
...Percayalah ketika restu sudah kau dapat maka tinggal aksi yang akan aku lakukan....
...~Guntur Syakir Alhusyn...
...🌴🌴🌴...
Seakan angin segar yang sangat membuatnya semangat jiwa dan pikiran setelah seharian galau. Akhirnya dia memiliki semangat hidup baru. Memiliki alasan untuknya bertahan. Memiliki lampu hijau dari orang terpenting wanita yang dicintai untuk tetap berjuang. Â
Ya, Syakir, dia sangat tahu bahwa ayah kandung mantan istrinya memberikan jalan untuknya. Memberikan restu agar dia mau berjuang sekali lagi. Dengan syarat Syakir tak boleh memaksa mantan istrinya itu untuk menerima kehadirannya kembali.
Akhirnya hari ini Syakir akan memulai pendekatan. Dia melihat jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul tiga sore. Dirinya mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Senyumannya terus terpancar di kedua sudut bibirnya.
Dirinya sudah tak sabar untuk bertemu dengan dua kesayangannya itu dan bermain bersama mereka. Dia berjanji kali ini tak akan memaksa seperti pertemuan pertama mereka. Dia akan lebih nersabar lagi. Dia akan menunggu sampai Humaira mau menerima dirinya.
"Aku akan membelikan mainan untuk putraku," kata Syakir dengan membelokkan setir kemudinya ke arah toko mainan. "Untuk pertama kalinya akhirnya aku bisa datang ke toko ini."Â
Syakir lekas menghentikan mobilnya saat kendaraannya telah berhenti tepat di depan toko yang ia tuju. Dia segera turun dengan membawa dompet dan tas miliknya. Wajahnya terus berbinar saat matanya mulai melihat beberapa mainan yang tertata rapi disana.Â
"Selamat sore, Pak. Bapak sedang mencari mainan apa? Mungkin saya bisa membantu?" Tawar seorang pelayan perempuan yang menatap ke arah Syakir dengan mata genitnya.Â
"Saya ingin mencari mainan untuk putra saya," kata Syakir secara langsung saat dia menyadari arti tatapan itu.
Dia bukan anak kemarin sore. Dia sangat tahu dan berpengalaman tentang hal seperti ini. Bagaimana wanita yang tertarik dengan pria dan gerak geriknya.Â
Wanita itu menunduk. Dia menyadari bahwa pria di depannya ini seakan menyindir perbuatannya.
"Jika boleh tahu, anak Bapak umur berapa?"Â
"Hampir tiga tahun," kata Syakir dengan lancarnya.
Tanpa bertanya pada Humai. Dihitung dari kepergian wanita itu bisa membuatnya menerka berapa umur putra pertamanya itu.Â
"Bagaimana kalau ini?" tawar pelayan itu menunjukkan sebuah mobil remote control yang sangat bagus dan mewah.Â
Mata Syakir menatap mobil itu dengan senang. Dia mengambil mobil mainan itu dan melihatnya.
"Semoga Jay suka," kata Syakir dengan pelan lalu memberikannya pada pelayan itu. "Ini."Â
"Sudah, Pak?"Â
Syakir melihat mainan yang lain. Akhirnya dia membeli pesawat terbang yang dikendalikan remote control. Lalu kereta api mainan yang bisa berjalan sendiri.
Semua itu Syakir minta bungkus dan dia lekas membayarnya. Dia tak peduli seberapa banyak uang yang ia keluarkan. Meski dia tahu pekerjaannya hanya seorang pelayan. Dirinya tak memiliki harta yang banyak seperti dulu.
Namun, selama hampir tiga tahun dia sendirian, bangkit sendiri, belajar dan memperbaiki diri serta uang hasil kerjanya ia tabung. Ternyata mampu membuatnya bisa membeli mobil sendiri meski ya harus kredit. Lalu juga sepeda motor untuk dirinya.
"Terima kasih," kata Syakir lalu dia segera menerima belanjaannya dan mulai masuk ke dalam mobilnya.
Dia segera kembali melanjutkan perjalanan. Hingga tak sampai satu jam, akhirnya kendaraan Syakir mulai memasuki halaman rumah mantan istrinya.
Dari mobilnya, dia bisa melihat putranya sedang bermain dengan kedua mantan mertuanya. Dirinya mulai gugup. Entah apa yang akan dilakukan oleh Jay saat melihatnya setelah ini.
Namun, untuk mundur pun, sudah tak berguna lagi untuknya. Syakir sudah sampai disini. Dia harus berani dan menunjukkan dirinya di hadapan sang putra.
Akhirnya, Syakir mulai keluar dari dalam mobilnya. Tangannya juga membawa kantong yang berisi mainan untuk Jay. Kedatangannya tentu membuat Jay yang sedang bermain bola dan tanpa sengaja menendang ke arah Syakir membuat bocah itu melihat kedatangannya.
__ADS_1
Syakir menangkap bola itu. Dia tersenyum dan berusaha menghilangkan rasa canggungnya.Â
"Ini," kata Syakir menyerahkannya pada Jay.
Bocah laki-laki itu belum menerima bola itu. Bukannya mengulurkan tangan, Jay malah mundur dan berdiri di belakang kaki Papa Hermansyah.Â
"Eh, Sayang," kata Mama Emili yang sudah tahu siapa Syakir. "Ini Om Syakir loh."Â
Jay menggeleng. Dia mencengkram kaki opanya dengan erat. Diringa menenggelamkan wajahnya di kaki Papa Hermansyah.Â
"Ini bolanya, Sayang," kata Jay dengan pandangan kecewa.Â
Papa Hermansyah bisa melihat itu. Dia menarik tangan cucunya dan menggendong tubuh mungil itu.
"Katanya mau ketemu Om Syakir?"Â
Kepala Jay menggeleng. Dia bahkan tak mau menampakkan wajahnya. Menenggelamkan di lehernya.Â
"Om Syakir mau ketemu Jay loh. Om Syakir juga bawain mainan. Lihat!"Â
Perlahan kepala Jay terangkat. Dia melirik ke arah tangan Syakir yang ternyata benar. Dia membawa kantong yang berlogo toko mainan yang biasa opanya bawakan untuknya.Â
"Nanti Ibu?"Â
"Ibu gak bakal marah," kata Hermansyah meyakinkan.Â
"Tapi Ibu kemarin nangis," jawab Jay apa adanya.
"Sekarang ibu gak bakal nangis. Percaya sama Opa," ucap Hermansyah dengan yakin.
Dengan pelan pria itu mensejajarkan tubuhnya. Dia tersenyum dan menyerahkan bola milik Jay. Setelah diterima, dia lalu memberikan kantong itu.Â
"Semoga Jay suka yah," kata Syakir yang membuat anak itu menundukkan kepalanya.
Dia membuka kantong itu hingga tangannya lalu mengeluarkan beberapa kotak dari dalam sana.
"Wah pesawat," pekiknya dengan wajah bahagia.
Syakir ikut tersenyum. "Mau bermain sama Om?"Â
Jay menatap Syakir dengan lekat. Kepalanya mengangguk lalu ia menyerahkan lesawat itu pada Syakir.
Ayah dan anak itu lantas berjalan lebih ke tengah taman di pelataran rumah Papa Hermansyah. Pria itu memasukkan baterai yang sudah sengaja ia beli untuk remote control permainan putranya itu.Â
Setelah memasangkannya. Syakir meletakkan pesawat itu di atas rerumputan. Lalu Jay yang mulai penasaran mendekat ke arah Syakir. Tanpa diduga bocah kecil itu merapatkan tubuhnya untuk melihat bagaimana Syakir menggerakkan remote control itu.
"Ayo, Om!"Â
Entah kenapa hati Syakir menghangat. Dia tak menyia-nyiakan keadaan. Dirinya lekas memainkan stik remote itu hingga pesawatnya bisa terbang.
Ayah dan anak itu tertawa bersama. Bahkan saat pesawat itu berputar dan naik lebih tinggi membuat tawa keduanya tanpa henti. Papa Hermansyah dan Mama Emili yang melihat saja sampai meneteskan air mata.
Keduanya tak menyangka takdir tuhan sebaik itu. Tuhan masih memberikan kesempatan pada cucunya unik merasakan kasih sayang seorang ayah kandung.
"Lebih tinggi, Om! Ayo," kata Jay dengan semangat.
__ADS_1
Kebahagiaan mereka terlihat sangat amat sederhana. Bahkan tanpa sadar tingkah laku ayah dan anak itu dilihat oleh seorang perempuan yang berdiri dibalik jendela kamarnya.
Dia menatap dua pria yang memiliki wajah yang sama itu dengan air mata yang menetes.
"Ternyata kau kembali. Kau menemukan kami berdua," katanya dengan menghapus air matanya.
Namun, kebahagiaan itu perlahan meredup saat sebuah mobil yang tak asing itu datang memasuki halaman rumah Hermansyah.Â
Jay lekas melepaskan dirinya dari Syakir dan menatap ke arah sosok yang baru saja turun dari kendaraan roda empat itu.Â
"Om Jeno!" teriak Jay kalu berlari ke arahnya.
Syakir spontan berdiri. Dia menatap ke arah putranya yang lebih semangat dengan menyambut kedatangan pria yang pernah ia temui di restaurant itu.Â
Ada perasaan cemburu dalam diri Syakir. Namun, sebuah tepukan di pundaknya membuatnya menoleh.
"Kau harus berjuang lebih banyak, Syaki! Sainganmu sudah berdiri di sana," kata Papa Hermansyah dengan serius.Â
~Bersambung
Kasihan Bang Kikir. Posisinya masih kalah sama Pak Dosen yuhuu
mampir juga ke karya temanku yah
Cuplikan di Bab: Punya Suami Tua.
"Dhita! Kamu bikin kaget saya saja! Mau ngapain kamu turun disini hah? Sekolah kamukan masih lumayan jauh dari sini!" tegur Adnan terlihat kesal karena mendengar teriakkan Kirana.
"Maaf Pak sudah bikin Pak Guru kaget, tapi saya ingin turun disini saja Pak, karena saya nggak mau teman-teman melihat saya turun dari mobilnya Pak Guru."
Adnan mengerenyitkan dahinya, setelah mendengar perkataan Kirana. "Kenapa emangnya kalau mereka tahu hm? Apakah kamu malu, turun dari mobilnya saya hm?"
"Bukan malu Pak, saya hanya males saja, menjawab pertanyaan mereka, kalau mereka tahu saya turun dari mobilnya Pak Guru," jelas Kirana, yang sebenarnya ia memang tak ingin teman-temannya tahu kalau sebenarnya ia telah menikah dengan idolanya mereka.
"Ya kamu tinggal jawab saja kok susah sih! Bilang sama mereka, kalau kamu diantar oleh suami kamu, bereskan?"
"Tidak, tidak, tidak! Pokoknya Saya tidak mau mereka tahu kalau saya istrinya Pak Guru titik!"
"Kenapa emangnya kalau kamu istrinya saya hm?"
"Malulah Pak, masa saya menikah sama orang yang sudah tua sih! Apa kata mereka nanti? Pasti mereka akan meledek saya, punya suami tua!" jawab Kirana dengan spontan. Tanpa memikirkan perasaan Adnan.
Adnan tersenyum miris mendengar perkataan Kirana, lalu ia mendekatkan wajahnya tepat didepan wajahnya Kirana seraya berkata.
"Apakah wajahku sudah terlihat tua dimatamu hm?"
Kirana amat kaget, saat melihat wajah tampan Adnan yang begitu dekat dengannya. Dan dengan spontan jantungnya berdetak begitu kencang. Membuat tubuhnya seketika membeku, bahkan nafasnya seakan ikut berhenti. Dan tatapan matanya terkunci pada wajah Adnan yang begitu dekat dengannya, yang hanya terpisah beberapa senti saja dari wajahnya.
"Kenapa Diam hm? Apakah Suami kamu ini sudah terlihat tua Kana?" tanya Adnan kembali. Dan seketika Kirana pun tersadar, wajahnya langsung memerah saat menyadari mereka begitu dekat. Dan dengan spontan ia mendorong wajahnya Adnan.
"Aaaah..! Pak Guru! Sanaaa!" pekik Kirana sambil menyorong wajah Adnan dengan lima jarinya. Lalu dengan cepat ia pun keluar dari mobilnya Adnan dan langsung berlari tunggang langgang, menuju ke sekolahnya yang masih lumayan jauh dari tempat mobil Adnan terparkir.
"Hahahaha.. lucu sekali sih, wajah Istri kecilku kalau sudah memerah begitu, bikin gemas saja, hahaha,"
__ADS_1