul lengan abangnya.
Mereka kini mulai berjalan bersama. Bara dan Syakir ada dibagian belakang. Lalu di depannya diikuti Almeera dan Humai. Kemudian tim paling depan yaitu Abraham dan Bia yang saling berceloteh satu dengan yang lain.Â
Dari semua pasangan bicara. Sepertinya pembicaraan Almeera dan Humaira adalah pembicaraan yang paling menarik di antara mereka.Â
"Kalau boleh tau, bagaimana kalian bisa menikah?" tanya Almeera menggandeng tangan ibu muda itu.
Humaira belum menjawab. Dia menatap ke depan dengan pandangan kosong seakan sedang mencoba memutar kejadian yang pernah ia lewati sebelum iniÂ
Kejadian berat dimana dia harus melaluinya dengan sendirian. Keadaan dimana jiwanya yang hancur semakin dibuat hancur oleh keluarga serta teman-temannya sendiri.
"Jangan dipaksakan!" kata Almeera mengelus punggung Humaira.Â
"Mungkin bisa dibilang pernikahan ini karena kecelakaan," ujar Humaira dengan spontan.
"Apa kamu…"Â
Humaira tak sanggup mengorek masa lalunya. Dia seakan selalu merasa gemetaran setiap kali ingatannya mencoba memutar ke kejadian di masa lalu.
Kejadian dimana masa depannya direnggut. Kejadian dimana dia tak bisa melanjutkan kuliahnya lagi. Hidupnya benar-benar ada di titik terendah paling rendah selama hidupnya.
"Aku hancur, Mbak. Aku bertahan selama ini hanya karena anak ini," jeda Humai menatap istri Bara. "Kalau tak ada anak ini, mungkin aku sudah bunuh diri sejak lama."Â
Almeera menggeleng. Dia merangkul bahu Humaira hingga keduanya berjalan sangat pelan.Â
"Jangan berpikiran untuk mengakhiri hidupmu, Hum," ujar Almeera menasehati. "Kehidupanmu masih panjang."
"Tapi hidupku sudah tak berarti, Mbak."
"Kata siapa?" tanya Almeera dengan pelan.Â
Humaira tak menjawab. Namun, bisa Almeera tebak jika orang yang dimaksud adalah sosok yang ada di belakang mereka berdua.
"Hidupmu sangat berarti. Malah berarti sekali," ujar Almeera dengan serius.
"Berarti untuk?"Â
"Untuk dia," jawab Almeera mengusap perut Humai yang mulai sedikir menonjol. "Untuk anak ini, kamu adalah ibu yang hebat."
"Kamu adalah orang terpilih yang dipilih Tuhan bisa melewati ujian yang dia kasih."
Humaira menggeleng. "Aku bukan orang terpilih, Mbak. Aku orang berdosa. Aku orang berzina."
__ADS_1
"Dosa dan Zina itu urusan Tuhan. Kita sebagai umat manusia hanya bisa meminta maaf, memaafkan, mohon ampun dan bertaubat."
Apa yang dikatakan Meera memang benar. Perihal manusia berdoa dan berzina, biarkan Allah yang menilai. Kita sebagai umat manusia yang sama rata dan sama kedudukan di mata Tuhan. Tak berhak menilai ibadah seseorang.
Bisa jadi orang yang kalian anggap banyak dosanya ternyata memiliki satu amalan yang mampu mengantarkannya ke surga.Â
"Apa Tuhan akan memaafkanku, Mbak?"Â
"Bukankah Allah maha pemaaf," kata Almeera dengan jelas. "Sebesar apapun dosa setiap hambanya. Jika ia kembali dan bersimpuh di hadapanNya, Allah masih mau menerima taubatnya itu."Â
Entah kenapa mendengar setiap nasehat yang keluar dari bibir Almeera ada perasaan tenang dan sejuk dalam diri Humaira. Dia berusaha yakin jika Tuhan pasti akan melihat perbuatan khilaf dan permintaan maaf serta taubatnya sekaligus.
"Terima kasih banyak, Mbak. Aku banyak belajar dari, Mbak Meera."Â
"Sama-sama."
"Mama ayo beli!" ujar Bia menarik tangan mamanya.
Akhirnya Almeera mengikuti langkah kaki anaknya. Ia tak menolak apapun yang diminta putrinya itu. Namun, istri Bara tak lupa mengajak Humaira untuk ikut dengannya.
"Bia mau itu!" tunjuknya pada sebuah penjual sosis bakar yang ada di sana.
"Boleh. Beli dua sama Abang, oke?"Â
"Oke, Mama."Â
"Kamu mau beli apa, Hum?".
"Nggak mau apa-apa, Mbak," jawab Humai pada Almeera.
"Mbak serius loh, Hum. Kamu mau apa?"
Humaira terlihat begitu bingung. Lalu mata Almeera turun sampai ke tangannya dan baru menyadari bahwa istri Syakir itu seperti sedang mencari sesuatu di dalam tasnya.
Apa Humai tak membawa uang? gumam Almeera dalam hati.
"Ayo!"Â
"Eh mau kemana?" tanya Humai menahan tangan Meera yang memegang tangannya.Â
"Kita beli makanan dulu. Kasihan anak kamu," sela Almeera tak mau ditolak.
"Tapi, Mbak."Â
"Jangan menolak rezeki apapun, Hum. Aku ikhlas membelikan."
Akhirnya Humaira mulai memesan satu makanan ke kedai yang menjual nasi disana. Dengan sabar dua istri itu saling menunggu dengan mata menatap Bia yang asyik membawa sosisnya.
Semua perlakuan yang Almeera berikan tak luput dari pandangan Syakir. Pria itu terus menatap ke arah Humai dan istri sahabatnya dengan lekat. Namun, lebih benarnya adalah, bahwa ia menatap ke arah Humai.
"Benar-benar gadis licik!"Â
~Bersambung
__ADS_1