Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Bertemu Lagi?


__ADS_3

...Jangankan untuk hidup bersamanya. Bermimpi satu rumah dengannya saja sudah membuatku seperti ada di neraka. ...


...~Guntur Syakir Alhusyn...


...🌴🌴🌴...


Setelah semuanya siap dan diizinkan oleh Dokter dengan syarat Humai harus benar-benar istirahat total membuat mereka berhasil membawa Humai pulang. Mereka tahu jika wanita hamil itu tak nyaman berada di rumah sakit. Humai juga bolak balik ke kamar mandi karena mual dengan aroma rumah sakit.


Dengan perlahan, supir mulai menjalankan mobil milik Sefira. Mereka meninggalkan halaman rumah sakit. Humaira hanya bisa menatap gedung itu dalam diam. Dia juga belum melihat kabar adiknya hari ini. 


Jujur Humai merindukan Rein. Biasanya dia tak pernah melewatkan satu haripun tanpa melihat adiknya itu. Namun, saat tadi dia meminta izin ke ruangan Rein. Orang tua Syakir dan Sefira tak memberikan izin karena takut emosi Humai tak terkontrol.


"Aku bukan mengekangmu, Ra. Kamu masih harus banyak istirahat," kata Sefira pelan sambil mengusap rambut sahabatnya. "Percayalah orang tuaku pasti berjuang untuk adikmu."


Humai menarik nafasnya begitu dalam. Dia sedih karena memikirkan jarak antara dirinya dan Rein akan sangat jauh. Rein akan ada di luar negeri dan dirinya ada disini. Namun, di sudut hati terkecilnya tetap saja. Humai ingin Rein sembuh. 


Humai ingin melihat senyuman adiknya lagi, canda tawa adiknya yang begitu bahagia. Rein adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki. Ia tak mau melihat Rein terus ada di atas brankar tanpa perubahan apapun.


"Aku terlalu banyak merepotkan keluargamu, Fir," lirih Humai merasa malu. "Aku…" 


"Sebentar lagi kita akan menjadi keluarga yang utuh. Jangan malu untuk meminta tolong. Setelah ini, gak bakal ada yang bisa nyakitin kamu meskipun itu Rachel gila. Kamu mengerti?"


"Ya aku mengerti." 


Akhirnya perlahan mobil yang membawa Humai dan Sefira mulai memasuki area perumahan. Kedua orang tua Syakir naik mobil di depannya ini. Mereka memang tak satu mobil karena milik Sefira mobilnya kecil. 


Mata Humai menatap kanan dan kirinya. Masih jarang ada rumah. Namun, dari jauh dia bisa melihat sebuah rumah besar dengan pagar besar yang menutupinya.


Saat gerbang itu dibuka, Humai membelalakkan matanya. Dia menatap rumah di depannya ini dengan pandangan tak percaya.


"Selamat datang di rumah Keluarga Alhusyn, Ra. Semoga kamu nyaman tinggal disini bersamaku," kata Sefira lalu mengusap perut Humai dengan lembut. "Dan si kecil Syakir bontot juga." 


Humai perlahan menunduk. Dia menatap tangan Sefira yang ada di perutnya. Ya disana ada darah daging pria yang membencinya. Ada darah daging dari keluarga yang begitu baik ini.


Entah kenapa Humai berpikir rezeki dan semua kebahagiaan ini hadir dari anak yang ia kandung. Anak yang hadir dari sebuah kesalahan ternyata mampu membuat Humai memiliki sebuah keberuntungan.


"Sehat-sehat ya, Nak," kata Humai dalam hati saat Sefira mulai turun duluan. "Ibu bakalan semangat jalani hidup karena ada kamu dan Abang Rein di dunia." 


"Ayo, Mai!" Sefira membukakan pintu mobil.


Dia membantu Humai turun lalu menggandeng tangannya untuk mendekati sepasang paruh baya yang sudah menunggu kedatangan mereka.


"Selamat datang, Nak," sambut Mama Ayna dengan lembut. "Semoga kamu dan calon bayi mungil ini bisa nyaman tinggal disini." 

__ADS_1


"Aamiin, Ma." 


Humaira perlahan menatap ke sekeliling. Pilar besar yang menjadi penyangga rumah bak istana ini semakin menambah kemegahan. Lalu halaman yang luas, tempat parkir mobil yang banyak membuat Humai menelan ludahnya paksa. 


Dia tak menyangka jika sahabatnya sekaya ini. Selama ini Humai tak pernah memperdulikan siapa itu Sefira. Dia anak siapa, dari keluarga mana, kaya atau tidak. Tak pernah ada dalam pikirannya.


Mereka berteman murni persahabatan. Tak mengenal jati diri keduanya dan tak mencari tahu. 


"Ayo, Nak. Masuk!" 


Saat pintu besar itu perlahan terbuka. Mata Humai semakin membulat tak percaya saat melihat bagaimana bagusnya, lebarnya dan mewahnya rumah ini.


Ternyata dibalik kemegahan yang indah di luarnya. Terdapat sesuatu yang lebih indah di dalamnya. 


"Antarkan Sefira ke kamarnya dulu ya, Sayang. Mama mau hubungi kakakmu dulu," kata Mama Ayna pada putrinya. 


"Siap, Ma." 


Sefira mulai menggandeng tangan sahabatnya untuk menuju ke salah satu kamar yang sudah disiapkan oleh orang tua Syakir.


Mereka juga sudah menetapkan bahwa kamar Humai akan ada di lantai satu agar calon menantu mereka tak merasa capek jika harus bolak balik ke kamar. 


Mereka hanya ingin membuat Humai nyaman. Mereka tak mau Humai kecapekan dan akan berdampak pada bayi mungil tersebut.


"Ini beneran kamarku, Fir?" tanya Humai tak percaya. "Ini terlalu besar untukku."


Humai bisa menerka jika kamar ini empat kali lebih besar daripada kamar tidurnya di rumahnya sendiri. Dia berkeliling lalu mulai mendekati Sefira yang hendak membuka rolling dor yang menghubungkan kamar dengan balkon kamar.


Meski kamar ini di lantai satu tapi Mama Ayna sudah menyiapkan kamar yang memiliki balkon agar calon menantunya bisa menatap taman samping rumah dan membuatnya terus merasa nyaman. 


"Kamu suka?" tanya Sefira dengan tersenyum.


Dari sini dia bisa melihat bagaimana mata Humai yang berbinar. Sefira sangat tahu jika sahabatnya pasti masih tak percaya pada hidupnya ini.


"Suka, Fir. Kamar ini benar-benar luas kalau untukku."


"Aku yakin kamu dan dedek bayi bakalan betah," kata Sefira dengan ikut bahagia. "Kamu istirahatlah. Nanti aku bakalan kesini setelah bangun tidur. Oke?"


"Oke!"


...🌴🌴🌴...


Waktu mulai beranjak naik. Benar saja Humaira yang kecapekan tentu tertidur dengan nyenyak. Ditambah ranjangnya yang empuk semakin membuatnya menikmati mimpi indah itu dengan puas. Namun, saat Sefira mengetuk pintu kamar Humai, membuat gadis itu segera bangun.

__ADS_1


"Masuk, Fir!" 


Perlahan pintu itu terbuka dan muncullah sosok sahabatnya.


"Kamu bangun tidur yah?" 


Humai mengangguk. Dengan pelan dia mendudukkan dirinya dan meminta Sefira duduk di atas ranjangnya.


"Kamu sudah mandi. Mau kemana, Fir?" tanya Humai dengan menatap penampilan sahabatnya.


"Gak kemana-mana," kata Sefira dengan cepat. "Ini baju rumahan aku." 


"Oh!" Humaira membulatkan bibirnya. Kepalanya mengangguk seakan paham apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu. 


"Ayo bangun setelah itu kita makan malam." 


"Makan malam?" Mata Humai membulat.


Dia menatap ke samping dan tak percaya saat diluar sana sudah gelap. Entah berapa lama Humai tertidur sampai dia tak sadar jika waktu sudah malam hari. 


"Iya. Ayo!" 


"Fir aku minta maaf baru bangun. Aku…" 


"Ngapain minta maaf. Udah ayo bersih-bersih. Aku tunggu di meja makan."


Humaira akhirnya lekas membersihkan dirinya dengan air hangat. Dia juga memilih menggunakan celana jeans panjang dan kaos agar terlihat sopan. 


Tak mau membuat keluarga Sefira menunggu. Humai lekas keluar dari kamarnya. Dia berjalan ke arah meja makan dengan terburu-buru. Sampai saat dia hampir sampai di ruang makan.


Tiba-tiba tubuhnya bertabrakan dengan sosok pria yang berjalan sempoyongan dan membuat tubuhnya hampir jatuh jika tak berpegangan. 


"Oh ****! Siapa sih!" umpatnya sambil mendongak.


Perlahan kepala keduanya mendongak dan membuat tatapan mereka bertemu.


"Kau!" seru Syakir dengan marah. "Ngapain kau ada disini, hah! Kenapa kau ada di rumah orang tuaku, Gadis Cupu!" 


~Bersambung


Ya entar lagi berantem lagi. Dasar Syakir. Siap-siap otw halal ye. 


Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.

__ADS_1


__ADS_2