
...Waktu banyak yang terlewati dengan sebuah pekerjaan. Pertemuan banyak berkurang karena sebuah kesibukan. Tapi sisakan sedikit waktu saja untuk menembus rasa rindu itu agar mereka bisa melepasnya dengan sebuah pertemuan. ...
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
Di sebuah asrama pria. Terlihat seorang pria dengan tubuh yang mulai berkembang pesat itu baru saja keluar dari kamar mandi. Dia mengusap rambutnya yang basah karena dia baru saja keramas.
Pria itu sudah bukan anak kecil lagi. Dia sudah bukan anak yang mampu disetir oleh siapapun. Dirinya sudah tumbuh menjadi anak yang usianya sudah termasuk dewasa.
Umur 17 tahun, usia yang saat ini membuatnya berjuang dengan gigih. Berusaha mewujudkan mimpinya. Berusaha mewujudkan apa yang ia dia berikan pada kakaknya itu.
Sebuah piala kemenangan, sebuah medali kemenangan karena dia juara. Ya itulah yang ingin dia berikan dan dia bawa pulang. Dia ingin mengatakan pada kakaknya bahwa dia berhasil dan sukses. Mewujudkan mimpinya dan mimpi almarhum ibunya yang telah tiada.
Tak ada paksaan apapun dalam sekolah ini. Dia memilih jurusan renang karena dirinya sendirinya, tempat sekolahnya juga atas kemauan dirinya sendiri.
Baik Papa Hermansyah maupun Mama Emili. Keduanya tak menuntut Reyn untuk mengambil jurusan perkantoran, manajemen ataupun bisnis. Kedua paruh baya yang sudah dianggap orang tuanya itu benar-benar mendukungnya dengan baik.
"Reyn! " Panggil seorang pria yang masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu.
Pria bernama Reyn itu menoleh.
"Kebiasaan masuk tanpa ketuk pintu! " Cibir Reyn dengan memutar bola matanya malas.
Sang pelaku hanya bisa tertawa tanpa dosa. Dia memang selalu seperti itu dan merasa bahagia melihat wajah Reyn yang protes.
"Sorry sorry!" Kata pria yang usianya sama dengan Reyn.
"Kau mau kemana? "
"Aku mau menemui keluargaku, Chen. Kakakku datang ke Korea, " Ujar Reyn dengan wajah yang tak bisa menutupi kebahagiaannya.
Jujur dia merasa sangat senang. Apalagi saat Humai telah mengatakan padanya beberapa bulan yang lalu untuk mengajukan desain ke Korea.
Reyn sangat mendukung. Dia bahkan berharap pengajuan itu lulus dan membuatnya bisa tinggal bersama kakaknya dalam satu negara.
"Jadi kau tak ikut latihan hari ini? " Tanya Chen dengan merebahkan dirinya di ranjang Reyn.
Kepala Reyn menggeleng. Dia mengambil kaos yang diletakkan dalam lemari dan memakainya.
__ADS_1
"Aku sudah meminta izin. Aku juga izin untuk keluar dari asrama sampai malam. Jika memungkinkan pasti aku akan menginap, " Kata Reyn pada sahabatnya itu.
Chen, adalah salah satu sahabat Reyn. Dia tinggal tepat di samping kamar Reyn. Kamar mereka memang bersebelahan dan Reyn sendiri satu kamar dengan pria muda bernama Jiwook.
Ya, pria asal asli Korea yang menjadi teman kamar Reyn. Teman yang membuat Reyn pandai berbahasa Korea sampai dia lancar dan bisa.
"Baiklah. Aku akan bersiap-siap. Aku tak mau senior mengerjai ku karena telat, " Kata Chen yang lekas beranjak berdiri.
"Semangat, Chen. Ingat, kita berebut kursi," Ujar Reyn yang membuat Chen menghentikan langkahnya.
Pria itu menatap ke belakang. Dia mengangkat tangannya seakan menyemangati dirinya sendiri. Hal itu membuat Reyn mengangguk. Dia juga bahagia memiliki sahabat yang peduli padanya.
Disaat dia nekat datang kesini, bermodalkan bisa Berbahasa Inggris dan sedikit bisa Bahasa Korea. Kini akhirnya dia bisa keduanya. Kini dia juga memiliki sahabat dan teman yang tak pernah membedakan mereka.
"Aku harus bersiap. Pasti Kak Humai sudah hampir sampai! " Kata Reyn yang lekas meraih jaket yang digantung di lemari.
...🌴🌴🌴...
"Ayo, Kak. Cepetan!" Kata Humai yang tak sabaran.
Sekolah adiknya sudah ada di depan mata. Asrama besar dan terkenal di Korea sudah ada di depan mata. Humai sudah tak sabaran. Dia sangat ingin menemui adik kesayangannya itu.
"Dimana tempatnya, Kak? " Kata Humai yang tak sabar.
Sefira yang melihatnya hanya terkekeh. Dia tahu sahabatnya itu sangat merindukan adiknya itu. Apalagi keduanya memang belum pernah ketemu sama sekali.
"Tempatnya disana, Mai. Tinggal dikit lagi kok, " Kata Sefira yang memang sudah paham dengan sekolah ini.
Adik Syakir pernah berada di Korea beberapa kali. Berlibur dan jalan-jalan serta perjalanan bisnis dengan papanya. Hal itu yang membuatnya tahu tentang sekolah ini.
"Nah itu! " Kata Sefira menunjuk bagian sebelah kiri sekolah.
Mata Humai berbinar. Dia segera berjalan dengan membawa paper bag pesanan mamanya. Oleh-oleh yang dibuat langsung dengan tangan penuh cinta Mama Emili.
Ya, tak ada perbedaan perlakuan dari orang tua kandung Humai. Baik Papa Hermansyah ataupun Mama Emili. Mereka memperlakukan Reyn sama dengan Humai.
Sampai akhirnya dari jauh. Humai melihat sosok adiknya yang juga tengah berjalan ke arahnya. Lebih tepatnya mereka sama-sama berjalan ke arah lokasi yang ditentukan.
"Reyn! " Pekik Humai dengan air mata yang tertahan.
__ADS_1
Dia segera berlari ke arah adiknya itu. Begitu pula dengan Reyn. Pria itu juga berjalan dengan cepat hingga akhirnya adik kakak itu bisa bertemu lagi.
Akhirnya puncak kerinduan yang mendalam bisa mereka bayar dengan pertemuan yang menuntaskan rasa rindu. Akhirnya rindu seorang kakak dan adik yang begitu besar bisa mereka pecahkan dengan sebuah pelukan hangat.
Ya, Reyn memeluk kakak perempuannya itu. Tak ada yang bisa menggambarkan kebahagiaannya sekarang. Hatinya, perasaannya dan wajahnya terus terukir senyuman indah yang begitu lebar.
"Akhirnya Reyn bisa peluk Kakak lagi! " Kata anak itu dengan bahagia.
"Ya dan Kakak tenggelam di pelukan kamu! " Kata Humai yang membuat Reyn terkekeh.
Apa yang dikatakan oleh istri Syakir itu benar. Tumbuh kembang Reyn sangat pesat. Dulu ketika anak itu baru berangkat. Tinggi tubuhnya sama rata dengan Humai. Namun, sekarang, tubuh Reyn lebih berisi dan berotot dan tingginya juga benar-benar naik drastis.
Tubuh Humai terasa seperti semut yang dipeluk karena tenggelam dalam pelukan adiknya itu.
"Jadi Reyn berhasil, 'kan? Berhasil tumbuh dengan baik?"
Humai terkekeh. Dia menepuk lengan adiknya itu dan melepaskan pelukannya. Bergantian Reyn memeluk Syakir dan mencium keponakannya itu. Lalu tak lupa dia mencium punggung tangan Sefira yang tertawa ke arahnya.
"Ternyata aku sudah tua yah. Dulu kamu masih kecil sekarang kamu udah besar, Reyn! " Kata Sefira yang membuat Reyn tertawa.
"Kalau aku kecil terus. Bagaimana, Kak? "
"Ya gakpapa. Kamu kecilnya ganteng kok. Tapi gedenya juga, makin tampan, " Kata Sefira dengan jujur. "Kalau gini, aku yakin kamu punya pacar kan? "
"Eh. Nggak lah. Nggak punya! " Kata Reyn menggeleng.
"Yakin? Mana ada anak tampan gini jomblo? "
"Ada. Lah ini Reyn! Si jomblo akut! "
Sefira memutar matanya malas. Dia tak percaya adik sahabatnya itu sendiri.
"Jangan jomblo terus. Nikmati masa sekolah. Cari pacar yang banyak biar kisah kamu berwarna! "
"Astaga." Humai memukul lengan sahabatnya itu dengan mendelikkan matanya.
"Jan bikin pengaruh buruk. Reyn bilang ingin kejar lomba nasional dulu sebelum internasional! "
~Bersambung
__ADS_1
Kisah Reyn gak masuk disini ya guys. Soalnya bakalan genre teen ala anak sekolah hihi. Cukup kisah dua bucin aja hahah.