Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Drama Rachel


__ADS_3

...Percayalah akhir dari sebuah keberhasilan dimulai dari awal yang penuh perjuangan. ...


...~Humaira Khema Shireen...


...🌴🌴🌴...


Akhirnya setelah pembahasan semuanya selesai. Mama Ayna dan Sefira mengajak Humaira untuk belanja baju hamil. Keduanya begitu bersemangat dan membuat Humai tak kuasa untuk menolaknya.


"Kamu ganti baju dulu ya, Sayang. Mama sama Fira juga bakalan ganti baju juga."


"Iya, Ma," sahut Humai lalu mulai meninggalkan ruang tamu.


Dia segera berjalan menuju kamar pribadi suaminya dengan perasaan tak tenang. Entah kenapa Humai merasa takut sekaligus gelisah. Dia yakin jika suaminya pasti sangat marah dengannya.


"Tenanglah, Mai. Semua akan baik-baik saja," katanya menenangkan dirinya sendiri.


Sebelum membuka pintu kamar. Humaira menarik nafasnya begitu dalam. Dia menenangkan degup jantungnya yang sejak tadi berdetak dengan kencang. Dia benar-benar gugup tapi tak bisa untuk mundur. 


Tak mau membuat mertua dan sahabatnya menunggu. Akhirnya Humai mulai mendorong pintu kamar tersebut. Namun, baru saja Humai melangkah masuk, tangannya ditarik dan dia langsung dipepet di dinding kamar.


Pintu itu langsung terkunci dan Humai berhadapan dengan Syakir yang menatapnya dengan tajam.


"Kau bahagia, 'kan? Kau merasa menang, 'kan?" seru Syakir menunjuk wajah Humai. "Ini semua pasti ulahmu. Kau meminta mereka untuk tinggal di rumah jelekmu itu!" 


Humai menggeleng. Mengabaikan punggungnya yang sakit karena Syakir mendorongnya lumayan kuat.


"Aku benar-benar tak tahu apapun, Kak. Aku tak meminta apapun pada Mama dan Papa," ujarnya membela diri.


"Halah. Kau!" Syakir sudah mengangkat tangannya.


Namun, tangan itu tetap diam di atas terasa kaku untuk menampar wanita di depannya ini. Entah kenapa ada perasaan tak bisa dijabarkan olehnya.


"Ampun, Kak. Humai berani bersumpah!" ujarnya dengan menutup wajahnya karena takut.


Takut jika Syakir benar memukulnya. Takut jika tamparan itu menyakiti dirinya. Bayang-bayang dimana dulu Mamanya yang pernah memukul dirinya tiba-tiba hadir dan membuat tubuhnya gemetar. 


"Kali ini kau menang!" seru Syakir menghempaskan tangannya. "Tapi lain kali. Aku yakin kau tak akan sanggup untuk menguasai semuanya. Aku akan membuat hidupmu jauh dari kata baik-baik saja."


Rasa benci Syakir telah mendarah daging. Dia menjauh dari tubuh Humai dengan pandangan yang masih berkilat marah.


"Aku tak main-main dengan ancamanku. Jika kau tak menurut, katakan say good bye pada anakmu itu."

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Syakir lekas berjalan menuju balkon kamarnya. Dia membutuhkan udara segar setelah lampiaskan segala amarah dalam dirinya pada sosok yang ia benci.


Sedangkan Humai, mata wanita itu telah basah. Dia membuka wajahnya karena tak mau Syakir melihat air matanya yang mengalir. Humaira takut, dia terbayang akan sosok mamanya yang membuatnya gemetar bukan main.


Humai dengan pelan berjalan memasuki kamar mandi dan menguncinya. Kemudian dia mendudukkan dirinya di atas kloset dengan mengusap perutnya yang mulai kram lagi.


"Kenapa aku masih mengingat perlakuan buruk Ibu?" gumamnya dengan pelan pada dirinya sendiri. "Aku sudah berusaha memaafkan segala kesalahannya meski melupakan semua itu sulit." 


Percayalah, sebuah mental yang telah dirusak bertahun-tahun tak mampu sembuh hanya dalam waktu yang singkat. Dia butuh banyak waktu untuk menyelesaikan segala sakit yang selama ini ia pendam.


Namun, sepertinya hal itu tak bisa dilakukan oleh Humai. Saat rasa trauma pada mamanya sendiri belum hilang. Dia mendapatkan perlakuan buruk dari pria yang menjadi suaminya. 


Seakan trauma berat itu diberikan luka yang baru dan semakin merusaknya sampai ke akar-akar. 


"Aku percaya bahwa hati yang jahat akan terkikis dengan sebuah kebaikan. Aku hanya bisa berdoa dan berharap semoga penyesalan tak hadir dalam hidupmu, Kak." 


...🌴🌴🌴...


Di balkon kamar. 


Seorang pria tengah menghisap rokok dengan nikmatnya. Dia melampiaskan segala emosi itu dengan menghirup batang panjang ini. Entah sudah habis berapa batang tapi Syakir masih asyik menyesapnya dalam diam.


Pria itu duduk dengan tenang. Dia menatap ke arah gerbang dan melihat mobil mamanya keluar dari sana. Bibir pria itu tersenyum miring, dia juga sebenarnya tadi mendengar Humai pamit kepadanya tapi tak digubris.


Hingga tiba-tiba pikiran Syakir buyar saat sebuah panggilan masuk di hpnya. Syakir segera mengangkat setelah melihat nama wanita yang ia cintai ada disana. 


Terdengar suara tangisan yang menyayat hati dan membuat Syakir beranjak berdiri. 


"Ada apa, Sayang? Kenapa kamu menangis?" tanya Syakir dengan panik.


"Kamu gak ada kabar. Kamu menghilang dan aku yakin kamu sedang menghabiskan waktumu dengan istrimu itu, 'kan?" 


Syakir mengepalkan tangannya. Dia mencengkram benda pipih yang ia pegang. 


"Kamu tahu sendiri perasaanku, Rachel! Apa kamu tidak percaya bahwa cintaku milikmu. Aku menikahinya karena dia hamil dan mengatakan bahwa itu anakku!" kata Syakir menjelaskan.


"Tapi kenapa kamu gak ada kabar sama sekali? Kamu menghilang sejak kemarin," tanya Rachel dengan suaranya yang serak.


Syakir menghembuskan nafas lelah. Terlalu fokus dengan kemarahannya pada Humai. Syakir sampai lupa mengabari kekasihnya. Dia juga sadar sudah hampir dua hari tak melihat ponselnya.


"Maaf, Sayang."

__ADS_1


Terdengar Rachel menarik nafasnya begitu dalam. Bahkan isakan itu masih terdengar jelas di telinga Syakir. 


"Aku gak mau maafmu. Aku mau kamu menemuiku, sekarang juga!" seru Rachel dengan egois.


"Aku tak bisa, Sayang. Besok aku akan kesana," bujuk Syakir dengan merayu.


"Aku mau kamu sekarang. Aku mau kamu ke apartemen kita. Apa kamu tak merindukanku?" seru Rachel dengan suara manja.


Syakir menyugar rambutnya ke belakang. Ingin rasanya dia menyusul ke apartemen, dimana kekasihnya ada disana. Dia juga merindukan Rachel dan ingin memeluknya. Namun, Syakir tak mau membuat masalah. 


Dia harus menahan dirinya sampai mereka tinggal di rumah sendiri. 


"Tentu aku merindukanmu, Sayang," jawab Syakir dengan manja. "Tapi aku tak bisa keluar sekarang. Mama dan Papa menghukumku." 


"Alasan!" seru Rachel dengan suara yang menahan tangis.


Syakir tak suka mendengar kekasihnya bersedih. Sejak dulu dia selalu memanjakan Rachel karena tahu bagaimana kehidupan wanita itu sebenarnya.


"Kumohon, Sayang. Mengertilah posisiku!" kata Syakir dengan frustasi. "Aku akan mengirimkan uang untukmu dan belanjalah seorang diri. Bagaimana?" 


Syakir tak memiliki pilihan lain. Dia tak mau Rachel marah dan merajuk dengannya. Hingga ya senjata utama agar kekasihnya tak marah ya hanya ini.


"Aku pengen belanja sama kamu," ujarnya dengan tak merengek lagi.


"Besok kita akan belanja bersama tapi hari ini, aku akan mentransfer uangnya dulu agar kamu bisa belanja sendiri dan tak merasa bosan," rayu Syakir pada kekasihnya. "Mau, 'kan?" 


Tak ada jawaban apapun. Namun, Syakir yakin jika kekasihnya pasti mau.


"Sayang plis!" rayu Syakir yang membuat Rachel akhirnya angkat suara. 


"Baiklah. Aku akan belanja sendiri hari ini. Tapi janji yah, besok kamu harus temui aku!" 


"Iya, Sayang. Aku janji," balas Syakir dengan yakin.


"Jangan lupa transfer yah!" seru Rachel mengingatkan. "Aku akan belanja agar tak mengingatmu terus." 


~Bersambung


Hiyaa bilang aja kalau mau minta duit, Cel pecel. Pakek drama pengen ketemu segala haha.


Sing tenang oke, nek ngamuk kudu diempet eleng poso, hahaha.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.


__ADS_2