Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Muntah


__ADS_3

...Terkadang kita tak boleh malu untuk belajar pada orang yang sudah pandai pada bidangnya. Mencuri ilmunya untuk diterapkan pada diri kita dan dikembangkan itu lebih baik daripada menjadi orang yang hanya bermimpi tapi tak berusaha. ...


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Pertunjukkan fashion mulai berlanjut. Para model mulai keluar satu per satu disana membawa desain rancangan desainer yang sudah mengontrak mereka untuk pekerjaaan ini.


Humai banyak mendapatkan asupan semua model baju dari dress panjang sampai pendek. Dari pengan panjang sampai pendek. Dari model leher Sabrina dan yang lain semuanya bisa dilihat langsung oleh istri Syakir itu.


Pandangan mata Humai benar-benar fokus. Bahkan dia juga meminta tolong pada suaminya untuk memotret setiap model yang lewat dan berpose di dekatnya mereka.


Bukan untuk meniru desain mereka melainkan untuk belajar desain apa yang sedang banyak diminati di Korea. Sampai akhirnya model dari desainer besar mulai disebutkan satu per satu namanya.


"Ye Jun ikut ini, Pak? " Tanya Humai pada Jeno secara langsung.


"Ya. Model dia akan ikut keluar sebentar lagi, " Jawab Jeno yang membuat Humai mengangguk.


Peserta pertama yang keluar dengan dress pendek bernuansa putih biru dengan aksen sangat manis dipadu dengan topi pantai begitu menakjubkan.


Sebuah konsep yang hampir sama dengan apa yang digarap untuk fashion show nanti. Namun, banyak perbedaan di dalamnya karena Humai tetap memberikan sentuhan khas Indonesia yang sangat amat menakjubkan.


"YJ Collection, " Ucap Pembawa acara dengan keras yang didengar oleh Humai.


Mata ibu satu anak itu langsung fokus pada tempat dimana para model akan keluar. Pandangan Humai tak lepas sedikitpun sampai akhirnya model wanita mulai keluar dengan diiringi lagu yang begitu menunjukkan kriteria khas dari baju yang dibawa.


Sebuah dress berwarna kuning yang begitu indah membuat mata Humai benar-benar takjub. Namun, tunggu dulu.


Ada sesuatu yang berbeda di bawahnya. Gaun yang awalnya full tertutup kini ber model pendek di depan dan panjang di belakang. Menunjukkan kaki jenjang dan mulus modelnya berjalan dengan sangat amat lihai dan cantik. Membuat Humai mulai ingat ucapan Hae tentang baju ini.


"Ya Tuhan jadi Ye Jun mengubahnya langsung, " Gumam Humai yang kagum dengan spontanitas pada diri rekan kerjanya itu.


Jujur Humai mulai berpikir demikian. Keburukan yang terjadi di venue tak bisa dia buat panik. Dirinya seorang desainer dan bertanggung jawab akan baju yang dia bawa.


Jadi apapun yang terjadi, dia harus siap dengan semua keburukan dan menyiapkan hal luar biasa agar kesalahan itu menjadi puncak indah dari apa yang kita bawa.


"Mai, ini… " Bisik Sefira yang duduk tepat di samping Humai.


Ibu satu anak itu mengangguk. Seakan dibius akan pesona baju dan kecantikan model membuat Humai tak menoleh kemanapun. Dia benar-benar dibuat terpesona sampai akhirnya Humai sadar saat tepuk tangan para hadirin meramaikan venue itu.


"Ini luar biasa! Sangat luar biasa! " Kata Humai dengan pandangan bangga pada hasil desain Ye Jun dan timnya.


Akhirnya semua acara sampai puncak. Semua model mulai dipanggil keluar dan diikuti oleh desainer mereka yang ikut mendampingi dan timnya.


Dari tempat mereka duduk. Humai, Sefira, Jay, Syakir dan Jeno bisa melihat Ye Jun, Dong Min dan Hae naik dan berdiri tepat di samping model mereka.


"Aku yakin mereka menang, " Kata Jeno yang membuat dia wanita di sampingnya menoleh.


"Harus dong! " Sahut Humai tak mau kalah.


"Kalau mereka menang, aku bakalan traktir Ye Jun, Dong Min, Hae dan kalian makan sepuasnya!"


"Deal? " Kata Humai semangat.

__ADS_1


"Deal! "


Akhirnya jantung semua orang mulai berdebar kencang. Mereka juga ikut memegang buket bunga dengan tangan berkeringat dingin.


Mereka sama-sama khawatir dan takut. Semua peserta yang ikut, tak ada yang kaleng-kaleng. Dari konsep, model dan semua desainnya sangat amat luar biasa.


Hal itu membuat hati kecil Humai insecure. Apa dia bisa mengalahkan semua orang sedangkan dia adalah orang pertama kali datang di dunia fashion.


"Sayang, " Panggil Syakir saat melihat istrinya hanya diam.


Humai menoleh. Lalu dia menerima usapan di kepalanya yang membuat dirinya tenang.


"Jangan pikirkan soal lomba itu, " Ujar Syakir yang ternyata tahu pikiran istrinya.


Humai membuka mata. Dia menatap suaminya yang tersenyum ke arahnya.


"Aku hanya takut desain ku tak bisa bersaing, Kak, " Kata Humai dengan pelan.


"Aku yakin kamu bisa, Sayang. Kamu yang terbaik untuk diri kamu sendiri! " Ujar Syakir dengan tatapan bangganya.


Suara keduanya mulai terhenti saat pembawa acara mulai membacakan pemenang. Dari pemenang harapan semuanya saling ditunggu. Satu per satu mulai maju ke depan dengan hasil karyanya.


Sampai 2 besar, YJ Collection belum dipanggil. Humai memejamkan matanya. Dia benar-benar berdoa untuk timnya.


"Pemenang pertama, dimenangkan oleh… " Jeda pembawa acara yang membuat semua orang berdegup kencang.


Mereka saling menoleh, saling berharap dan menyambung doa untuk tim yang mereka andalkan.


"YJ Collection!"


Hal itu juga tertelan dengan kebahagiaan semua orang. Mereka saling bertepuk tangan dengan begitu kerasnya.


Humai dan Sefira juga sampai berpelukan dengan bahagia. Mereka melepas pelukan itu dan mengacungkan jempolnya saat Ye Jun melihat ke arah mereka dengan berjalan bersama modelnya.


"Traktiran langsung berangkat! "


...🌴🌴🌴...


"Congratulations, " Ucap Humai sambil memeluk Hae dengan erat.


Kini mereka ada di depan gedung venue. Mereka sudah janjian disini untuk bertemu.


"Selamat, Jun. Kau memang temanku yang terbaik, " Kata Jeno memeluk Ye Jun.


Pria itu tertawa kecil. Dia mengangguk sambil menepuk punggung Jeno.


"Thank you. "


Bergantian dan Syakir juga mengucapkan pada pria yang ia yakini menyukai istrinya itu.


"Semoga kita bisa berteman baik, " Kata Syakir yang membuat Ye Jun paham maksud suami dari rekan kerjanya itu.


"Oke."

__ADS_1


"Ini, " Kata Humai menyerahkan pada Ye Jun. "Selamat atas kemenangan kalian dan terima kasih sudah memberikan banyak ilmu padaku sampai hari ini. "


Ye Jun menerimanya dengan baik. "Kita bukan orang lain lagi. Kita satu tim. Jadi kita akan saling dukung satu dengan yang lain, " Ujar Ye Jun yang membuat Humai bersyukur begitu luar biasa.


Dipertemukan dengan orang baik seperti mereka adalah hal yang begitu patut disyukuri.


"Ayo kita makan! Karena kalian menang, hari ini aku akan mentraktir kalian semua! "


"Yey! " Sahut Dong Min dan Hae paling semangat.


Akhirnya mereka mulai menyiapkan untuk pergi dari venue. Ye Jun, Hae dan Dong Min dibantu Syakir dan Jeno memasukkan semua peralatan mereka ke dalam mobil. Semua dilakukan dengan bersama hingga akhirnya beres dan bisa selesai dengan cepat.


"Kita makan dimana? " Tanya Sefira sebelum mereka naik ke dalam mobil masing-masing.


"Kita akan makan menu Indonesia. Bagaimana? " Tawar Hae dengan semangat. "Aku sudah lama sekali ingin memakan menu Indonesia lagi. "


Mereka akhirnya setuju. Semua orang mulai masuk dan meninggalkan tempat dimana lomba itu dilakukan.


Kali ini Humai duduk dengan tak tenang. Dia duduk di depan memang. Perutnya terasa seperti diaduk.


"Huek! " Humai menutup mulutnya saat rasa mual itu muncul.


Dia benar-benar merasa ingin muntah.


"Kak minggir dulu! " kata Humai meminta.


Akhirnya Syakir mencari tempat yang pas. Dia menepikan mobilnya yang membuat mobil Ye Jun di depan juga ikut berhenti.


Humai lekas keluar dan segera mengambil kantong plastik yang bawa dari mobil. Perempuan itu tanpa kata tentu langsung mengeluarkan semua yang ada dalam perutnya.


"Kamu bener-bener lagi sakit, Mai, " Kata Sefira dengan pelan.


Humai tak menjawab. Dia masih memuntahkan seluruh isi perutnya dibantu Syakir yang memijat tengkuk istrinya itu.


"Kenapa sama Humai? " Tanya Hae yang berlari mendekat.


"Dia dari pagi udah gak enak badan, Hae."


"Apa Humai masuk angin? Atau dia kelelahan? " Tanya Hae sesuai apa yang dia lihat.


Dia adalah saksi kunci yang tahu bagaimana kerja keras Humai di galeri.


"Sepertinya, " Jawab Syakir yang kemudian membantu istrinya berdiri setelah Humai selesai mengeluarkan semuanya.


"Kamu yakin mau tetap ikut? " Tanya Syakir pelan dengan mengusap kepala istrinya.


Humai menarik nafasnya begitu dalam. Jujur baru kali ini dia merasa selemas ini. Padahal sesakit apapun dia, biasanya dia tak akan selemah ini.


"Iya, Kak. Aku baik-baik saja kok. Pasti ini hanya efek aku kelelahan. "


~Bersambung


Semakin mendekati end beneran ini mah. Maafkan aku yang update sebab kemarin yah. Aku lagi nyiapin novel baru Zelia buat persiapan tayang setelah Bang Syakir tamat.

__ADS_1


Jadi harap dimaklumi karena kepalaku sakit mikirin akur Zelia nanti.


__ADS_2