
...Tak selamanya kebenaran yang kita tutupi akan terus tertutup rapat. Suatu saat nanti akan ada masa dimana kebenaran itu harus mencuat agar mendamaikan semuanya....
...~Humaira Khema Shireen...
...🌴🌴🌴...
Jika di tempat Syakir dan Jeno, mereka membagi tugas. Berbeda dengan di rumah Humaira. Terlihat tiga orang dewasa itu memperdebatkan sesuatu. Mereka seperti saling pro kontra tentang pendapat ketiganya.Â
"Kita lihat sampai mana Syakir berjuang, Nak. Jangan karena keadaannya kamu percaya begitu saja," kata Papa Hermansyah yang kekeh dengan pendapatnya.
"Tapi bagaimanapun Jay harus tau, Pa. Jay harus tau siapa ayah kandungnya," balas Humaira yang mulai menyampaikan pendapatnya.
Entah kenapa, melihat kedekatan putranya dan Jeno, membuat sesuatu dalam diri Humai memberontak. Seakan dirinya ingin putranya mengetahui jika sebenarnya ayah yang selama ini ia tanyakan kepadanya ada di depan mata. Sosok yang bocah kecil yang selalu dia rindukan ternyata sudah ada di dekatnya.
"Apa kamu bisa menjamin kalau Syakir bakalan bisa dipercaya? Apa kamu sudah yakin kalau Syakir memang sudah berubah, Nak?"Â
Humaira bungkam. Dirinya tak bisa menjawab pertanyaan itu. Bagaimana dia bisa menjamin hal itu, jika mentalnya saja belum stabil. Rasa trauma yang diberikan oleh Syakir kepadanya membekas sampai sekarang.
"Atau kamu bisa menjamin bahwa dia datang kesini, untuk kembali bersama kalian?"Â
Humaira semakin menunduk. Dirinya tentu tak bisa memberikan jawaban apapun. Apa yang dikatakan ayahnya juga benar.
Bukan berniat menyembunyikan soal ayah kandung Jay. Bagaimanapun Jay masih bocah berumur tiga tahun kurang. Meski dia cerdas. Namun, anak itu juga belum mengerti persoalan tentang orang dewasa seperti ini.Â
Apalagi membuat Jay kebingungan tentang ayah kandungnya yang tiba-tiba muncul. Alasan apa yang akan diberikan jika Jay bertanya kemana Syakir selama ini.Â
"Kalau kamu bisa menjamin. Papa izinkan kamu mengatakan semuanya pada Jay. Kamu menjelaskan kebenaran tentang ayah kandungnya," kata Papa Hermansyah yang ingin memancing putrinya.
Humaira menghela nafas berat. Banyak pikiran yang ia pikirkan beberapa hari ini dan membuatnya kepalanya sering sakit.Â
"Humai hanya takut, Pa," lirihnya saat beberapa menit terdiam.Â
"Takut apa, Sayang?" tanya Mama Emili melirik suaminya yang mengangguk.
"Takut jika kedekatan Jay dengan Pak Jeno semakin dalam. Aku tak mau memberikan harapan pada Dosen Killerku itu," kata Humaira akhirnya jujur.Â
"Kamu sudah tau kalau…"Â
"Ya. Aku tau kalau dosenku itu, menyukaiku," jawab Humaira yang membuat Papa Hermansyah tersenyum. "Karena itulah Humai gak mau Pak Jeno semakin berharap sama Humai dan Jay. Dia pantas mendapatkan wanita yang masih single."Â
Apa yang dikatakan oleh Humaira memang benar. Meski putranya menyayangi Jeno. Namun, besar harapan dalam hati Humai jika putranya bisa dekat dengan ayah kandungnya sendiri.
Seberapa besar luka yang diberikan oleh Syakir di masa lalu. Seberapa banyak hinaan dan makian yang pria itu berikan. Darah lebih kental daripada air.Â
__ADS_1
Dia yakin jika kedekatan mereka bisa terjalin lambat laun. Mereka akan bisa merasakan kenyamanan itu saat terbiasa berdua saja.Â
"Lalu?"Â
"Hatiku masih sama, Pa. Aku mencintai Kak Syakir meski traumaku masih parah," ujar Humaira yang membuat Papa Hermansyah dan Mama Emili tersenyum.
Sebenarnya orang tua Humai hanya ingin memancing keberanian putrinya itu. Mereka ingin tahu bagaimana perasaan Humaira yang sejujurnya. Jika tak dipancing maka putrinya pasti akan diam saja.
"Jadi, apa keputusanmu setelah ini?"Â
"Aku tetap akan mengatakan pada Jay siapa ayah kandungnya. Aku yakin dia akan mengerti, Pa."Â
"Papa serahkan semuanya padamu, Nak. Papa yakin keputusanmu yang terbaik."Â
...🌴🌴🌴...
Akhirnya setelah berbicara dengan orang tuanya. Kini saatnya Humaira menghadapi putranya itu. Dia berjalan ke arah kamar bermain dimana Jay berada.
"Semoga kamu mengerti alasan kenapa dulu kita hanya bertiga dengan Om Rein, Sayang," kata Humaira dalam hati saat langkah kakinya berhenti tepat di depan pintu kamar bermain.
Dengan pelan, Humaira lekas mendorong pintu itu hingga membuat putranya yang sedang bermain lekas menoleh.
"Ibu," kata Jay dengan menunjukkan hasil karyanya.
Wajah Humaira tersenyum bangga. Anaknya yang bermain dengan permainan puzzle dan bisa dirakit dengan arahan pengasuhnya.
"Maaf, bisa tinggalkan kami berdua, Mbak?" kata Humai dengan sopan.
"Bisa, Bu. Saya pamit keluar," kata si Mbak pengasih sebelum dia beranjak berdiri dan meninggalkan ibu dan anak itu.Â
Jay yang asyik merakit, tentu fokus ke permainannya. Sampai akhirnya tangan Humai yang menyentuh tangan Jay membuat anak itu menoleh.
"Ada apa, Bu?"Â
Humaira terlihat mengatur nafasnya. Perlahan dia memegang kedua pundak Jay lalu menghadapkan ke arahnya.
"Ibu ingin berbicara sesuatu sama, Jay. Boleh?"Â
"Iya, Bu." Jay mengangguk.
Anak itu mengedipkan kedua matanya lucu. Wajahnya yang polos kini fokus ke arah Humaira.Â
"Beberapa kali Jay pernah tanya sama Ibu. Kemana Ayah, Jay. Ingat?"Â
__ADS_1
"Iya. Jay ingat," sahut Jay dengan mengangguk. "Setelah Jay tanya itu. Ibu selalu menangis."Â
Humaira tersenyum dengan kepala mengangguk. Apa yang dikatakan oleh putranya memang ebnar. Dia belum siap dulu menceritakan yang sebenarnya. Namun, kali ini mungkin putranya harus tahu yang sebenarnya.
"Maafin Ibu karena gak dari dulu jawab pertanyaan, Jay. Apa sekarang Jay masih ingin bertanya soal Ayah dimana?" tanya Humaira memulai pembicaraan.
Kepala mungil itu menggeleng. Hal itu membuat Humaira terkejut.
"Kenapa?"Â
"Karena Jay gak mau Ibu menangis. Jay gak suka Ibu nangis karena Ayah," kata anak itu dengan sejujurnya.
"Iya tapi kali ini Ibu gak bakal nangis. Ibu udah siap buat cerita soal Ayah," ucap Humaira yang kemudian dia bisa melihat binar bahagia dimata putranya.Â
"Ibu?"Â
"Iya," kata Humai mengangguk. "Jay mau tau, siapa Ayah kandung, Jay?"Â
"Mau."Â
Humaira mengulurkan tangannya. Jay yang bingung tapi penasaran akhirnya hanya bisa menerima uluran tangan itu. Dia lekas mengikuti langkah ibunya yang membawanya ke arah kamar.
"Ngapain kita ke kamar, Bu?" kata Jay yang didudukkan di atas ranjang.Â
"Kita akan lihat foto Ayah," ucap Humai lalu dia berjalan ke arah lemari pakaian.
Perempuan itu lekas mencari sesuatu yang ia simpan selama ini. Sebuah kotak berisi kenangan masa lalu. Kenangan yang menjadi bukti bahwa ia pernah menikah dengan pria tampan, Guntur Syakir Alhusyn.
Senyumannya sedih saat tangannya mulai meraih kotak berwarna hitam yang ia letakkan di bagian atas sendiri. Humai lekas membawa kotak itu ke arah putranya dan dia duduk dihadapan Jay.
Ibu dan anak itu saling menatap ke arah kotak hitam itu. Sampai sebuah kode yang sudah Humai masukkan membuat kotak itu terbuka.Â
"Jay sudah siap?"Â
"Iya, Bu."
Perlahan kotak itu dibuka. Kemudian, Humaira mulai mengambil sebuah potret yang ada paling atas dan langsung memberikannya pada sang putra.
"Om Syakir?"Â
~Bersambung
Yang dikomen banyak banget huru hara. Ini loh ini. Huhu sesuai alur tapi aku suka bikin orang emosi emang. hehe.
__ADS_1
Maaf baru update ya. Baru kelar ngetik.
BTW Je lagi ajuin naskah baru buat lomba event rumah tangga. Doain lolos yah, biar on going dua novel disini haha.