
...Bagaimanapun fakta yang kudapati sekarang, itu tak akan mempengaruhi hubungan kita berdua, Rein....
...~Humaira Khema Shireen...
...🌴🌴🌴...
"Rein, tunggu!"
Remaja itu berbalik. Rein berusaha berlari meninggalkan taman rumah Almeera dengan cepat. Di masih terkejut dengan kabar yang didengar dari mulut kakaknya.Â
"Rein, dengarkan penjelasan Kakak!" Teriak Humaira menyusul langkah kaki adiknya.
Almeera terlihat panik dengan tingkah Humaira tentu segera membuatnya menyusul. Dia segera melangkah dengan cepat dan terus memanggil nama Humai berulang kali.
Namun, siapa sangka. Humaira tak menggubris keadaannya. Dia memikirkan perasaan Rein yang pasti terkejut dan shock dengan apa yang baru saja dia dengar. Humaira yakin jika Rein kecewa pada dirinya karena tak mau mengatakan kebenarannya.Â
"Humai hati-hati!" Teriak Almeera dengan rasa takut yang besar.
Terlalu terburu-buru ternyata membuat Humaira mengabaikan keadaannya. Dirinya bahkan sampai tak melihat jika ada pelayan yang sedang mengepel lantai keramik yang dia pijaki.Â
Hingga akhirnya takdir tak mampu berpihak pada istri Syakir tersebut. Lantai yang licin membuat Humaira terkejut dengan tubuh yang oleng. Sampai akhirnya suara jeritan semua orang terdengar dan membuat Rein yang hampir mencapai pintu kamarnya pun berbalik.
"Kakak!"Â
"Humai!"Â
...🌴🌴🌴...
Malang.
Di sebuah rumah mewah, terlihat dua keluarga tengah saling duduk berhadapan di ruang tamu yang begitu besar. Wajah mereka begitu tegang dan serius dengan seorang pria paruh baya yang menatap sepasang suami istri di depannya dengan rahang mengeras.
Tangannya mengepal saat telinganya mendengarkan setiap penjelasan yang keluar dari mulut mereka. Cerita yang sangat menyakiti hatinya sebagai seorang ayah dari anak yang dia berikan pada orang lain untuk penebusan dosanya di masa lalu.Â
Hatinya yang selama ini dirundung penyesalan tentu semakin merasa sakit. Waktu yang selama ini hanya bisa digunakan untuk melihatnya dari jauh ternyata tidak membuat dirinya banyak tahu.Â
Apalagi keadaan istrinya yang semakin buruk membuat pria itu hampir melupakan keadaan anaknya dan selalu percaya pada orang kepercayaan miliknya untuk mengontrol semua kegiatan putri kandungnya.Â
"Jadi selama ini anakku menderita karena putra kalian?"Â
Sepasang suami istri itu mengangguk. Mereka sudah siap dengan kemarahan seorang pria yang baru mereka tahu jika dia adalah ayah kandung dari menantunya.Â
"Aku terlalu banyak dosa dan putriku yang mendapatkan karmanya. Aku benar-benar ayah yang buruk," ujarnya dengan menatap langit-langit rumahnya sebentar untuk menahan air mata yang hampir menetes.Â
__ADS_1
Seorang gadis yang ikut dalam pertemuan ini akhirnya mulai memberanikan buka suara. Jujur sejak tadi dirinya sudah gatal ingin menanyakan banyak hal ketika mendengar cerita dari ayah kandung sahabatnya itu.
"Om tadi bilang, menyiapkan banyak penjaga untuk sahabatku. Lalu mana penjaga, Om? Mana mata-mata yang Om siapkan sampai Om bisa kebobolan?"Â
Hermansyah, pria paruh baya yang merupakan ayah kandung Humai itu menarik nafasnya begitu dalam. Sebelum menjawab, dia beranjak berdiri dan berjalan meninggalkan keluarga Syakir sebentar.Â
Setelah itu. Dia segera kembali ke ruang tamu dengan membawa sebuah album di tangannya yang membuat Sefira mengerutkan keningnya.Â
Hermansyah perlahan membuka album itu dan membuat Sefira, Mama Ayna dan Papa Haidar mendekat.
"Selama beberapa tahun terakhir. Mental istriku semakin buruk," cerita Hermansyah dengan jujur. "Bahkan sudah keenam kalinya, perawat menemukan istriku hampir bunuh diri."Â
"Karena aksinya itu, aku mulai mempercayakan keadaan anakku pada mata-mataku. Aku hanya diberi kabar bahwa anakku sampai dirumah dengan selamat dan kegiatan setiap harinya. Itu saja dan aku tak curiga sedikitpun."Â
Hermansyah tak menutupi apapun. Dia menceritakan semuanya dengan detail. Apa yang ia alami, apa yang istrinya lewati semuanya dia katakan.Â
"Sampai akhirnya surat dari kampus untuk Rachel mulai membuatku curiga," kata Hermansyah berlanjut. "Sampai aku telusuri dengan tangan kananku ternyata Rachel menyuap semua mata-mataku. Bahkan para mata-mata yang setia padaku, disekap oleh Rachel dan diganti dengan anak buahnya."Â
"Humaira melewati banyak hal, Om. Dia bahkan harus melewati jahatnya putri angkat Om itu!" Kata Sefira mengadu.
Dia tak peduli nasib wanita gila itu yang terpenting sekarang. Biarkan papa kandung sahabatnya tahu bagaimana jahatnya anak angkatnya itu.
"Om tau dan karena itu Om mengatakan semuanya pada Rachel. Siapa dia dan darimana dia berasal," kata Hermansyah menatap Sefira.Â
Hermansyah menatap ke arah dinding ruang tamu. Sebuah potret besar terpajang di sana dan membuat Sefira baru menyadari satu hal. Disana terdapat potret keluarga bahagia.
Seorang ibu, seorang ayah dan seorang putri mereka yang bersua foto dengan melebarkan senyumannya. Sefira bahkan sampai tak percaya melihat sahabatnya yang begitu cantik saat masih kecil.Â
"Aku akan menyusul putriku bersama istriku. Aku akan membuat Emili sadar bahwa putri yang ia tunggu selama ini, sudah kembali berkumpul bersama kami," kata Hermansyah dengan pandangan berbinar.
"Bolehkah aku ikut, Om?" Celetuk Sefira yang membuat Hermansyah mengangguk.
"Tentu saja. Kamu adalah sahabat baik putriku. Tanpa kamu, om gak tau apakah Humai bisa melewati semuanya sendirian atau nggak."Â
Sefira tersenyum. "Jangan meremehkan Humaira dengan rendah, Om. Dia adalah manusia yang kuat dan tak mudah menyerah.
"Dia seperti mamanya," lirih Hermansyah yang mendengar cerita Humai dengan antusias. "Sebelum kehilangan Humai, istriku adalah istri yang tangguh."Â
"Ibu dan anak, memiliki sebuah kemiripan," celetuk Mama Ayna yang membuat Hermansyah hampir melupakan orang tua dari suami putrinya.Â
"Lalu bagaimana kabar putra kalian?" Tanya Hermansyah yang membuat Mama Ayna saling menatap dengan suaminya.
"Putraku baik dan surat perceraian mereka telah ditandatangani," kata Mama Ayna yang membuat Hermansyah terlihat menarik nafasnya begitu dalam dan memejamkan matanya.Â
__ADS_1
"Setelah dihancurkan oleh wanita yang ia anggap ibu kandungnya, kini dia harus menjalani hidupnya sebagai seorang janda di usia muda?" Lirih Hermansyah yang sakit dengan keadaan anaknya. "Aku tak akan memaafkan putra kalian."Â
"Kami juga tak bisa memohon pada Anda, Tuan Kitir. Tapi sebagai mertua dari putrimu, aku benar-benar minta maaf dan menyesal dengan tingkah putraku sendiri," ucap Papa Haidar dengan jujur.Â
"Aku memaafkan kalian tapi untuk Syakir, aku tak akan pernah mengizinkan dia bertemu dengan putriku lagi!" Ucap Hermansyah dengan kebencian di dalam hatinya. "Aku akan segera berangkat ke Jakarta."Â
"Kapan Om berangkat?"Â Tanya Sefira pada papa sahabatnya.
"Om masih menunggu penjelasan dokter kejiwaan istriku dulu. Jika mereka mengizinkan, maka besok, Om akan segera membawa Emili ke Jakarta."Â
Pembicaraan mereka mulai terhenti karena suara panggilan dari ponsel Sefira yang berdering kencang. Adik Syakir itu lekas melihat nama diapa yang tertera disana.
"Kak Meera, Ma," pekik Sefira menatap mamanya.
"Cepat angkat. Siapa tahu penting, Nak!" Ucap Mama Ayna yang membuat Sefira lekas menggeser panggilan itu dan mendekatkan di telinganya.
"Halo, Kak?"Â
Terlihat wajah Sefira serius sampai akhirnya wajah tegang dan mata terbelalak membuat ayah Humai dan kedua orang tua Syakir mendekat.Â
"Apa yang terjadi, Giska! Ada apa, Nak?"Â
"Humaira jatuh telungkup, Ma. Saat ini dia dibawa ke rumah sakit karena pendarahan dan seperti mengeluarkan air ketuban kata Kak Meera!"Â
~Bersambung
Dahlah konflik makin puncak ini woy. Ini Bang Syakir bakalan nyusul ke Jakarta gak yah?
Kalau ada typo kabarin yah. Tulis dikomentar soalnya ngetik ini sambil nahan kantuk.
Sambil nunggu mampir di karya temanku dong.
Judul : Ibu Izinkan Aku Bahagia
Napen : Sutihat Basti Wibowo
Blurb :
Ditinggalkan oleh sang ayah dengan dalih mencari pekerjaan di usianya yang baru 2 tahun, membuat Ananda Shaka, yang kini telah berusia 6 tahun memendam kerinduan yang mendalam pada sang ayah. Setiap hari dalam angan Shaka adalah serba ayahnya. Keinginan Shaka untuk bertemu sang ayah menorehkan pilu dalam dada sang ibu.
Di tengah deruan rasa rindunya pada sang ayah, tanpa sepengetahannya ternyata sang ayah telah menceraikan ibunya lewat sepucuk surat yang dikirimkan melalui sahabat ayahnya. Kenyataan pahit itu membuat sang ibu tak berdaya. Di sisi lain, sang ayah berpesan agar Shaka tidak mencari dan menemuinya lagi.
__ADS_1
Akankah kerinduan Shaka pada sang ayah berakhir dengan sebuah pertemuan?