
...Percayalah ketika aku memilihmu maka hidupku telah ku percayakan sepenuhnya kepadamu. ...
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
Senyuman kebahagiaan tak hentinya muncul di malam yang begitu membahagiakan ini. Semua pasangan kini telah mendapatkan kebahagiaan. Tak ada yang terkecuali sedikitpun.
Ternyata memang inilah hikmah terbaik setelah badai datang begitu besar. Ternyata ini adalah bonus terindah dari Tuhan untuk mereka yang sanggup melewati ujian yang begitu berat.
Hal yang menyakitkan, hal yang sulit dan hal yang membuat terluka. Semuanya kini telah terlewati dengan begitu mudahnya. Meski memang itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak hal yang harus dikorbankan dan melahirkan seorang diri adalah salah satunya ternyata membuat Humai bisa belajar banyak hal.
Ya, arti perjalanan hidup. Pengalaman hidup dari bawah sampai ia ada di titik ini. Cerita hidup ketika masa lalunya banyak dimaki dan dihujat. Kini ia bisa membuktikan bahwa dirinya tetap menjadi yang terbaik versi dirinya sendiri.
Begitupun dengan Sefira. Wanita yang selalu menjaga dirinya sendiri. Wanita yang menjunjung tinggi martabatnya telah dipertemukan dengan pria yang terbaik.
Dia yang tak pernah dekat dengan pria manapun. dia yang tak pernah jatuh cinta kini mendapatkan pria yang benar-benar menghargainya. Semua itu memang hal yang sangat amat luar biasa untuknya.
Namun, tetap hal terakhir adalah dengan mensyukurinya. Apapun yang Tuhan berikan, jangan pernah menyombongkan apa yang didapat. Teruslah bersyukur, teruslah menerima takdir yang Allah berikan.
Apapun itu, seburuk apapun jalannya. Allah sudah memberikan jalan terbaik sesuatu dengan kebutuhanmu.
"Jadi kita akan menikah minggu depan, " Kata Jeno mempertegas.
"Ya, Nak. Kamu akan menikah minggu depan, " Kata Papa Zein menambahi.
"Kalian mau menikah dimana? " Tanya Papa Haidar pada putrinya.
Sefira menoleh. Dia menatap ke arah Jeno yang juga tengah menatapnya.
"Apa aku boleh meminta sesuai dengan keinginanku? " Tanya Sefira pelan pada calon suaminya itu
"Tentu, Sayang. Katakan! Kau ingin menikah dimana? " Tanya Jeno dengan lembut.
Pria itu tak pernah kasar pada Sefira. Jeno selalu berusaha mengambil dibawahnya. Dia tahu jika Sefira hampir mirip dengan mahasiswanya itu, Humaira. Keduanya memiliki sifat keras kepala yang tinggi.
"Aku ingin menikah di Malang. Aku ingin ikan kabul di rumah, " Pinta Sefira dengan sangat sederhana. "Aku gak mau perasaan besar dulu. Aku ingin seperti sahabatku. Akad dulu baru nanti, aku ingin resepsi bersamaan dengan resepsi Humai. "
__ADS_1
Hal kecil yang membuat hati Humai tersentuh. Istri Syakir itu menatap sahabat yang sekaligus adik iparnya itu. Sefira bukan hanya sahabat untuknya. Namun, sejak dulu wanita itu telah dianggap sebagai saudaranya sendiri.
Wanita yang rela melindunginya dari kekejaman semua orang. Wanita yang selalu ada untuknya dikala dia senang ataupun susah. Sefira akan menjadi orang pertama yang selalu ada untuk Humai.
"Bagaimana? " Tanya Sefira menatap Jeno dengan penuh harap.
"Akan ku kabulkan, Sayang. Kita akan akad dulu dan nanti, kita melakukan resepsi bersama kakak iparku. "
Sefira tersenyum bahagia. Kepalanya mengangguk senang. Kemudian dia menatap ke arah sahabatnya yang tengah menghapus air matanya itu.
Ya Humai tanpa sadar menangis. Bukan tangisan kesedihan melainkan dia bahagia karena sahabatnya itu selalu ingin bersama dengannya.
Persahabatan mereka yang sudah bertahun-tahun. Membuat Humai ataupun Sefira sudah saling mengenal satu dengan yang lainnya. Sudah saling tahu sikap antara satu dengan yang lain.
"Mereka memang selalu mengikuti kita, Sayang, " bisik Syakir pelan sambil melingkarkan tangannya di pinggang Humai.
Pria itu memang duduk di samping istrinya. Syakir mengulurkan tangannya yang lain dan memegang tangan istrinya yang ada di bawah meja.
"Bukan ikut tapi Sefira ingin resepsi kita barengan, Kak, " Ujar Humai membela.
Dia merasa sentuhan kulit mereka sejak tadi pagi terasa seperti listrik. Menyengat dan membuat buku kuduk keduanya berdiri.
Semua orang tentu sedang menikmati pembicaraan. Mereka tengah membahas masalah persiapan pernikahan Sefira dan Jeno. Begitupun dengan Papa Hermansyah dan Mama Emili. Keduanya memberikan masukan pada mereka untuk tambahan
"Sayang, " Bisik Syakir yang mulai asik sendiri.
"Hm? " Sahut Humai menatap jarinya yang dibuat bermain dengan jari jemari suaminya itu.
"Pulang, Yuk! " Kata Syakir merengek.
Pembicaraan keduanya memang begitu pelan. Mereka saling berbisik hingga membuat orang-orang tak tahu aksi keduanya dan tak mendengar obrolan apa yang tengah keduanya bicarakan.
"Kenapa keburu banget sih, Kak. Mama, Papa sama yang lain masih sibuk, " Bisik Humai menjawab sambil menunjuk keluarga mereka.
"Aku kangen, " Kata Syakir yang benar-benar tak sabar.
Ya wajar saja. Pria itu bukan pria muda lagi. Apalagi Syakir pernah merasakan hal itu dan pasti membuatnya ingin merasakan hal indah dalam nikmatnya dunia.
__ADS_1
Meski dulu Syakir melakukannya tanpa sadar. Tapi dia juga bisa mengingat bagaimana lekuk tubuh Humai. Bagaimana dia menyentuh untuk pertama kali dalam hidupnya.
Bagaimana dia bisa membuat seorang anak dan menghasilkan Jay. Bocah kecil tampan duplikat wajahnya itu.
"Kita seharian bareng loh, Kak, " Kata Humai yang masih tak paham.
"Aku kangen manja sama kamu, Sayang. Aku ingin… " Jeda Syakir yang membuat Humai menoleh.
Tatapan keduanya saling tatap. Humai bisa melihat kilat berbeda dari mata Syakir.
Dia bukan gadis lugu lagi. Dia sudah memiliki seorang anak dan dia tahu apa yang suaminya itu inginkan. Meski dulu pertama kali, dia melakukan tanpa sadar. Namun, hal seperti itu bukan hal tabu lagi.
"Kamu ingin ini, hmm? " Tanya Humai dengan menaikkan alisnya pelan.
Gadis itu berniat menggoda suaminya. Dia menatap sekeliling terlebih dahulu. Meja mereka yang lebar dan panjang, membuat tingkah laku dibawah meja tentu tak terlihat.
Dengan pelan, Humai bergerak. Dia mengangkat tangannya dan meletakkan di paha Syakir. Dia mengelusnya dengan pelan dan merambat ke atas.
Hingga akhirnya tangan Humai berhenti tepat di atas milik suaminya itu. Mata Humai melirik, dia menatap ke arah dua bola mata Syakir yang juga tengah menatapnya.
Wanita itu memang sengaja menggoda suaminya. Dia tahu jika Syakir adalah salah satu lelaki yang tak bisa menahan dirinya.
"Sayang, " Lirih Syakir menggeleng.
Dia tak yakin jika istrinya itu mengusapnya dan bergerak, dirinya bisa menahan. Jujur rasa ingin itu mulai menguasainya dan dia ingin segera pulang.
Tapi larangan adalah wajib dilakukan. Dengan pelan, Humai menggerakan tangannya. Dia mengusap area terlarang itu hingga membuat Syakir memejamkan matanya.
Pria itu rasanya ingin menerkam istrinya itu. Namun, tak ada yang bisa Syakir lakukan kecuali pasrah. Ya, pasrah akan tingkah istrinya dan membuat Humai tersenyum kemenangan.
Merasakan milik suaminya makin membesar dan padat. Humai menghentikan gerakan tangannya. Dia memajukan wajahnya dan berhenti tepat di telinga suaminya itu.
"Tahan sampai di rumah ya, Sayang. Nanti kita akan melakukannya, " Bisik Humai lalu meniup telinga Syakir yang membuat pria itu semakin merinding.
~Bersambung
Hiyaa tes panas dingin dulu. Ingat, Bang Syakir Cassanova. Kalau gak brutal, bukan dia namanya haha. Kaborrrr
__ADS_1